Joker dan Kekerasan Objektif

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”. Karya-karyanya dapat dijumpai di sini


ORANG jahat adalah orang baik yang muak mendengar film Joker seakan punya pesan serupa wejangan-wejangan Mario Teguh. Betul. Sekali lagi saya mendengar wanti-wanti “orang jahat adalah…” saya akan berkata-kata kasar. Saya serius.

Buat saya Joker adalah sebuah karya penebusan dan The Dark Knight Rises adalah dosa yang ditebusnya.

Mari saya segarkan ingatan kita akan film garapan Christopher Nolan tujuh tahun silam itu. The Dark Knight Rises mengisahkan Batman yang kembali dari masa purnabaktinya untuk mengadang rencana jahat komplotan pimpinan Bane memusnahkan Gotham. Batman, awalnya, kalah. Ia dipaksa menyaksikan Gotham dihancurkan dari kejauhan. Tapi, sebagaimana sudah diduga, ia bangkit dan menggagalkan kehancuran kotanya. Seraya itu pula ia menjadikan dirinya sosok martir untuk kotanya dan menghilang untuk hidup tenteram di negeri nun jauh.

Ada kepandiran ikonik yang mungkin tak sempat terlampau kentara lantaran penonton tenggelam dalam musik pengiring Hans Zimmer yang membius, agung (dan memekakkan telinga) dan sinematografi Dark Knight Rises yang mahal. Batman melawan Bane yang jauh lebih besar, lebih berat dengan tangan kosong—di saat dia bisa menggunakan perkakas ninjanya. Padahal, ada nasib banyak orang yang dipertaruhkan. Kedua, kok bisa seluruh polisi metropolitan sebesar Gotham terperangkap di bawah tanah karena jebakan komplotan Bane yang bisa diterka penonton satu bioskop?

Bukan. Saya tahu, momen-momen tersebut pandir. Tetap saja, mereka tak mengalahkan kebebalan Nolan mengoyak-ngoyak citra gerakan Occupy Wall Street lewat film ini. Nolan bilang, itu kebetulan saja. Ia terinspirasi oleh gambaran Revolusi Prancis dalam A Tale of Two Cities, novel Charles Dickens. Petunjuk paling gamblang, sayangnya, bilang sebaliknya. Occupy Wall Street penuh dengan bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi. Para pengunjuk rasa menjadi korban kekerasan polisi. Mereka dipukuli dan dibekuk dengan brutal.

Dan adegan puncak The Dark Night Rises? Polisi bentrok dengan komplotan Bane dan para kriminal yang dilepaskannya di depan gedung yang jelas-jelas menyerupai Bursa Efek New York.

Bukan kebetulan, saya rasa. Bukan kebetulan cara Bane dan anak-anak buahnya mengemas manuver mereka ialah dengan menyerukan akan mengembalikan apa yang sejatinya dimiliki oleh warga Gotham kebanyakan. Dan bukan kebetulan pula Joker di The Dark Knight adalah sosok anarkis dan baginya insan manusia pada dasarnya jahanam. (Anarkis mana yang membayangkan manusia hakikatnya jahanam kecuali anarkis yang dibayangkan Nolan?)

Akan tetapi, ini baru permulaan.

***

Masalah lebih asasi saya dengan The Dark Knight Rises adalah propaganda anti-gerakannya menyederhanakan dan menyesatkan pemahaman kita perihal kekerasan dan kejahatan. Kota Gotham dalam imajinasi Nolan adalah jagat yang hitam-putih belaka. Trilogi The Dark Knight Nolan dianggap menggarap Batman secara realistis? Saya tak percaya.

Motif sosok-sosok antagonis utama yang dihadirkan Nolan semata ialah menciptakan kehancuran. Mari kita buka-bukaan saja: menghasrati kehancuran bukan hal yang aneh. Ada hari-hari di mana kita menginginkan dunia berhenti berputar dan kehidupan luluh lantak. Hari-hari yang najis, menyedihkan, menyesakkan, dan buntu. Namun, kehancuran yang dikampanyekan oleh musuh-musuh Batman adalah kehancuran yang terlalu eksentrik, yang hanya bisa dipahami oleh tokoh bersangkutan dan pengikutnya yang berkepala kosong.

Semua penjahat utama Nolan ingin menghancurkan Gotham karena menganggap kota itu berkubang dalam korupsi. Hanya saja, kita tak pernah dipaparkan korupsi seperti apa yang terjadi di Gotham. “Korupsi” adalah monster abstrak. Para penjahat ini tidak nampak menderita karenanya. Dengan berkhotbah tentang gagasan tersebut, orang-orang ini bahkan lebih nampak seperti pemimpin kultus—dan kita kesulitan berempati dengan mereka.

Perkaranya adalah konsekuensi lanjutan dari siasat naratif ini. Ia menjadikan kekerasan melawan kekerasan para antagonis sesuatu yang baik dan heroik. Seruwet apa pun alur cerita teranyam, Batman akhirnya dinobatkan  sebagai pahlawan lantaran berhasil menggagalkan manuver-manuver menghancurkan Gotham dengan kekuatan dan teknologi kekerasannya.

Tapi Batman yang mana? Anda bisa pilih acak. Mau Batman dari serial televisi 1960-an yang bersahaja, Atau Batman garapan Nolan yang gelap dan—katanya sih—kompleks. Keduanya sama saja. Mereka dielu-elukan karena menghancurkan kekuatan yang mengancam keberlangsungan masyarakat.

Benar belaka bahwa di dunia nyata kita tak akan menemukan pahlawan super. Namun, tebak siapa yang melakukan kekerasan dan memperoleh justifikasinya dari narasi yang beda-beda tipis dengan narasi heroik barusan?

Inisial mereka T dan P. Tentara dan polisi. Dengan dalih melindungi bangsa dan negara dari ancaman-ancaman membahayakan, mereka diperkenankan melakukan kekerasan.

Anda tentu sudah hapal: ancaman bisa dibikin-bikin. Bahaya yang direkacipta Nolan dan aparatus negara sama-sama tidak meyakinkan. Sindikat misterius dengan sumber dayanya tak habis-habis yang berdiri hanya karena ingin untuk memusnahkan Gotham? Penjahat super satu dimensi yang motifnya cuma kehancuran, kehancuran, dan kehancuran?

Segala citra tersebut segera mengingatkan saya akan keyakinan intel yang pernah menginterogasi saya di Kampung Parigi. Saya, dalam pikiran sempitnya, adalah ISIS dan jauh-jauh datang dari Jawa semata untuk membahayakan kampung.

Sialnya, Nolan punya perkakas dan modal untuk membuat sebuah film kolosal yang akan ditonton jutaan orang. Dan aparatus negara punya, seperti yang dibilang peramal Rocky Gerung, statistik, intelijen, editor, panggung, media.

Kini, hilangkan bahaya imajiner tersebut. Siapakah pahlawan super kalau bukan penjaga ketertiban reaksioner yang miskin visi kreatif, transformatif untuk dunia yang lamat-lamat menghancurkan dirinya sendiri? Siapakah tentara dan polisi kalau bukan petugas yang kerja-kerjanya menjemukan, nampak tak bermakna, dan lagi rentan dituduh menghamburkan anggarannya yang kini menggunung?

***

Saya menonton Joker 5 Oktober silam. Pengalaman saya menontonnya tak terlalu ideal. Di samping saya adalah bapak-bapak yang tak mematikan suara telepon genggamnya sambil terus berkomentar kepada anaknya yang tak mungkin lebih dari sepuluh tahun, “Kok, filmnya membosankan”, “Kok, tidak ada Batman”. Ketika salah satu adegan paling mencekam berlangsung, suara anak bayi menangis pecah dari kejauhan.

Tetap saja, Joker merupakan perjalanan yang mengisap.

Kekerasan mendominasi film ini. Dan kekerasan tersebut bukan kekerasan klise yang sudah saya singgung. Kekerasan tersebut cair. Ia terjadi pada Arthur Fleck kapan pun, di mana pun. Di rute yang harus ditempuh Fleck untuk pulang dari pekerjaan brengseknya. Di rutinitas Fleck mengurus ibunda yang mengingatkannya pada jurang kelas menengah bawah dan bahwa peluang memperbaiki kehidupan hanya mimpi Cinderella. Ia menikamnya tanpa ampun setiap kali mimpi Cinderella tersebut terkoyak.

Anda tidak melihat kekerasan-kekerasan tersebut. Tidak ada Bane yang berkostum heboh, meledakkan stadium olahraga di tengah pertandingan akbar dengan bom neutron, dan sesumbar mengklaim tanggung jawab atas semuanya. Namun, Anda tidak akan menampik bahwa apa yang dialami Arthur adalah kekerasan. Pada tubuhnya yang kurus kering, pada langkah-langkahnya yang letih dan payah, pada tawanya mengganggu yang menyimpan jejak-jejak kejahatan.

Ketika Arthur perlahan menyerah kepada kegeramannya, kita sudah ada pada titik mewajarkannya. Kekerasan harus dibalas kekerasan. Kita mewajarkan pelampiasan dendamnya satu-persatu. Kita mewajarkan ia membunuh para pemabuk dari Wall Street, temannya, hingga akhirnya ibunya sendiri. Kita mewajarkan apa yang dipikirkan Arthur di momen puncak film ini: semua harus hancur.

Ia menertawakan kota Gotham yang dilalap api dan kemarahan massa? Wajar belaka. Ia hanya punya dendam terhadap kota ini. Dendam yang alasannya dipaparkan kepada kita dengan sensual sepanjang film—kekerasan berseri kota ini kepadanya.

Gotham adalah kota yang bangsat. Dunia adalah tempat bangkrut. Kita memahaminya.

Joker mungkin jembatan menuju nihilisme. Kita semua terganggu dengan film ini. Kita semua menuliskan pikiran kita tentangnya di media sosial dan, saya percaya, dengan ini kita berusaha menanggulangi pengalaman menonton yang traumatis. Bagaimana kita bisa terpana sekaligus memuliakan kekerasan spektakuler Arthur? Mengapa huru-hara yang pecah di pengujung kisah tercitra begitu agung, melegakan, dan tepat waktu? Mengapa tawa Joker yang tak pantas dan menimbulkan perasaan iba justru berbalik menjadi simbol kemenangan?

Mungkin, kalaupun ada yang mau disampaikan film ini, adalah sebuah pesan murung: tak sepantasnya kita mempercayai apa pun. Mungkin, keinginan hakiki film ini  adalah memaksa kita mengamini kata-kata Joker dalam komik The Killing Joke: “Hanya diperlukan satu hari yang buruk untuk membuat orang paling waras di dunia ini sinting,” ujar Joker. “Hanya sejauh itu jarak orang-orang dariku. Hanya satu hari buruk.”

Namun, saya tak ingin menyusuri jembatan yang dibentangkan film ini hingga ke ujung. Dan saya masihlah orang yang cukup tradisional untuk percaya ada yang bisa kita petik dari perjalanan kelam yang dijejalkannya kepada kita.

Vladimir Maiakovskii, penyair futuris Rusia, pernah mencetuskan satu pernyataan tentang Perang Dunia Pertama yang mungkin tak selalu terdengar pantas. “Segenap perang ini,” tulisnya, “boleh jadi diciptakan semata agar seseorang dapat menulis sebuah puisi yang sangat bernas.”

Tak patut? Buat saya, ungkapan tersebut masuk akal belaka. Perang, kekerasan adalah monumen yang mencekam tapi juga tak henti-hentinya memikat. Setiap pandangan diisap olehnya. Segenap emosi dan energi tercurah untuknya. Orang-orang tak habis-habis mengisahkannya, lagi dan lagi. Karenanya, barang siapa yang berhasil memberi nama bagi kekerasan, ia juga akan mendulang legitimasi politik yang tak pernah surut darinya. Kekerasan 1965-1969, yang narasinya sudah dikuasai tentara dan kelompok konservatif, katakanlah, membuat mereka merasa penting sendiri di panggung politik hingga hari ini.

Dan apakah yang dirawat oleh narasi pahlawan super semacam Dark Knight Rises kalau bukan kekerasan cuma terbagi menjadi kekerasan jahat, yang mengganggu keteraturan, dan kekerasan baik, yang menegakkan kembali keteraturan? Ide yang pada waktunya dimamah oleh orang-orang jahat nyata di sayap kanan jalan dan memupuk keyakinan bawah sadar aparat gerakan massa perlu ditangani secara brutal?

Saya melihat Joker sebagai manuver kultural yang berharga dalam konteks ini. Ia memaksa pandangan kita terarah kepada kekerasan yang tak kasat mata, tak memiliki jasad namun justru yang paling marak terjadi. Kekerasan yang disebut juga oleh Slavoj Zizek sebagai kekerasan objektif. Kekerasan yang ketika dampaknya tak tertanggungkan lagi menjadi histeria melucuti semua yang menginjak-injak, merisak, mengancuk sang subjek.

***

Joker, mungkin, adalah jembatan menuju nihilisme. Namun, dalam perjalanannya ia mengantarkan kita kepada Gotham yang lebih telanjang ketimbang yang dihidangkan narasi-narasi pahlawan super. Gotham Joker, setidaknya, lebih masuk akal ketimbang Gotham yang disibukkan kekerasan-kekerasan superfisial dan heroisme reaksioner yang muncul dari rahimnya.

Selepas Menkopolhukam Wiranto ditusuk di Pandeglang, Banten, Jokowi menyerukan kepada kita agar memerangi terorisme. Namun, tempo hari media memberitakan, Alam, sang penusuk, adalah korban gusuran proyek pembangunan jalan tol. Ia dan kedua anaknya terusir dari tanah tempat kelahirannya tersebut sejak 2016.

Semua mendadak masuk akal.***


Geger RiyantoMahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus