Edisi LKIP12

Print Friendly, PDF & Email

Mixtape Untuk Johny: Welcome to the Working Week

Asalamualaikum Wr Wb.

Apa kabarmu Joni?

Ah maaf, aku lupa kau sudah jadi anak kota. Biar kutebak, kau pasti lebih nyaman dipanggil Johny kan? Joni dan Johny pelafalannya hampir sama. Tapi, Johny pasti lebih berkelas bagimu, begitu bukan?

Baiklah Jon eh John. Ibumu menyuratiku. Panjang sekali ia bercerita. Yang jelas, Ia minta aku memberi sedikit wejangan untukmu. Katanya “Beri Joni (maaf, ini tulisan Ibumu, lho ya) sedikit pegangan. Januari depan dia diwisuda. Lalu, ia bakal jadi karyawan. Nasihati dia biar sukses sepertimu.”

Sejujurnya, aku malas memberimu nasihat. Kalau boleh memilih, mending kita bicara sastra Indonesia, yang akhir-akhir ini sudah mirip novel stensilan Freddy S. Aku ingin tahu pendapatmu John. Lagian, kau–seorang calon sarjana sastra–pasti punya pandangan yang menarik tentang gonjang-ganjing KLA Award atau tentang kasus penyair Sitok Srengenge yang lagi panas-panasnya itu.

Namun, amanat ibumu adalah komando bagiku. Tadinya, hampir kuambil jalan pintas: beli buku self-help tentang wawancara kerja untukmu. Untung, aku masih ingat satu hal: Anak sastra tak baca buku self-help. Lagipula, bacaanmu pasti buku-buku sastra tebal karangan Murakami hingga Kafka atau buku-buku filsafat yang njelimet-njelimet itu, seumpama Totality and Infinity atau Ecce Homo. Jelas, buku self help tak punya tempat di hatimu.

Walhasil, aku buatkan saja untukmu sebuah kompilasi, atau biar ngenggris, mixtape. Alasannya mudah: Lagu populer biasanya tak (harus) bertendensi didaktis. Menurutku, layer pertama lagu popular tetap berisi hiburan sementara kritik, sindiran atau kerennya social commentary kadang baru meruap setelah beberapa kali didengar dengan seksama (baca: disimak). Galibnya, mixtape ini pada akhir tetap menjadi sebentuk penghiburan, alih-alih sebuah petuah yang kelewat menggurui.

Maka, nikmatilah satu demi satu lagu di mixtape ini di waktu senggangmu. Dengarkan lamat-lamat sembari kau memilah arsip-arsip yang kau perlukan guna mengirim lamaran kerja. Atau juga, mixtape ini juga bisa didengar ketika kau memilih pendamping wisudamu kelak. Jangan ragu-ragu cari pendamping. Pilih yang cantik ya! Biar Ibumu bangga!!

Ah itu dia, kau sudah punya pacar, John? Jangan bilang kau belum punya. Buat apa kau sekolah tinggi-tinggi tapi tak punya pacar? Rugi ibumu John!

Sayangnya, ini cuma surat. Jadi, aku tak lekas tahu apa jawabmu. Tapi, jika kau tak punya dan–pada akhirnya–gagal menemukan pendamping wisuda, biar ku beri tahu: ada penyedia layanan pendamping di forum jual-beli lokal! Gunakan google jika kau tak percaya. Cuma ingat! Mereka cuma mendampingi selama wisuda, tak lebih dari itu. Camkan: Pendamping tidak sama dengan female escort!

Kau pasti terkekeh-keheh menertawai konsep pendamping sewaan ini. Mungkin pikirmu, ‘gila orang-orang ini! Mau-maunya turun pangkat jadi sekadar mannequin selama beberapa jam.’ Bagaimana? Konsep yang lucu kan? Kalau  menurutmu lucu, ayo tertawalah, tertawalah dengan lepas.

Ya tertawalah karena tertawa itu (katanya) bikin awet muda. Belum lagi, biar selamat di Jakarta, kau kudu mahir menertawakan diri. Berita baiknya: kau baru saja melakukannya dengan sempurna, jika kau benar-benar menertawakan para pendamping sewaan itu.

Asal kau tahu, sebentar lagi, nasibmu tak  jauh berbeda dari para pendamping wisuda itu. Kalau kau beruntung (?), kau akan bekerja sebagai corporate worker dengan gaji yang jauh di atas UMR. Kursi kerjamu bakal empuk, ruanganmu dingin serta segepok tunjangan yang menggiurkan ada di depan matamu. Masalahnya, semua yang kau dapat itu harus ditukar dengan, minimalnya, hidupmu dari jam 9 pagi sampai 5 sore.  Nasibmu nanti tak jauh beda dari buruh-buruh pabrik itu.

Iya-iya, kau pasti ngedumel jauh di dalam benakmu. ‘Masa sih sekolah mahal-mahal, kok malah disamakan dengan buruh pabrik?’ Mungkin seperti itu kau mengeluh. Itu hakmu. Bebas Bray. Lagipula, kau kan katanya calon priyayi baru. Jadi wajar kalau ngedumel, terutama di socmed! Ha!!

Tapi, maaf grurendelanmu kali ini tak tepat. Walaupun kau kelak jadi karyawan (jika tak mau disebut buruh), kau mau tak mau harus bangun pagi. Di Jakarta, macet itu santapan pagi bagi semua orang, mau buruh atau karyawan. Walhasil, hampir tak ada bedanya antara pekerja tambang tempo dulu di Amerika dan kaum pekerja di Jakarta. Mereka—seperti kau—harus berangkat saat hari masih muda persis apa yang dinyanyikan Lee Dorsey dalam Working In A Coal Mine.

Five a clock in the morning/I’m up before the sun
When my workday is over/I am too tired for having fun

Belum lagi, sebelum punya uang untuk membeli (baca: kredit) kendaraan pribadi, setidak-tidaknya kau harus puas dengan moda transportasi Jakarta yang jauh dari sempurna. Minimal, kalau tidak berdesakan persis sarden di kereta, kau akan berbagi bau ketiak kaum pekerja di bis kota. Dan hal ini, kalau kau mendengarkan mixtape ini sampai pada lagu Statis, digambarkan dengan sederhana namun menohok oleh Plastik.

Terjebak di dalam kemacetan/bercampur kecewa sejuta manusia/
akankah ada yang bisa menjawab.

Nah, setelah mendengar Statis, harapanku kau mengerti mengapa ada begitu banyak sepeda motor di jalanan Jakarta. Ya, kau pasti sudah paham alasannya: moda transportasi yang kurang bisa diandalkan, macet yang abadi, dan tentunya bau ketiak yang barusan kuceritakan.

‘Tapi kan, nanti kalau jadi manager atau nangkring di kelas middle management, hal-hal itu bakal bisa kuatasi?’ Oh tentunya John! Saat kau berhasil  sampai ke jenjang penyelia kelas menengah, bau ketiak tak jadi sarapanmu lagi. Faktanya: toh kamu masih bangun pagi, buru-buru mandi lantas pergi menantang macet Jakarta untuk sekadar melakukan hal yang kemarin juga sudah kau lakukan. Intinya, di mana pun posisimu, kau sekadar faktor produksi malah kadang direduksi jadi objek omelan para Boss dan pemilik modal, yang kadang seperti diciptakan semata untuk—menyirik lirik Majikan Haji Kohar—untuk koar-koar.

Majikan Haji Kohar/Hobinya koar-koar
Main potong gajian, penvh svmpah serapah karyawan

Walhasil kau tetap saja jadi robot yang diiming-imingi jenjang karir, promosi yang lebih cepat atau—ah iya—bonus akhir tahun. Ini yang disitir sekaligus dinyinyiri oleh sekelompok musisi setengah gila bernama Kraftwerk dalam lagu The Robots.  Dua kalimat ini saja cukup menggambarkan semuanya:

We are programmed just to do
Anything you want us to

Akibatnya—ini sudah terlalu cliché—kau mulai mempertanyakan, mau apa kau sebenarnya dalam hidup ini. Lalu, pelan-pelan kau makin asing dengan tetangga, orang yang tiap hari kau temui di lift atau bahkan dirimu sendiri.  Dan, akhirnya nasibmu mirip yang digambarkan penggalan lirik Pearl Jam dalam Sleight of Hand

..as the merging traffic passed, he found himself staring, down, at his own hands..
not remembering the change, not recalling the plan, was it…?
he was okay, but wondering about wandering
was it age? by consequence? or was he moved by sleight of hand?

Atau—seperti yang dinyanyikan Zaskia Gotik dalam 1.000 Alasan—kau kena damprat pacarmu ketika kau tak kunjung punya waktu untuk mengakrabinya (boleh dibaca: menggauli, asal kau tanggung jawab tentunya). 

Senin Selasa waktunya kuliah, Rabu Kamis alasannya kerja
Jum’at Sabtu sampai Minggu kok masih gak ketemu
Senin Selasa ada meeting kerja, Rabu Kamis les privat waktunya
Jum’at Sabtu sampai Minggu kok masih gak ketemu

Sebentar dulu John. Jangan buru-buru mikir mixtape ini cuma tentang betapa nelangsanya menjadi pekerja/karyawan/buruh. Tak usah khawatir, ada beberapa musisi yang melihat sisi manis dari kehidupan buruh. Tim McIlrath salah satunya. Vokalis Rise Against, sebuah band Punk asal Chicago, ini malah menggubah lirik tentang romantis hidup yang ditopang UMR ala kadarnya dalam Swing Life Away

We live on front porches and swing life away,/We get by just fine here on minimum wage/If love is a labor I’ll slave till the end,/I won’t cross these streets until you hold my hand

John, aku tahu kau masih muda. Menurut Bang Rhoma, masa muda  masa yang berapi-api. Kontan, mudah bagiku untuk memahami kalau kau anggap lirik di atas sebagai usaha menye-menye melawan sebuah sistem besar bernama kapitalisme.

Mengenai lawan-melawan ini, kau pasti sudah gatel  menggulingkan kapitalisme. Pasti kau ingin segera jadi segagah Tyler Durden. Tapi,  menurut hematku, santai dulu saja bray. Kalau mau bikin revolusi cuma gara-gara kau pernah nonton Fight Club, apa bedanya kamu dengan hispter. Mending kau baca buku tentang perlawanan kelas pekerja sampai kenyang dan betul-betul paham.

Sambil menunggu kau cukup siap, mulailah menggagas pemberontakan kecil di kantormu. Misalnya, kencani perempuan yang duduk di sebelah cubicle-mu atau kalau mau lebih greget, coba kau pacari atasanmu. Niscaya, kau akan senakal lirik Step Into My Office, Baby milik Belle & Sebastian di bawah ini. Sungguh pemberontakan yang nikmat! 

She gave me some dictation/But my strength is in administration
/I took down all she said/I even took down her little red dress

Lalu, cobalah tengok cara Wayne Coyne menggambarkan pemberontakan kecil kaum pekerja dalam Bad Days. Balas dendam dalam lagu itu terdengar trippy, cerdas sekaligus kocak.

And you hate your boss at your job/well in your dreams you can blow his head off
in your dreams/show no mercy

Menariknya, pemberontakan ala Wayne Coyne bisa kau ejawantahkan di kantor kapan saja. Ini rahasianya: segera setelah bossmu mencak-mencak, buka program pengedit gambar. Tak usah pancung kepala bossmu, bikin saja meme dengan fotonya lalu pancang di timeline twitter-mu, beres perkara kan?

Bagaimana John? Apa usulan pemberontakan kecil ini sudah cukup greget untukmu? Kalau belum cukup menantang buat adrenalin mudamu yang bergejolak, silakan naikkan levelnya. Pilihannya terentang dari menolak perintah lembur di akhir pekan sampai ikut demo buruh tiap 1 Mei AKA May Day tahun depan.

Cuma, kalau kau nekat ikut demo pekerja, aku cuma pesan 2 hal: Pertama, jangan beritahu Ibumu. Kau anak satu-satunya. Bisa kalang kabut beliau.  Yang dia tahu dari berita TV, demo itu sama dengan rusuh. Kedua, sebelum kau berangkat demo, ada baiknya kau dengar dulu lagu May Day gubahan Tika and Dissidents.

Rise and shine/Don’t go to work today
Teachers and strippers alike/Realize we’re one and the same

Sila perhatikan John, dua baris lirik jelas menganjurkan sebuah pemberontakan/perlawanan, kali ini tidak kecil: membolos pada tanggal 1 Mei. Seruan yang sampai tahun ini cukup beringas. Tahun depan, seruan ini tak lagi menggigit sebab presiden kita—mungkin kurang ide untuk bikin kepres–sudah kadung bikin 1 Mei jadi hari libur nasional.

Namun, terlepas masih relevan atau tidaknya ajakan bolos ini, menurutku, yang lebih menarik adalah seruan di larik berikutnya. Tanpa ragu,  teachers dan strippers–dua pekerjaan yang secara “moral” sangat berlawanan–disejajarkan dalam satu larik. Jelas, Tika sudah menyindir renggangnya buruh kerah biru dan karyawan kerah putih.  Kesannya, corporate worker/karyawan dan mereka yang buruh pabrik bakal begitu berbeda. Padahal, kita toh sama-sama bangun pagi, jadi sansak omelan dan mengalami alienasi, walau mungkin dengan tingkat yang berbeda-beda. Mengutip Tika, we’re one and the same.

Maka, kau tak usah buru-buru ikut turun ke jalan 1 Mei mendatang. Yang penting, eling dulu bahwa karyawan atau corporate worker itu tak jauh beda dari buruh pabrik. Lantas, belajarlah untuk tidak lekas menyalahkan demo buruh atas kemacetan atau setidaknya, kumpulkan pelbagai fakta tentang demo buruh sebelum merutukinya. Lagipula, kalau cuma biang macet, antrian saat H & M buka outlet pertama juga bisa bikin macet! Ha!!

Malah, kalau aku boleh usul, setelah kau eling, gencarkan pemberontakkan kecil yang tadi kuceritakan. Jadilah karyawan nakal agar bisa bertahan sebagai manusia. Mungkin, pemberontakanmu belum memberi sumbangan berarti pada nasib dan perjuangan kelas pekerja. Namun, setidaknya pemberontakan kecil yang kau lakukan sudah punya target yang benar; kaum kapitalis beserta kroninya alih-alih sesama kelas pekerja.

Dan, ngomong-ngomong masalah pemberontakan, sepertinya pemberontakan [baca: surat] ini harus dituntaskan. Bos tetiba minta aku ikut meeting. Mukanya masam. Mudah ditebak, sales bulan ini anjlok. Alamat sore ini aku kenyang omelan. Kali ini, biar kutelan semunya mentah-mentah. Aku belum mau dipecat. Cicilan sepeda motorku 3 bulan lagi baru tuntas!

Akhirul kalam, Sampai jumpa John dan—mengutip 2 judul lagu dalam mixtape ini—welcome to the working week yet this ain’t no picnic!

Mixtape -001- Welcome To The Working Week! from mixtapeLKIP on 8tracks Radio.

Download Mixtape: http://www.mediafire.com/download/75o67a29c07kfh2/Mixtape+-001-+Welcome+To+Working+Week.rar atau mainkan: https://8tracks.com/mixtapelkip/mixtape-001-welcome-to-the-working-week

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus