1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 66

Harian Indoprogress

Hongxuan memperlihatkan bahwa Islam dan Marxisme bukan sekadar pernah bersentuhan, tetapi juga membangun berbagai bentuk kompromi, mulai dari sintesis teoretis hingga strategi retoris yang menekankan kesamaan tujuan: melawan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme.
Bagaimana jika teori justru bertolak belakang dengan kenyataan yang tersaji di luar pikiran? Apakah teori harus berubah agar menyesuaikan diri dengan kenyataan, atau justru kenyataan yang berbeda itu diabstraksikan lalu dilampaui keberadaannya di dalam ranah pemikiran?
Jika pada masa lalu represi terhadap warga dilakukan secara terbuka melalui komando teritorial seperti Kodam atau Korem, kini praktik serupa dijalankan melalui rezim hukum kedaruratan dan satgas ad hoc.
Kebijakan politik etis justru membina banyak individu yang pada akhirnya akan menantang kekuasaan kolonial dan membayangkan masa depan di luar imperium.

Harian Indoprogress

Tidak Ada Salahnya (Mencoba) Untuk Melawan

SEBAGAI seorang dari tradisi Protestan,[1] saya sering mendengar, baik melalui khotbah maupun percakapan sehari-hari, bahwa tidak baik untuk melawan pemerintah. Atau dalam nada yang sedikit

Kami Bersama Gerakan Massa #ReformasiDikorupsi

Ilustrasi oleh Alit Ambara (Nobodycorp. International Unlimited) SEJAK seminggu yang lalu, kaum muda Indonesia (mahasiswa dan pelajar) serta elemen rakyat pekerja lainnya melancarkan aksi-aksi massa

Ihwal Kekerasan dan Taghut

Kredit foto: Fathimah Fildzah Izzati KITA percaya tiada orang yang menghendaki kekerasan. Semua manusia waras membeci dan mengutuknya. Yang demikian ini, bahkan saya temui pada

Lawan Oligarki: Manifesto Reformasi Jilid 2

Lawan Oligarki, Selamatkan Demokrasi! Oligarki di Senayan, Oligarki di Istana! Oligarki di Kota, Oligarki di Desa! Oligarki Berwajah Nasionalis, Oligarki Berwajah Islamis! Lawan Manipulasi Identitas

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.