
Lee Kuan Yew
Rumput tetangga selalu terlihat jauh lebih hijau. BEBERAPA hari lalu, 23 Maret, Lee Kuan Yew mangkat. Kabar dukanya saya ketahui melalui media sosial, Facebook dan

Rumput tetangga selalu terlihat jauh lebih hijau. BEBERAPA hari lalu, 23 Maret, Lee Kuan Yew mangkat. Kabar dukanya saya ketahui melalui media sosial, Facebook dan
BUBARNYA kekuatan Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin menjadi penanda berakhirnya perang dingin yang beraroma konflik ideologi di antara blok Barat (liberalisme-kapitalisme) dengan blok Timur

KALAU ingat-ingat masa lalu, ambil saja rentang era 1980 hingga 1990-an, pesona Islam di ruang publik Indonesia tak sekuat dan tak seseram seperti sekarang ini. Di masa
Tanpa bermaksud menggurui, mungkin kondisi Mesir sekarang bisa menjadi semacam momen reflektif bagi gerakan rakyat di Mesir dan di berbagai tempat lain. Rakyat Mesir memang berhasil dalam eksperimennya melampaui keterbatasan transisi demokrasi dan kerangka demokrasi liberal menuju sebuah bentuk demokrasi yang lebih radikal. Namun, mungkin mobilisasi massa saja tidak cukup; kita perlu melangkah (sedikit) lebih jauh lagi dari situ. Ini juga yang disampaikan oleh Tariq Ali (2013) dalam pesan videonya kepada para demonstran dan aktivis #OccupyGezi. Di tengah fragmentasi gerakan rakyat dan oposisi di Mesir dalam berbagai tendensinya (sekuler, liberal, nasionalis, kiri dan lain-lain), kepemimpinan politik dan bentuk-bentuk lain dari pengorganisasian menjadi penting, apalagi jikalau gerakan rakyat ingin merebut negara dan mentransformasikan logikanya, di tengah-tengah proses revolusi dan demokratisasi yang rawan ‘dibajak’ untuk menjadi permainan elit.

ANAKKU tidak benar-benar mengenalnya. Ia bilang memorinya hanya merekam sosok Broto sekilas, saat acara Halal Bihalal dua tahun lalu. Itu wajar ketika sebuah keluarga besar
Kudeta militer terhadap pemerintahan sipil hasil pemilu, pimpinan perdana menteri (PM) Thaksin Shinawatra, merupakan preseden politik yang sangat menarik. Militer Thailand yang otoriter, yang bergelimang

Kredit ilustrasi:Julien Decaudin BANYAK yang dapat berubah dalam jeda sepuluh tahun belaka. Anda, boleh jadi, tak sama rupawan atau justru lebih rupawan ketimbang dulu. Anda
UPDATE (28/8/07): Pandangan terbaru dan cukup sistematis dari Stiglitz tentang Indonesia, silakan lihat link ini: Joseph Stiglitz: Indonesia needs a new agenda (AsiaViews, Edition: 30/IV/August/2007).

KENAPA tidak menunggu real count KPU saja? Banyak pihak, termasuk akademisi, mengimbau kita semua untuk tidak mengindahkan hasil Quick Count (QC) dan menunggu ‘Real Count’
Nurmahmudi Ismail Membakar Buku, Hugo Chavez Membagi Sejuta Buku! SUNGGUH menyedihkan membaca berita tentang seorang Walikota, pimpinan masyarakat perkotaan, berada di depan memelopori penghancuran peradaban
PADA bagian terakhir ini saya ingin memfokuskan analisis ini pada ekspresi politik kalangan “informal proletariat” menurut Mike Davis, atau “non-industrial proletariat” menurut Max Lane, atau “non-industrial urban proletariat” menurut James Petras, atau Kaum Miskin Kota (KMK) menurut istilah populer di kalangan progresif di Indonesia.
Seperti dikatakan Petras, karena posisi ekonominya yang sangat buruk, tersingkir dari keuntungan-keuntungan ekonomi formal sebagai akibat dari proses pembangunan kapitalistik, secara sosial terisolasi dari kehidupan normal perkotaan, maka kelompok ini – dalam kasus Amerika Latin – telah menjadi basis sosial penyangga sistem politik yang non-revolusioner. Selain itu, orientasi politik populis atau korporatis dari KMK itu disebabkan oleh posisi gandanya, yang bersifat psikologis maupun psikis: karena mereka (KMK) pada umumnya adalah penduduk yang bermigrasi dari desa ke kota maka pengalaman hidupnya adalah setengah kota setengah desa; karena ia hidup di pemukiman kumuh di perkotaan maka ia mengalami langsung dua keadaan: secara ekonomi ia sangatlah miskin tapi secara politik aspirasinya adalah aspirasi perkotaan. Pengalaman hidupnya menunjukkan bahwa ia telah tercerabut dari kehidupan asilnya di pedesaan tapi juga tidak bisa berintegrasi dengan serikat buruh di perkotaan.

Foto David Riazanov, diambil dari http://www.filosofia.mx DAVID RIAZANOV namanya. Sedari muda, ia sudah terlibat dalam gerakan politik revolusioner. Di tengah-tengah kekuasaan otokratik Tsar di
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.