Surat Thomas Müntzer kepada Penduduk Allstedt (1525): Terjemahan dan Pengantar

Thomas Muntzer
Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh Jonpey


MEREKA yang akrab dengan teks-teks klasik dalam tradisi Marxis tentu tidak asing dengan nama Thomas Müntzer.[i] Ernst Bloch menyebutnya sebagai ‘teolog revolusi’.[ii] Friedrich Engels memujinya sebagai teolog revolusioner yang berdiri di sisi kaum jelata dan sosok yang melampaui zamannya.[iii] Pada masa-masa awal berdirinya Republik Demokratik Jerman Timur, Müntzer dijadikan simbol kepahlawanan, menantang tradisi panjang di negeri Jerman yang berpusat pada figur Martin Luther. Kisah hidupnya juga beberapa kali dijadikan drama oleh seniman-seniman kiri Jerman seperti Berta Lask dan Friedrich Wolf.[iv]

Thomas Müntzer berkarya pada abad ke-16, ketika benua Eropa tengah mengalami gejolak hebat. Reformasi Protestan meletus dan semangat perombakan tatanan lama yang mendominasi Eropa sepanjang Abad Pertengahan tengah bertebaran di udara. Müntzer bukan hanya terlibat dalam upaya-upaya pembaharuan yang sedang berlangsung di masa itu, namun ia juga berusaha mendorong laju Reformasi ke arah yang lebih radikal lagi. Aspirasi tersebut membawanya pada berbagai kontroversi dan bentrokan, termasuk dengan Luther yang menjadi tokoh utama Reformasi. Dinamika ini berujung pada kematiannya di usia muda, 35 tahun, setelah upayanya mengorganisir pemberontakan petani melawan tuan-tuan tanah di beberapa wilayah Jerman menemui kekalahan.

Surat Müntzer yang terjemahannya saya tampilkan berikut ini adalah salah satu tulisannya yang paling banyak menarik perhatian. Konon Ernst Bloch menyebutnya sebagai manifesto revolusi yang paling liar dan berkobar-kobar sepanjang masa.[v] Ditulis kira-kira satu bulan sebelum ia kalah perang dan kemudian dihukum mati, surat tersebut ditujukannya kepada penduduk Allstedt, basis pelayanannya yang utama. Di kota kecil ini Müntzer sempat menetap, menikah dengan mantan suster yang lari dari biara, dan dianugerahi seorang putra. Di sana pula ia melahirkan karya-karya utamanya sebagai pendeta yang dicintai jemaat karena semangat egalitarian serta anti-klerikalnya.

Pada waktu surat ini ditulis, Müntzer tengah mengalami euforia karena badai pemberontakan rakyat jelata di utara wilayahnya sedang bertiup kencang. Kastil-kastil dibakar, biara-biara dirampok dan dihancurkan. Kecemasan yang hebat dan perasaan diteror tengah melanda mereka yang memegang otoritas sekuler dan spiritual.[vi] Müntzer melihat momen ini sebagai waktu Tuhan yang harus disambut dengan ketaatan orang-orang beriman. Wujudnya adalah keberanian memasuki perang yang dipimpin oleh Tuhan sendiri.

Kita bisa melihat secuplik gambaran tentang kepiawaian Müntzer melakukan agitasi dalam kerangka teologi Kristen sewaktu membaca surat tersebut. Pembaca yang akrab dengan tradisi Kristen warisan kolonial Belanda dan Orde Baru mungkin akan terkejut ketika mendapati bahwa retorika pemberontakan yang begitu vulgar keluar dari pena seorang pendeta berikut pencantuman ayat-ayat Alkitab yang meneguhkan posisinya. Selain dua bagian Alkitab yang ia jelaskan isi dan maksud penyebutannya, yakni Kejadian 33 tentang Esau yang bermaaf-maafan dengan Yakub dan Ulangan 7 tentang perintah untuk tidak memberi ampun kepada penduduk tanah Kanaan, Müntzer juga menyebutkan Matius 24, Yehezkiel 34, Daniel 7, Ezra 16, Wahyu 6, dan Roma 13, tanpa penjelasan. Demi mempermudah pembaca dalam membayangkan teks-teks Alkitab seperti apa yang dimaksud, berikut ini saya cuplikkan penggalan teks-teks tersebut dengan sedikit penjelasan:

  • Matius 24 diawali dengan cerita tentang nubuat Yesus mengenai keruntuhan Bait Allah dalam waktu dekat. “Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-muridnya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Mat. 24:1-2). Kita bisa menduga bahwa Müntzer mengaitkan ayat ini dengan kehancuran biara-biara berikut tatanan agama yang beraliansi dengan penguasa di masanya.
  • Yehezkiel 34 berisi tentang nubuat sang nabi melawan gembala-gembala Israel. “Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: ‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan.” (Yeh. 34:1-3). Gembala-gembala di sini merujuk pada raja-raja Israel yang praktik penggembalaannya gagal mencerminkan penggembalaan dari Allah sendiri. Dalam konteks Müntzer, bisa diduga bahwa paralelnya adalah para pangeran, bangsawan, dan tuan-tuan tanah.
  • Daniel 7 mengisahkan visi apokaliptik nabi Daniel tentang kejatuhan imperium-imperium zaman kuno, yang diilustrasikan sebagai binatang-binatang besar dan menakutkan, berkat intervensi Allah yang akan menegakkan keadilan bagi orang-orang kudus. Orang-orang inilah yang disebut-sebut bakal memegang pemerintahan yang kemudian. “Aku terus melihatnya, karena perkataan sombong yang diucapkan tanduk itu; aku terus melihatnya, sampai binatang itu dibunuh, tubuhnya dibinasakan dan diserahkan ke dalam api yang membakar […] sampai Yang Lanjut Usianya itu datang dan keadilan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi dan waktunya datang orang-orang kudus itu memegang pemerintahan.” (Dan. 7:11,22). Teks-teks apokaliptik dalam Alkitab seperti Daniel 7 memang kerap digunakan oleh Müntzer dalam agitasinya, dan di sini kita menemukannya diberdayakan kembali untuk menebalkan semangat revolusi.[vii]
  • Wahyu 6, yang juga merupakan sebuah teks apokaliptik, berbicara tentang visi Yohanes mengenai enam meterai pertama yang dibuka oleh Anak Domba yang mengawali hari besar murka sorga atas bumi: “Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’ Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” (Why. 6:15-17)
  • Ezra 16 kemungkinan besar adalah kesalahan cetak atau penulisan karena kitab Ezra berakhir di pasal 10. Peter Matheson yang menerjemahkan dan menyunting sumber primer yang saya gunakan menduga bahwa yang dimaksudkan di sini adalah pasal 10. Namun saya meragukan ketepatannya dan memutuskan untuk melewatinya.
  • Roma 13, yang disebut di akhir dan didaulat sebagai teks terpenting, adalah teks yang justru sering digunakan untuk menghimbau ketaatan umat Kristen pada pemerintah. Sayangnya Müntzer tidak menunjukkan dalam surat ini bagaimana ia menafsirkan teks tersebut. Kita harus mencari petunjuknya dalam tulisan-tulisannya yang lain. Hans-Jürgen Goertz, penulis biografi Müntzer, sedikit memberikan gambaran tentang pokok ini ketika ia menceritakan tentang pembacaan Müntzer atas teks tersebut dengan fokus pada ayat 3 dan 4: “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” (Rom 13:4). Kuncinya di sini adalah posisi pemerintah sebagai hamba yang sepatutnya tunduk kepada Allah. Ketika ia tidak menjalankan fungsinya seturut kehendak Allah, maka rakyat berhak untuk melawan.[viii]

Sebagaimana kita ketahui bersama dari sejarah, pemberontakan yang dikobarkan Müntzer berakhir dengan kekalahan telak. Dalam tempo singkat, pasukan para pangeran menghancurkan gerombolan petani yang maju berperang dengan iman. Mesias yang dinanti-nantikan ternyata tak kunjung datang. Gambaran apokaliptik yang digadang-gadang bakal melanda kelas penguasa justru berbalik menjadi bencana bagi mereka sendiri. Müntzer sendiri ditangkap dan tak lama kemudian dieksekusi. Potongan tubuhnya dipajang sebagai peringatan bagi mereka yang hendak meneruskan perlawanan.

Kegagalan Müntzer dan kaum tani Jerman abad ke-16 menyisakan bahan-bahan refleksi bagi kelas tertindas yang hidup di abad-abad berikutnya. Kita bisa berteori bahwa kondisi-kondisi sejarah waktu itu belum memungkinkan perwujudan masyarakat tanpa kelas, atau mengambil sikap kritis terhadap mesianisme naif pra-modern. Namun, api yang dikobarkan oleh Müntzer lewat keyakinan imannya pada abad ke-16 adalah sebuah warisan sejarah yang menunjukkan kepada kita konten subversif yang seringkali dikubur dalam penghayatan iman Kristen ‘arus utama’.


Müntzer kepada penduduk Allstedt. 1525 (c. 26, 27 April)[ix]

Semoga rasa takut yang murni akan Allah bersamamu, saudara-saudaraku yang terkasih. Berapa lama kamu akan tidur, berapa lama kamu akan menentang kehendak Allah karena mengira bahwa Ia telah meninggalkanmu? Ah, betapa seringnya aku mengatakan kepadamu bahwa ini semua harus terjadi, bahwa Allah tidak dapat menyatakan Diri-Nya dengan cara yang lain sehingga kalian bisa tetap bersantai. Jika kamu gagal dalam hal ini, maka pengorbananmu akan menjadi sia-sia, hatimu sedih dan menderita. Kamu harus mulai menderita lagi dari awal. Aku mengatakan hal ini kepadamu, yaitu bahwa jika kamu tidak mau menderita untuk Tuhan, maka kamu harus menjadi martir-martir bagi si iblis. Jadi hati-hatilah, jangan patah semangat, ceroboh, atau terus-menerus mengikuti kemauan para pelaku kejahatan dan orang-orang menyimpang; mulailah sesuatu dan berperanglah bagi Tuhan! Ini adalah waktu yang genting; jagalah saudara-saudaramu, supaya mereka tidak menghina kesaksian Allah dan binasa karenanya. Seluruh penduduk Jerman, Prancis, Italia sudah bangun; penguasa ingin menguasai pertandingan, dan para pelaku kejahatan sudah siap. Di Fulda empat biara ditinggalkan selama minggu Paskah, para petani di Klettgau dan Hegau di Hutan Hitam sudah bangkit, tiga ribu orang, dan jumlah petani lokal terus bertambah. Kekhawatiranku hanyalah jika rakyat akan menyepakati perjanjian palsu, karena mereka belum menyadari bobot situasi hari ini.

Bahkan jika hanya ada tiga orang di antaramu saja yang percaya kepada Allah dan mengejar kemuliaan-Nya semata, kamu tidak perlu takut melawan seratus ribu musuh. Majulah, maju, maju! Waktunya telah tiba, para pelaku kejahatan sudah berlari terbirit-birit bagaikan anjing yang ketakutan! Ingatkan saudara-saudara kita, supaya mereka merasakan damai sejahtera, dan bersaksilah atas pertobatan mereka. Hal ini sepenuhnya krusial—sepenuhnya kewajiban! Maju, maju, maju! Jangan beri ampun, meskipun Esau mengucapkan kata-kata manis kepadamu, Kejadian 33. Jangan perhatikan ratapan orang-orang fasik. Mereka akan memperlakukanmu dengan begitu hangat, mereka akan mengerang dan mendesakmu seperti anak-anak kecil. Jangan beri ampun, sebagaimana Allah perintahkan lewat kata-kata Musa dalam Ulangan 7; dan Ia telah menyatakan hal yang sama bagi kita juga. Peringatkan desa-desa dan kota-kota dan khususnya para pekerja tambang dan kawan-kawan baik lainnya yang akan berguna. Kita tidak bisa tertidur lagi.

Kalian lihat, selagi aku menuliskan kata-kata ini, sebuah pesan datang kepadaku dari Salza bahwa rakyat di sana ingin menangkap pemerintah wakil Tuan George dari kastilnya, karena ia hendak membunuh tiga orang dari antara mereka secara diam-diam. Para petani Eichsfeld telah memulai aksi melawan bangsawan-bangsawan setempat; pendeknya, mereka menolak bantuan apapun dari kaum tersebut. Ada banyak kejadian serupa yang menunjukkan kepadamu jalan ini. Kamu harus maju, maju, maju! Waktunya sudah tiba. Biarlah Balthasar dan Bartel Krump, Valentin dan Bischof memimpin tarian! Biarlah surat ini sampai ke para pekerja tambang. Alat cetakku akan datang dalam beberapa hari ke depan, menurut kabar yang disampaikan padaku. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk saat ini, atau akan aku instruksikan pada saudara-saudara dengan begitu detilnya, agar hati mereka lebih besar daripada seluruh kastil dan senjata orang-orang fasik pelaku kejahatan di seluruh dunia.

Maju, maju, selagi api masih panas! Jangan biarkan pedangmu dingin, jangan biarkan ia tergantung begitu saja! Tancapkan paku-paku pada Nimrod, runtuhkan menara mereka ke tanah! Selama mereka masih hidup adalah mustahil bagimu untuk menyingkirkan rasa takut pada manusia lain. Seseorang tidak berhak berbicara kepadamu tentang Allah selama mereka berkuasa atasmu. Maju, maju, selagi masih terang! Allah berjalan di depanmu; ikuti Dia, ikuti! Semua urusan ini dapat dibaca dalam Matius 24, Yehezkiel 34, Daniel 7, Ezra 16, Wahyu 6, dan seluruh teks ini dijelaskan oleh Roma 13.

Jadi jangan kecil hati. Allah bersamamu, sebagaimana tertulis dalam 2 Tawarikh. Beginilah firman Tuhan, “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang berperang melainkan Allah.” Ketika Yosafat mendengar kata-kata ini, berlututlah ia dengan muka ke tanah. Jadi lakukanlah hal yang sama, dengan pertolongan Allah; dan semoga Ia menguatkan kamu dalam iman yang sejati, tanpa rasa takut pada manusia. Amin.

Mühlhausen, 1525.

            Thomas Müntzer, seorang hamba Allah dalam melawan orang-orang fasik.***


Daniel Sihombing adalah anggota Kristen Hijau dan tim editor IndoProgress.


[i] Berdasarkan informasi yang saya terima dari kawan Windu Jusuf, orang-orang Arab menyebutnya Tomas Mansyur.

[ii] Ernst Bloch, Thomas Münzer: als Theologe der Revolution, 24. Tsd, Bibliothek Suhrkamp, Bd. 77 (Frankfurt am Main: Suhrkamp, 1984).

[iii] Friedrich Engels, The Peasant War in Germany, https://www.marxists.org/archive/marx/works/1850/peasant-war-germany/ch02.htm.

[iv] Hans-Jürgen Goertz, Thomas Müntzer: Apocalyptic Mystic and Revolutionary (Edinburgh: Clark, 1993), 15-8.

[v] Goertz, Thomas Müntzer, 177.

[vi] Goertz, 176.

[vii] Penjelasan tentang peran sentral teks-teks apokaliptik dalam teologi perlawanan Thomas Müntzer dapat dibaca dalam Yohanes Hasiholan Tampubolon, “Sumbangan Teks Apokaliptik terhadap Gerakan Sosial Politik dalam Gereja”, Jurnal Ledalero,Vol. 18 No. 2 (2019), 267-86, http://dx.doi.org/10.31385/jl.v18i2.188.267-287.

[viii] Goertz, 129.

[ix] Sumber yang saya gunakan adalah Thomas Müntzer and Peter Matheson, The Collected Works of Thomas Müntzer (Edinburgh: T&T Clark, 1988), 140-2.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus