Dari Agama hingga Ulang Tahun Sekutu: Lima Puisi Daniel Sihombing

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”. Karya-karyanya dapat dijumpai di sini


Semak Berapi

Bangun pagi mau ke gereja
Lupa ada virus Corona
Laptop menyala, Alkitab dibuka
Dunia maya bak pujasera
Semua tergantung selera

Agama membius massa
Membuai lagi menggairahkan
Hidup jadi bermakna
Menguntungkan siapa?

Sejak Musa hingga José Miranda
Semak berapi menyala-nyala


Papua

Kulihat orang Papua ditangkap
Pipi diinjak ke aspal
Lubang hidung ditarik aparat

Asrama diserbu teror dieksekusi
Kepala dipukul muka diludahi
Dibilang monyet dimaki-maki

1 Mei 1963 NKRI aneksasi
Kini dibilang harga mati!
Puluhan tahun diduduki TNI
AMP gugat lima ratus ribu dibikin mati

Gunung Grasberg begitu diminati
Emas melimpah, senjata adalah kunci
Mako Tabuni ditembak mati
Sagu pun dipaksa ganti nasi

Merdeka! Papua merdeka!
Terdengar di jalan-jalan pekik bertenaga
Sejak kecil hafal kemerdekaan hak segala bangsa
Teringat cerita usir Belanda


Welfare State

Kelas menengah suka negara kesejahteraan
Upah besar bisa jalan-jalan
Ada jaminan kesehatan
Kadang juga pendidikan

Tapi ada yang tak dipikirkan
Kapital abadi karena penghisapan
Negara kesejahteraan butuh jajahan

Laba runtuh siapa yang tanggung
Negara berkembang dipaksa jadi panggung
Bahan melimpah buruh dipentung
Ini nekolim kata si bung


Bumi Manusia

Dikarantina gara-gara Corona
Anak muda baca Pramoedya
Sudah tayang film Bumi Manusia
Jangan lupa penulisnya orang Lekra

Di Buru Pramoedya dipenjara
Karena Amerika ambil alih kuasa
Indonesia dulunya inisiator KAA
Sekarang cuma kerja, kerja, kerja

Kapan bersatu lagi Asia Afrika
Ganyang nekolim dari Utara!
Jangan lupa mereka makmur karena kita
Sekarang ditambah lagi negara Cina

Pramoedya kandidat nobel sastra
Makin dibaca makin sadar bumi manusia
Demi anak semua bangsa
Siap robohkan rumah kaca


Sekutu

Andai masih bernafas dirimu
Besok dua-ratus-dua usiamu
Tak perlu kusebutkan namamu
Di negeri ini dianggap tabu

Raoul Peck menyutradarai filmmu
Paris kota pelarianmu
London kuburanmu
Dunia tertindas adalah rumahmu

Para pengusir Belanda membaca bukumu
Soekarno muda menggemarimu
Imperialis berkali-kali menguburmu
Kacung-kacungnya membredel warisanmu

‘Kritik tanpa ampun’ itulah sloganmu
Telaah struktur dunia biar tak ditipu
Kau tak beriman tapi kita sekutu


Daniel Sihombing adalah anggota Kristen Hijau dan tim editor IndoProgress.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus