Protestantisme Dan Marxisme Dalam Kenangan Dua Teolog

Print Friendly, PDF & Email

Foto oleh Daniel Sihombing

 

MESKI tidak selalu berdamai, agama dan Marxisme tidak jarang pula menjadi mitra. Di Indonesia, kita punya tradisi Islam kiri yang cukup kuat, dengan Haji Misbach, SI Merah, dan Islam Bergerak sebagai simbol-simbolnya. Lalu di tradisi Katolik ada teologi pembebasan Amerika Latin. Kelompok Protestan di Indonesia pernah punya sosok Amir Sjariffudin. Di Buddhisme ada Dalai Lama yang mengaku Marxis. Dan tentu ada pula representasi-representasi lain yang tak tersebutkan di sini karena keterbatasan referensi yang saya miliki.

Wacana global tentang hubungan Marxisme dengan agama atau teologi sendiri kelihatannya menemukan momentum kebangkitannya dalam beberapa tahun terakhir lewat karya-karya Badiou, Žižek, Eagleton, dan lain-lain, serta seri On Theology and Marxism dari Roland Boer, di mana buku kelima sekaligus penutup seri tersebut, In the Vale of Tears, memenangkan penghargaan Deutscher Memorial Prize untuk karya inovatif tentang tradisi Marxis pada tahun 2014. Roland Boer juga belakangan sibuk dalam upaya mengembangkan kajian Marxisme dan agama di kampus-kampus di negara Cina.

Karena saya berasal dari tradisi Protestan, wajar rasanya jika saya punya ketertarikan lebih pada interaksi Marxisme dengan tradisi ini. Apalagi ketika citra reaksioner justru melekat kuat pada Protestantisme, berkat tesis terkemuka Max Weber tentang etika Protestan dan spirit kapitalisme, ataupun gembar-gembor teologi pembangunan di masa Orde Baru dari tokoh-tokoh Protestan di Indonesia pada masa itu.

Kebetulan beberapa waktu terakhir ini saya ada di Belanda, salah satu negara dengan tradisi Protestan yang kuat, dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Dick Boer dalam acara konferensi teologi. Saya pertama kali mendengar tentang Dick dari Roland, sebagai teolog Barthian kiri yang menulis tentang teologi Perjanjian Lama dari pengalamannya di tengah konteks real existing socialism di Jerman Timur. Dick adalah Profesor emeritus dari Universiteit van Amsterdam (UvA) yang pernah menjadi pendeta di Jerman Timur dan anggota Communistische Partij van Nederlands (CPN). Buku yang ditulis Dick diterbitkan dalam Historical Materialism Book Series dengan judul Deliverance from Slavery: Attempting a Biblical Theology in the Service of Liberation (2016). Roland Boer menulis kata pengantar untuk buku ini dan menyebutnya,

A unique work, one that was inspired by the experience of living and working – in a congregation of the church – in a socialist country. Dick is by no means the first to be a believer and a communist. Yet a biblical theology developed in the context of socialism, indeed one that wishes to affirm socialism, is an extraordinary effort. As he writes, if we wish to translate biblical theology (and not only that of Paul), then ‘Communism lends itself to the task’. My anticipation is that it will generate much debate, especially among socialists of many persuasions, for we are Boer’s preferred interlocutors (h.xvii).

Lewat percakapan selama konferensi, Dick akhirnya mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya di Amsterdam untuk melanjutkan perbincangan. Lalu saya berpikir bahwa mungkin baik juga jika saya membagikan percakapan ini dan mengirimkannya ke redaksi IndoPROGRESS. Maka saya mengajak juga pembimbing saya, Rinse Herman Reeling Brouwer, salah satu pendiri Christenen voor het Socialisme (Christians for Socialism, selanjutnya disingkat CvS), pendeta Gereja Protestan Belanda (PKN), ketua grup studi Barth di Belanda, yang sekarang memegang kursi Profesor Miskotte/Breukelman di Protestant Theological University, Netherlands. Bersama dengan Dick, Rinse dikenal sebagai teolog Barthian kiri (merujuk pada Karl Barth, teolog terkemuka dalam tradisi Protestan) Belanda. Wawancara diadakan di rumah Dick, Amsterdam Selatan, pada tanggal 18-03-2016. Semoga catatan ini bermanfaat.

 

Bisakah Anda berdua menceritakan tentang aktivisme yang kalian lakukan di masa Perang Dingin, sebelum ‘sejarah berakhir’?

Dick: Saya lebih tua daripada Rinse, sehingga saya mungkin punya pengalaman yang lain selama Perang Dingin. Sebab di masa Rinse bersama temannya merintis gerakan CvS, tentu saja itu masih dalam masa Perang Dingin, tapi itu sudah masa di mana Perang Dingin mereda. Ada kecenderungan di mana kedua kubu hendak memulai percakapan untuk menghentikan perlombaan senjata. Tapi saya ingat di masa ketika Perang Dingin betul-betul dingin, komunisme bukan pilihan sama sekali, termasuk bagi saya. Saya ingat waktu saya memulai studi di tahun 1957, adalah normal untuk menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Belanda, sebuah organisasi mahasiswa yang cukup radikal. Tapi saya tidak bergabung dengan organisasi itu, melainkan organisasi sosialis-demokratik mahasiswa, Politeia, yang secara resmi terhubung dengan Partai Sosial Demokrat. Saya ingat pada waktu itu menjadi kiri radikal tidaklah normal. Kemudian situasi berubah di tahun ‘70-an karena gerakan mahasiswa ’68 yang bermula di Prancis dan menjadi gerakan global. Termasuk di Belanda. Gerakan ini juga yang memberi landasan bagi CvS, dan pada waktu itu, adalah normal bagi kami yang tergabung dalam organisasi ini untuk bergabung dalam CPN. Saya rasa saya adalah termasuk yang pertama-tama bergabung. Teman Rinse, Herman Meijer, pada waktu itu menempuh studi arsitektur di Delft, yang bersama-sama dengannya mendirikan CvS, selalu sedikit berdebat dengan saya tentang siapa yang pertama kali bergabung dengan CPN. Debat yang tak terlalu penting sebenarnya. Tapi ada banyak anggota lain yang juga mengambil langkah yang sama. Dan Rinse agak belakangan bergabung.

Rinse: Ya, di kelompok kami, saya adalah yang paling yakin bahwa saya akan menjadi pendeta di Gereja Reformed Belanda. Pada masa itu, CPN memiliki artikel yang menentang propaganda religius dalam partai, juga tentang sistem sentralisme demokratik. Dan saya tidak terlalu yakin tentang kesesuaian dari menerima tahbisan sebagai pendeta dan pada saat yang sama menaati sistem sentralisme demokratik. Karena dengan demikian anda akan memiliki dua objek kesetiaan. Dan saya tidak mau menjadi tidak setia dalam salah satu kewajiban saya. Pada waktu CPN meninggalkan artikel ini, dengan segera saya mendaftarkan diri sebagai anggota. Tapi dalam pengertian tertentu, itu sudah terlambat, karena partai tersebut sudah jadi kurang menarik. Tapi teman-teman kami yang lain tidak merasakan masalah itu. Ada teman-teman lain yang juga belajar teologi dan menjadi pendeta sekaligus anggota CPN, tanpa terlalu merasakan problem pada nuraninya.

 

Pada tahun berapa Anda bergabung ke dalam Partai?

Rinse: 1979.

Dick: Kalau saya bergabung pada tahun 1973. Agak kebetulan sebetulnya. Pada waktu itu pendeta kampus Technische Universiteit Delft bekerja juga di perusahaan radio Kristen, dan jelang Pemilu, dia mewawancarai beberapa orang Kristen yang memilih partai-partai yang ada, berikut alasannya, untuk salah satu programnya. Tidak sulit baginya menemukan mereka yang akan memilih Partai Sosial Demokrat, Partai Kristen Demokrat, Partai Liberal, dan lain-lain. Tapi dia sulit menemukan orang Kristen yang akan memilih CPN. Lalu dia menduga bahwa saya adalah salah satu yang kemungkinan ada dalam kategori itu. Pada waktu itu, saya juga telah tiba pada titik di mana saya merasa yakin dan berencana untuk memilih CPN dalam Pemilu. Jadi saya menyetujui permintaannya. Beberapa waktu setelahnya, jurnalis dari koran CPN mendatangi saya. Ia ingin menulis sebuah artikel pendek tentang pernyataan-pernyataan yang saya buat di radio. Lalu ia menghubungi saya dan menanyakan apakah saya setuju dengan isi tulisannya. Dalam percakapan kami, saya sempat mengatakan bahwa tidaklah menjadi masalah bagi saya untuk memilih partai ateis. Si jurnalis merespon, “Tapi kami bukan partai ateis!” Lalu saya bertanya, “Jadi apakah saya juga bisa menjadi anggota Partai ini?” Si jurnalis mengiyakan. Maka bergabunglah saya.

Soal pergumulan Rinse, saya sebenarnya sempat kuatir juga. Apalagi waktu itu jelas dalam konstitusi Partai ada artikel yang disebutkan tadi tentang larangan propaganda ideologi yang bertentangan dengan ideologi Partai. Saya sempat takut juga karena saya adalah seorang teolog yang merepresentasikan tradisi tertentu. Bagaimana jika pada titik tertentu ada perdebatan yang menuntut saya mengambil posisi tertentu? Saya kuatir posisi saya menjadi ambigu. Namun saya berpikir, oke, saya akan mencoba. Dan saya bisa mengatakan sekarang bahwa apa yang tadinya saya kuatirkan tidak pernah betul-betul terjadi. Namun itu berkaitan juga dengan fakta bahwa pada waktu itu CPN tidak lagi terlalu tertarik dengan urusan ideologi, bahkan pada waktu artikel tadi masih tercantum. Saya ingat bahwa sebagai intelektual saya pernah diundang untuk terlibat dalam departemen riset CPN. Lalu saya ditanya tentang area minat saya. Saya menjawab bahwa saya tertarik dengan filsafat Marxis, sebagai seorang teolog. Lalu beberapa orang di sana menunjukkan wajah heran. Salah seorang di antaranya mengatakan, “Seandainya Marx dan Engels mengoleksi meterai, maka semua anggota CPN juga harus melakukannya.” Seolah-olah hendak mengatakan pada saya bahwa tidak ada lagi yang tertarik dengan isu-isu ideologis.

Rinse: Ada beberapa teks yang ditulis oleh anggota-anggota Komite Sentral yang menarik bagi kami. Misalnya, Marcus Bakker, Ketua Delegasi di Parlemen, menulis artikel tentang sikap CPN terhadap orang-orang Kristen. Joop Wolff menulis pendahuluan untuk edisi terjemahan diskusi tentang agama dari teks Marx. Jadi mereka mencoba untuk melakukan refleksi, dan itu ada hubungannya dengan kemungkinan orang-orang Kristen menjadi anggota Partai.

Dick: Saya kira Joop Wolff adalah penanggung jawab masalah ideologi Partai pada waktu itu. Dan dia tertarik dengan teolog-teolog seperti kami. Saya ingat, misalnya, tentang artikel terkait dengan agama, ia mengatakan pada saya bahwa artikel ini tidak masuk akal, sebab hanya diterapkan pada orang-orang Kristen. Ia merujuk pada artikel tentang kemungkinan orang-orang Kristen menjadi anggota Partai, di mana hal itu dimungkinkan, asalkan mereka tidak membuat pertentangan dengan ideologi Partai. Padahal ada juga kemungkinan adanya orang-orang borjuis dalam Partai yang merepresentasikan ideologi borjuis, yang bertentangan dengan ideologi Partai. Saya pikir posisi untuk ‘orang-orang percaya’ (istilah untuk kami) ini ditarik dari Lenin, yang pernah menulis artikel soal apakah orang-orang Kristen, Paus, imam boleh menjadi anggota Partai. Lenin menjawab tentu saja boleh, karena yang kami tuntut hanyalah agar mereka mendukung politik Partai. Soal apa yang mereka pikirkan, itu urusan mereka pribadi. Solusi yang amat pragmatis untuk masalah ini. Dan kami tidak puas dengannya.

Di satu sisi kami tidak ingin menjadi skizofrenik, dengan hubungan pragmatis terhadap kebijakan-kebijakan Partai sekaligus menjadi orang Kristen percaya. Tetapi kami juga merasa bahwa Partai punya kewajiban untuk ikut memikirkan masalah ini. Mungkin Ernst Bloch mempengaruhi saya dengan klaimnya bahwa Marxisme dan Partai Komunis memiliki warisan dari tradisi Yudaik, bersama dengan kitabnya. Jika Marxisme tidak menganggap serius tradisi ini, mereka akan kehilangan sesuatu. Jadi kami tidak hanya ingin membela diri, membuat posisi kami jelas, tetapi juga menjelaskan pada Partai bahwa mereka akan kehilangan sesuatu jika tidak mempertimbangkan tradisi ini secara serius.

Rinse: Pada saat yang sama, ada pengabaian terhadap masalah ateisme. Saya ingat ada guru di sekolah Kristen yang menjadi anggota CPN. Dan dewan di sekolah itu ingin memecatnya karena keanggotaan itu. Kami memutuskan untuk berdiskusi dengan dewan tersebut tentang buku Bloch, Atheism and Christianity. Bahwa ateisme adalah sebuah aspek dalam tradisi Kristen.

Dick: Saya waktu itu diundang oleh kelompok lokal di kota tersebut untuk berdiskusi dengan anggota dewan sekolah tadi tentang pertanyaan ini. Dan beberapa jam sebelum saya pergi ke tempat pertemuan, saya ditelepon oleh salah seorang anggota Politbiro yang memberi instruksi agar saya tidak jadi pergi ke sana. Tampak jelas di sini keengganan Partai untuk mendiskusikan pertanyaan ideologis tersebut.

 

Ohh… sangat mengecewakan ya?

Dick: Ya. Dan kami sering mengusulkan diadakannya pertemuan Partai untuk mendiskusikan pertanyaan seputar agama dan ateisme. Kira-kira setelah empat tahun baru usulan ini dipenuhi. Saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara utama, dan pada waktu itulah saya rasakan benar-benar ada breakthrough, karena ada banyak anggota Partai menghadiri konferensi ini dan mereka merasa bahwa memang tidak ada kemungkinan untuk membahas masalah ini sebelumnya. Jadi mereka mengambil kesempatan ini untuk memikirkan kembali: dalam pemahaman seperti apakah agama penting bagi mereka? Tapi itu terjadi ketika sejarah sudah ‘hampir berakhir.’

Rinse: Mungkin menarik juga, sehubungan dengan masalah di sekolah tadi, soal Johannes Verkuyl (misionaris di Indonesia). Posisinya tidak pernah jelas bagi kami. Di satu sisi ia mendukung kemerdekaan Indonesia, tapi tidak menentang Soeharto. Demikian juga terhadap kami. Di satu sisi ia sangat antusias dengan aksi kami menentang bom neutron, tapi dia juga menulis buklet menentang kami, CvS, khususnya di Vrije Universiteit Amsterdam. Dalam buklet tersebut ia mengatakan bahwa anggota organisasi-organisasi dalam kampus Protestan tersebut seharusnya dilarang untuk menjadi anggota CPN, dan kami disebutnya ‘penyesat orang-orang muda,’ julukan yang dikenakan pada Socrates.

 

Jadi memang tidak normal bagi orang Kristen untuk menjadi anggota Partai Komunis?

Dick: Saya rasa memang hal itu tidak pernah menjadi normal, meski pada masa CvS bergerak, ia beranjak ke mendekati normal. Malahan pada awal pembentukannya, beberapa dari antara kami merasa bahwa ini benar-benar merupakan sebuah gerakan baru. Pasca Perang Dunia II, ada sebutan di Belanda tentang sebuah breakthrough, ketika banyak orang Kristen menjadi pendukung Partai Sosial Demokrat. Dan ada seorang anggota partai tersebut yang menyebut gerakan kami sebagai the second breakthrough, kali ini ke CPN.

Rinse: Saya ingat juga bahwa saya waktu itu menjadi anggota kelompok yang mengorganisasi perjalanan-perjalanan ke Eropa Timur setelah Perjanjian Helsinki, 1976. Ada seorang pendeta gereja Remonstran (Armenian) yang terlibat dalam pengorganisasian itu, dan ia melihat masa depan di situ. Pasca kekalahan Amerika Serikat di Vietnam dan kebutuhan rekonsiliasi di Eropa, ada konstelasi baru dalam politik global. Menurutnya, kelompok kami punya masa depan yang cerah. Tapi tentu saja itu terbukti salah.

 

Apa yang sebenarnya orang-orang bayangkan pasca ’68? Bagaimana dengan Anda berdua?

Dick: Saya telah menduga pertanyaan itu semalam. Mungkin kalau bagi saya jawabannya adalah kombinasi aneh antara ungkapan-ungkapan radikal tentang apa yang ingin komunisme capai dengan ekspektasi sederhana tentang apa yang akan terjadi pada politik di Belanda ketika CPN dimerdekakan dari apa yang dianggap tabu. Salah satu tujuan saya bergabung ke dalam Partai adalah untuk melenyapkan tabu itu, bahwa adalah mungkin bagi seseorang yang berasal dari latar belakang yang tidak biasa untuk menjadi anggota Partai. Saya mau terlibat dalam proses normalisasi itu. Pada waktu itu ada 150 kursi di parlemen, dan saya berpikir bahwa mungkin Partai kami bisa memenangkan sepuluh persennya. Jadi harapan saya cukup sederhana sebenarnya. Tapi bahkan harapan yang sederhana ini ternyata tetap saja berujung dengan kekecewaan.

Rinse: Saya ingat pada tahun 1974 waktu saya masih menjadi mahasiswa dan kami mengadakan pertemuan yang membidani CvS, Friedrich-Wilhelm Marquardt (teolog Jerman) ada di sana, dan ia mengatakan sesuatu yang kami rasakan pula waktu itu, bahwa ada begitu banyak hal yang terjadi di sini, pembaharuan di mana-mana. Ada gerakan pro-homoseksual dll. tapi tidak ada fokus politik. Dan ia menyebut tentang pentingnya penyatuan gerakan-gerakan tersebut. Jelas bagi kami bahwa sosialisme adalah konsep yang dapat merangkul itu semua. Pada saat yang sama, perubahan-perubahan yang terjadi di level global menunjukkan kemungkinan masa depan bersama. Tentu saja tak seperti apa yang kemudian terjadi pasca-1989: kemenangan Barat, tidak lebih dari itu. Visi kami, saya dan terlebih lagi Dick, lebih kepada coming together, Barat dan Timur. Meski tidak semua anggota kelompok kami mengharapkan hal itu. Bagi beberapa orang, Marxisme ala Blok Timur sudah jelas-jelas tidak layak dipertahankan.

Dick: Dan itu ada hubungannya dengan kebijakan CPN yang pada waktu itu mengambil jarak terhadap komunisme Eropa Timur yang dianggap identik dengan kejahatan.

Rinse: Karena Paul de Groot, seorang Dutch Stalinist, yang waktu itu menjabat pimpinan Partai, menolak untuk memilih antara Mao dan Khruschev.

Dick: Jadi mereka menjadi sangat independen, sampai-sampai ketika kelompok Rinse mendukung pengakuan atas Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur), CPN justru menentangnya. Jadi posisi saya dengan Rinse cukup unik pada waktu itu, karena kami menganggap penting keberadaan real existing socialism di Timur.

 

Waktu menjadi anggota Partai, apakah Anda berdua sudah menjadi pendeta? Apakah ada masalah dengan keputusan itu?

Dick: Tidak. Waktu itu saya mengajar di Universiteit van Amsterdam, dan kemudian menjadi pendeta di Jerman Timur. Jadi tidak ada masalah.

Rinse: Di jemaat saya sendiri tidak ada masalah. Tapi saya ingat pada tahun 1988, ketika saya mempertahankan disertasi, ada pertemuan dengan gereja lain (Gereformeerde Kerk). Waktu itu Gereja Protestan Belanda belum bersatu, tetapi ada pertemuan-pertemuan berkala antara gereja-gereja se wilayah, dalam rangka upaya penyatuan. Dan pada hari ketika saya mempertahankan disertasi, saya diwawancarai koran Kristen Trouw. Isi wawancara itu lalu membuat gereja tersebut memutuskan untuk menghentikan percakapan dengan kami. Kemudian mereka menemukan buklet dari H.H. Kuyper (anak dari Abraham Kuyper) tahun 1921 yang menentang Lenin, dan membacanya kembali.

 

salib

Gambar diambil dari critique-of-pure-interest.blogspot.com

 

Apa yang menggiring Anda berdua pada kecondongan Kiri, dengan latar belakang religius yang kalian miliki? Apakah ada elemen dari latar belakang religius tersebut yang berkontribusi untuk pembentukan kecondongan tersebut?

Dick: Saya merasa beruntung karena bertemu dengan pendeta yang boleh disebut sebagai ‘Barthian Kiri,’ meski istilah tersebut belum ada pada waktu itu. Dialah yang mengajar saya waktu muda. Menurut saya dia adalah teolog Alkitab yang berbakat. Jadi bagi saya sangatlah alami untuk beriman dengan dasar-dasar Alkitab dengan komitmen Kiri. Sejauh yang saya ingat, kombinasi ini tidak pernah menjadi masalah bagi saya. Yang mungkin menjadi pergumulan saya adalah sejauh mana ketegangan antara teologi Alkitab dengan gerakan sosial-politik yang benar-benar aktual.

Saya ingat waktu SMA saya secara terus terang mengaku diri ateis, tetapi saya masih menghadiri kelas-kelas katekisasi di gereja, dan saya menikmatinya. Di sekolah saya memiliki teman-teman diskusi, dan salah satu topik pembahasan kami adalah metafisika. Seorang teman kami dalam grup tersebut, yang kemudian menjadi penulis, menjadi representasi semacam agama. There must be Something, menurutnya. Dan saya belajar begitu banyak dalam kelas katekisasi saya di gereja dari pendeta tadi yang membuat saya mengatakan bahwa hal itu tidak menarik. Something is not interesting. Allah dalam Alkitab bukanlah Something. Jadi itu pula pandangan saya pada masa-masa mengaku ateis. Saya tidak pernah tertarik dengan keberagamaan, jika yang dimaksud adalah perasaan atau pengalaman bahwa ada Sesuatu yang dalam, tinggi, atau di atas. Itu tidak relevan bagi saya. Karena Something bisa menjadi everything. Bacalah buku yang ditulis oleh Rinse tentang Spinoza. Tapi pada waktu itu buku tersebut belum ada.

Rinse: Sejak dini sekali, kira-kira ketika usia saya masih 8 tahun, saya merasa sangat antusias dengan Alkitab. Saya ingin menghabiskan seluruh hidup saya dengan Alkitab. Dan saya senang sekali salah satu tetangga saya adalah Frans Breukelman, pakar teologi Alkitab di Belanda. Saya juga adalah bagian dari generasi yang lahir setelah Perang Dunia II, sehingga tradisi perlawanan dari Miskotte (teolog sosialis Belanda yang terlibat dalam perjuangan melawan Nazi) dan kawan-kawan menjadi penting bagi saya. Bagian pendahuluan dari buku yang ditulis Marquardt tentang Barth dan sosialisme juga penting bagi saya. Di situ ia mengutip Barth dari Tambach Lecture tahun 1919, di mana Barth berbicara tentang masa-masa awal Republik Weimar. Ketika itu ada gerakan pemuda yang kuat menentang model pendidikan otoriter. Lalu juga gerakan buruh radikal dari Rosa Luxemburg dan kawan-kawan. Dan ia heran, bagaimana mungkin dalam atmosfer semacam ini tidak ada gerakan melawan gereja-gereja di Jerman? Karena ketika anda berjuang di segala area, anda harus pula berjuang melawan agama. Jadi ia mengatakan bahwa orang-orang Kristen harus memulai gerakan ini, ketika komunisme sendiri tidak melakukannya. Atmosfer 1919 ini yang rasanya terulang pasca 1968, ketika saya memulai studi teologi. Segalanya harus revolusioner. Dan lewat Marquardt, saya menjadi yakin bahwa ketika kita merindukan revolusi di segala area kehidupan, ‘Allah’ adalah sebutan yang tepat untuk itu, ketika Ia dipikirkan secara sungguh-sungguh radikal. Totaliter aliter.

 

Kalian berdua menulis buku-buku tentang sosialisme dan teologi. Bisakah kalian menceritakan sesuatu tentang mereka?

Dick: Mungkin tentang Deliverance from Slavery. Waktu itu saya menjadi anggota kelompok teolog kiri Belanda-Belgia, dan segera setelah ‘sejarah berakhir,’ ada usulan untuk mengadakan pertemuan. Saya ada dalam seksi yang bertugas untuk menyusun tesis-tesis tentang kategori-kategori Marxis seperti perjuangan kelas dan kediktatoran proletariat dan kesesuaiannya dengan teologi. Bagi saya hal itu sudah jelas, karena saya sendiri adalah seorang Marxis, dan saya bertanggung jawab atas afirmasi konsep-konsep tersebut. Jadi yang mau saya buat adalah kebalikannya, yaitu soal karakter politis teologi Alkitab sendiri. Di situ saya menyusun sepuluh tesis. Lalu dalam pertemuan kelompok tesis-tesis tersebut didiskusikan dan saya mulai menyusun komentar untuk masing-masing tesis, karena mereka ingin mendengarkan lebih. Saya terus mengembangkannya, hingga jadilah buku saya.

Dalam buku ini saya membaca Alkitab sebagai buku politis yang berisi kisah tentang gerakan pembebasan yang mencakup seluruh problem yang dihadapi oleh semua gerakan pembebasan. Ini yang menjadikannya unik. Misalnya: soal kinghood dan priesthood. Ton Verkaamp, seorang teolog Alkitab Belanda, menjadi penting bagi saya di sini. Menurut dia, kerajaan dan juga keimaman adalah momen kemunduran dalam gerakan pembebasan. Dan tentu saja kita bisa melihat pula problem negara dan ideologi dalam gerakan pembebasan sebagai momen kemunduran, tetapi sebenarnya mereka adalah bagian dari seluruh problematika yang mengiringi sebuah gerakan pembebasan dalam sejarah. Jadi karakter spesifik teologi Alkitab saya adalah bahwa saya dengan konsekuen mengeksplorasi problem-problem semacam ini: keimaman, kerajaan, kekerasan, purifikasi, dan lain-lain, yang mengiringi sebuah gerakan pembebasan. Dan ini saya tulis sebagai seseorang yang saat ini hidup dalam ‘pembuangan di negeri yang begitu jauh’ pasca kekalahan dalam ‘akhir sejarah.’ Jadi dalam hidup saya sendiri saya mencoba untuk menghubungkan bahasa Alkitab dengan gerakan sosialis.

Rinse: Ya, disertasi saya sudah mulai diterjemahkan oleh Martin Rumscheidt ke dalam bahasa Inggris sebetulnya. Tetapi kemudian Tembok Berlin runtuh dan proyek ini berhenti di tengah jalan. Dalam karya ini saya berusaha melangkah lebih jauh dari Marquardt yang mengatakan bahwa sosialisme Karl Barth tidak berakhir di Tambach 1919, tetapi terus mewarnai teologinya, termasuk dalam Church Dogmatics. Saya berusaha merekonstruksi teori itu pada teologi Barth periode ’20 dan ’30-an dengan mencoba melihat apakah ada elemen-elemen Marxis di sana. Lalu saya membuat perbandingan dalam tiga isu:

  1. Kritik terhadap absolutisme manusia dalam Protestant Theology in the Nineteenth Century dengan kritik Althusser terhadap subjektivitas manusia, tentang tempat subjek mahakuasa dalam pemikiran borjuis.
  2. Tulisan Barth tentang Hegel dan seluruh diskusi tentang historisisme. Di sana pula Althusser berperan penting. Selain itu juga Walter Benjamin.
  3. Ceramah-ceramah Barth tentang Feuerbach dan kritik agama, di mana dalam salah satu ceramahnya, Barth juga berbicara tentang hubungan Feuerbach dengan gerakan buruh.

Lewat perbandingan tiga isu ini, saya melihat kemungkinan bondgenootschap atau aliansi. Istilah ‘aliansi’ ini penting sekali bagi saya. Kita bisa membangun aliansi antara gereja dengan gerakan pekerja, karena dengan dasar-dasar teologis kita bisa menemukan major affinity. Tapi pada saat yang sama kita juga bisa terlibat dalam diskusi-diskusi Marxisme sendiri, karena baik Althusser maupun Benjamin sama-sama bukanlah pemikir Marxis arus utama. Mereka punya kontribusi tersendiri dalam arus teoretik Marxisme. Jadi sebagai teolog, anda harus berpartisipasi dalam diskusi teoretik Marxisme, karena tidak semua posisi teologis siap dengan aliansi ini. Tetapi pada saat yang sama, tidak semua arus Marxisme juga siap dengan hal itu. Jadi anda juga harus membuat pilihan-pilihan pada kedua tradisi ini. Dan saya cukup terkejut karena bentuk-bentuk aliansi yang saya bayangkan pada waktu itu ternyata bermunculan kembali hari ini lewat Badiou, Žižek, dan Eagleton, yang membela pentingnya teologi dalam Marxisme. Jadi bukan kebetulan bahwa aliansi tersebut kami bayangkan dulu.

 

Ceritakan pengalaman menjadi pendeta di Jerman Timur

Dick: Waktu itu saya sudah menjadi Profesor teologi di UvA, tetapi saya bersimpati dengan jemaat di Berlin, yang terdiri dari orang-orang Kristen Belanda yang memilih untuk tinggal di negara sosialis seperti Jerman Timur dan mendukung upaya pembangunan sosialisme di sana. Saya sendiri tidak pernah punya gambaran romantik tentang Jerman Timur sebagai negara di mana kenyataan sosialisme adalah ideal, atau hampir ideal. Bagi saya, pertanyaannya adalah lebih kepada bagaimana saya bisa solider pada proyek pembangunan sosialisme yang penuh problematika seperti ini tanpa mengasimilasikan diri pada tindakan-tindakan jahatnya. Selama enam tahun saya bolak-balik Amsterdam-Berlin dan berkhotbah di sana.

 

Apakah tidak pernah ada masalah dengan pemerintahan di sana?

Dick: Pada dasarnya tidak ada masalah. Hanya saja gereja kami pernah dicurigai karena aktivitas pembinaan yang kami lakukan. Dua kali dalam setahun kami mengadakan seminar yang membahas isu-isu ‘Perdamaian dan Keadilan’ (Peace and Justice), ideologi resmi pemerintah di sana. Saya pernah mengundang Rinse untuk menjadi pembicara dengan topik tentang homoseksualitas, yang menjadi isu problematis di sana waktu itu. Karena acara itu kami dipanggil oleh Secretary of Church Affairs dari pemerintah Jerman Timur, dan di sana kami ditegur, “Apa hubungannya isu perdamaian dan keadilan dengan homoseksualitas?” Jadi ada semacam kritik. Tapi toh mereka tidak melarang. Jadi ada kebebasan juga.

 

Ada banyak cabang dalam gerakan dan pemikiran Kiri. Di mana Anda melihat posisi Anda berdua?

Dick: Uh, itu pertanyaan yang sulit. Ya, jika bicara tentang politik, saya masih berharap dan melihat pentingnya keberadaan partai sosialis dalam parlemen. Tapi itu soal praktis, bukan teori. Tentu saja praktik tidak dimungkinkan tanpa teori. Dan dalam hal teori, sama seperti Rinse, saya mendekatinya sebagai seorang teolog atau teoretikus ideologi, di mana teologi bisa dianggap sebagai semacam ideologi. Saya menganggap diri sebagai murid Althusser, termasuk Althusser akhir yang berkonsentrasi pada kairos. Dalam situasi di mana sejarah tidak menawarkan perspektif apapun, penting untuk melihat kemungkinan kairos. Dan tentu saja lalu pertanyaannya adalah bagaimana kamu menjalani kehidupan. Seperti apakah praksis kehidupan yang menantikan kairos? Dan konstelasi problematika praktis yang terkait dengan hal ini-lah yang saya pikir menjadi sesuatu yang kepadanya saya ingin berafiliasi. Karena pertanyaan ‘apa yang harus dilakukan’ menurut saya tidak bisa terkait langsung dengan kebijakan sosialis, dalam opini saya. Setidaknya di bagian dunia ini. Dan saya kira konstelasi di tahun ’70-an, waktu saya menjadi anggota CPN dan CvS, waktu saya bekerja di Jerman Timur, dengan perasaan yang kuat bahwa kekalahan akan segera tiba, adalah harapan yang kuat akan pembaharuan dalam real socialism, alternatif sosialis atau anti-kapitalis di negara dunia ketiga, dikombinasi dengan pembaharuan sosialisme radikal di Eropa. Itu adalah konstelasi di mana saya dulu berpikir saya hidup di dalamnya. Tapi itu tidak lagi ada sejak 1989.

Rinse: Bagi saya sulit sekali untuk mengatakannya dalam terma-terma politik, tetapi dalam percakapan yang sedang berjalan sekarang dengan filsuf-filsuf yang bergerak dalam tradisi Marxis, penting bagi saya untuk tetap mengikuti pergerakan ini. Juga karena banyaknya kegersangan banyak representasi teologi hari ini. Jadi, misalnya, mengapa Badiou tetap penting? Karena pemikirannya tentang seni keterlibatan, kebenaran, menjadi setia. Tentu saja baginya kebangkitan Kristus adalah mitos, bukan kenyataan. Tapi kita melihat bahwa Paulus digerakkan oleh pengalaman kebaruan total ini, événement. Dan ia memutuskan untuk tetap setia pada peristiwa ini sampai akhir hayatnya. Bagi saya itu penting. Jadi seluruh keterlibatan politik dalam hidup saya mungkin adalah upaya untuk tetap setia pada peristiwa itu. Itu salah satu aspek. Lalu juga apa yang Žižek katakan bahwa anda tidak bisa menjadi Marxis tanpa menjadi Lutheran. Karena theologia crucis (teologi salib). Anda tidak bisa hanya menjadi makhluk yang menyangkal Allah. Anda harus mengatakan sesuatu tentang Allah. Dan mengatakan sesuatu tentang Allah yang hadir di salib. Bahwa Ia ada di sana bersama para korban. Tidak dikombinasi dengan historisisme Hegelian, tetapi dengan proklamasi tentang kabar sukacita (Injil). Dan ketika dalam tradisi Marxis keharusan untuk berbicara tentang Allah ini dibungkam, akan selalu ada bahaya bahwa Allah yang sebenarnya anda beritakan dalam Marxisme adalah Allah yang Mahakuasa, yang melupakan realitas salib itu. Mungkin penting juga untuk membaca Terry Eagleton, yang menemukan kembali Katolisisme-nya di masa menjadi mahasiswa. Ia berargumen melawan ateisme saintifik yang simplistik. Karena setiap gerakan perlawanan perlu imajinasi, perlu cerita. Ia harus mengisahkan sesuatu. Dan ia tidak pernah hanya menjadi cerita. Cerita-cerita juga mengubah dunia. Jadi ketika anda memakai paradigma saintifik dan menjadikannya dasar ateisme, anda akan kehilangan sesuatu.

Dick: Itu juga sebabnya mengapa Althusser penting bagi saya. Dalam buku saya yang pertama, Een Fantastisch Verhaal: Over Theologie en Ideologische Strijd (Sebuah Kisah yang Menakjubkan: Tentang Teologi dan Perjuangan Ideologis), teori Althusser tentang ideologi menjadi penting, sebab ia menawarkan pada saya kemungkinan untuk menjelaskan pentingnya menghubungkan Marxisme dengan cerita Alkitab.

Masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya ajukan sebenarnya, seperti alternatif interpretasi tentang Calvin atau Calvinisme yang non-Weberian, komentar tentang tragedi ’65, Henk Sneevliet, Tan Malaka, aliansi dengan agama-agama lain, dan perspektif tentang tantangan dan peluang sosialisme di abad ke-21, termasuk di Indonesia. Namun percakapan ini harus disudahi, karena Dick harus menghadiri perayaan ulang tahun saudaranya malam itu.***

 

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana di Protestant Theological University, Netherlands.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus