Ilustrasi: Istimewa
DI KEPALA KITA, kata bulanan berarti tiga puluh hari. Itulah pengertian paling dasar yang bahkan dipahami oleh anak sekolah dasar. Namun, operator telekomunikasi tampaknya memiliki tafsir yang berbeda. Bagi mereka, paket bulanan ternyata tidak benar-benar berarti satu bulan. Cukup 28 hari—empat minggu. Setelah itu, pelanggan harus membayar lagi.
Mula-mula kita menganggapnya sebagai hal yang wajar. Toh selisihnya hanya dua hari. Namun, kapitalisme jarang bekerja melalui ledakan besar yang langsung terlihat. Ia lebih sering masuk melalui pengurangan-pengurangan kecil yang terus diulang hingga orang menganggapnya normal.
Dua hari yang dipotong dari jutaan pelanggan adalah tambang emas. Anehnya, hampir tidak ada yang benar-benar marah mengenai hal itu.
Kita justru sibuk membandingkan kecepatan internet, berburu promo tengah malam, atau mengeluh di media sosial sambil tetap membeli paket yang sama pada bulan berikutnya. Lambat laun, pengurangan ini terasa lumrah. Padahal, banyak praktik yang merugikan tumbuh dengan cara serupa: mengambil sedikit demi sedikit hingga orang lupa bagaimana bentuk utuhnya dahulu.
Waktu dipotong.
Perhatian dipotong.
Energi dipotong.
Lalu semuanya dikembalikan kepada kita dalam bentuk langganan.
Jejak Panjang Keusangan yang Dirancang
Fenomena seperti ini sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Ia tidak muncul begitu saja bersama internet atau media sosial. Benang merahnya dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-19, ketika Revolusi Industri mulai mengubah hubungan manusia dengan barang-barang yang mereka gunakan.
Sebelum industri modern berkembang, kebanyakan benda dibuat untuk bertahan lama. Tukang kayu berharap meja buatannya dapat digunakan selama puluhan tahun. Penjahit membuat pakaian yang bisa dikenakan berulang kali dan diperbaiki jika rusak. Ketahanan merupakan kualitas yang dihormati.
Namun, ketika pabrik mampu memproduksi barang dalam jumlah besar, muncul persoalan baru: bagaimana membuat orang terus membeli?
Dalam Made to Break (2016) Giles Slade mencatat bahwa pada awal abad ke-20 banyak perusahaan mulai menyadari satu hal penting: pasar tidak akan terus bergerak jika barang yang dijual terlalu awet. Dari sinilah lahir praktik yang kemudian dikenal sebagai planned obsolescence— strategi merancang produk agar memiliki umur pakai yang lebih pendek daripada kemampuan teknis maksimalnya.
Pada awalnya, strategi ini muncul dalam bentuk yang relatif sederhana. Kerah kemeja dibuat lebih cepat lusuh. Model mobil diperbarui setiap tahun. Desain produk terus diubah agar barang lama tampak ketinggalan zaman. Lalu, tahun 1924 datang seperti penanda penting dalam sejarah industri modern.
Sejumlah produsen lampu terbesar dunia berkumpul di Jenewa dan membentuk Phoebus Cartel. Mereka sepakat membatasi usia pakai bohlam hingga sekitar seribu jam, meskipun teknologi pada masa itu sebenarnya memungkinkan lampu bertahan jauh lebih lama.
Di titik ini, keusangan berubah menjadi keputusan bisnis yang terorganisasi.
Yang menarik, perubahan ini berlangsung seiring dengan perkembangan industri periklanan. Roland Marchand dalam Advertising the American Dream (1985) menunjukkan bagaimana industri periklanan di Amerika Serikat mulai membentuk cara baru manusia memandang barang. Produk tidak lagi dijual semata-mata karena kegunaannya, melainkan karena citra yang melekat padanya.
Orang membeli mobil untuk terlihat modern.
Membeli pakaian untuk menunjukkan status sosial.
Membeli barang tertentu agar merasa tidak tertinggal oleh zaman.
Pelan-pelan, konsumsi berubah dari aktivitas memenuhi kebutuhan menjadi cara manusia membangun dan membaca identitas dirinya sendiri.
Pola ini tidak berhenti di sana. Justru setelah Perang Dunia Kedua berakhir, kecenderungan tersebut berkembang semakin besar seiring mencapai puncaknya produksi massal. Pabrik mampu menghasilkan barang dalam jumlah yang jauh melampaui kebutuhan dasar masyarakat. Akibatnya, fokus industri pun bergeser: bukan lagi bagaimana memproduksi lebih banyak barang, melainkan bagaimana memastikan barang-barang itu terus terserap oleh pasar.
Victor Lebow pernah menulis pada 1955 bahwa ekonomi modern membutuhkan konsumsi sebagai cara hidup. Kalimat itu terdengar seperti slogan biasa, tapi efeknya terasa sampai hari ini. Dunia modern kemudian bergerak dalam ritme pembaruan tanpa akhir. Model baru muncul terus-menerus. Tren berganti cepat. Barang lama terasa usang bahkan sebelum benar-benar rusak.
Lalu Internet Datang dan Mempercepat Semuanya
Jika abad ke-20 membentuk budaya konsumsi, maka abad ke-21 mengubah konsumsi menjadi atmosfer yang menyelimuti kehidupan sehari-hari.
Kini kita tidak hanya membeli barang. Kita juga mengonsumsi informasi, citra, perhatian, validasi sosial, dan identitas digital. Media sosial membuat segala sesuatu bergerak dengan kecepatan yang sering kali melampaui kemampuan tubuh dan pikiran manusia untuk mengikutinya.
Hari ini suatu produk menjadi tren, besok sudah dilupakan. Hari ini semua orang membeli tumbler tertentu, besok beralih ke sepatu tertentu. Minggu depan berburu blind box, bulan berikutnya mengoleksi Labubu, lalu berpindah lagi ke sesuatu yang baru. Semuanya bergerak begitu cepat hingga orang tidak sempat benar-benar menyukai sesuatu.
Kita tidak diberi waktu untuk membangun kedekatan dengan barang. Sebaliknya, kita dilatih untuk cepat bosan.
Salah satu contoh paling jelas adalah TikTok. Video dipotong menjadi hitungan detik. Lagu dipercepat. Teks bergerak cepat di layar. Bahkan keheningan sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Algoritma bekerja seperti bandar narkotik digital, memberikan rangsangan kecil secara terus-menerus agar pengguna terus bertahan di dalam aliran konten. Akibatnya, perhatian manusia menjadi semakin singkat dan semakin mudah diperebutkan. Orang tidak lagi membaca panjang; mereka menggulir layar tanpa henti.
Di tengah situasi seperti itu, muncul generasi yang tumbuh dengan perasaan tertinggal yang nyaris terus-menerus. Banyak anggota Generasi Z hidup dalam ritme yang ganjil: selalu sibuk, tetapi sulit merasa selesai.
Mereka bangun dengan notifikasi.
Tidur dengan notifikasi.
Bekerja sambil membuka media sosial.
Beristirahat sambil melihat iklan.
Bahkan rasa bosan pun menjadi barang langka, karena setiap jeda segera dipenuhi oleh konten.
Dalam The Burnout Society (2015) Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai achievement society, yakni masyarakat yang membuat individu terus mendorong dirinya sendiri sampai kelelahan. Orang tidak perlu lagi dipaksa secara langsung. Mereka akan merasa bersalah kalau tidak produktif.
Di Indonesia, gejala tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Orang bangga lembur. Bangga sibuk. Bangga kurang tidur. Dalam lanskap neoliberalisme, manusia perlahan mulai memandang dirinya seperti perusahaan rintisan kecil yang harus terus bertumbuh, beradaptasi, dan meningkatkan kapasitasnya. Tidak boleh terlalu lambat. Tidak boleh terlalu santai. Harus terus bergerak agar tidak tertinggal.
Dalam konteks seperti itu, kerja berlebihan berganti nama menjadi hustle culture. Utang konsumtif terdengar lebih ringan setelah disebut paylater. Kopi mahal dikemas sebagai self-reward. Kos yang sempit dipasarkan sebagai co-living. Bahasa bekerja layaknya kosmetik sosial: menghaluskan kenyataan yang sebenarnya melelahkan.
Barangkali karena itulah kapitalisme kontemporer jarang terasa sebagai tekanan yang hadir secara terang-terangan. Ia tidak selalu datang dalam bentuk paksaan yang kasar. Sebaliknya, ia tampil dengan wajah yang ramah, desain yang estetik, dan istilah-istilah yang terdengar menyenangkan. Orang dibuat merasa sedang memilih secara bebas, padahal perlahan-lahan mereka diarahkan untuk terus hidup dalam ritme yang sama.
Karena itu, kritik-kritik terhadap kapitalisme kontemporer banyak bergerak di wilayah yang lebih subtil. Perusahaan teknologi modern, bago Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2018), tidak hanya menjual layanan tetapi juga mengumpulkan dan mengolah perilaku manusia menjadi sumber keuntungan.
Waktu yang kita habiskan secara daring dicatat. Kebiasaan belanja dipelajari. Pola tidur dianalisis. Bahkan jeda beberapa detik saat kita menonton sebuah video dapat diubah menjadi data.
Sedikit demi sedikit, manusia tidak lagi dipahami sekadar sebagai pengguna, melainkan sebagai pola perilaku yang dapat diprediksi. Dan di tengah ritme yang terus bergerak seperti itu, tubuh manusia tetap memiliki batasnya sendiri.
Ia lelah.
Ia membutuhkan jeda.
Ia tidak selalu mampu bergerak secepat algoritma.
Mungkin karena itu, sebuah cerita kecil dari China terasa menarik. Sejumlah pusat kebugaran khusus perempuan di sana mulai memberikan tambahan masa keanggotaan selama tujuh hari bagi anggota yang sedang menstruasi atau mengalami PMS. Dengan demikian, paket gym yang biasanya berlaku selama tiga puluh hari diperpanjang menjadi tiga puluh tujuh hari.
Keputusan sederhana ini terasa hampir radikal di zaman sekarang. Ada pengakuan bahwa tubuh manusia memiliki ritme yang berbeda-beda. Bahwa ada hari-hari ketika seseorang memang perlu berhenti. Bahwa hidup tidak selalu harus efisien.
China tentu bukan surga anti-kapitalis. Negara itu juga merupakan raksasa industri yang agresif. Namun, contoh kecil ini menarik karena memperlihatkan satu kemungkinan lain: sistem ternyata dapat dirancang mengikuti ritme manusia, bukan hanya memaksa manusia mengikuti ritme pasar.
Anehnya, Gagasan Sesederhana Ini justru Terasa Asing di Banyak Tempat
Di Indonesia, tubuh sering diperlakukan seperti mesin yang harus selalu siap digunakan. Orang yang sakit tetap bekerja. Mahasiswa yang mengalami burnout tetap mengejar tenggat waktu. Kurir tetap mengantar paket saat hujan. Pegawai tetap membalas pesan di luar jam kerja. Orang dipuji karena mampu begadang. Dipuji karena lembur. Dipuji karena selalu sibuk. Kelelahan pun berubah menjadi identitas sosial.
David Harvey (2006) sebenarnya sudah lama melihat kecenderungan semacam ini. Dalam pembacaannya, kapitalisme selalu membutuhkan ekspansi tanpa akhir. Produksi harus terus bergerak, dan untuk menjaga pergerakan itu, semakin banyak aspek kehidupan manusia yang diubah menjadi pasar.
Hari ini, situasinya berkembang lebih jauh. Perhatian menjadi komoditas. Kecemasan menjadi peluang bisnis. Kesepian menjadi pasar bagi berbagai aplikasi. Bahkan waktu istirahat pun perlahan dikomodifikasi. Media sosial mengubah interaksi menjadi data. Platform digital mengubah kebiasaan menjadi keuntungan. Aplikasi kesehatan bahkan dapat mengubah kecemasan terhadap kondisi tubuh menjadi langganan bulanan.
Zuboff (2019) menyebut situasi ini sebagai surveillance capitalism, yakni kondisi ketika perilaku manusia dipantau dan diolah terus-menerus untuk kepentingan bisnis. Akibatnya, hidup terasa semakin padat meskipun banyak orang sebenarnya tidak bergerak ke mana-mana. Mereka hidup dalam ekonomi perhatian yang terus-menerus menuntut respons: membalas pesan, mengunggah story, memperbarui konten, membangun personal branding, dan mencari engagement. Tubuh mungkin diam, tetapi pikiran terus bekerja.
Di titik inilah kritik Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man menjadi relevan. Dalam bukunya, Marcuse mengingatkan bahwa teknologi modern tidak pernah benar-benar netral. Ia berkembang seiring kebutuhan sistem industri, lalu perlahan membentuk cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Orang merasa sedang memilih secara bebas, padahal banyak pilihan yang sebenarnya telah diarahkan oleh ritme produksi, konsumsi, dan pasar.
Kita memesan makanan melalui aplikasi. Bekerja melalui aplikasi. Mencari hiburan melalui aplikasi. Mencari pasangan melalui aplikasi. Lama-kelamaan, hidup terasa seperti rangkaian notifikasi yang tidak pernah selesai.
Mungkin karena itulah banyak anak muda segenerasi saya diam-diam merindukan sesuatu yang lebih lambat. Mereka mulai membaca buku fisik lagi, menanam tanaman, mendaki gunung, memasak sendiri, atau sengaja mematikan internet selama beberapa jam. Sebagian bahkan kembali menggunakan dumbphone untuk mengurangi gangguan digital.
Ada keinginan untuk merebut kembali ritme hidup yang terasa semakin menjauh.
Dalam Social Acceleration, Hartmut Rosa menjelaskan bahwa modernitas membuat kehidupan bergerak semakin cepat, sementara kemampuan manusia untuk benar-benar mengalami hidup justru semakin menipis. Teknologi menghadirkan koneksi tanpa henti, tetapi pada saat yang sama banyak orang merasa semakin jauh dari dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, yang cepat habis hari ini ternyata bukan hanya barang. Perhatian manusia juga habis. Kesabaran manusia juga habis. Bahkan kemampuan manusia untuk menjalani hidup dengan sungguh-sungguh—carpe diem, hadir sepenuhnya pada hari ini—semakin terkikis oleh tuntutan pembaruan yang seolah tidak pernah berujung.
Daftar Pustaka
Han, Byung-Chul. (2015). The Burnout Society. Stanford University Press.
Harvey, David. (2006). A Brief History of Neoliberalism. Oxford University Press.
Lebow, Victor. (1955). “Price Competition in 1955.” Journal of Retailing, 31(1), 5–10.
Marcuse, Herbert. (2013). One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society. Beacon Press.
Marchand, Roland. (1985). Advertising the American Dream: Making Way for Modernity, 1920–1940. University of California Press.
Rosa, Hartmut. (2013). Social Acceleration: A New Theory of Modernity. Columbia University Press.
Slade, Giles. (2016). Made to Break: Technology and Obsolescence in America. Harvard University Press.
Zuboff, Shoshana. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs.
Tenupermana, Sarjana Sastra Indonesia dan sedang belajar membaca ruang kota di Ora et Litera.




