Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah! Rebut Kekuasaan Politik dari Tangan Para Kapitalis!

Print Friendly, PDF & Email

Judul buku: Forces of Labor : Worker’s Movements and Globalization Since 1870
Penulis: Beverly J. Silver
Penerbit: Cambridge University Press, 2003
Tebal: 180h. + appendix dan daftar pustaka

 

WHAT a beautiful coincidence! Sembari me-review buku Beverly J. Silver berjudul Forces of Labor: Worker’s Movements and Globalization Since 1870 ini, saya ditawarkan[1] menjadi panitia sebuah konferensi internasional serikat buruh se-Asia. Buku Silver ini seperti memberikan saya pandangan lain tentang labor internatonalism, khususnya gerakan buruh internasional. Dalam konferensi internasional bernama ‘Asia Trans National Corporations Network Monitoring,’ berbagai serikat buruh yang berasal dari berbagai sektor dan berbagai negara di Asia bertemu dan mendiskusikan hal-hal penting dalam gerakan buruh secara bersama-sama. Ya, globalisasi bukan hanya anak kandung kapitalisme, tapi ia juga bisa menjadi musuh dalam selimut bagi kapitalisme, karena gerakan buruh, bagaimanapun, dapat bangkit karena kondisi yang diciptakan globalisasi. Dalam konferensi itu, saya melihat bahwa gerakan buruh bisa memanfaatkan dynamic space-time dalam globalisasi untuk membangun kekuatannya secara internasional. Kenyataan tersebut, saya temukan analisisnya dalam buku Silver ini. Buku yang terdiri atas 5 bab dengan halaman Appendix yang cukup banyak ini merupakan hasil riset Silver selama bertahun-tahun mengenai sejarah dan perkembangan gerakan buruh secara internasional semenjak tahun 1890an. Silver menjelaskan, selain mendasarkan analisanya pada riset-riset dengan time-series yang sangat panjang, ia juga menggunakan data-data dari berbagai surat kabar seperti Time London dan  New York Times dalam penelitiannya.

 
Aspek Metodologis
Pada bab 1 “Introduction,” Silver mengungkapkan kerangka teoritis yang ia gunakan dalam buku ini. Dalam hal ini, ia membandingkan pemikiran dari dua Karl yang memiliki pemikiran yang berbeda satu sama lain dalam kritiknya terhadap kapitalisme, yakni Karl Marx dan Karl Polanyi. Marx dan Polanyi sama-sama menyajikan kerangka teoritis mengenai gerakan buruh. Dengan cara yang berbeda, keduanya berpandangan bahwa buruh merupakan sebuah fictitious commodity atau komoditas samaran. Namun, Marx menekankan bahwa aspek fictitious buruh tersebut berada di titik produksi, bukan pada penciptaan dan operasi dari pasar tenaga kerja seperti yang diungkapkan Polanyi. Selain itu, kedua Karl ini memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat perlawanan buruh. Marx berpandangan bahwa tahapan-tahapan transformasi yang terjadi dalam perlawanan buruh merupakan bagian dari sejarah kapitalisme. Sementara itu, Polanyi berpandangan bahwa gerakan buruh seperti pendulum, yang gerakannya amat bergantung pada tuntutan yang hendak dibawa. Silver kemudian mengritik pemikiran Polanyi yang melewatkan konsep power atau kekuasaan politik dalam membaca injustice atau ketidakadilan yang diciptakan kapitalisme. Sementara Marx, demikian Silver, secara jeli melihat bahwa injustice atau ketidakadilan yang diciptakan kapitalisme tidak dapat dipisahkan hubungannya dengan power atau kekuasaan politik itu sendiri.

Kemudian, Silver mengungkapkan berbagai argumennya mengenai signifikansi dari riset dalam bukunya ini. Di bagian awal, Silver berpendapat bahwa saat ini (di abad 21) tengah terjadi krisis dalam gerakan buruh. Hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya job insecurity (ketiadaan jaminan pekerjaan) seiring dengan meningkatnya pasar tenaga kerja fleksibel dalam era gerak dan ekspansi modal yang kian cepat dan luas. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan aksi-aksi buruh seperti mogok mengalami penurunan. Dalam hal ini, kondisi krisis tersebut justru terjadi di era dimana teknologi informasi mengalami peningkatan yang signifikan.

Silver juga mengungkapkan bahwa buku ini akan melakukan analisis masa depan gerakan buruh berdasarkan pada penelitian secara historis atas gerakan buruh. Premis yang dibangun dalam buku ini sendiri adalah premis-premis yang dibangun dari analisis historis dan geografis. Pada bagian awal ini, Silver menjelaskan bahwa buku ini akan menyajikan analisis mengenai kondisi masa depan dari gerakan buruh berdasarkan pada apa yang pernah terjadi di masa lalu dan masa kini pada gerakan buruh. Lemahnya posisi tawar buruh, kian rendahnya upah dan kondisi kerja yang terjadi dalam skala global nyatanya belum menunjukkan adanya peningkatan kekuatan gerakan buruh secra global. Krisis dari gerakan buruh yang tengah terjadi ini, menurut Silver, seharusnya dianalisis berdasarkan transformasi yang terjadi pada organisasi produksi dan proses kerja.

Kemudian, Silver mengungkapkan analisisnya mengenai ciri/karakter dari Fordism yang memperkuat gerakan buruh, dimana semakin global jaringan produksi, semakin besar kemungkinan dirusaknya jaringan kerja tersebut secara geografis, termasuk oleh gerakan buruh. Salah satu analisis utama yang digunakan Silver dalam membaca labor internationalism ini ialah pertanyaan mengenai ‘A Race to the Bottom/perlombaan di dasar’ dari gerakan buruh. Dalam konteks race-to-the-bottom yang terjadi pada gerakan buruh dipandang sebagai akibat/hasil dari konflik politik. Pada bagian pendahuluan ini, Silver juga mengungkapkan bahwa buku ini akan mengungkapkan pergolakan buruh dalam kaitannya dengan berbagai model organisasi produksi yang berlaku pada berbagai industri dalam kapitalisme.

Selain itu, Silver juga mengungkapkan analisisnya mengenai peran negara dalam globalisasi, dimana globalisasi bisa dianggap sebagai tantangan bagi kedaulatan negara. Menurut Silver, produksi yang dilakukan secara mengglobal membuat solidaritas buruh dapat kian meningkat secara global, terutama bagi buruh yang bekerja dalam satu perusahaan transnasional (TNC) atau perusahaan multinasional (MNC) yang sama. Bagi Silver, hanya gerakan buruh yang terbangun dengan kuat secara internasional-lah yang dapat menandingi kekuatan-kekuatan kapitalisme yang telah lebih dulu terbangun secara internasional. Ide mengenai harus kuatnya gerakan buruh secara internasional ini  sebenarnya bukanlah ide yang baru. Marx sejak ratusan tahun lalu, telah menggaungkannya lewat slogannya yang terkenal ‘Buruh Sedunia, Bersatulah!’

 
Fordism, Post-Fordism, dan Lean-Production di Abad ke-20
Pada bagian pertama dari bab 2 yang berjudul ‘Labor Movements and Capital Mobility,’ Silver menguraikan analisisnya terhadap dinamika perburuhan di abad ke-20. Khususnya mengenai perubahan model produksi dari Fordism lalu Post-Fordism dan kemudian Lean-Production (lean and mean model & lean and dual model). Uraian mengenai hal tersebut diawali Silver pada bagian awal bab 2 ini dengan analisisnya pada industri otomotif dalam kurun waktu 1930 hingga 2003, dimana analisis ini didasarkan pada index dari World Labor Group. Dia mengidentifikasi beberapa pertukaran spasial dari industri otomotif, dimana terjadi perpindahan spasial yang cukup masif dari Amerika Utara melalui Eropa Barat ke negara-negara industri baru pada abad ke 20. Silver menjelaskan hal ini dengan mencantumkan data distribusi geografis dari industri otomotif sejak tahun 1930 hingga 1996.

Pada bagian kedua dari bab ini, Silver menggambarkan hubungan antara dinamika perpindahan spasial yang telah dijelaskan pada begian pertama tersebut dengan kesuksesan relokasi modal. Sebelumnya di dalam bab 1, Silver menyatakan bahwa karakter produksi massal dalam industri otomotif cenderung telah menciptakan kontradiksi sosial yang sama dimanapun mereka berada. Hasilnya, gerakan buruh yang kuat dan efektif muncul di setiap tempat dimana industri dengan karakter produksi massal ala Fordism meluas dengan cepat. Namun, ketika terjadi relokasi modal yang dilakukan oleh kapitalis secara besar-besaran, muncul dua keadaan: (1) gerakan buruh yang berada di lokasi sebelum relokasi mengalami pelemahan; sementara (2) gerakan buruh yang berada di lokasi baru kian menguat setalah relokasi. Menurut Silver, lintasan bagi industri otomotif ialah bahwa dimana modal berada, disanalah konflik berkembang. Di sini, ia menggunakan tesis Harvey mengenai spasial fix dalam merumuskan lintasan tersebut.

Setelahnya, Silver menjelaskan karakter industri otomotif di Jepang yang memiliki karakter khusus dibandingkan dengan model produksi massal ala Fordism yang berlaku di negara-negara lain. Di Jepang, para pemilik industri otomotif membangun sistem kontrak berlapis-lapis yang secara simultan membolehkan mereka untuk memberikan jaminan pekerjaan dan membangun hubungan yang kooperatif (hanya) dengan buruh yang bekerja di bagian utama produksi. Sistem ini membuat para pemilik modal Jepang dapat melakukan pemotongan biaya produksi besar-besaran pada tahun 1970an dan membuat mereka berjaya dalam persaingan global pada dekade 1980an. Pada periode 1980 dan 1990an, model produksi ini pun meluas secara global dalam industri-industri otomotif Fordism. Dalam beberapa situasi, model produksi post-Fordism seperti itu telah meningkatkan posisi tawar buruh di tempat kerja. Namun, di sisi lain, model Lean-Production (lean and mean model & lean and dual model) juga memiliki keterbatasan, dimana sistem kerja kontrak yang berlaku pada model produksi ini telah meningkatkan perlawanan buruh di tempat kerja.

Selanjutnya, Silver menjelaskan bahwa salah satu karakter dari industri otomotif ialah memproduksi berbagai bentuk aksi langsung seperti mogok-mogok strategis di bagian-bagian penting dan vital dari perusahaan secara keseluruhan. Menghadapi aksi-aksi tersebut, perusahaan meluncurkan strategi manajerial yang secara struktural melemahkan gerakan buruh. Termasuk di dalam strategi tersebut ialah melakukan relokasi produksi ke tempat yang jauh, dimana tidak terdapat gerakan buruh yang militan di daerah tersebut.

 
Belajar dari Masa Lalu: Gerakan Buruh di Amerika Serikat, Eropa Barat, Brazil, Afrika Selatan, Hingga Korea Selatan Pada Abad ke-20
Pada bagian berikutnya dari bab 2, Silver membahas berbagai pengalaman gerakan buruh di dunia, mulai dari Amerika Serikat hingga Korea Selatan. Dalam menjelaskan Amerika Serikat, Silver menguraikan kesuksesan United Auto Workers (UAW) pada tahun 1936 dalam melawan General Motors (GM), sebuah perusahaan industri otomotif  terbesar di Amerika yang anti serikat buruh. Silver menjelaskan bahwa perlawanan UAW telah berhasil memaksa GM menandatangani tuntutan yang mereka ajukan. Menurut Silver, kunci dari kesuksesan UAW tersebut ialah keberhasilan UAW menunjukkan posisi tawar mereka atas GM, dimana UAW dapat menunjukkan posisi mereka di antara pembagian kerja yang kompleks dari karakteristik produksi massal. Mogok yang melumpuhkan GM ini direncanakan dan dilakukan oleh sekelompok kecil buruh yang militan. Mereka mengambil alih bahan baku yang memproduksi mesin-mesin Chevrolet, sehingga berhasil melumpuhkan produksi mobil dari GM. Mereka juga sukses menurunkan hasil produksi dari 50.000 mobil per bulan pada bulan Desember, menjadi hanya 125 pada minggu pertama Februari. Namun, kekuatan buruh di sektor otomotif Amerika telah dilemahkan oleh dekade restrukturiasi dan kebangkrutan di tahun 1980an. Serangan politik pada pengorganisiran buruh ini dikenal dengan Reagan Revolution atau Revolusi Reagan, yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan yang pro-neoliberalisme.

Kemudian, Silver menjelaskan kondisi industri otomotif di Eropa Barat, dimana pada tahun 1920an, industri Eropa dicirikan oleh banyaknya perusahan kecil yang terlibat dalam produksi mobil/kendaraan. Tidak satu pun dari industri-industri ini memiliki sumber daya atau jangkauan pasar yang memadai, yang membuat investasi-investasi besar mereka dapat ‘berhubungan’ dengan Amerika Serikat. Pada tahun 1930, sentralisasi modal berlangsung dengan sangat cepat berkat dukungan dari pemerintah, tapi mereka belum memiliki kemampuan untuk mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang terdapat secara inheren dalam metode Fordist. Hal ini ditunjukkan dengan relatif lemahnya posisi tawar buruh Eropa pada periode perang. Namun, keadaan tersebut berubah pada deakde 1960an, dimana seperti yang terjadi di Amerika pada tahun 1930an, mereka (gerakan buruh) berhasil menunjukkan kekuataannya dalam proses produksi.

Di Brazil, meningkatnya industri otomotif terjadi pada periode 1970an, bersamaan dengan berkuasanya rezim kediktarotan militer di sana. Peningkatan industri otomotif itu ditunjukkan, diantaranya pada tahun 1974, dimana Brazil termasuk ke dalam sepuluh besar penghasil mobil/kendaraan terbesar di dunia. Sama seperti di Amerika dan Eropa Barat, gerakan buruh di Brazil pun berhasil membuat gelombang pemogokan pada tahun 1978 dan berhasil membentuk pusat/inti dari gerakan buruh yang baru. Hampir 50 persen dari jumlah mogok secara keseluruhan dilakukan oleh para pekerja di industri otomotif dan metal dalam kurun waktu 1978 hingga 1986.

Hal yang mirip juga terjadi di Afrika Selatan. Pada tahun 1960 dan 1970an, Afrika Selatan menjadi lokasi menarik bagi perusahaan-perusahaan otomotif yang berskala multinasional. Gelombang pemogokan terbesar dan terpanjang dalam sejarah Afrika Selatan terjadi setelah disahkannya serikat buruh kulit hitam (Black Trade Unions) pada 1979. Pada 1985, Kongres Serikat Buruh Afrika Selatan (Congress of South African Trade Unions/COSATU), menjadi serikat buruh yang mengalami perkembangan paling cepat di dunia. Pemogokan-pemogokan dalam skala besar yang melibatkan ribuan buruh terjadi di berbagai perusahaan seperti di Ford, VW, Datsun, dan BMW. Sama seperti yang terjadi di Amerika pada tahun 1930an, Eropa Barat pada akhir tahun 1960an dan Brazil pada 1970an, gerakan buruh di Afrika Selatan juga berhasil menunjukkan kekuatan mereka dalam proses produksi, sehingga mereka bisa melaksanakan berbagai pemogokan berskala besar dan dalam waktu yang lama.

Pada tahun 1973, pemerintahan Korea Selatan menargetkan industri mobil sebagai prioritas utama. Seperti yang terjadi di Brazil dan Afrika Selatan, serikat buruh dan berbagai aktivitas seperti mogok, dilarang oleh rezim kediktatoran militer Korea Selatan. Untuk membendung perlawan buruh, rezim militer menangkapi dan memburu aktivis-aktivis buruh, sembari terus mempertahankan politik upah murah serta kondisi kerja yang buruk dan kejam. Kondisi ini tentu saja menarik perhatian para pemilik modal, baik para pemilik modal lokal (Hyundai, Kia, dan Daewoo) maupun multinasional (Mitsubishi, Ford/Mazda, dan GM/Isuzu) untuk merelokasi kapitalnya ke negeri ginseng tersebut. Produksi kendaraan di Korea Selatan pun meningkat secara drastis selama tujuh tahun, dari 123.135 unit pada tahun 1980 menjadi 980.000 unit pada 1987. Berbagai perusahaan multinasional asal Amerika dan Jepang pun berkolaborasi dan mendirikan perusahaan-perusahaan mereka di Korea Selatan. Namun, kondisi kerja yang buruk dan kejam telah menimbulkan perlawanan buruh yang besar di Korea Selatan. Perlawanan ini diawali dengan pemogokan yang terjadi di Ulsan pada tahun 1987. Hingga kini, gerakan buruh Korsel merupakan salah satu gerakan buruh paling terorganisir dan militan di dunia.

 
Gerak Modal dan Gerakan Buruh dari Masa ke Masa (Abad 19 Hingga 21)
Setelah menjelaskan sejarah gerakan perlawanan buruh di sektor otomotif, pada bab 3 yang berjudul ‘Labor Movements and Product Cycle,’ Silver melakukan perbandingan antara dinamika yang terjadi di industri otomotif pada abad ke-20 dengan industri tekstil pada abad ke-19, untuk kemudian membandingkan apa yang terjadi pada kedua periode itu dengan apa yang terjadi pada industri di abad ke-21. Silver mengungkapkan dua argumen utama di sini: pertama, lokasi utama dari pergantian formasi kelas pekerja dan berbagai protes di antara setiap industri, terjadi bersamaan dengan pergantian di dalam lokasi geografis dari produksi. Dengan kata lain, pola yang terjadi di dalam industri otomotif dapat ditemukan juga di dalam industri tekstil. Jadi, argumen yang pertama ini berhubungan dengan lintasan atau orbit dari formasi kelas pekerja di dalam setiap industri dan pergolakannya. Sementara itu, argumen kedua berhubungan dengan dinamika formasi kelas pekerja antar-industri dan pergolakannya.

Selain menggunakan tesis Harvey mengenai spatial fix dan menambahkan tesisnya mengenai technological fix, pada bab ini Silver menambahkan dimensi product fix dalam analisisnya. Dengan menggunakan ketiga konsep tersebut, Silver menyimpulkan bahwa baik di industri tekstil maupun industri otomotif, spatial fixes hanya berhasil di dalam ruang sementara atau spatiotemporal yang diatur ulang dari kontrol atas krisis dan keuntungan. Namun, meskipun demikian, Silver menjelaskan bahwa terdapat dua perbedaan penting mengenai proses penyebaran pergolakan dalam intra-industri dari kedua industri (otomotif dan tekstil) ini. Pertama, perluasan geografis dari gelombang besar pergolakan buruh di industri tekstil di dalam fase dari siklus produk lebih besar daripada yang terjadi di industri otomotif. Kedua, kesuksesan perjuangan buruh secara keseluruhan dalam memenangkan konsensus atas modal terjadi lebih hebat di industri otomotif daripada di industri tekstil. Perbedaan ini dapat dilihat jejaknya dalam bagian besar dari bagaimana kedua industri ini diorganisasikan dan menghasilkan dampak yang berbeda pada posisi tawar buruh. Kemudian, pada bagian selanjutnya, Silver menjelaskan pentingnya menganalisis sistem transportasi – dan dalam hal ini industri tansportasi – sebagai salah satu bagian terpenting dari berbagai industri, termasuk industri otomotif dan tekstil.

Lalu, pada bagian terakhir dalam bab 3 ini, Silver menjelaskan berbagai industri lain yang layak mendapatkan perhatian lebih sebagai lokasi penting yang potensial dari formasi kelas pekerja dan pergolakannya, berdasarkan pada ciri/karakter dari post-Fordism yang menekankan fleksibilitas dan eklektisisme dalam kaitannya dengan jumlah komoditas dan cara konsumsi. Beberapa industri tersebut antara lain industri semikonduktor, penyedia jasa, industri pendidikan, dan jasa pelayanan personal.

Selanjutnya, bab 4 yang berjudul ‘Labor Movements and World Politics,’ Silver menjelaskan analisisnya mengenai hubungan antara gerakan buruh dan politik global melalui data-data dari World Labor Group (WLG). Pada bagian  pertama bab ini, Silver menjelaskan hubungan antara perang dunia dan pergolakan buruh. Dari data WLG tersebut ditemukan bahwa dua pergolakan paling besar di dunia secara keseluruhan terjadi setelah dua perang dunia. Tahun 1919 dan 1920, merupakan tahun puncak dimana terdapat 2.720 dan 2.293 pergolakan buruh. Puncak pergolakan buruh berikutnya berada di tahun 1946 dengan jumlah total pergolakan buruh sebanyak 1.857 dan tahun 1947 dengan jumlah total pergerakan buruh sebanyak 2.122.

Pada bagian berikutnya dari bab ini, Silver kemudian menguraikan hubungan antara bangkitnya gerakan buruh modern dengan berbagai transformasi dari proses produksi dalam akumulasi kapital dengan empat tipe fixes, dimana tiga jenis fixes telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, yakni spatial fix, technological/organizational fix, dan product fix. Fix yang keempat ialah financial fix, dimana Silver memberikan penjelasan ulang mengenai fixes tersebut dan memberikan gambaran situasi bangkitnya gerakan buruh modern dalam hubungannya dengan kemunculan berbagai partai politik berbasis kelas pada awal abad ke-20. Lalu, Silver menguraikan siklus yang keji dari konflik yang terjadi di level internasional dan lokal di bagian berikutnya. Dalam kaitan dengan itu, Silver mengindentifikasi gerakan buruh berdasarkan pada dua tipe, yakni tipe Marx yang menekankan perjuangan buruh pada kontrol atas keseluruhan proses produksi dan  dan tipe Polanyi. Selanjutnya, di bagian akhir dari bab ini, Silver menguraikan tiga respon utama atas gerakan buruh yang kian menguat, yakni reform, repression, dan restructuring.

 
Masa Depan Masih Ada: Gerakan Buruh Sedunia, Bersatulah! Rebut Kekuasaan Politik dari Tangan Para Kapitalis!
Pada bab akhir dari buku ini, yakni bab 5 yang berjudul ‘Contemporary Dynamics in World-Historical Perspective,’ Silver menguraikan berbagai kesimpulannya mengenai masa depan gerakan buruh, berdasarkan berbagai penjelasannya pada bab-bab sebelumnya. Pertama, mengenai a race to the bottom, berdasarkan riset yang ia lakukan yang hasilnya telah ia paparkan pula pada bab-bab sebelumnya, ia menyimpulkan bahwa relokasi geografis dari perusahaan-perusahaan multinasional telah memperkuat kelas buruh di lokasi yang baru. Hal ini juga berkaitan dengan dimensi technological fixes yang berkaitan dengan posisi tawar buruh dalam organisasi produksi. Selain itu, gerak modal yang sangat cepat dalam semua dimensi (spasial, teknologi, produk, dan finansial) juga telah membuat konsep Utara dan Selatan tidak begitu relevan akibatnya, perbedaan antara kondisi pekerja yang bekerja di negara-negara yang disebut dengan kawasan Utara dan Selatan pun menjadi tidak begitu kontras.

Kemudian, karakter/ciri produksi post-Fordism yang berhubungan dengan technological fixes, ternyata tidak memperlemah posisi tawar buruh di tempat kerja di industri otomotif. Mengenai hal ini, Silver menjelaskan ulang perbandingan berdasarkan analisis historis antara posisi tawar buruh yang bekerja di industri otomotif dengan posisi tawar buruh yang bekerja di industri tekstil. Kesimpulannya, tidak ada korelasi  antara posisi tawar yang kuat di tempat kerja dengan militansi buruh. Maksudnya, para buruh di industri otomotif bisa saja memiliki posisi tawar yang kuat di tempat kerja yang dibuktikan dengan banyaknya tuntutan yang berhasil mereka capai, namun hal itu tidak menentukan tingkat militansi mereka. [CP1] Hal tersebut ditunjukkan dengan fakta historis bahwa gerakan buruh tekstil lebih militan daripada gerakan buruh di sektor industri otomotif, meskipun pencapaian mereka (dalam banyak hal) tidak sesukses gerakan buruh di sektor industri otomotof. Di bagian paling akhir, Silver menyatakan, tantangan terbesar yang dihadapi buruh di seluruh dunia pada abad ke-21 ini ialah dalam perjuangan, dimana buruh tidak hanya harus melawan eksploitasi dan eksklusi oleh kapital dalam proses kerja, tetapi juga melawan rezim internasional yang benar-benar mensubordinasi kehidupan kelas buruh demi kepentingan keuntungan semata.

Dalam buku ini, Silver memang tidak menjelaskan secara detail apa kemudian yang harus dilakukan gerakan buruh dalam membangun kekuatan mereka secara internasional, sekaligus untuk melawan kekuasaan perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional. Solusi itu bisa kita temukan dalam buku berjudul Labour and the Challanges of Globalization: What Prospects for Transnational Solidarity, yang disunting oleh Andreas Bieler, Ingemar Lindberg, dan Devan Pillay. Mereka melengkapi bukunya Silver, pada bab 15 yang bertajuk ‘What Future Strategy for the Global Working Class? The Need for a New Historical Subject,’ Bieler, Lindberg, dan Pillay, mencantumkan tiga usulan mereka terkait strategi pengorganisiran kekuatan buruh secara internasional.[2] Pertama, mendirikan hubungan transnasional di antara serikat-serikat buruh yang ada. Kedua, memperkuat organisasi-organisasi di sektor informal; dan ketiga, mengintensifkan kerjasama antara serikat buruh atau gerakan buruh dengan gerakan-gerakan sosial lainnya. Menurut mereka, gerakan serikat buruh formal saja tidak mencukupi dalam menjawab berbagai permasalahan baik di tempat kerja maupun di lingkup yang lebih luas, yang dihasilkan oleh globalisasi. Jika serikat buruh hanya terpaku pada perjuangan membela kepentingan anggotanya, maka mereka hanya akan menjadi gerakan yang eksklusif bahkan menjadi konservatif di tengah-tengah makin meluasnya korban akibat penerapan kebijakan neoliberal.

Saya setuju dengan ketiga usul tersebut dan menurut saya, ketiga usulan tersebut bukanlah hal yang baru bagi gerakan buruh. Di Indonesia dan di berbagai negara Asia lainnya, misalnya, ketiga hal tersebut malah telah dipraktekkan sejak jauh-jauh hari dan masih berlangsung hingga saat ini. Hanya saja, di Indonesia khususnya, belum ada paradigma yang kuat di kalangan gerakan buruh dan gerakan sosial di Indonesia mengenai pentingnya membangun blok kekuatan politik kelas di antara gerakan buruh dan gerakan sosial lainnya. Padahal, hal tersebut adalah sangat krusial bagi gerakan buruh dan gerakan sosial lain dalam menandingi secara serius kekuatan kelas kapitalis yang terorganisir secara rapi dan secara politik sangat kuat. Pembangunan blok kekuatan politik kelas di antara gerakan buruh dan gerakan sosial lain ini sangat penting dilakukan karena, seperti yang diungkapkan banyak pemikir Kiri, termasuk Silver dalam buku ini, tantangan bagi kelas pekerja di era kapitalisme global ini bukan hanya di tempat kerja, tapi juga di seluruh lini kehidupan.

Jadi, persatuan kaum buruh sedunia seharusnya diarahkan lintasannya kepada pembangunan blok kekuatan politik kelas pekerja baik di level lokal, nasional maupun internasional secara sungguh-sungguh. Tanpa adanya kesungguhan dan kemendesakkan itu, kelas buruh tidak akan pernah menemui kemenangannya yang sejati dan akan selalu dikalahkan oleh kelas kapitalis.

 

Fathimah Fildzah Izzati, anggota redaksi Left Book Review Indoprogress.

 

Bacaan tambahan:

Bieler, Andreas; Ingemar Lindberg; dan Devan Pillay (ed.), Labour and the Challanges of Globalization : What Prospects for Transnational Solidarity?, 2008, South Africa : University of KwaZulu-Natal Press.



[1]Terima kasih kepada kawan Abu Mufakhir (peneliti Lembaga Informasi Perburuhan Sedane) yang telah mengajak saya menjadi panitia ATNC’s Biennial Meeting di Bogor 9-10 November yang lalu.

[2]Andreas Bieler; Ingemar Lindberg; dan Devan Pillay (ed.), Labour and the Challanges of Globalization : What Prospects for Transnational Solidarity?, 2008, South Africa : University of KwaZulu-Natal Press, hlm. 276.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus