David Graeber (1961-2020)

Print Friendly, PDF & Email

Foto: Teller Report


LUCU. Hal ini terjadi ketika saya bertanya-tanya, mengapa kita mesti merasa kehilangan ketika satu sosok publik, yang tak pernah benar-benar hadir dalam hidup kita, meninggal. David Graeber, 2 September 2020, meninggal di Venesia. Kabar duka pertama kali disiarkan oleh istrinya, Nika Dubrovski.

Saya pertama kali mengetahui nama Graeber dari esainya yang melucuti The Dark Knight Rises. Film besutan Christopher Nolan tersebut menuai kritik lantaran dianggap menyindir gerakan Occupy Wall Street (OWS). Graeber, tak peduli apologi Nolan bahwa filmnya terinspirasi novel Charles Dickens, menembaknya tanpa tedeng aling-aling: The Dark Knight Rises jelas-jelas merupakan propaganda anti-OWS.

Saya membaca kritik-kritik terhadap The Dark Knight Rises. Graeber, saya percaya, membawa kritik film tersebut ke level yang berbeda. “Para pahlawan ini sesungguh-sungguhnya reaksioner,” tulis Graeber tentang para pahlawan super dalam komik dan film. “Mereka tidak memiliki proyek mereka sendiri, setidaknya dalam peran mereka sebagai pahlawan super.” Dengan segenap uang yang dimilikinya, Bruce Wayne hanya terpikir menyumbangkannya untuk kegiatan amal. Superman tak pernah membuat kota magis di gunung kendati itu tugas enteng untuknya.

Dan selagi para pahlawan super imajinasinya kering, para penjahat sebaliknya: kreatif tanpa batas. Mereka berlimpah ruah dengan rencana dan gagasan.

Saya pernah dua kali menulis tentang pahlawan super di kanal Oase sendiri—tentang bagaimana kekerasan para pahlawan super adalah kekerasan yang konservatif, tentang bagaimana imajinasi kita ihwal polisi dan militer ada di satu koridor yang sama dengan imajinasi pahlawan super. Saya tak akan pernah menulisnya bila esai Graeber tak meninggalkan kesan yang mendalam dan tak menyulut sumpah serapah saya ketika membacanya. Dan itu bukan terakhir kalinya saya merapal cercaan lantaran takjub dengan gagasannya.

Graeber tutup usia pada usia 59 tahun. Saya merasa kehilangan seseorang yang tak pernah saya kenal secara pribadi.

***

Ada satu hal yang kurang ajar dari pikiran-pikiran Graeber. Ketika Graeber menjelaskan sesuatu, dunia seakan serapuh itu untuk ditata kembali. Tatanan terasa kenyal, dapat dibentuk ulang seolah ia lempung. Apa yang kita kira atom terdasar dari kenyataan kita ternyata sama sekali bukan atom yang terdasar.

Contoh yang mungkin sudah diketahui sebagian pembaca ialah pikiran Graeber tentang kerja omong kosong. Mengapa ketika teknologi kian maju dan jam kerja seharusnya kian berkurang, pekerjaan justru semakin banyak? Ketika pekerjaan-pekerjaan diotomasi, pekerjaan-pekerjaan baru diciptakan. Dan pekerjaan-pekerjaan ini ialah pekerjaan omong kosong—pekerjaan yang sejatinya tak mengerjakan apa-apa dan pekerjanya sendiri insaf, mereka tak mengerjakan apa-apa (sertifikasi musisi, kawan-kawan?).

Buku Bullshit Jobs, yang memuat pikiran Graeber di atas,beresonansi dengan khalayak luas. Para pembaca merasa Bullshit Jobs mewakili keadaannya. Ada waktunya ketika Graeber setiap hari mencuitkan ulang ulasan bukunya. Dan dalam banyak obituarinya, Graeber dicantolkan sebagai penulis buku Bullshit Jobs.

Namun, Bullshit Jobs, yang disusun dengan bernas itu, belumlah karya Graeber yang paling elok melucuti kenyataan dan mengajukan kenyataan alternatif yang mungkin terwujud. Pikiran-pikirannya terserak dalam banyak medium yang tak selalu dapat diakses secara luas dan implikasinya, bila saja lebih banyak yang membicarakannya, bisa secara serius mengganggu pengetahuan awam dan keilmuan yang wajar.

Pada satu kesempatan, Graeber mempertanyakan gagasan kita tentang konsumsi dan hasrat. Mengkonsumsi, dalam pengertian kontemporernya, adalah mengkonsumsi sesuatu. Ketika subjek berhasrat, ia berhasrat mengkonsumsi sesuatu. Tapi, dalam pengertian lebih awalnya konsumsi berarti membakar, menghancurkan, sementara hasrat, menurut Adam Smith sendiri bahkan, merujuk pada keinginan seseorang untuk menjadi objek perhatian sesama alih-alih menghabiskan sesuatu. Penyimpangan gagasan konsumsi dan hasrat, yang terjadi beberapa abad belakangan, berujung pada abainya kita melihat hasrat yang berakar pada hubungan antarmanusia. Hasrat muncul dari fantasi individu dan, dalam mengejar objek impian untuk dikonsumsinya sendiri, sang individu bakal menghancurkan sesama dan dunianya.

Pada tulisan lain, Graeber, berkolaborasi dengan arkeolog David Wengrow, menerbitkan artikel yang melucuti teori peradaban berkembang dalam trajektori linear dan seiring dengan berkembangnya hierarki, yang dicetuskan oleh Jared Diamond, Francis Fukuyama, Ian Morris. Revolusi pertanian acap dianggap menandai masuknya masyarakat dalam periode kehidupan yang tidak lagi egaliter. Manusia akan menetap di satu lokasi dan melanggengkan birokrasi, aturan, serta pemimpin yang mengatur mereka. Mereka yang ingin mempertahankan kehidupan bebas harus keluar dari masyarakat bersangkutan dan hidup dalam kelompok kecil terisolasi.

Perkaranya, menurut Graeber dan Wengrow, temuan arkeologis dan antropologis tak simetris dengan pandangan sejarah peradaban yang diadvokasi Jared Diamond, Francis Fukuyama, Ian Morris. Reruntuhan dari zaman es menunjukkan masyarakat yang sudah mendirikan arsitektur-arsitektur monumental, yang berarti mendirikan hierarki, dapat meninggalkannya untuk hidup dalam kelompok-kelompok pemburu kecil. Mereka akan berkumpul dan hidup dalam kota ketika musim mendukung dan berpencar ketika musim berganti. Pola hidup ini juga terlihat pada masyarakat Inuit di Artik dan pemburu di Pantai Barat Laut Kanada. Mereka akan mengubah konfigurasi masyarakatnya seiring migrasi musiman mereka. Mereka bisa hidup dalam masyarakat otoriter pada satu musim dan hidup pada masyarakat egaliter pada musim lain.

Dus, tak ada alasan untuk berpikir peradaban akan mentok pada tatanan yang sumber dayanya dikuasai segelintir orang. “Sejak awal mula, manusia secara mawas bereksperimen dengan kemungkinan sosial yang berbeda,” tulis Graeber dan Wengrow.

Dan tentu saja, jangan baca tulisan saya untuk mendapatkan pengalaman terancuk pikiran Graeber yang utuh. Saya harus menyingkat secara keterlaluan argumentasi dan referensinya yang berlapis-lapis.

***

Bagaimana Graeber memperoleh sensibilitas semacam itu? Pertanyaan ini jelas tak punya jawaban mudah. Namun, bila harus menjawab seadanya saya akan mengatakan bahwa interogasi-interogasi memukau Graeber mencerminkan watak para teoretisi terbaik di bidangnya. Tak ada asumsi megah yang lolos dari kecurigaan. Semua harus diuji lewat perbandingan dengan temuan-temuan etnografi, lewat penelusuran sejarah untuk memastikan apa arti asumsi bersangkutan dalam konteks historisnya.

Dan di balik interogasi-interogasinya, ada asas yang mencerminkan pandangan antropologi—setidaknya antropologi yang diajarkan kepadanya di Universitas Chicago oleh sosok seperti Marshall Sahlins atau Terence Turner. “Kehidupan sosial,” tulisnya masih dalam makalahnya tentang konsumsi, “adalah dan selalu soal saling membentuk antara manusia.”

Pada waktu-waktu tertentu, pandangan ini bertubrukan dengan pikiran teoretisi-teoretisi Marxis tertentu. Bagi Graeber, produksi, terlepas menentukan totalitas masyarakat bersangkutan, tak cuma soal menghasilkan barang-barang manufaktur, bahan mentah, atau kebutuhan harian dan pada akhirnya surplus material. Produksi ialah soal mengadakan manusia dan relasi-relasi sosialnya. Teori-teori yang ada selama ini membutakan kita dari aktivitas produksi yang justru mendasar: kerja-kerja merawat, mendidik, menjaga yang lazimnya dilakukan perempuan dan di ranah domestik.

Pada waktu lain, visi ini membenturkan Graeber dengan teori evolusi. “Apa poinnya kalau kita tak bisa bersenang-senang?” tulisnya dalam esai lain. Mengapa kita mesti berpikir bahwa kehidupan dan perkembangannya adalah semata tentang bertahan hidup? Bila, toh, binatang bersenang-senang dan kelihaiannya didapatkan karena aktivitas ini, mengapa manusia tak termasuk mereka yang berkembang karena ingin menikmati hidup dengan sesamanya?

Lantas, dengan apa lagi pandangan ini bertumbukan kalau bukan dengan diskursus ekonomi arus utama? Tak ada yang lebih baik dan lebih ringkas menggambarkan keberatan Graeber terhadap ekonomi arus utama ketimbang cuitnya sendiri: “Bagaimana kalau kita mendefinisikan ‘ekonomi’ sebagai ‘cara kita merawat yang lain? Pasalnya, itulah kenyataannya.” (Pencet di sini untuk elaborasi lebih panjangnya.)

Dan yang mungkin sudah Anda sadari, pandangan ini adalah cara Graeber mengekspresikan keyakinan anarkismenya dengan subtil. Bila kehidupan sosial pada dasarnya ialah manusia membentuk satu sama lain, wujud kebersamaan apa yang paripurna kalau bukan sesama manusia saling menghidupi dan menjaga tanpa paksaan serta dalam asosiasi yang bebas ketimpangan dan penindasan?

“Asas-asas mendasar anarkisme—pengorganisasian mandiri, asosiasi sukarela, saling membantu—sama tuanya dengan kemanusiaan,” tulis Graeber dalam esai dengan filosofi yang lebih eksplisit.

***

Bila kenyataan menjadi tembok yang ringkih di hadapan Graeber, dengan cara itulah memang ia menggiring pembacanya untuk percaya bahwa kenyataan lain dimungkinkan. Tatanan yang ada, yang dibela oleh para teoretisi dan yang menyebabkan banyak orang terbelenggu, bukanlah kepastian melainkan kemandekan. Pun, dengan cara itulah ia memupuk harapan bukan dengan nina-bobok ideologis yang cuma bisa dinikmati oleh segelintir insan.

Kini, kita harus menerima bahwa kita tidak akan mendapatkan lagi pikiran-pikiran terbarunya. Ia telah diambil dari kita selagi masih bisa mencetuskan banyak imajinasi tak terduga yang memperlihatkan keringkihan dari tatanan kehidupan kontemporer. Namun, dalam masa hidupnya Graeber telah memberikan lebih dari cukup. Tulisan-tulisannya yang banyak dan yang akan terbit secara anumerta akan terus dibaca dan menginspirasi pembacaan-pembacaan anyar yang mewarisi spirit kreatif dan progresifnya.

Kepada David Graeber yang tak pernah saya kenal, beristirahatlah dalam kedigdayaan.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus