Dede Mulyanto: Antropologi Sebagai Ilham Teoritis Penunjang Perjuangan Kelas Pekerja

Print Friendly, PDF & Email

KAPITALISME sebagai sebuah termin pengetahuan bukanlah barang baru dalam pengalaman Indonesia. Mayoritas, jika tidak dapat dikatakan semuanya, kalangan pergerakan di negeri ini pada masa sebelum dan awal-awal kemerdekaan mendedikasikan dirinya untuk memahami kapitalisme. Bukan untuk pemahaman itu sendiri, tapi  memahami dalam rangka mengubahnya. Pengalaman panjang kolonialisme yang berakar dari logika ekspansif kapitalisme di masa itu memaksa mereka untuk menjadikan kapitalisme sebagai problem intelektual sekaligus praktis.

Pasca keruntuhan rezim bigot reaksioner sekaligus anti-intelektual Orde Baru Soeharto, kapitalisme kembali menjadi kata yang diperbincangkan di ruang publik. Kontradiksi internal dalam rangka ekspansi akumulasi pasca reformasi 1998, dampak buruk  dari kontradiksi itu terhadap rakyat pekerja Indonesia, telah menciptakan gerak perlawanan terhadap kapitalisme. Pada saat yang bersamaan muncul kebutuhan untuk memahami kapitalisme secara lebih utuh dan sistematis. Tanpa ada pemahaman kapitalisme yang objektif, maka sulit ada perlawanan yang efektif terhadapnya.

Sebagai seorang dosen muda Antropologi di Universitas Padjadjaran, Bandung, Dede Mulyanto paham betul bahwa hal ini harus digeluti secara serius sekaligus mendalam. Penjelasan mengenai kapitalisme pasca reformasi di Indonesia, selalu berkelit kelindan dengan penilaian moralistis atas kapitalisme itu sendiri; kapitalisme dilihat sebagai sistem yang kemaruk, tidak bermoral, dan materialistis. Padahal  kapitalisme pertama-tama harus ditempatkan sebagai suatu objek pengetahuan yang oleh karena itu harus diperiksa objektivitasnya. Dengan dasar pemikiran itulah,  Dede Mulyanto mendedikasikan semangat intelektualnya untuk menjawab masalah ini. Tiga bukunya yang sudah diterbitkan, yakni Kapitalisme: Perspektif Sosio-Historis  (Bandung; Penerbit Ultimus, 2010), Antropologi Marx (Bandung: Penerbit Ultimus, 2011) dan terakhir Genealogi Kapital(isme) (Yogyakarta: Resist Book, 2012) menunjukkan kesungguhannya untuk mengembalikan kapitalisme sebagai objek pengetahuan ilmiah, khususnya dari disiplin antropologi. Berikut bincang-bincang Muhammad Ridha dari Left Book Review (LBR) dengan Dede Mulyanto:

 

Bisa Anda ceritakan perjalanan intelektual Anda

Tahun pertama kuliah saya diwarnai oleh demonstrasi penggulingan Soeharto dan bayang-bayang krismon (krisis moneter, red.). Kakak perempuan saya yang bekerja di sebuah pabrik sepatu di Balaraja, Tangerang, di-PHK, menganggur sebentar, lalu coba jualan ini-itu. Tahun kedua kuliah, kakak saya sudah bekerja lagi di pabrik sarung tangan golf. Dua tahun kemudian dipecat lagi. Katanya pabrik tutup.

Sebagai mahasiswa, saya agak terbelakang waktu itu. Tidak ikut organisasi, unit kegiatan mahasiswa, apalagi tetek-bengek diskusi-diskusian. Saya lebih suka di kosan baca-baca buku sejarah. Tapi pertanyaan di sekitar kehidupan kakak perempuan saya yang buruh pabrik itu rupanya tidak pernah hilang dari ingatan. Sedikit demi sedikit saya cari tahu apa itu kapitalisme. Mulailah saya baca buku-buku ekonomi-politik. Acara baca-baca buku ekonomi-politik terhenti ketika saya mulai menyelesaikan skripsi yang jauh dari urusan menjelaskan kenapa kakak saya runyam hidupnya karena krismon.

Menjelang lulus, saya mulai berkenalan dengan pemikirannya Marx. Terkejut saya pada mulanya, tidak habis pikir, kenapa pemikir macam ini tak pernah diajarkan di kampus. Ya, ada sih disebut-sebut namanya di dalam dua jilid buku Sejarah Teori Antropologi karangannya Prof. Koenjtaraningrat (meski cuma tiga kali, kalo tidak salah). Tetapi sama sekali tidak dibahas apa dan bagaimana pemikirannnya. Keterkejutan saya bertambah waktu saya mulai mengakses buku-buku antropologi berbahasa Inggris. Di luar sana, tidak ada satupun buku teori yang tidak membahas, setidaknya satu bab, tentang antropologi Marxis (dan teori-teorinya Marx tentu saja). Saya pikir, jangan-jangan memang sengaja guru-guru saya tidak mengajarkan Marx, bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena mereka anak jaman. Mereka takut dituduh macam-macam. Mereka kan pegawai negeri yang harus membersihkan diri dari debunya Marx dan Marxisme.

Setelah bekerja di sebuah lembaga penelitian, saya makin punya banyak waktu buat baca-baca Marx. Hampir semua buku Marx terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Hasta Mitra, Jakarta dan Ultimus, Bandung, serta buku-buku tentang Marxisme dari penerbit lainnya yang lagi trendi saat itu, saya baca. Pokoknya, baca dulu. Mengerti isinya itu soal lain. Akhirnya, sedikit demi sedikit saya mulai paham apa itu kapitalisme dan kenapa krismon yang bikin runyam kehidupan kakak perempuan saya itu bisa terjadi. Nah, waktu saya diterima sebagai dosen tetap dengan waktu luang yang luar biasa banyaknya, saya makin giat belajar ekonomi-politiknya Marx. Daripada bingung sendiri, saya ajak beberapa orang mahasiswa untuk bikin kelompok diskusi. Pada 2006 atau 2007, saya bikin Kelas Marx. Anggotanya tidak pernah banyak. Paling banyak 7 orang, itupun biasanya yang sampai selesai 12 pertemuan cuma tiga atau empat. Daripada pengetahuan yang didapat dari diskusi mingguan itu terbuang percuma, saya mulai tulis. Niatnya cuma mau bikin semacam modul untuk kelompok diskusi angkatan berikutnya. Tambah tahun tambah banyak isinya. Karena sejak 2005 saya juga sudah kenal dengan Bilven dari penerbit Ultimus, bolehlah kiranya saya tawarkan Ultimus buat menerbitkannya. Tulisan itu kemudian menjadi buku berjudul Antropologi Marx yang terbit 2011 lalu. Tulisan lain yang lebih pendek terbit lebih dulu pada 2010 dengan judul Kapitalisme: Perspektif Sosio-Historis. Waktu saya kuliah di Jogja, saya juga mengorganisasi kelompok diskusi. Di sana saya mempelajari begitu saja Kapital jilid satu yang sudah terbit edisi bahasa Indonesianya tanpa metoda ini itu. Ditambah dengan kajian pustaka di beberapa perpustakaan, jadilah ulasan atas Kapital jilid satu, sebuah naskah yang kelak tahun 2012 diterbitkan oleh Resist dengan judul Genealogi Kapital(isme). Itulah kira-kira ‘perjalanan intelektual’ saya.

 

‘Menjelang lulus, saya mulai berkenalan dengan pemikirannya Marx. Terkejut saya pada mulanya, tidak habis pikir, kenapa pemikir macam ini tak pernah diajarkan di kampus. Ya, ada sih disebut-sebut namanya di dalam dua jilid buku Sejarah Teori Antropologi karangannya Prof. Koenjtaraningrat (meski cuma tiga kali, kalo tidak salah).’

 

Bisa ditebak bahwa tidak ada upaya sistematis dan metodis dalam mengangkat kembali pemikiran Marx bagi khalayak di Indonesia. Betul-betul sebuah perjalanan yang tidak disangka-sangka ujungnya bakal begitu. Jadi, kalo boleh jujur, sebetulnya ‘perjalanan intelektual’ saya baru saja dimulai ketika saya selesai membaca tulisan-tulisannya Martin Suryajaya. Wa bil khusus Materialisme Dialektis. Sebelum itu bolehlah saya anggap masih dalam masa prasejarah. Mengapa? Karena tulisannya Martin mengajarkan kepada saya bagaimana semestinya menjadi seorang intelektual, yaitu fokus dan metodis. Sementara saya sama sekali belum fokus dan tidak metodis. Buku-buku karangan saya sama sekali tidak bisa dianggap sebagai karya intelektual. Ketiganya hanya semacam tulisan pengantar yang tidak mengandung kebaruan sama sekali. Tanpa karangan-karangannya Martin, saya mungkin akan tetap terkubur dalam proyek-proyek jahiliyah yang cuma mau memamerkan intelektualisme.

 

Apa yang membuat Anda tertarik untuk membahas kapitalisme sebagai sebuah fenomena antropologis?

Yang bikin saya tertarik membahas kapitalisme sebagai gejala antropologis, murni karena kapitalisme memang gejala antropologis. Kapitalisme bukan sekadar ideologi, kapitalisme juga bangunan kemasyarakatan yang tersusun atas relasi-relasi sosial yang spesifik historis. Persoalannya, antropologi di Indonesia masih belum bisa lepas dari bayang-bayang sejarahnya sebagai mesin pengetahuannya imperialisme dalam memahami dan untuk kemudian memanfaatkan pemahaman itu demi perjuangan kapital membuka pasar-pasar baru. Dalam konteks semacam ini, sebagai realitas, kapitalisme selalu diabaikan keberadaannya. Kalaupun diakui, ia hanya ditaruh di belakang analisis antropologis sebagai dekorasi. Hanya untuk mengangkat realitas kapitalisme ke hadapan para pelajar antropologi sajalah saya menulis buku-buku tentangnya dari perspektif antropologi.

 

‘Sebenarnya saya tidak menganggap antropologi sebagai ilmu mandiri. Antropologi mesti menjadi bagian dari materialisme historis. Materialisme historis bukan salah satu pendekatan yang mungkin bagi penelitian antropologi. Materialisme historis menjadi satu-satunya ilmu yang memungkinkan antropologi menjadi ilmu.’

 

Mengapa Anda cenderung memilih untuk menggunakan penggunaan Marxis sebagai pendekatan antropologi yang Anda gunakan?

Sebenarnya saya tidak menganggap antropologi sebagai ilmu mandiri. Antropologi mesti menjadi bagian dari materialisme historis. Materialisme historis bukan salah satu pendekatan yang mungkin bagi penelitian antropologi. Materialisme historis menjadi satu-satunya ilmu yang memungkinkan antropologi menjadi ilmu. Sebagaimana kritik ekonomi-politiknya Marx-Engels, antropologi hanya berarti apabila ia menjadi bagian dari suatu kerangka besar materialisme historis dalam memahami dan menjelaskan rupa serta dinamika masyarakat manusia untuk kemudian menggunakan pemahaman tersebut demi kepentingan perjuangan kelas pekerja di ranah ideologi. Jadi, boleh dibilang tujuan akhirnya bukanlah sebuah antropologi Marxis yang menjadikan antropologi lebih baik karena menggunakan pendekatan Marxis, tetapi sebuah Marxisme antropologis yang menggunakan data, dan ilham teoritis antropologi sebagai penunjang perjuangan kelas pekerja.

 

Anda mengajukan tesis menarik sekaligus provokatif di buku Anda mengenai ‘feodalisme muncul sesudah kapitalisme kolonial bercokol di Indonesia.’ Bisa dijelaskan sebenarnya apa yang Anda maksud dengan tesis ini?

Tesis bahwa feodalisme di Jawa muncul sebagai respon terhadap proses penetrasi kapital memang provokatif. Selama ini kita biasa meyakini bahwa Jawa prakolonial adalah masyarakat feodal. Basis moda produksi feodal adalah relasi produksi perhambaan berbasiskan pada penguasaan berhirarki atas tanah oleh kelas tuan tanah.

Di Jawa prakolonial tidak demikian. Hirarki kekuasaan tidak didasarkan pada penguasaan atas tanah (feudum), tetapi lebih pada penguasaan atas orang atau cacah (rumah tangga petani). Penguasa berkuasa atas orang melebihi kekuasaannya atas tanah. Batas-batas kekuasaan seorang raja atau sultan, misalnya, bukanlah wilayah geografis tertentu yang batas-batasnya jelas, tetapi berdasarkan kelompok-kelompok rakyat pekerja yang diikat oleh seorang pengikut raja.

Itulah mengapa ketika Sultan Agung membubarkan Kadipaten Ukur (yang sekarang menjadi Bandung), yang dibagi-bagikan bukanlah tanah, tetapi cacah atau rumah tangga petani kepada bupati-bupati lain di sekitar Ukur. Bukti lain lagi ialah bahwa media penyerapan surplus Jawa prakolonial adalah pajak kepala, bukan pajak tanah. Buat para penguasa, tidak penting cacah itu tinggal dan menggarap apa di mana. Yang penting adalah bahwa cacahcacah itu dikontrol untuk menyerahkan pajak kepalanya kepada aparat. Kesadaran para penguasa Jawa bahwa kekuasaan yang sejati adalah kekuasaan atas tanah baru muncul seiring dengan penetrasi kapital perkebunan. Di Jawa bagian barat hal itu dimulai dengan Preangerstelsel abad ke-17 dan di Jawa bagian lainnya dimulai sejak Cultuurstelsel abad ke-18. Feodalisasi Jawa, yakni pembentukan kekuasaan hirarkis berdasarkan kekuasaan atas tanah, pembentukan desa-desa dan penegasan identitas orang-orang sebagai penduduk wilayah geografis desa, lebih tegas ketika Agrarische Wet diterbitkan pada akhir abad ke-19. Dalam konsepsinya Marx, formasi sosial Jawa prakolonial didominasi oleh ‘moda produksi Asiatik.’

 

‘Persoalan kapitalisme bukan pada konsumsi, tetapi produksi. Alih-alih sebagai sebab krisis, kurangnya konsumsi merupakan akibat. Menurut Marx, krisis merupakan mekanisme devaluasi atau penghancuran kapital untuk memberi ruang bernafas kepada kapital yang tidak punya saluran (lagi) untuk mengembangkan diri.’

 

Dalam Genealogi Kapital(isme), Anda mengajukan problem krisis kapitalis dalam termin KKK atau Krisis Kelebihan Kapital. Apa yang sebenarnya Anda maksud dengan termin ini? Apa yang membedakan termin ini dengan pendekatan konsumsi-kurang (underconsumption) Marxis, misalnya?

Materialisme historis didasarkan pada postulat bahwa produksi menentukan pranata-pranata ekonomi lainnya. Kalau betul Marx mengajarkan teori konsumsi-kurang, dia sudah awal-awal menampik postulat ilmu materialisme historis. Beberapa Marxis, seperti Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Lucien Laurat, Fritz Sternberg, Paul Sweezy, atau pun Natalia Moszkowska, dan beberapa ekonom non-Marxis seperti Laderer, Foster, atau pun Keynes, adalah contoh penganut teori konsumsi-kurang dalam menjelaskan krisis kapitalis. Menurut teori ini, krisis disebabkan oleh jatuhnya tingkat konsumsi rata-rata. Menurut versi kasarnya, turunnya konsumsi rata-rata karena uang yang dibawa pulang kelas pekerja menjadi lebih sedikit sehingga sedikit pula yang bisa dibelinya. Kalo demikian ceritanya, memasukkan Marx ke dalam barisan penganut teori ini saya pikir kurang betul.

Persoalan kapitalisme bukan pada konsumsi, tetapi produksi. Alih-alih sebagai sebab krisis, kurangnya konsumsi merupakan akibat. Menurut Marx, krisis merupakan mekanisme devaluasi atau penghancuran kapital untuk memberi ruang bernafas kepada kapital yang tidak punya saluran (lagi) untuk mengembangkan diri. Kapital-uang terdevaluasi melalui inflasi, kapital-komoditi melalui pengoperasian sarana produksi di bawah kapasitasnya (undercapacity), dan tenaga kerja didevaluasi melalui pengangguran dan underemployment (lulusan D3 mengerjakan pekerjaan lulusan SMP, misalnya). Mengapa kapital terdevaluasi? Devaluasi kapital merupakan konsekuensi dari kontradiksi pokok dalam kapitalisme, yakni antara kapital dan tenaga-kerja yang berujung pada tendensi kejatuhan tingkat laba rata-rata. Kapitalis didorong berakumulasi melalui penginvestasian kembali nilai-lebih ke dalam proses produksi komoditi. Untuk memperbesar nilai-lebih yang diinvestasikan kembali, setiap kapitalis harus berupaya memenangkan pasar tempatnya merealisasikan nilai-lebih menjadi laba.

Salah satu cara pokoknya ialah dengan meningkatkan produktivitas kerja. Untuk meningkatkan produktivitas kerja, kapitalis mesti menanamkan kapitalnya lebih ke dalam sarana produksi. Peningkatan produktivitas kerja meningkatkan komposisi organik kapital yang di dalamnya kapital-konstan membesar dan kapital variabel menyusut. Peningkatan komposisi organik kapital berujung pada penyusutan tingkat laba rata-rata. Dalam konteks persaingan antarkapitalis, pada titik terujung, investasi menjadi tidak berarti lagi dalam pengertian dari setiap unit kapital yang diinvestasikan, nilai-lebihnya menjadi nol.

Pada aras makro, hal ini ditunjukkan dengan semakin rendahnya tingkat suku bunga pinjaman hingga mendekati nol persen (seperti sekarang di Amerika dan Eropa). Dalam kondisi demikian, investor memilih membekukan dananya ketimbang meminjamkannya kepada industri. Karena aliran dana ke sel-sel kapitalisme terhenti, terhenti atau susut pula kegiatan produksi riil pada umumnya. Inilah yang disebut resesi (atau depresi). Jadi, krisis terjadi karena kapasitas kapital yang terakumulasi jauh melampaui kapasitas perekonomian untuk menampungnya. Dari massalisasi produksi barang konsumsi sepanjang revolusi Fordis, terciptalah akumulasi kapital yang tidak bisa diserap seluruhnya ke dalam perekonomian riil. Peperangan, negara kesejahteraan, dan finansialisasi kapital menjadi jalan keluar dari kebuntuan akumulasi. Jalan keluar ini tidak menyelesaikan persoalan karena tendensi jatuhnya tingkat laba rata-rata di sektor riil merupakan konsekuensi kontradiksi internal kapital itu sendiri.

Seperti dibilang Marx, batas akumulasi kapital adalah kapital itu sendiri. Perlu diingat bahwa kapitalis berinvestasi demi laba, bukan amal-ibadah. Ketika perekonomian tidak bisa memberikan laba yang memadai untuk pengembangan kapital, maka pilihannya adalah memperluas pasar riil atau mendevaluasi (setidaknya membekukan) kapital yang sedang beredar dalam perekonomian melalui krisis. Seandainya populasi di planet Mars cukup besar, mungkin pilihan ketiga adalah berinvestasi di Mars. Karena sejak kemunculannya, kapital sudah berorientasi global, dan ternyata di Mars tidak ada penduduk, maka krisis merupakan jalan supaya sebagian kapital yang memenuhi ban perekonomian bisa keluar tanpa meledakkan ban itu sendiri.

 

Dalam perkembangan pengetahuan sekarang ini, khususnya antropologi, kontribusi seperti apa yang diharapkan dapat Anda tawarkan dari karya-karya Anda?

Saya belum berani menyatakan sumbangsih apa yang bisa ditawarkan karya-karya saya, yang seperti saya bilang tadi belum merupakan karya yang fokus dan metodis. Kalaupun ada, mungkin terletak pada perannya sebagai papan pengumuman, khususnya buat pelajar antropologi, bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja. Mungkin berguna bagi antropolog yang meneliti suku-suku, komunitas petani, dan kelompok-kelompok serta pranata-pranata sosial yang selama ini menjadi wilayah garapan tradisional antropologi. Tetapi tanpa orientasi kepada perjuangan melawan irasionalitasnya perekonomian dan masyarakat kapitalis, lalu mengakui adanya alternatif terhadapnya, buat saya kerja-kerja antropologi itu menjadi tidak punya arti.

 

Apakah Anda memperoleh kendala ketika mengajarkan antropologi Marxis? Jika ada bagaimana Anda mengatasinya? Dan bagaimana reaksi mahasiswa?

Kalau secara langsung (seperti larangan) tidak ada, saya masih boleh mengajarkan, membikin kelompok diskusi mahasiswa, dsb. Yang ada hanya gosip, desas-desus dll., tentang ‘Pak Dede yang komunis’ dsb. Lalu dalam hal administrasi, apabila dosen lain dengan mudah mendapat insentif untuk setiap buku yang diterbitkan, buku-buku saya ditolak karena dinilai tidak memenuhi syarat. Saya tidak tahu apakah ini sebentuk penghalangan sengaja ataukah memang kualitas buku saya memang belum bagus menurut birokrat. Reaksi mahasiswa sih, ya umumnya ada tiga; ada yang lalu antipati pada apa yang saya ajarkan, ada yang senang, ada yang biasa saja karena dosen-dosen di antropologi memang dikenal ‘aneh-aneh.’

 

Bagaimana pendapat Anda mengenai posisi karya-karya Anda dalam gerakan perjuangan rakyat pekerja Indonesia yang semakin hari semakin anti kapitalis? Apa yang dapat anda katakan tentang gerakan tersebut?

Seperti sudah saya utarakan tadi, karya-karya antropologi saya boleh dianggap berhasil apabila tujuan akhirnya sebagai alat perjuangan kelas pekerja dalam ranah ideologi tercapai. Untuk itu, apa yang saya lakukan bukan bagaimana mengembangkan antropologi Marxis yang lebih baik karena menggunakan kerangka materialisme historis dalam menjelaskan subjek-subjek penelitian tradisional antropologi sebagai ilmu, tetapi lebih pada Marxisme antropologis, Marxisme yang memanfaatkan data dan ilham teoritis antropologi dalam memahami rupa dan dinamika masyarakat manusia lalu memanfaatkan pengetahuan ini sebagai alat perjuangan kelas pekerja di Indonesia. Apa yang telah dicapai oleh generasi terdahulu patut dihargai sebagai pencapaian yang berarti bagi perjuangan kita sekarang. Bagaimana pun, tanpa karya-karya generasi terdahulu, entah dalam bidang pengetahuan maupun gerakan, apa yang saya lakukan tidak akan banyak artinya. Antropologi, sebagai bagian dari ilmu materialisme historis, sekali lagi, mesti menjadi pemasok pengetahuan bagi gerakan antikapitalisme.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus