Virus dan Kapitalisme

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh Jonpey


TAHUN 2020 ini akan tercatat sebagai sebuah babak penting dalam sejarah. Bukan karena pamitnya Ronald McDonald dan kawan-kawan dari Sarinah atau karena tiga musisi legenda Indonesia baru saja meninggalkan kita untuk selamanya, tapi karena diberhentikannya sejumlah besar pekerja dari satu-satunya sumber penyambung hidupnya. Tahun ini juga penting karena tersadarnya banyak pemilik modal bahwa dirinya juga merupakan manusia hidup yang sesungguhnya tak selalu butuh keuntungan, namun selalu perlu makan. Tamparan ini datang dari kekuatan berukuran mikroskopik yang ternyata lebih berbahaya ketimbang jentikan jari Thanos. Dunia sains mengenalnya dengan sebutan virus, suatu mikro-organisme yang beberapa kali dalam sejarah hampir saja meluluhlantahkan peradaban manusia.

Kisah serupa pernah dialami umat manusia sekitar tujuh abad silam ketika dunia diporak-porandakan oleh wabah Bubonik yang oleh banyak orang disebut Black Death. Merenggut kurang lebih 200 juta jiwa, wabah ini bahkan menjadi salah satu kekuatan yang ikut berkontribusi menyudahi sistem feodalisme di Eropa pada abad pertengahan. Selain pada zaman pertengahan, wabah juga menyerang dunia modern. Flu Spanyol di dekade kedua abad ke-20 pun merengut 50 juta jiwa atau tiga dari populasi dunia saat itu. Lalu di paruh pertama abad ini dunia sempat dihantui oleh Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Epidemi Ebola di Afrika Barat. Sempat rehat beberapa tahun saja, para virus ini telah berbenah dan mengembangkan diri untuk tampil kembali sebagai pengubah jalannya permainan di planet bumi. Dialah SARS-Cov-2 sang pewaris takhta dari SARS yang pernah meneror bumi sekitar tahun 2002-2004, kini hadir dengan tampilan dan semangat yang baru.

Seperti yang telah banyak kita ketahui, virus memiliki sifat yang unik. Sejak penemuannya di tahun 1892 dan 1898, ia dikenal sebagai organisme terkecil yang hanya mampu hidup dan berkembang di dalam organisme lainnya. Terdapat 6.000 spesies yang telah didata oleh para ahli virologi dan masih tersisa jutaan jenis lain dari mereka yang terdapat di ekosistem kita. Berbagai wujudnya, namun satu hal yang pasti yaitu bahwa ia hadir untuk mereproduksi lebih banyak dirinya sendiri melalui tubuh inangnya dan tentu saja menyebarkan dirinya kepada organisme lainnya lewat inang tersebut. Jika kita saja cukup kesulitan saat harus melihatnya dengan mikroskop, apalagi dengan mata telanjang. Virus sama sekali tak dapat dilihat atau disentuh, menyebar lewat darah, air liur atau jaringan tertentu lainnya yang betul-betul tak kasat mata. Sehingga apabila terpapar kita hanya akan merasakan gejalanya ketika pasukan sistem kekebalan tubuh mulai melaporkan agen asing dari luar yang berusaha masuk ke dalam tubuh. Salah satu dari sinyal tersebut tentu saja sakit kepala, demam tinggi, hidung yang berlendir, hingga tenggorokan yang meradang. Dengan maksud mencegah penyebaran, sistem imun tentu akan melakukan tindakan.

Bagaikan sistem imun, umat manusia tak tinggal diam menghadapi ancaman ini. Walau beberapa virus hanya dapat disembuhkan dengan sistem imun, manusia mencari cara pencegahan lewat vaksin yang dilakukan saat imunisasi. Oleh karena itu penemuan vaksin di akhir abad ke-18 serta penggunaan dan pengembangannya dari abad ke-20 sampai hari ini berhasil membuat manusia kebal sementara terhadap agen-agen asing yang mengancam hidupnya. Sejauh ini ilmuwan telah menemukan banyak vaksin antara lain untuk hepatitis, difteri, tetanus, antrax, rabies, tuberkolosis dan kini sedang meneliti vaksin untuk virus Korona yang kabarnya kini mampu bermutasi dengan cepat. Mampukah kita kali ini menyelamatkan spesies kita dari kepunahan?  

Perihal mekanisme virus serta perkembangan vaksin yang sedang diteliti baiknya kita percayakan kepada para ahli virologi dan para dokter, namun hikmah menarik yang kiranya dapat kita petik dari mengenal virus ini adalah sifat-sifat dan cara bekerjanya. Hal ini mengingatkan kita kepada sesuatu yang selama ini berlangsung dalam hidup sehari-hari. Meski tak terlihat wujudnya namun kita terus menjalaninya dan kerap kali menyadarinya di hari-hari yang semakin lama semakin berat ini. Ia merupakan sistem ekonomi yang telah berlangsung selama tiga abad terakhir dan hari ini telah menyokong kehidupan tujuh milyar penduduk bumi. Siapakah dia? Tentu saja kita bicara soal kapitalisme. Dari sini saya akan menyinggung tiga sifat dari kapitalisme yang menurut saya serupa dengan virus yang telah kita bicarakan di atas.

Pertama, sama seperti virus, kapitalisme dapat kita rasakan gejalanya namun seringkali tak terlihat wujudnya. Kita semua pasti tahu bahwa smartphone yang sekarang kita gunakan datangnya dari pabrik dan tersusun dari bahan polikarbonat, plastik, kaca, aluminium hingga litium. Namun apa syaratnya kehadirannya? Tentu saja perkembangan pembagian kerja dalam suatu masyarakat dan pesatnya kemajuan teknologi. Namun tak semua dari kita menyadarinya dan memang tak semua mesti menyadarinya karena kehidupan sosial itu praktis. Sehingga smartphone yang terbentuk melalui mekanisme kerja serta proses panjang tersebut muncul hanya menjadi barang komoditas ketika ia hadir di toko ponsel. Inilah yang juga menjadi alasan mengapa Marx memulai kajiannya tentang kapitalisme lewat komoditas. Sebab nilai yang tak kasat mata yang diproduksi dari proses panjang kerja dalam masyarakat kapitalisme tersebut mewujud hanya lewat komoditas ketika berada dalam relasi pasar dan memunculkan pantulan nilai dirinya sendiri lewat relasinya dengan komoditas yang lain. Kapitalisme juga bisa kita rasakan di akhir bulan melalui upah yang didapatkan selepas bekerja keras lebih dari delapan jam selama lima hari dalam sebulan. Tak ada yang lebih mengobati sakit kepala ketimbang menikmati rekreasi bersama keluarga di akhir pekan tanggal muda. Selain banyaknya barang-barang komoditas dan nikmatnya relasi upahan, masih banyak lagi yang dapat dinikmati berkat kapitalisme. Mulai dari banyaknya film serial yang bisa kita tonton di Netflix, podcast dan lagu-lagu kesukaan di Spotify hingga keterikatan emosional pribadi yang absurd dengan gerai makanan siap saji.

Kedua, bahwa kapitalisme, layaknya Corona Virus, mampu bermutasi dan cepat beradaptasi. Sejak revolusi industri hingga hari ini ia telah berhasil menyebar sampai ke ujung bumi, dari jalanan basah di Manchester hingga jalan tanah basah di Mentawai. Bahkan tercatat dua krisis besar The Great Depression di awal abad ke-20 dan krisis finansial 2007-2008 yang lalu tidak membuat kapitalisme redup, malahan menambah kekuatannya lewat kolaborasi yang apik bersama pengembangan teknologi menyasar tak hanya komoditas berbentuk barang tapi juga jasa. Kita menjadi saksi kebangkitan e-commerce dan industri pariwisata, yang minimal kita sadari dari banyaknya foto selfie dari sahabat kita sewaktu travelling dengan tongsis yang mereka beli di toko online. Bahkan dalam COVID-19 ini meski terlihat sempoyongan, ia tetap bertahan dan berjalan mencoba mencari jalannya membangun the new normal. Namun mampukah ia bertahan? Tentu saja, selama masih adanya kepemilikan pribadi atas sarana produksi, mesin-mesin pabrik pun tak akan berhenti. Semakin banyak pula yang menggantungkan hidup dari upah, maka semakin cepat pula mekanisme kerja sistemnya.

Dan yang ketiga adalah kenyataan menyakitkan yang sebagian dari kita enggan menghiraukan. Bahwa kapitalisme sebagai suatu mekanisme yang– layaknya virus–hanya bergerak untuk melakukan produksi dan reproduksi nilai-lebih. Inilah yang menyebabkan suasana berubah ketika kita dihadapkan kepada kebutuhan hidup dan upah yang tak berbanding lurus, terkena pemotongan gaji, diberhentikan dari pekerjaan, hingga kesulitan dalam mencari pekerjaan baru. Sesungguhnya jika kita mau melihat lebih jauh ke pelosok desa kita akan menemukan bagaimana perampasan lahan petani terus berlangsung, jaminan kerja buruh yang cuma slogan, maraknya pemberhentian kerja sepihak, hingga sulitnnya memenuhi kebutuhan hidup layaknya manusia biasa di zaman sekarang. Nyatanya bukan cuma Anda satu-satunya yang mengalaminya, namun kita semua sebagai kelas pekerja juga turut mengalaminya. Lantas apa sebabnya? Bukankah kapitalisme menjanjikan pemberdayaan hajat hidup manusia?

Memang betul, jika dibandingkan dengan era feodal, zaman kapitalisme ini memberikan kesempatan sejahtera kepada semua orang tanpa melihat latar belakang darah biru atau gelar bangsawan. Lalu kenapa masih ada ketimpangan? Tentu saja malas atau kehendak Tuhan bisa jadi hanya sepersekian persen faktornya saja, namun penyebab yang mendasarinya ialah struktur masyarakat itu sendiri. Ini membuktikan bahwa kapitalisme tak hanya berwujud aktual empiris saja, ia memiliki wujud nyatanya yang tak kasat mata. Mekanisme yang tak terlihat ini yang menjadikan kapitalisme akhirnya hanya menguntungkan sebagian kategori kelas tertentu. Siapa mereka? Tentu saja mereka yang menguasai sarana produksi beserta mereka yang ikut mendukung kelangsungannya. Inilah mekanisme yang bekerja di balik sistem kapitalisme yang adidaya. Mereka yang masuk ke dalam relasi produksi di dalam sistem ini pun terpaksa mesti mereproduksi nilai-lebih tanpa henti karena lewat cara itulah mereka menyambung hidupnya. Serupa dengan virus yang hidup lewat inangnya, melalui kebudayaan manusia dengan relasi upahan serta barang-barang komoditas, kapital berhasil mereproduksi dirinya tanpa henti.

Virus nampaknya menjadi momok yang kini reputasinya lebih buruk ketimbang korupsi. Mengingat HIV merusak sistem kekebalan tubuh, Hepatitis menyebabkan peradangan hati, dan SARS-Cov-2 menyerang sistem pernapasan hingga mampu menyebabkan kematian. Dari banyaknya jenis virus, para ahli virologi menemukan satu virus yang nampaknya menguntungkan bagi manusia. Layaknya bakteri atau probiotik yang bermanfaat bagi tubuh kita, virus ini menjadi parasit pada bakteri di perut bernama bacteriophage yang membantu sistem pencernaan dan imun kita. Jika virus pun bisa berguna, apakah kapitalisme juga bisa menguntungkan? Tentu saja. Justru lewat keuntungan yang diberikannya itulah kita harus mampu melampauinya. Namun jika dipikirkan kembali dalam sistem kapitalisme ini jelaslah sudah kelas sosial yang paling banyak diuntungkan. Silahkan Anda yang sejauh ini masih sebagai orang yang diupah yang menjumlahkan sendiri mana lebih banyak, keuntungan ataukah kerugiannya?

Apabila terdapat vaksin untuk virus, apakah juga ada vaksin atau bahkan obat untuk kapitalisme ini? Tentu saja ada, Marxismelah yang sejauh ini merupakan antitesis potensial dari kapitalisme. Namun pertanyaannya kini, jika kapitalisme diibaratkan virusnya, lantas bagaimana Marxisme menciptakan vaksin dan penawarnya – sosialisme? Mengingat kapitalisme bagaikan virus yang cepat beradaptasi, maka mMrxisme tak boleh berhenti. Ia tak bisa hanya jadi gudang teori atau hanya sekumpulan aksi. Lewat teori yang berbasiskan sains, kita akan mampu mengetahui wujud nyata dari kapitalisme yang kasat mata dan lewat aksi yang terkoordinasi kita akan dapat menerapkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan kelas pekerja. Oleh karena itu, Marxisme haruslah selalu kita upayakan untuk menjadi aksi nyata dari teori yang berbasiskan ilmu pengetahuan. Sehingga masih relevan kiranya yang diserukan Lenin dalam tulisannya What Is To Be Done? hampir seabad yang lalu: Tanpa teori yang revolusioner, tidak akan ada gerakan yang revolusioner!***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus