Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian III)

Print Friendly, PDF & Email

Illustrasi: Illustruth


I. Kepemilikan Bersama dan Waktu Luang

MODEL kepemilikan yang berbeda atas alat-alat produksi juga akan mengubah secara radikal penghayatan tentang waktu dalam masyarakat. Dalam Kapital, Volume I, Marx mengungkapkan dengan begitu jelasnya alasan-alasan mengapa dalam kapitalisme ‘pemendekan hari kerja adalah […] sama sekali bukan tujuan yang hendak dicapai dalam produksi kapitalis, di mana kerja manusia dijadikan laba dengan meningkatkan produktivitasnya’. Waktu yang sebenarnya tersedia bagi para individu berkat kemajuan sains dan teknologi, pada kenyataannya langsung dikonversikan menjadi nilai-lebih. Sasaran kelas yang berkuasa hanyalah ‘pemendekan waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah tertentu komoditas’. Tujuan satu-satunya dari pengembangan kekuatan produksi adalah ‘pemendekan bagian dari hari kerja di mana buruh harus bekerja untuk dirinya sendiri, dan penambahan […] bagian lainnya […] di mana ia dapat bekerja tanpa upah untuk si kapitalis’. Sistem ini berbeda dengan kerja paksa atau corvées pada tuan feodal, karena ‘kerja lebih dan kerja yang diperlukan bercampur aduk’ dan menjadikan kenyataan eksploitasi lebih sulit untuk ditangkap.

Dalam Grundrisse, Marx menunjukkan bahwa ‘waktu luang bagi sebagian orang’ hanyalah dimungkinkan karena adanya kerja lebih dari banyak orang. Kelas borjuis dapat mengamankan perkembangan kapabilitas material dan kulturalnya hanya karena adanya pembatasan dalam hal tersebut bagi kaum proletar. Hal yang sama terjadi di negara-negara kapitalis yang paling maju dengan mengorbankan mereka yang berada di pinggiran sistem. Dalam Manuskrip-Manuskrip 1861-1863, Marx menekankan bahwa ‘perkembangan bebas’ dari kelas yang berkuasa ‘didasarkan pada pembatasan perkembangan kelas pekerja’; ‘kerja lebih para buruh’ adalah ‘basis alami dari perkembangan sosial kelompok lainnya’. Waktu kerja lebih para pekerja bukan hanya merupakan pilar yang menyokong ‘kondisi-kondisi material bagi kehidupan’ bagi kaum borjuis; ia juga menciptakan kondisi-kondisi bagi ‘waktu luangnya, ruang bagi perkembangan[-nya]’. Marx mengekspresikan dengan sangat baik: ‘waktu luang suatu kelompok berkorespondensi dengan beban kerja bagi kelompok lain’.

Sebaliknya, masyarakat komunis akan dicirikan oleh pengurangan waktu kerja secara umum. Dalam ‘Instruksi-Instruksi bagi Delegasi Dewan Umum Sementara’, yang ditulisnya pada bulan Agustus 1866, Marx menulis dengan tepat: ‘Syarat awal, yang tanpanya seluruh upaya perbaikan dan emansipasi pasti terbukti gagal, adalah pembatasan hari kerja’. Ia dibutuhkan bukan hanya ‘untuk memulihkan kesehatan dan energi fisik kelas pekerja’, tetapi juga ‘memastikan bagi mereka kemungkinan perkembangan intelektual, interaksi sosial, tindakan sosial dan politik’. Mirip dengan itu, dalam Kapital, Volume I, sewaktu mencatat bahwa ‘waktu para pekerja untuk pendidikan, perkembangan intelektual, pemenuhan fungsi sosial, interaksi sosial, pendayagunaan kekuatan-kekuatan vital tubuh dan pikirannya’ terhitung sebagai ‘kebodohan’ di mata kelas kapitalis, Marx mengimplikasikan bahwa hal-hal ini akan menjadi elemen-elemen dasar dari masyarakat yang baru. Sebagaimana ia tuliskan dalam Grundrisse, pengurangan waktu yang diabdikan untuk bekerja – dan bukan hanya kerja untuk menciptakan nilai-lebih bagi kelas kapitalis – akan menolong ‘perkembangan artistik, saintifik, dll. orang per orang, yang dimungkinkan lewat waktu luang dan sarana-sarana yang diproduksi bagi mereka semua’.

Dengan dasar keyakinan-keyakinan ini Marx mengidentifikasi ‘ekonomi waktu [dan] distribusi waktu kerja yang terencana atas cabang-cabang produksi’ sebagai ‘hukum ekonomi produksi yang pertama’. Dalam Teori-Teori Nilai Lebih (1862-63) ia menjelaskan lebih jauh lagi bahwa ‘kekayaan sesungguhnya’ tidak lain adalah ‘waktu luang’. Dalam masyarakat komunis, pengelolaan mandiri para pekerja akan memastikan bahwa ‘jumlah waktu yang lebih banyak’ tidaklah ‘dihisap dalam kerja produktif langsung, melainkan […] tersedia untuk rekreasi, bersenang-senang, sehingga memungkinkan aktivitas dan perkembangan yang luas’. Dalam teks ini, dan juga dalam Grundrisse, Marx mengutip pamflet pendek anonim berjudul Sumber dan Solusi Kesulitan-Kesulitan Nasional, Dideduksikan dari Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik, dalam Surat pada Tuan John Russell (1821). Pamflet itu memuat definisi tentang keadaan yang ia amini: yaitu bahwa, ‘Suatu bangsa adalah betul-betul kaya jika waktu kerjanya hanyalah enam jam, bukan dua belas. Kekayaan bukanlah penguasaan atas waktu kerja lebih’ (kekayaan sejati) ‘tetapi waktu luang, di luar waktu yang diabdikan untuk produksi, bagi setiap individu dan seluruh masyarakat’. Di bagian lain Grundrisse, ia melontarkan pertanyaan retoris: ‘Apakah kekayaan itu jika bukan universalitas kebutuhan, kapasitas, kesenangan, dan kekuatan produksi individu? […] Apakah ia jika bukan penyingkapan absolut kemampuan-kemampuan kreatif manusia?’ Dengan demikian terbukti bahwa model sosialis dalam pemikiran Marx bukanlah tentang keadaan miskin bersama, tetapi justru pencapaian kekayaan bersama.


II. Peran Negara, Hak Individu, dan Kebebasan

Dalam masyarakat komunis, bersamaan dengan perubahan-perubahan transformatif dalam ekonomi, peran negara dan fungsi politik juga akan didefinisikan kembali. Dalam Perang Saudara di Prancis, Marx berusaha untuk menjelaskan bahwa setelah perebutan kekuasaan, kelas pekerja harus berjuang untuk ‘membongkar landasan-landasan ekonomi yang di atasnya terbangun keberadaan kelas-kelas, dan karenanya dominasi kelas’. Ketika ‘buruh telah teremansipasi, setiap manusia akan menjadi pekerja, dan kerja produktif [akan] berhenti menjadi ciri suatu kelas’. Pernyataan terkenalnya bahwa ‘kelas pekerja tidak dapat begitu saja mengambil alih mesin-mesin negara dan menjalankannya untuk tujuan-tujuannya sendiri’ dimaksudkan untuk merujuk pada, sebagaimana diklarifikasi oleh Marx dan Engels dalam buklet Perpecahan Fiktif dalam Internasional, kenyataan bahwa ‘fungsi-fungsi pemerintahan beralih menjadi fungsi-fungsi administratif yang sederhana’. Dan dalam formulasi padat di Risalah tentang Statisme dan Anarki Bakunin, Marx menekankan bahwa ‘distribusi fungsi-fungsi umum [harus] menjadi urusan rutin yang tidak berdampak pada dominasi’. Proses ini akan menghindarkan bahaya bahwa pemberlakuan tugas-tugas politik akan menciptakan dinamika dominasi dan penundukan yang baru.

Marx percaya bahwa seiring perkembangan masyarakat modern, ‘kekuatan negara [telah] berangsur-angsur mengembangkan karakter kekuatan nasional kapital atas buruh, kekuatan publik yang terorganisir bagi perbudakan sosial, dan mesin penindasan kelas’. Sebaliknya, dalam komunisme, para pekerja akan harus mencegah negara menjadi penghalang bagi emansipasi seutuhnya. Akan menjadi penting untuk ‘mengamputasi’ organ-organ represif dari kekuatan pemerintahan lama, [bertarung melawan] fungsi-fungsi legalnya sebagai otoritas yang utama atas masyarakat dan mengembalikannya sebagai agen-agen masyarakat yang bertanggung jawab’. Dalam Kritik Program Gotha, Marx mengamati bahwa ‘kemerdekaan bergantung pada perubahan negara dari organ yang dipaksakan pada masyarakat menjadi sesuatu yang sepenuhnya tunduk padanya’, dan secara tajam menambahkan bahwa ‘bentuk-bentuk negara adalah lebih merdeka atau kurang merdeka dilihat dari sejauh mana mereka membatasi ‘kemerdekaan negara tersebut’”.

Dalam teks yang sama, Marx menggarisbawahi tuntutan bahwa dalam masyarakat komunis, kebijakan-kebijakan publik harus memprioritaskan ‘kepuasan kolektif atas kebutuhan-kebutuhan’. Pengeluaran anggaran untuk sekolah-sekolah, layanan kesehatan, dan barang-barang kebutuhan bersama akan ‘bertambah jika dibandingkan dengan masyarakat yang ada sekarang ketika masyarakat yang baru berkembang’. Pendidikan akan menempati posisi penting, dan — sebagaimana ia sebutkan dalam Perang Saudara di Prancis, merujuk pada model yang diadopsi oleh para pejuang Komune pada 1871 — ‘seluruh institusi pendidikan akan dibuka secara gratis dan […] dilepaskan dari campur tangan Gereja dan Negara’. Hanya dengan jalan inilah kebudayaan akan ‘dapat diakses semua orang’ dan ‘ilmu pengetahuan akan dibebaskan dari belenggu yang dipaksakan oleh prasangka kelas dan kuasa pemerintah’.

Tidak seperti masyarakat liberal, di mana ‘kesetaraan hak’ membiarkan ketimpangan sosial tetap terjaga, dalam masyarakat komunis ‘hak akan lebih menjadi tidak setara daripada setara’. Perubahan dalam arahan ini akan mengakui, dan melindungi, individu-individu berdasarkan kebutuhan-kebutuhan spesifik mereka dan kesulitan-kesulitan keadaan mereka, karena ‘mereka tidak akan menjadi individu yang berbeda jika mereka setara’. Lebih jauh lagi, akan menjadi mungkin untuk menetapkan bagian tugas dan kekayaan tiap individu secara adil. Masyarakat yang bertujuan untuk mengikuti prinsip ‘Dari setiap anggota menurut kemampuannya, bagi semua menurut kebutuhan mereka’ akan menghadapi jalan yang penuh kesulitan. Namun, hasil akhirnya tidak dijamin oleh ‘takdir progresif yang luar biasa’ (dalam ucapan Leopardi), dan bukan berarti kemajuannya tidak bisa dibalik.

Marx menempelkan nilai mendasar pada kebebasan individu, dan komunismenya secara radikal berbeda dengan penghapusan kelas-kelas yang dibayangkan oleh para pendahulu atau sebagian pengikutnya. Namun dalam Urtext, ia merujuk pada ‘kebodohan kaum sosialis (khususnya sosialis Prancis)’ yang menganggap ‘sosialisme sebagai realisasi ideal-ideal [borjuis], […] secara keliru menunjukkan bahwa pertukaran dan nilai tukar, dll., mulanya adalah […] sistem yang bebas dan setara bagi semua, tetapi [kemudian] dibelokkan oleh uang [dan] kapital’. Dalam Grundrisse, ia menyebut sebagai ‘absurditas’ anggapan bahwa ‘persaingan bebas adalah perkembangan puncak dari kebebasan manusia’; seperti juga kepercayaan bahwa ‘pemerintahan borjuis adalah titik akhir sejarah dunia’, yang ia olok-olok sebagai ‘pemikiran yang sesuai bagi pemegang kuasa baru dari masa lalu’.

Dengan cara yang sama, Marx menantang ideologi liberal yang memandang bahwa ‘negasi atas persaingan bebas [adalah] sama dengan negasi kebebasan individu dan produksi sosial yang didasarkan atas kebebasan individu’. Dalam masyarakat borjuis, ‘perkembangan bebas’ yang dimungkinkan hanya ‘ada dalam batasan dominasi kapital’. Namun ‘tipe kebebasan individu’ tersebut pada saat yang sama adalah ‘penghapusan seluruh kebebasan individu dan penundukan total individualitas pada kondisi-kondisi sosial yang mengambil bentuk kekuatan-kekuatan objektif, yaitu objek-objek berkuasa […] yang independen dari relasi individu satu dengan yang lain’.


III. Emansipasi Diri: Peran Kepemimpinan Pekerja

Alternatif dari keterasingan karena kapitalisme dapat dicapai hanya jika kelas tertindas menjadi sadar akan kondisi mereka sebagai budak-budak baru dan merintis perjuangan yang secara radikal mentransformasi dunia di mana mereka dieksploitasi. Namun mobilisasi dan partisipasi aktif mereka dalam proses ini tidak dapat berhenti pada hari setelah perebutan kekuasaan. Ia harus terus berlanjut, demi mencegah belokan pada sosialisme negara yang Marx selalu tentang dengan gigih dan penuh keyakinan.

Pada 1868, dalam surat pentingnya pada presiden Asosiasi Umum Pekerja Jerman, Marx menjelaskan bahwa di Jerman, ‘di mana pekerja diregulasi secara birokratis sejak kecil, di mana ia percaya pada otoritas, pada mereka yang posisinya di atas, hal yang penting adalah mengajarkannya untuk berjalan mandiri’. Ia tidak mengubah keyakinan ini selama hidupnya dan bukanlah suatu kebetulan jika poin pertama dari naskah aturan Asosiasi Pekerja Internasional berbunyi: ‘Emansipasi kelas pekerja harus dikuasai oleh kelas pekerja sendiri’. Ia lalu segera menambahkan bahwa perjuangan emansipasi kelas pekerja ‘tidak berarti perjuangan bagi privilese dan monopoli kelas, tetapi untuk hak dan tanggung jawab yang setara’.

Banyak partai politik dan rezim yang berdiri mengatasnamakan Marx menggunakan konsep ‘kediktatoran proletariat’ secara instrumental, menyelewengkan pemikiran Marx dan menyimpang dari arahan yang ia berikan. Bukan berarti kita ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan tersebut.***


Marcello Musto (1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto), Kanada. Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu dekat oleh penerbit Marjin Kiri.

Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus