Wawancara dengan Ronny Agustinus

Print Friendly, PDF & Email

Wawancara ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman di Graswurzel Revolution 401, September 2015 (http://www.graswurzel.net/401/marjinkiri.php) dengan judul ‘Der Anarchismus ist eine Inspirationsquelle (Anarkisme adalah Sumber Inspirasi, Ed-). Berikut wawancara lengkapnya:

 

Tahun ini Marjin Kiri merayakan HUT ke-10. Bagaimana ceritanya Marjin Kiri berdiri?

Marjin Kiri didirikan sebagai usaha penerbitan oleh 6 orang (termasuk saya). Keenam orang itu berlatar belakang dosen, peneliti dan aktivis. Dalam perjalanannya selama 10 tahun ini, sungguh tidak mudah. Kami sempat berhenti terbit pada 2007-2008 karena berbagai masalah. Setelah dilakukan penataan organisasi, kami mulai aktif lagi tahun 2009, dan syukurlah tetap bertahan hingga sekarang. Banyak di antara kawan-kawan lama tersebut tidak sanggup lagi mencurahkan perhatian yang dibutuhkan dalam kerja yang sangat menyita waktu dan tenaga ini, sehingga hanya dua dari enam pendiri yang bertahan hingga kini.

 

Mohon dijelaskan, fokus Marjin Kiri sebagai penerbit itu buku-buku apa?

Kami menerbitkan kajian-kajian kritis di bidang ekonomi-politik, filsafat, sosial-budaya/humaniora, sejarah dan kajian Indonesia. Juga karya-karya sastra.

 

Apakah Ronny merasa terinspirasi oleh perjalanan penerbit lain di negaranya sendiri dan/atau di negara lain? 

Ya, sebelum mendirikan Marjin Kiri, saya menerjemahkan buku-buku untuk Insist Press dan Resist Book. Keduanya juga penerbit Indonesia yang mengusung isu-isu kritis, sehingga sedikit banyak saya terinspirasi oleh kerja mereka. Namun demikian, kiblat kami yang utama tentunya adalah dua penerbit kiri besar dunia: Verso Books dan Zed Books dari Inggris.

 

Saya lihat di program Marjin Kiri juga ada karya penulis dari luar negeri yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Apa ada buku dari penulis asal Jerman yang diterbitkan oleh Marjin Kiri? 

Sekitar akhir tahun 2005 atau awal 2006, kami membeli hak terjemahan buku Ernst Gombrich yang luar biasa, Eine kurze Weltgeschichte für junge Leser (Sedikit Tentang Sejarah Dunia, -Ed), bahkan sempat mengajukannya untuk mendapatkan subsidi terjemahan dari Goethe Institut, dan disetujui. Tapi sayangnya, seperti saya bilang tadi, pada 2007-2008 kami mendapat masalah internal sehingga terjemahan buku ini tidak jadi terbit dan uang subsidi tidak kami cairkan. Untungnya, di FBF tahun 2014 lalu saya bertemu dengan penerjemahnya, yakni Ibu Elisabeth Soeprapto-Hastrich, serta penerbit Dumont sebagai pemegang copyrights, dan masalah ini beres. Buku Gombrich akan terbit tahun 2015 ini. Tentu asyik untuk bisa menerbitkan karya-karya penulis dan pemikir Jerman lainnya, tapi soal penerjemahannya ini tidak mudah.

 

Marjin Kiri terkenal sebagai penerbit Kiri. Apakah pasar untuk buku-buku Kiri di Indonesia cukup besar supaya bisa bertahan sebagai penerbit?

Bukan hanya buku Kiri, buku apapun dengan tema berat/serius (bukan self-help, motivasi, manajemen, parenting, atau agama), pasar di Indonesia tidak pernah besar. Yang penting buat kami, hasil penjualan satu judul bisa dipakai untuk membiayai pencetakan judul berikutnya. Saat ini oplah kami rata-rata untuk satu judul hanyalah 1.000 sampai 1.500 eksemplar. Tentu ada beberapa judul yang lebih laris, tapi itu pun hanya pada kisaran 3.000 eks (catatan: buku kami yang terlaris pernah mencapai 8.000 eksemplar). Kadang, inilah kesulitan kami menjelaskan pada para direktur copyrights penerbit-penerbit internasional yang belum mengenal situasi di Indonesia. Mereka sering bertanya dengan tak percaya: ‘Penduduk Indonesia 250 juta, masa kamu cetak cuma 1.000 eksemplar?’ Tapi ya, inilah kenyataannya.

 

Bagaimana Marjin Kiri menghadapi antikomunisme yang masih kuat sekali di Indonesia?

Ini memang masalah. Dua buku kami pernah ditolak oleh jaringan toko buku terbesar di Indonesia hanya karena ada kata ‘Marx’ atau ‘Marxis’ di judulnya, dan satu buku lain ditolak karena membahas perkosaan dalam kasus 1965. Pemerintah memang sudah tidak pernah lagi menyensor/melarang buku-buku tertentu, tapi pelarangan itu kini dijalankan oleh toko buku sendiri atas dasar ketakutan (takut dirazia oleh kelompok-kelompok antikomunis dan pro Orde Baru, sementara polisi lemah dalam memberikan perlindungan).

Buat kami, kerja penerbitan ini adalah salah satu yang bisa dilakukan untuk perlahan-lahan mengikis antikomunisme. Di Indonesia (Hindia-Belanda) pada awal abad ke-20, menjadi komunis adalah kebanggaan tersendiri bagi kaum muda, lambang kemajuan dan modernitas. Sementara kini, seabad sesudahnya, komunis bagi masyarakat awam identik dengan iblis. Sungguh gila cara Orde Baru melakukan pemelencengan ini. Tapi kami percaya ini bisa diubah. Sedikit-sedikit sudah terasa di dunia akademik: memakai perspektif atau penalaran Marxis dalam meneropong suatu permasalahan semakin jamak dilakukan dan bukan lagi tabu, meski tentunya banyak juga kampus atau dosen kolot yang masih mengharamkannya. Cara-cara lain tentu perlu dilakukan, semisal mengajukan tuntutan legal pencabutan Tap MPRS tentang pelarangan komunisme. Tapi itu akan lebih konfrontatif dan kontroversial.

 

Kalau melihat terbitan Marjin Kiri, sepertinya ada ketertarikan pada Anarkisme juga, misalnya ada buku Sean M. Sheehan dan John Moore. Kenapa? Dan bagaimana Anarkisme dilihat di Indonesia pada umumnya?

Kami memang membuat seri tersendiri bertajuk ‘Mengkaji Anarkisme’, dan selain dua penulis di atas, saat ini sedang naik cetak terjemahan buku karya peneliti Indonesia/Asia Tenggara terkenal, Ben Anderson, tentang bagaimana pemikiran dan gerakan anarkisme global bertaut dengan perjuangan nasionalis di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19.

Dalam pemahaman umum, misalnya bila dilihat dalam pemakaian kata ‘anarkis’ di media massa sehari-hari, ‘anarkisme’ lebih banyak dikaitkan dengan kekacauan, rusak-rusakan, penghancuran, dll, yang destruktif, padahal makna aslinya tidak seperti itu. Anarkisme seharusnya adalah membangun sesuatu/ bergerak bersama secara kooperatif, tanpa pimpinan terpusat, ketika semua partisipannya berdiri setara. Nah, ketika sosialisme kadang disebut terlalu birokratis (kita sudah melihat contohnya dari pengalaman Soviet), anarkismelah yang kami kira lebih banyak mewarnai gerakan sosial kontemporer di dunia sekarang. Dan ini menarik untuk dibahas.

Saat mengawali seri ini, kami berpikiran untuk membawa wacana tentang anarkisme ini lebih ke pembaca umum (mainstream), memperkenalkannya ke banyak orang bahwa sebagai bangunan teoretis maupun aksi, anarkisme ini kokoh, tidak main-main. Selama ini terjemahan pemikiran anarkis lebih banyak beredar dalam bentuk zine-zine yang tentunya beredar lebih terbatas, underground, dan tidak masuk toko buku. Menurut kami, hal macam ini perlu dibawa ke publik yang lebih luas. Memberi tahu orang yang belum tahu. Sama seperti komunisme, pemahaman umum tentang anarkisme perlu dikoreksi. Karena itulah kami bikin seri ‘Mengkaji Anarkisme’. Belum lama ini kawan-kawan anarkis meluncurkan situs anarkis.org (berbahasa Indonesia) untuk semakin memasyarakatkan wacana tentang anarkisme ini, dan itu perkembangan yang luar biasa.

 

Sejauh yang saya tahu, Ronny sendiri juga ahli sastra Amerika Latin dan sering menerjemahkan tulisan dari Bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia. Bagaimana bisa tertarik ke situ?

Saya mungkin bukan ‘ahli’ dalam pengertian profesional kata tersebut (karena saya tak berpendidikan/bergelar formal di bidang tersebut), hanya memang saya punya minat sangat mendalam terhadap khazanah sastra Amerika Latin, dan karenanya menekuni pembacaan literatur dari sana. Uniknya, lebih dari 20 tahun lalu, minat saya akan Amerika Latin terpicu pertama-tama justru bukan oleh penulis Amerika Latin, melainkan penulis Belanda J. Slauerhoff dalam bukunya yang diterjemahkan oleh kritikus sastra terkenal Indonesia H.B. Jassin, Pemberontakan Guadalajara. Novel ini bercerita tentang pemberontakan rakyat Indian di Guadalajara dan ilusi/disilusinya yang disulut oleh tokoh agitator serupa Kristus (tema Ratu Adil ini nantinya saya temukan lagi dalam buku yang jauh lebih tebal karya Vargas Llosa). Dari buku itu saya mencari-cari lagi soal Amerika Latin dan menemukan terjemahan Indonesia García Márquez Tumbangnya Seorang Diktator. Seumur hidup saya belum pernah membaca sesuatu yang seperti itu! Satu kalimat bisa satu paragraf bahkan satu halaman panjangnya, dan impresinya masih membekas sampai sekarang. Buku itu diberi pengantar oleh sastrawan yang sekaligus rohaniwan Katolik Y.B. Mangunwijaya. Romo Mangun menulis dalam pengantarnya bahwa banyak sekali yang menarik yang tidak kita ketahui tentang sastra dari sana karena tidak ada terjemahannya. Amerika Selatan adalah wilayah terra incognita, katanya. Dari situlah saya bertekad menjelajahnya.

 

Menurut Ronny apakah ada kemiripan antara sejarah Indonesia dan sejarah Amerika Latin?

Amerika Latin sendiri itu majemuk dan tidak bisa dipandang sebagai entitas tunggal. Ada wilayah-wilayah yang ‘sangat Eropa’, tidak pernah mengalami masa lalu yang penuh konflik dengan penduduk asli Indian, dan ada yang sebaliknya. Sehingga tentunya perbandingan dengan Indonesia tidak bisa juga pukul rata. Riwayat kolonialismenya juga berbeda, yang mewariskan permasalahan-permasalahan politik dan rasial yang berbeda pula dengan di Indonesia.

Namun tentunya ada pengalaman-pengalaman bersama yang harusnya bisa dijadikan pelajaran, misalnya soal kediktatoran militer dan pelanggaran HAM. Jika Pincohet memetik inspirasi kudetanya dari Seoharto (dan menamai operasinya ‘Operasi Jakarta’), sayang sekali kita tidak sebaliknya memetik pengalaman Cile dalam mengadili Pinochet; atau pengalaman Argentina dalam membongkar kejahatan-kejahatan rezim diktator militer.

 

Marjin Kiri termasuk penerbit-penerbit yang berangkat ke Jerman untuk Frankfurt Book Fair 2015. Buku-buku apa yang akan dipresentasikan di FBF?

Kami tentunya akan membawa buku-buku yang menurut kami unggulan: yang temanya bisa terkait (related) dengan pembaca universal, namun menghadirkan perspektif atau warna yang khas Indonesia.

 

Kalau Ronny dari perspektif penerbit dan pecinta sastra melihat program Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF, apakah Ronny merasa, buku-buku yang (akan) diterjemahkan ke bahasa Jerman dan sastrawan yang diberangkatkan cukup mewakili sastra kontemporer Indonesia? 

Ini rumit dan menjadi topik perdebatan panas belakangan. Persoalan mendasarnya saya kira adalah: tak ada satu pun kritikus atau kajian dalam 1 dasawarsa terakhir yang pernah menjelaskan dengan meyakinkan ‘apa itu sastra kontemporer Indonesia’. Anak-anak muda membentuk komunitas-komunitas sastra di pelbagai kota, mereka menulis dan menerbitkan buku-buku (di Aceh, Makassar, Papua, Banten, NTT, dll), tapi tak ada yang serius mencatatnya, mengkajinya secara sistematis sebagai bagian dari sastra kontemporer Indonesia. Data, catatan, dokumentasi tentang itu tak pernah ada atau lengkap, sehingga dalam seleksi apapun, orang hanya merekomendasikan apa yang pernah dia tahu atau lihat saja. Upaya-upaya sporadis untuk mengumpulkan bahkan menerjemahkannya sudah dilakukan dengan bagus misalnya dalam antologi Out of Ubud (2014) dan situs http://www.i-lit.net/, tapi upaya sistematis mencatat keberagaman ini, belum.

Misalnya, saya pernah dua kali diminta menjadi juri dalam anugerah sastra yang tarafnya nasional. Panitia tidak punya dana dan waktu untuk melacak setiap buku sastra yang terbit di seluruh Indonesia ini dalam rentang tahun yang dijurikan tersebut. Mereka terpaksa mengandalkan penerbit-penerbit yang mereka tahu, yang sebagian besarnya berlokasi di Jawa, agar mengirimkan terbitan-terbitan mereka. Dengan sistem macam ini, pasti ada karya-karya yang belum apa-apa sudah tereliminasi dari penjurian hanya karena mereka tidak diketahui oleh para juri. Tapi banyak atau sedikitkah? Lagi-lagi kita tidak pernah tahu.

Jadi, memilih tema ‘17.000 Islands of Imagination’ adalah tugas dan tanggung jawab maha berat, dan dengan kondisi seperti saya uraikan tadi, keanekaragaman yang diniatkan dari tema tersebut sepertinya bakal kurang terwakili, meskipun pihak FBF sudah berjuang keras agar itu terwakili. Persoalan mendasarnya ruwet dan banyak, sehingga kekurangan-kekurangan saya kira tidak bisa begitu saja dipulangkan pada Panitia Nasional (tapi ada masalah lain memang: Panitia Nasional kurang tampak berdaya mengatasi kekurangan ini dan seperti tak berdaya juga bila kekurangan ini dipakai oleh pihak-pihak tertentu untuk memajukan orang yang itu-itu saja).


comments powered by Disqus