Riwayat Tionghoa-Indonesia dalam Lima Buku
Dialog jujur dan terbuka tentang Tionghoa-Indonesia? Kita mulai dari buku-buku ini.
Dialog jujur dan terbuka tentang Tionghoa-Indonesia? Kita mulai dari buku-buku ini.

MASIH segar dalam ingatan kita, 16 Desember 2012 yang lalu, seorang perempuan India, Jyoti Singh Pandey, diperkosa dengan sadis oleh sekelompok laki-laki biadab dalam sebuah bus di jalanan New Delhi. Jyoti yang kesakitan meninggal 13 hari kemudian setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura. Beberapa waktu sebelumnya, di belahan dunia yang lain, buruh migran perempuan Indonesia diperkosa oleh tiga polisi di Malaysia. Tidak berhenti sampai di situ, perempuan pun kemudian dilarang duduk mengangkang di atas motor oleh pemerintah kota Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, terhitung sejak Januari 2013.

Kredit ilustrasi: kareba ukmmenulis – WordPress.com PENERAPAN UU PT No 12 Tahun 2012, yang diikuti perangkat aturan dan kebijakan turunan, dianggap menjadi titik terang

Kredit foto:Instagub RUNTUHNYA rezim sosialis di Eropa Timur pada akhir 1980-an, telah mendorong euforia yang mengadiluhungkan kelembagaan politik kapitalis di atas format ekonomi politik lainnya.

Monumen Pancasila Sakti. Kredit foto: wartakota.co PERINGATAN hari besar nasional dianggap penting dirayakan oleh sebuah negara. Ia menjadi upaya menguatkan kesatuan identitas nasional dan acap

Krisis air terus saja terjadi di Kupang, NTT, apalagi di musim kemarau seperti sekarang. Hak atas air tidak dipenuhi pemerintah. Warga menanggung semuanya sendiri.

ini adalah ajakan untuk melawan kepasrahan akan penindasan dan juga merayakan keberdayaan serta membangun ketangguhan kita sebagai manusia yang selalu bisa membongkar struktur yang timpang dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Kredit foto: Jakarta-Utara.Info GERAKAN literasi berbasis taman bacaan kini sedang giat menggalakan kegiatan literasi di berbagai daerah. Kegiatan ini sebagian besar merupakan inisiatif masyarakat
DALAM rangka memperingati terbitnya Manifesto Komunis (selanjutnya disebut Manifesto), yang ditulis Karl Marx dan Friedrich Engels pada 21 Februari, saya ingin membagi pembacaan saya atas

Foto: Teller Report LUCU. Hal ini terjadi ketika saya bertanya-tanya, mengapa kita mesti merasa kehilangan ketika satu sosok publik, yang tak pernah benar-benar hadir dalam
Ini versi Divakaruni, bukan Vyasa. Setelah perang usai, Kurawa tumpas. Pandawa meninggalkan medan pertempuran Kurusetra. Ini perang yang berakhir dengan lara: ‘Sesudah perang, pembakaran mayat.

Pada era penjarakan fisik yang akan berlaku sampai entah kapan ini, sosialisme datakratis adalah tatanan politik yang mungkin diimajinasikan hari ini.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.