Edisi LKIP 20

Print Friendly, PDF & Email
Karya – Sang Presiden dan Buku Puisi Kesedihan
Kritik – Tragedi 1965 dalam Karya-Karya Umar Kayam: Perspektif Antonio Gramsci
Kritik – Menolak Diam, Menolak Dusta
Kliping – Terekam Tak Pernah Mati: Arsip Partitur Lagu Harian Rakjat, Januari – Oktober 1965

 

PENGANTAR ini dibuat dengan usaha yang teramat keras untuk menghindari kalimat pembuka, “Sesungguhnya kami bingung mau menorehkan apa dalam tulisan ini.” Seiring waktu berjalan, kalimat tersebut sepertinya menjadi sesuatu yang lumrah di laman ini. Dan Saudara, percayalah, itu sebuah kebiasaan buruk. Kami sesungguhnya harus dengan teguh, sepenuh hati, sangat kuat, dan penuh daya juang menuliskan kalimat-kalimat bernada revolusioner, bernada perjuangan, demi kemajuan bangsa, tanpa lupa meluruskan jalan sejarah.

Ah, kalimat terakhir ini, Saudara, membawa kita pada bulan yang penuh aksi menundukkan kepala. Apalagi bagi kita, kaum revolusioner negeri ini, kaum yang mendapatkan kuk sejarah yang begitu berat. Bayangkanlah. Pada bulan September tahun 1965, golongan revolusioner, golongan yang sedari awal berjibaku untuk kemerdekaan yang pada akhirnya tercipta pada 1945 lantas berjibaku mati-matian mempertahankan kemerdekaan itu untuk kemudian dibasmi hingga ke akar-akarnya. Yah, bagi kita yang sudah seiman di jalan sosialisme tentu tahu belaka apa yang kami katakan di sini; G 30 S. Pelan-pelan mereka yang tersisa dari generasi itu hilang satu-satu.

Di titik inilah lagu Vina Panduwinata yang samar-samar terdengar dari mulut bapak-bapak penjaga gardu kompleks perumahan yang sudah secara terstruktur, sistematis, dan masif berada di bawah pengaruh Anggur Cap Rajawali sungguh mengusik. Bayangkan! Mereka menyanyikan September Ceria-nya Vina Panduwinata!!! Imajinasi kesedihan yang perlahan-lahan menyusup di otak kami pun perlahan pudar, dan berganti dengan pemikiran yang kami tahu, sejak awal, salah. Barangkali, ya barangkali, September Ceria-nya Vina Panduwinata ini adalah salah satu strategi Orba agar orang lupa pada kekejaman Orba terhadap komunis di Indonesia. Tetapi kawan lain langsung menyangkalnya. Tak mungkin hal itu terjadi. Justru Orba bersusah-payah membuat September sebagai bulan yang mencekam. Bayangkan. Setiap malam tanggal 30 September kala itu semua anak sekolah diwajibkan menonton film Pengkhianatan G 30 S besutan Arifin C. Noer. Bayangkan lagi, timpal kawan lainnya, sebuah daerah terpencil di Indonesia kala itu yang jarak antara satu rumah dan rumah lainnya bisa ditanami tiga pohon jati; masyarakat desa itu, karena televisi masih jarang di sana kala itu, pada malam hari harus menonton film tersebut di balai desa!! Bukankah alangkah horor? Tetapi Vina Panduwinata menutup perbincangan itu dengan manis. Bapak-bapak penjaga gardu sedikit serak dan fals menyanyikan larik-larik ini; kasih, kau sibak sepi di sanubariku; kau bawa daku berlari di dalam asmara; yang mendamba bahagia. Sungguh, Vina Panduwinata menohok sisi tereksistensial kami. Kami pun diam.

Setelah senyap yang cukup lama, kami teringat tulisan tentang Senyap,film teranyar Joshua Oppenheimer. Kami, sayangnya, belum menonton film itu. Namun, melalui tulisannya, Prof. Ariel Heryanto sedikit banyak sudah menjadi spoiler bagi kami. Bagi Ariel, dalam tulisannya yang bertajuk Menolak Diam, Menolak Dusta, film tersebut adalah film terbaik sejauh ini yang bercerita dari perspektif korban 1965. Kami membagikan tulisan tersebut di rubrik kritik untuk Anda sambil berharap bisa segera menyaksikan film yang dimaksud. Yoseph Yapi Taum lagi-lagi menyumbangkan ulasan sastranya untuk Lembar Kebudayaan IndoProgress. Kali ini, dosen Universitas Sanatadharma itu membedah karya-karya tentang 1965 dari Umar Kayam melalui perspektif Antonio Gramsci. Dalam tulisannya, juga di rubrik kritik, yang bertajuk Tragedi 1965 dalam Karya-karya Umar Kayam: Perspektif Antonio Gramsci, Yapi Taum berpendapat bahwa Umar Kayam meskipun punya sedemikian perhatian perihal 1965 pada akhirnya tetap saja intelektual organis Orde Baru.

Para rubrik karya kami hadirkan cerpen karya Irwan Bajang bertajuk Sang Presiden dan Buku Puisi Kesedihan. Entah mengapa, judul ini mengingatkan kami pada salah satu novel karya Gabriel Garcia Marquez. Namun, ketika dibaca, jauh dari itu. Bajang mengimajinasikan sebuah dunia baru dan permasalahan-permasalahan yang mengikutinya setelah itu. Barangkali, hampir senada dengan Animal Farm-nya Orwel. Berikutnya, rubrik pamungkas untuk edisi ini, yakni rubrik kliping, diperuntukan bagi Anda yang melek notasi angka. Dengan pengantar dari Mochammad Abdul Manan Rasudi, apa yang kami hadirkan di sana dimaksudkan untuk menemani Anda di kamar mandi. Karena kami selalu tidak setuju dengan Seno Gumira Ajidharma.

Demikian, pembaca yang budiman. Sebelum membaca Lembar Kebudayaan IndoProgress edisi September 2014 ini, baiklah sedikit Saudara mengenang mendiang Munir, dan bertekadlah untuk menjauhkan siapa pun yang tangannya berlumuran darahnya dari urusan-urusan menyangkut publik. Berilah mereka tempat di ruang-ruang pengakuan dosa yang semestinya. Dan tak lupa, bagi yang berada di Jakarta dan sekitarnya, bolehlah mampir sejenak nanti malam di Bundaran HI untuk mengenang mendiang Munir.

Terima kasih dan selamat membaca!

 

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus