LKIP Edisi 31

Print Friendly, PDF & Email

Teori – Produksi Ruang dan Revolusi Kaum Urban Menurut Henri Levebre
Kritik – Wajah Janus Generasi Maya
Catatan Kawan – Makanan, Racun, dan Ekonomi-Politik
Karya – Nada Gitar Suling
Kliping – Subur, Suburlah PKI

SEPANJANG DESEMBER kami tidak terbit. Selain berusaha untuk mengatasi kegalauan dan rutinitas terbit saban bulan yang terkadang membuat kami lupa untuk apa kami harus terbit, seperti Anda sekalian, pembaca yang budiman, kami pun liburan. Jangan bayangkan Marxis tidak bisa atau tidak boleh berlibur. Bung dan Nona, ada saatnya kami meninggalkan Perry Anderson demi Katy Perry. Ada masanya pula kami mencampakkan Etienne Balibar supaya bisa mem-bully kaum Belieber. Serta tentunya, kami juga menyimpan sejenak Karl Marx untuk sekadar menyambangi kegamangan ala Richard Marx.

 Tapi biar musim pakansi tiba, roda masyarakat tetap berjalan. Liburan akhir tahun pun tidak selamanya sesantai yang kita bayangkan. Nyaris semua media alternatif tiba-tiba saja merilis daftar yang terbaik dan yang terburuk dari 2015, termasuk rentetan peristiwa sepanjang tahun itu. Tentu saja kami pun menemukan kawan-kawan yang juga membuat daftar pribadi perihal hal-hal itu.

Usaha-usaha pengarsipan kecil-kecilan bikin kami gelagapan. Sempat terbersit untuk ikut serta menyusun senarai best list serupa, namun kami sudah kadung masuk mode pakansi sebulan kemarin. Jadi kami hanya sempat jadi penonton, sambil pelan-pelan mengelus dada memberi penghiburan. “Jatuh cinta Budaya itu biasa saja. Ia bukan milik sekelompok budayawan di pasar minggu semata. Semua orang bisa merayakannya!”

Jadi, mumpung masih hangover pakansi, ada baiknya membicarakan makanan dan mempolitisir apa yang selama ini disebut-sebut sebagai wisata kuliner. Kata siapa makanan tidak politis? Bukannya sejak dulu banyak orang sering membicarakan masalah politik sebagai urusan perut belaka? Bukankah orang selama ini menyebut proses kerja sebagai usaha untuk “mencari sesuap nasi”? Memahami konsumsi makanan sehari-hari dalam kerangka corak produksi kapitalis, seperti yang ditulis Muhammad Reza Hilmawan dalam “Makanan, Racun, dan Ekonomi-Politik” artinya memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari relasi ekonomi-politik yang lebih luas, dimana bahan baku konsumsi harian pun dibagi-bagi menurut kelas: organik untuk yang mampu dan non-organik untuk kelas kere. Yang kaya sehat, yang miskin dibiarkan menumpuk racun. 

Agar lepas dari hangover pakansi itu pula, kami menyuguhkan tulisan Arie Setyaningrum Pamungkas, “Produksi Ruang dan Revolusi Kaum Urban Menurut Henri Lefebvre” sebuah kajian teoretik yang mendedah Hak atas Kota (atau “kedaulatan para penghuni Kota”) dalam konteks keniscayaan urbanisasi. Proses urbanisasi ini, menurut Arie Setyaningrum, menciptakan ruang-ruang yang tidak egaliter, yang ironisnya, menetralisir segala bentuk kontradisi kelas dengan cara membuatnya seolah inklusif. Ya, saking inklusifnya sampai mobil-mobil mewah menyerobot jalur TransJakarta (lalu sang gubernur menuduh demonstran “tukang bikin mogok”), sampai sumber air tanah milik bersama dihisap habis-habisan oleh bisnis perhotelan, belum lagi pantai yang direklamasi untuk kepentingan bisnis. 

Dua rubrik lainnya kali ini lebih banyak berkutat di wacana sastra. “Wajah Janus Generasi Maya” merupakan sebuah hasil bacaan Berto Tukan atas novel bertajuk Semusim dan Semusim Lagi. Di dalam hasil pembacaan tersebut, Berto berusaha untuk melihat novel yang dimaksud sebagai representasi dari generasi Indonesia masa kini.

Sedangkan cerpen Sinta Ridwan di rubrik apresiasi karya berkisah tentang seorang eksil 1965 di sebuah kota nun jauh dari tanah airnya. Cerpen bisa dibaca dengan dua cara: 1) Anda bisa membacanya sambil mengingat apa-apa saja yang kita lakukan di tahun 2015 yang baru lewat untuk mengenang dan membicarakan G 30 S 1965. 2) Anda bisa menikmatinya sebagai tribute pada Tarling, sebuah genre musik tradisional endemik di sekitar wilayah Cirebon yang kini nasibnya setali tiga uang dengan korban 65: hanya diingat segelintir orang saja.

Terakhir, kami menyuguhkan salinan naskah pidato Bung Karno pada Ultah PKI ke 45 di rubrik kliping. Dengan kharisma dan humor yang hangat khas Bung Besar, pidato ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan mood booster di awal tahun. Namun, jangan lupa pesan pentingnya, bahwasanya phobia akan komunisme bukan barang baru dan usaha untuk memeranginya haruslah segigih usaha balikan.

Sebagai penutup pengantar edisi Januari 2016 ini, segenap redaktur Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS mengucapkan selamat kepada Hilmar Farid yang pada akhir tahun lalu dilantik sebagai Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Semoga, Bang Fay, yang tulisan-tulisannya dan kerja-kerjanya selama ini sangat menginspirasi kami di LKIP, mampu mengkoreksi dan memberi nilai baru pada intervensi negara terhadap kebudayaan Indonesia.

Selamat membaca.


comments powered by Disqus