Absurditas Teknologi: Ruang Manusia Bereksistensi

Print Friendly, PDF & Email

KULIT Anda terasa halus ? Badan Anda setahap lebih tegap dibanding monyet? Dan performa otak Anda terasa maksimal? Sejatinya dulunya Anda tidak tampak demikian, evolusi lah yang telah menjadikan kita berada pada tahap ini dan semakin menjadi sempurna ( baca : menyesuaikan dengan keadaan zaman ) sampai saat ini. Dahulu manusia hidup dalam rimba yang menjadikannya memiliki kemampuan fisik yang baik. Pembukaan lahan, peralihan masa berburu dan meramu menjadi masa bercocok tanam menjadikan manusia harus sudah tak lagi hidup nomaden. Akibatnya aktivitas fisik mereka berkurang dan berimbas pada pembentukan masa otot. Ketika muncul industri, manusia semakin lemah. Sebagian dari pejabat tinggi perusahaan bahkan sama sekali tak menggunakan otot mereka untuk bekerja. Mereka hanya bertumpu pada fakultas otak demi bertahan hidup.

Sejarah ini menunjukkan bahwa manusia semakin hari semakin lemah-atau jika tidak ingin dikatakan lemah, sudah tak lagi memiliki masa otot sebesar masa lalu. Pertahanan diri yang selama ini menyatu dengan manusia justru secara perlahan menghilang. Kemampuan berlari manusia menurun; kemampuan berburunya menurun; demikian juga kemampuan hidup di alam. Hal ini tentu dikarenakan alam kita sudah tak lagi berupa hutan layaknya dulu. Alam kita adalah alam yang sudah tak lagi bersemak belukar namun berubah menjadi rimba teknologi. Kini bahkan bertambah menjadi dua, yaitu dengan munculnya alam maya.

Sebagai penggantinya, pelepasan kekuatan manusia didempul dengan piranti teknologi. Jika Anda adalah seorang pekerja tambang, Anda tak harus mengeruk dan mengais emas dengan menggali terowongan bawah tanah dengan tangan kosong, namun Anda bisa menggunakan mesin pengebor tanah seperti yang dilakukan perusahaan Freeport di Papua.

Keadaan dunia dengan teknologi diramalkan akan semakin baik, progresif, dan menuju peradaban yang agung. Manusia semakin sedikit bekerja, dan sebaliknya berproduksi sebanyak-banyaknya. Namun ramalan tersebut sepertinya tak pernah mengkalkulasi beberapa variabel. Alih-alih dunia semakin ramah untuk mempertinggi daya tahan kehidupan manusia, justru peradaban manusia diancam dengan global warming. Fakta terpapar jelas di depan kita. Anda bayangkan Cina bahkan harus mengimpor udara bersih dalam kemasan yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari.

Di satu sisi teknologi memberikan optimisme pelestarian peradaban manusia, dan sekaligus menyimpan sisi gelap dehumanisasi. Teknologi dibuat oleh manusia sebagai benteng pertahanan diri; teknologi yang dianggap sebagai pendonor segar peradaban justru dalam kantung darah tersebut telah teracuni. Kelangsungan manusia sedang terancam, karena berkat teknologi manusia menjadi dependent dan semakin lemah. Sangat sulit mendefiniskan diri di zaman ini jika Anda masih memakai handphone yang hanya bisa Anda gunakan untuk ber sms dan ber telpon ria. Ketidakmampuan Anda mendefinisikan diri akan berimbas pada kapan Anda akan mulai diterima bekerja di perusahaan yang bonafit dengan mengandalkan penulisan CV yang megah.

Di zaman ini mahluk yang masih menggunakan bentuk pertahanan diri dengan tetap menempelkannya di tubuh adalah hewan. Saya memprediksi semua hewan yang tidak memberikan andil besar dalam penyokong ketahanan manusia akan musnah. Dan sekaligus akan terjadi pembuatan hewan hewan baru yang membantu peradaban manusia—menjadi pilihan Anda untuk miris atau merayakannya. Anda bayangkan saja, domba telah dikawinkan secara genetik dengan laba-laba sehingga menghasilkan sutera dari perahan susunya. Alam singa, badak, jerapah telah hilang, bagaimana mungkin mereka hidup bahkan mereka tak lagi memiliki rumah—upaya domestifikasi mahluk liar bagi saya sama saja dengan membunuh mereka. Teknologi ternyata tak hanya bengis terhadap manusia, namun juga pada mahluk lain.

Rimba kehidupan sudah berubah. Jika dahulu manusia terseleksi lewat hutan, manusia saat ini terseleksi oleh teknologi. Teknologi menyeleksi siapa yang akan bertahan menghirup kabut asap yang juga dihasilkan dari penemuan teknologi, sekaligus teknologi menantang siapa yang ber uang untuk membeli oksigen. Kita tak bisa lagi lari darinya, yang harus manusia lakukan satu-satunya adalah dengan meningkatkan kualitas teknologi kita—atau mungkin ini ide yang buruk, karena smartphone banyak menuai kecemasan. Jika teknologi pabrik masih menghasilkan emisi gas beracun, manusia ditantang untuk bagaimana menciptakan teknologi pabrikan yang mampu mensterilkan limbah.

Tak hanya rimba teknologi yang masih mampu Anda persepsi lewat panca indera, namun dunia maya yang bahkan hanya bisa diraba oleh hanya sebagian panca indera, itupun secara parsial, juga turut mengancam manusia. Anda mungkin mampu melihat warna-warni foto di website pariwisata, mendengar kicauan tausyiah mama Dedeh di youtube, namun Anda tak akan dapat merasa dengan kulit, mengecap dengan lidah, dan mencium dengan hidung realitas maya tersebut. Melihat dan mendengar pun bukan berarti merepresentasikan dunia tersebut secara ontologis. Karena gambar di layar smartphone bukanlah dunia maya itu sendiri, itu hanyalah serpihan saja, Anda tentu belum berkenan untuk menjelajahi jutaan sinyal dan bahasa pemograman yang berseliweran sebagai juga pembentuk dunia maya itu sendiri. Maka apa yang kita ketahui mengenai dunia maya baru sekadar remahan dari realitas aslinya. Dengan meluncurnya smartphone, dunia maya justru berubah menjadi tempat hidup kedua manusia, jika tidak ingin dikatakan 50:50. Anda bisa membandingkan berapa jam Anda bermain gadget dari berelasi dengan teman sebelah Anda. Dan bahkan mungkin ketika Anda sedang berbicara Anda tetap sibuk membuka twitter.

Dunia maya tak kalah bengis, Anda yang kalah akan terefutasi secara brutal. Kasus terbaru, seorang netizen kabarnya harus sampai terserang stroke karena dipermalukan oleh Deddy Corbuzier, perihal komen negatif dia terhadap Chika Jessica. Tak hanya itu, studi menunjukkan bahwa individu yang menghabiskan lebih banyak waktu di facebook akan memiliki tingkat kegelisahan yang lebih besar. Atau lebih ekstrem lagi, ada banyak nyawa yang menghilang hanya karena dibuli di media massa. Dunia maya tak kenal Anda, ia hanya memiliki modus operandi untuk menghantarkan pesan informasi. Jika Anda kewalahan menanggapinya maka Anda akan terseleksi dengan sendirinya.

Kehidupan manusia yang ternyata sekarang harus berdiri di dua dunia menjadikan kehidupan tentu semakin berat. Dahulu jika manusia purba hanya hidup dan berfokus pada alam rimba, generasi Z seperti saya harus selalu berurusan dengan memenuhi gizi seperti juga manusia purba sekaligus mengunggah foto makanan tersebut ke instagram. pelipatgandaan energi dan perhatian yang harus dikeluarkan.

Dunia maya menghasilkan belitan rantai informasi. Para pemuda di kaki gunung yang sebelumya hanya memiliki konsep makan, bertani, dan beribadah, semenjak mereka bermain gadget mereka mulai disusupi konsep konsep baru yang asing dan begitu sukar, bahkan untuk diampu oleh 7,4 Milyar manusia dunia. Mereka akan mulai gusar dengan konsep humanisme, turut memusingkan permasalahan pembangunan kereta cepat, atau bahkan ikut bersimbah peluh menelisik kehidupan rumah tangga Ahmad Dhani. Bertambahnya konsep ini tentu akan berimbas pada kualitas kehidupan sang pemuda, semakin hari ia akan semakin dipusingkan dengan berbagai permasalahan yang sebenarnya sama sekali tidak berkaitan langsung dengan kehidupannya. Sang pemuda bahkan akan tetap hidup tanpa gadget, dengan berandalkan palu dan arit ia akan tetap berbahagia. Dengan justru mengetahui konsep humanisme dan mulai memikirkannya, kegusaran akan muncul dan menjadikan kualitas kebahagiaannya berkurang.

Belum lagi ambisi para ilmuan untuk menciptakan artificial intellegence. Mungkin akan masih lama, namun beberapa pihak khawatir akan hal tersebut, seperti Stephen Hawking yang khawatir dimana artificial intellegence justru akan berdampak buruk bagi manusia. Mereka (baca: artificial Intellegence) bisa jadi suatu saat menjadi begitu cerdas dan justru berkoloni dan menghancurkan manusia.

Maka dengan begitu, manusia sudah terjebak pada jaringnya sendiri. Anda tak akan bisa keluar dari jaring-jaring teknologi dan informasi. Bahkan ketika Anda harus kembali ke hutan, seperti ajakan Franz Kafka untuk menjadi kecoa sebagai jalan keluar permasalahan kehidupan, yang justru malah menjadikan Anda semakin absurd. Anda tak akan mampu keluar dari absurditas ini. Yang harus Anda lakukkan adalah hanya menikmatinya. Menjalani dan menikmati absurditas, persis seperti solusi Albert Camus. Mungkin menjadi semacam pertanyaan bagi kelompok Marxist, haruskah saya menafsirkan ulang secara kekinian Das Kapital, ataukah menikmati sistem kapitalisme?***

 

Penulis adalah mahasiswa department filsafat, Universitas Indonesia

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus