Tak Ada Bangsawan di Taman Eden: John Ball dan Pemberontakan Petani Inggris 1381

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Socialist Appeal


DIBANDING Thomas Müntzer, nama John Ball mungkin terasa lebih asing di telinga pembaca. Siapakah John Ball? Beliau adalah rohaniwan di Inggris yang berkarya pada abad ke-14. Bersama nama-nama lain seperti Wat Tyler dan John Straw, John Ball menjadi salah satu tokoh penggerak pemberontakan petani pada 1381. Boleh dibilang, ia adalah Thomas Müntzer-nya Inggris.

Sejarawati Juliet Barker menyebut bahwa pemberontakan pada abad ke-14 tersebut merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Kerajaan Inggris. Selama berabad-abad, para bangsawan telah berulang kali melakukan percobaan kudeta terhadap pemegang kunci kerajaan. Namun, baru kali itulah kekuasaan digoyang oleh rakyat jelata dengan agenda politik dari bawah yang hendak menransformasi tatanan masyarakat yang ada secara radikal. Mereka menuntut penghapusan sistem perhambaan di bidang pertanian (serfdom), pembebasan petani-petani penggarap dari kewajiban-kewajiban mereka pada tuan-tuan tanah, hingga pengambilalihan kekayaan dan properti gereja untuk dibagi-bagikan kepada rakyat biasa.[1]

Tulisan ini tidak akan membahas detail sejarah pemberontakan petani 1381 tersebut. Fokus pengamatan tulisan ini ialah bagaimana John Ball mengolah teologi Kristen menjadi bagian dari perjuangan rakyat jelata melawan tuan-tuan tanah. Sejarah mencatat bahwa khotbah-khotbah John Ball dan tulisan-tulisannya turut membakar semangat massa rakyat dalam pemberontakan tersebut. Beliau juga telah gencar mengkhotbahkan pesan-pesan radikal di berbagai tempat sejak dua puluh tahun sebelum pemberontakan meletus, aktivitas yang menjerumuskannya pada berbagai masalah dengan aparat keamanan serta institusi gereja sendiri.[2]


Terinspirasi Kisah Adam dan Hawa

Berbeda dengan Müntzer yang pesan-pesannya kental dengan nuansa apokaliptik, John Ball banyak menarik inspirasi dari kisah Adam dan Hawa. Salah satu kutipan dari khotbahnya yang paling terkenal berbunyi demikian:

When Adam delved and Eve span,

who was then a gentleman?[3]

Ketika Adam menggali dan Hawa memintal,

siapakah yang jadi bangsawan?[4]

Konon pertanyaan puitis ini digunakan John Ball sebagai pembuka khotbah legendarisnya di depan dua ratus ribu massa. Melalui dua baris syair tersebut, Ball mengundang pendengarnya untuk mempertanyakan kenyataan sosial pada masa itu, di mana orang-orang biasa harus mengabdi pada kaum bangsawan. Pertanyaan tersebut lantas dilanjutkannya dengan argumen bahwa karena pada mulanya semua manusia diciptakan sederajat, maka sistem perhambaan yang berlaku di dunia adalah hasil dari kejahatan dan penindasan manusia alih-alih ekspresi kehendak Tuhan. Jika Allah memang menghendaki tatanan feodal, tentu sejak semula ia menciptakan siapa yang jadi tuan dan siapa yang jadi hamba.[5]

Dari sana John Ball kemudian mengajak para pendengarnya untuk mempertimbangkan bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan waktu di mana sekiranya mereka betul-betul berkehendak untuk menyingkirkan beban yang telah lama mereka tanggung tersebut, mereka bisa melakukannya. Sembari dengan bijak menantikan momen yang tepat, mereka perlu “membunuh para bangsawan, “menyembelih” aparat-aparat hukum, dan menyingkirkan potensi bahaya di masa depan. Barulah setelah itu mereka akan mencapai keadaan yang aman dan tenteram, asal keadaan sederajat yang mereka capai itu dipertahankan.[6]

Sebelum buru-buru menilai John Ball sebagai sosok yang haus darah, pembaca perlu menyadari bahwa cerita di atas bersumber dari catatan Thomas Walsingham, sejarawan Inggris di abad ke-15 yang merupakan seorang rahib gereja yang dekat dengan penguasa kerajaan. Kita perlu curiga bahwa kisah yang ia susun tentang John Ball dibumbui sikap permusuhan terhadap gerakan sosial dari bawah yang hendak merombak struktur kekuasaan politik yang ditopang oleh institusi gereja. Bandingkan dengan cerita-cerita tentang PKI yang digembar-gemborkan oleh rezim Orde Baru selama puluhan tahun. Saat ini, semakin banyak generasi muda yang mempertanyakan ketepatan berbagai penggambaran yang sarat dengan unsur demonisasi tersebut. Penjelasan Walsingham mengenai John Ball bisa jadi juga menempuh strategi yang sama.

Namun, meski narasi yang dibangunnya tentang John Ball mungkin saja mengandung bias dari kepentingan kelas penguasa, catatan Walsingham malah melestarikan gambaran tentang sosok rohaniwan Kristen yang berdiri di barisan rakyat tertindas dan mendayagunakan imajinasi teologisnya untuk mengobarkan semangat perombakan tatanan sosial. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana kisah tentang Adam dan Hawa ternyata mengandung potensi revolusioner. Di Taman Eden tidak ada bangsawan dan karena itu tatanan masyarakat yang menjalankan sistem perhambaan bukanlah kehendak Allah. Ia sah untuk dilawan dan ditumbangkan.


Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian

Kisah tentang Adam dan Hawa di Taman Eden dalam Alkitab sendiri umumnya dipandang oleh tradisi kesarjanaan Alkitab kritis sebagai hasil olahan mereka yang menjadi representasi kelompok yang berkuasa di zamannya. Pasal 2 dan 3 kitab Kejadian yang menuturkan kisah ini biasanya dianggap berasal dari sumber J (Jahwist). Sumber ini merepresentasikan kepentingan monarki Israel untuk membentuk identitas kebangsaan di tengah kepungan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Ini tercermin dalam setting agrikultural yang digunakan dalam Kejadian 2 serta himbauan untuk bekerja dan berkeluarga.

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden, untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15).

TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ […] Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nya lah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.’ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:18-24).

Dalam kajian Marxis, bekerja dan berkeluarga biasa dikategorikan sebagai bagian dari proses produksi dan reproduksi sosial yang tanpanya suatu masyarakat tidak mungkin bertahan. Dengan menggambarkan kegiatan mengusahakan tanah dan berkeluarga sebagai hal yang kodrati sejak manusia pertama, bahkan merupakan perintah Tuhan, kepentingan penguasa Kerajaan Israel kuno untuk memastikan bahwa proses produksi dan reproduksi sosial dalam masyarakat berbasis pertanian ini dilanjutkan oleh rakyat pekerja jadi mendapatkan dukungan berbobot teologis.

Dengan kata lain, kisah tentang Adam dan Hawa di Taman Eden dalam kitab Kejadian bisa dibaca sebagai manuver ideologis untuk membuat tatanan sosial Israel kuno tampak wajar. Seperti dijelaskan oleh Barbara Foley, ideologi bekerja lewat siasat naturalisasi dan dehistorisisasi. Naturalisasi adalah penggambaran perilaku dan kepercayaan-kepercayaan yang berkembang dalam formasi sosial tertentu sebagai produk dari proses-proses yang kodrati dan alamiah, yang terjadi di luar intervensi manusia. Sementara dehistorisisasi berarti penggambaran fenomena yang spesifik dalam formasi sosial tertentu bukan sebagai hasil dari kekuatan-kekuatan dalam sejarah, melainkan sebagai ciri-ciri yang sifatnya abadi.[7] Dengan melangkahi penelusuran sejarah perkembangan masyarakat yang melatarbelakangi terbentuknya arahan tentang peran-peran sosial ini dan mengklasifikasikannya sebagai bagian dari kodrat manusia yang sudah ditetapkan Allah sejak semula, tatanan masyarakat yang ada mendapatkan legitimasi yang kuat.


Ambivalensi Ideologi

Jika kisah Adam dan Hawa dalam Alkitab sendiri pada dasarnya mengandung kepentingan kelas penguasa, lalu mengapa pemberontakan petani di Inggris justru bisa menimba inspirasi dari cerita ini? Hal ini dimungkinkan oleh watak ambivalen dari suatu gambaran ideologi. Dalam manual filsafat untuk awam, filsuf Marxis asal Prancis, Louis Althusser, memaparkan bagaimana ideologi selalu bekerja dengan mengupayakan dominasi atas ideologi-ideologi alternatif. Ini dilakukannya dengan menginkorporasikan elemen-elemen dari ideologi-ideologi alternatif ini, lalu menundukkan mereka ke dalam kerangka dominasinya.[8] Di sinilah kita bisa melihat mengapa ideologi berwatak ambivalen. Dengan menghisap unsur-unsur ideologi lawannya untuk ditundukkan, secara tidak langsung ideologi dominan malah memelihara ‘musuh dalam selimut’ yang sewaktu-waktu bisa membangkang.

Sebagai narasi ideologis, kisah Adam dan Hawa di Taman Eden juga tidak luput dari ambivalensi. Teks yang tadinya dibentuk untuk mewajarkan proses produksi dan reproduksi sosial yang dilakukan oleh kelas pekerja dalam sebuah kerajaan ternyata juga dapat mengundang pertanyaan tentang kelompok yang terhindar dari cetakan narasi tersebut. Celah ini mampu dilihat dengan jeli oleh John Ball di tengah pergolakan sosial pada zamannya. Adam dan Hawa sebagai representasi elemen-elemen ideologis kelas pekerja yang dihisap oleh ideologi dominan untuk disubordinasi lewat kisah Taman Eden dilepaskannya dari kerangkeng agenda kelas penguasa dan diposisikan untuk melakukan gugatan. Mitos keadaan asali hasil manuver naturalisasi dan dehistorisisasi dari ideologi dominan justru dijadikan senjata untuk menembak balik mereka yang tadinya diuntungkan oleh narasi tersebut. Ketika Adam menggali dan Hawa memintal, siapakah yang jadi bangsawan? Bukankah semuanya adalah pekerja yang turut berjerih lelah dalam proses produksi?

Sama seperti Müntzer, John Ball meninggal tak lama setelah pemberontakan petani tersebut direpresi oleh penguasa Kerajaan Inggris. Ia ditangkap, diadili, lalu dihukum gantung. Tubuhnya ditarik hingga robek menjadi empat bagian.[9]

Pemberontakan John Ball dan para petani Inggris di abad ke-14 berakhir dengan kegagalan. Namun, seperti halnya kisah Thomas Müntzer di Jerman, cerita tentang perjuangan Ball di Inggris sekali lagi menjadi saksi tentang konten subversif yang seringkali terkubur dalam penghayatan iman Kristen ‘arus utama’.***


Daniel Sihombing adalah anggota Kristen Hijau dan tim editor IndoProgress


[1] Juliet R. V. Barker, 1381: The Year of the Peasants’ Revolt, First Harvard University Press edition (Cambridge, Massachusetts: The Belknap Press of Harvard University Press, 2014), ix.

[2] Andrew Prescott, ‘Ball, John’ dalam Colin Matthew, Brian Harrison, and British Academy, eds., Oxford Dictionary of National Biography: From the Earliest Times to the Year 2000. Vol. 3: Avranches – Barnewall (Oxford: Oxford Univ. Press, 2004), 560-1.

[3] Versi ejaan lamanya konon tertulis sebagai berikut, ‘Whan Adam dalf, and Eve span, Wo was thanne a gentilman?’ (Richard B. Dobson, The Peasants’ Revolt of 1381, 2. ed., reprinted, History in Depth [Houndmills: Macmillan, 1993], 374).

[4] Terjemahan dari saya.

[5] Ibid., 375.

[6] Ibid.

[7] Barbara Foley, Marxist Literary Criticism Today (London: Pluto, 2019), 126-7.

[8] Louis Althusser, Philosophy for Non-Philosophers (New York: Bloomsbury, 2017), 172-3.

[9] Prescott, 561.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus