1. Beranda
  2. /
  3. Harian Indoprogress
  4. /
  5. Page 45

Harian Indoprogress

Dorongan anti-imperialisme sebenarnya telah lama berlangsung. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin menimbulkan kekhawatiran di kalangan Barat akibat berbagai perubahan dan dinamika geopolitik yang muncul.
Represi politik menghalangi perubahan dari dalam; sanksi menutup pintu terhadap dunia luar. Keduanya bersama-sama menyempitkan ruang gerak rakyat sebagai pelaku sejarah.
Kontrol negara atas tanah dan sumber daya alam tidak dapat dipahami sepenuhnya sebagai residu kolonialisme. Dalam konfigurasi ekonomi-politik saat ini, hukum yang menopang kontrol negara tersebut kerap berfungsi untuk melayani jaringan oligarki lokal dan nasional.
Dalam tradisi politik Syiah, kematian di tangan musuh memiliki makna yang sangat khusus. Karbala dan gugurnya Imam Hussain bukan sekadar kisah sejarah—keduanya adalah bahasa hidup yang terus membentuk kesadaran politik dan keagamaan, di mana menderita karena kezaliman justru melahirkan kewibawaan moral.

Harian Indoprogress

Untuk Rosa Luxemburg, Untuk 150 Tahun Kelahirannya

“Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan. Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit.”

Perang 200 Tahun Kelas Pekerja

“Maka hanya dengan bersatu, kelas pekerja membentuk batalionnya, maju tak akan gentar ketika harus berhadapan dengan lawannya dan meraih kemenangan. Di sini kita mesti ingat bahwa kemenangan diraih dengan perjuangan dan pengorbanan, kecuali Anda menganggap Mao Zedong, Fidel Castro dan Ho Chi Minh cuma tidur-tiduran sambil twitter-an seharian.”

Makan dari Rongsokan Logam: Refleksi tentang Wajah Lain Amerika

“Langit lekas gelap di Detroit pada musim dingin. Beberapa orang mengemis di dekat jalur keluar jalan tol. Dari kejauhan, tampak nyala api di lokasi yang dulunya adalah jantung kawasan industri. Sekelompok anak muda menyalakan api di reruntuhan pabrik, sembari berharap menemukan potongan logam yang akan dikirim ke Timur melalui laut. Potongan-potongan logam yang bernilai dua setengah dolar per ons ini adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa untuk bertahan hidup.”

Kepatuhan dan Manipulasi Kebebasan: Catatan Empiris untuk Esai Ben K. C. Laksana [Bagian 3]

“Sebagai refleksi atas perjalanan saya sebagai pelajar sekolah dasar dan menengah di Indonesia selama 12 tahun, tiga catatan empiris saya tentu berbeda dengan siswa lain. Tantangan yang dihadapi setiap siswa di Indonesia pun belum tentu tercakup dalam catatan panjang ini. Karenanya, untuk tiap pelajar Indonesia yang telah bersedia membaca tiga catatan ini, saya ingin mengajak Anda semua merumuskan abad kita yang akan datang: abad 100 tahun Indonesia Merdeka, abad yang membuat tiap orang merasakan kemerdekaan, bukan hanya membayangkan dan mengharapkan.”

Pendayagunaan Teknologi Digital dalam Perjuangan Kelas: Kasus Buruh Aice

Kami mengorganisir 665 pekerja untuk membangun sebuah database (basis data) yang menyediakan informasi mengenai detail kontrak kerja, khususnya terkait dengan masa kerja buruh. Basis data ini digunakan sebagai sumber informasi dan dasar dalam memperjuangkan tuntutan buruh menjadi karyawan tetap. Kami menggunakan formulir online yang dapat diisi oleh buruh melalui ponsel masing-masing.

Di Farmasi Marx: Wawancara dengan Marcello Musto

Apakah Marx tetap diperlukan untuk memahami faktor-faktor di balik ketimpangan, bentuk-bentuk dan kemungkinan melawannya? Kami membahas soal-soal ini dengan Marcello Musto, seorang profesor sosiologi di York University, Toronto dan sosok otoritatif dari kebangkitan studi Marxis belakangan ini.

‘Front Pembela Islam’ yang Sesungguhnya

Kita perlu front pembela Islam yang sesungguhnya: membela umat yang harus membayar mahal untuk pengobatan COVID-19, mereka yang tidak bisa mengakses dan membeli vaksin, atau mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Pelemahan Daya Argumentasi: Catatan Empiris untuk Esai Ben K. C. Laksana [Bagian 2]

“Dalam situasi kelas reguler, kegiatan belajar mengajar steril dari kritik dan debat. Para pendidik melegitimasi dirinya sebagai ‘orang tua kedua’ yang ucapan dan amanatnya sebangun dengan amanat orang tua kandung. Ujung-ujungnya, pendekatan emosional digunakan sebagai jalan keluar, berikut segudang doktrin ‘berbakti kepada guru agar ilmu yang diraih mendapat keberkahan’.”

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.