Produksi Pakaian dan Bagaimana Kita Diseragamkan

Print Friendly, PDF & Email

Sumber ilustrasi: publicdomain.net


SEMUA manusia modern menggunakan pakaian. Karena saking seringnya berinteraksi dengan benda satu ini, kita kerap lupa akan satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana: “Siapakah pembuat semua ini?”

Tulisan ini akan membahas keterkaitan antara para produsen pakaian ini, termasuk penjahit, desainer, buruh pabrik, sampai tukang permak—yang mungkin salah satunya merupakan tetangga Anda—serta apa yang ada di balik itu.

Pengalaman pertama saya berinteraksi dengan produsen pakaian terjadi pada 1998an. Saat itu bapak sering mendapat bakal kain menjelang hari raya dengan beragam motif dari tempat kerjanya. Ibu lalu membawanya ke penjahit (tailor) untuk dibuat jadi pakaian. Penjahit yang juga tetangga kami ini akan mengukur panjang lengan, pinggang, dan bahu saya.

Ingatan tentang penjahit lainnya adalah ketika saya masuk SMP dan SMA. Pihak sekolah mewajibkan setiap siswa baru membeli bakal kain seragam tiga variasi: putih-biru (putih-abu-abu), pramuka, dan batik. Lagi-lagi ibu akan menemani saya ke penjahit, dan lagi-lagi pula penjahit melakukan hal yang sama persis.

Baca Juga: Pelanggaran Hak Maternitas dan Kekerasan Seksual dalam Perspektif Buruh Garmen dan Sepatu

Dibanding buruh pabrik garmen—yang saat ini semakin berkembang pesat, profesi penjahit bisa dibilang lebih eksklusif karena melayani orang per orang. Mereka tidak akan membuat pakaian yang tidak sesuai dengan pesanan, entah itu ukuran, model, atau jenis kain.

Saat pabrik garmen semakin menggurita, penjahit terkena dampak negatifnya. Penjahit makin lama makin berkurang. Pesanan mereka juga sangat tergantung musim. Pada musim masuk sekolah atau menjelang hari raya, misalnya, biasa mereka kebanjiran pesanan.

Bagaimana dengan desainer fesyen? Profesi inilebih merujuk pada para pembuat mode dan penjahit yang tinggal di kota-kota.

Ilmu mendesain dan menjahit biasanya mereka dapatkan dari bangku sekolah atau kursus seperti Lembaga Pelatihan Tata Busana (LPTB), sekolah fesyen, akademi desain dan lembaga lain yang punya legitimasi—meski dalam kasus tertentu ada pula yang otodidak.

Para penjahit umumnya tidak mengembangkan merek, sementara sangat umum bagi desainer fesyen punya brand fashion sendiri. Para penjahit juga umumnya hanya membuat pakaian berdasarkan pesanan, sementara desainer fesyen juga menciptakan pakaian-pakaian terkini  yang tidak selalu berdasarkan pesanan pelanggan.

Perbedaan lain, penjahit biasa mengerjakan semuanya sendiri, sementara desainer fesyen lebih fokus ke mode dan akan menyerahkan urusan jahit-menjahit ke para pekerjanya.

Karena perbedaan-perbedaan itu, tidak heran jika penjahit biasanya lebih dekat dengan kalangan mengenah ke bawah. Sementara desainer fesyen kalangan elite seperti model, artis, atau mereka yang sering mondar-mandir di catwalk. Produk yang mereka hasilkan sangat kuat dengan kesan mewah dan mahal. Rancangan mereka juga dibuat dengan glamor dan elegan, juga menggunakan teknologi terbaru semacam drawing pad.

Meski banyak perbedaannya, keduanya juga punya kesamaan. Baik penjahit atau desainer fesyen sama-sama bersaing dengan produk massal yang dibuat di pabrik garmen dan dijual di banyak tempat, termasuk swalayan, mal, toko, hingga pasar-pasar tradisional.  

Siapakah yang memproduksi pakaian massal ini? Tentu saja buruh pabrik.

Cucu dari bukde saya adalah seorang buruh pabrik garmen di Bogor, Jawa Barat. Usai lulus dari SMK jurusan Tata Busana, dia memilih merantau untuk membantu orangtuanya yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Satu cerita yang saya ingat dari dia adalah pekerjaannya di pabrik, juga teman-teman buruhnya yang lain, sangat spesifik. Ada buruh yang hanya bertugas menjahit bagian lengan saja, atau memasang kain saja, atau memotong kain saja, atau hanya pengepakan saja.

Baca Juga: Piala Dunia 2018: Gocekan Lionel Messi dan luka Buruh Garmen Indonesia

Pakaian-pakaian yang dibuat dari tangan terampil pada buruh pabrik dicirikan oleh beberapa karakter: diproduksi secara massal, ukuran yang umum (S, M, L, XL), bermotif seragam dengan duplikasi desain berjumlah banyak, dan tidak dibuat dengan mendetail dari mulai pola rancangan sampai kerapatan jahitan.

Ada tiga kelebihan utama produsen pakaian yang satu ini, dibanding produsen-produsen lain: cepat, murah dan praktis. Karena itu produk dari mereka yang paling membanjiri pasaran. Ini didukung pula dengan menjamurnya mal-mal dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Namun, di samping kelebihan, ada pula kelemahan. Ukuran pakaian yang dibuat umum, misalnya, tidak selalu pas dengan ukuran tubuh si pembeli. Dari situasi ini produsen pakaian lain muncul dan menemukan pasarnya sendiri: tukang permak, yang umumnya sangat inklusif dan jasanya berbiaya murah. Di lapangan, nama tukang permak ini sangat beragam, dari mulai permak pakaian, permak jeans dan levis, hingga street tailor. Pada dasarnya semua mengerjakan hal serupa: ‘mengedit’ pakaian jadi yang error.

Kelompok ini ada yang berkeliling—biasanya pakai sepeda, ada pula yang mangkal di pusat keramaian.

Salah satu pusat permak pakaian yang ada di Indonesia adalah Pasar Baru Sampangan, Semarang, Jawa Tengah. Saya pernah mengobrol dengan beberapa dari mereka. Dari sana saya tahu beberapa hal. Misalnya, kebanyakan tukang adalah perantauan dari Pekalongan, Jawa Tengah. Di rantau, mereka hidup mengontrak di gang-gang sempit kompleks kaki Gunung Talang yang dekat dengan pasar. Sementara alat produksi mereka—mesin jahit manual yang dibawa menggunakan gerobak tiga roda—umumnya dibikin sendiri. Beberapa dari mereka pernah bekerja sebagai buruh pabrik garmen yang dibayar murah. Ada pula yang pernah jadi penjahit tapi usahanya bangkrut.

Mereka nyaris tak pernah libur. Setiap hari, dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, mereka melayani dari mulai mengganti resleting, mengecilkan kemeja, hingga menjahit seragam sekolah. Tarif tergantung tingkat kesulitan. Untuk menjahit celana sobek, misalnya, biayanya antara Rp5-12 ribu. Mengganti ritsleting dikenai tarif Rp10 ribu.

Penghasilan yang didapat para tukang tidak pernah menentu. Mereka bisa mendapat banyak uang menjelang Lebaran, tapi di hari yang lain kadang tak dapat cuan sama sekali. Maka tak heran rata-rata tukang permak yang bicara dengan saya mengaku penghasilannya tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya sendiri dan keluarga.

Meski begitu, mereka tetap memilih jadi tukang permak ketimbang, misalnya, buruh pabrik garmen. Mereka merasa lebih bebas ketimbang kerja di pabrik yang tentu saja dikejar target, monoton, dan banyak aturan.

Untungnya pula, solidaritas antar tukang permak masih kuat dalam bentuk paguyuban berbasis daerah. Beragam kegiatan kerap dilakukan, termasuk yang termasuk jaring pengaman sosial dalam skala kecil seperti arisan. Mereka juga kerap membahas harga jasa permak dan segala rupa hal terkait perkainan.

Yang Tak Tampak

Penjahit (termasuk desainer fesyen), buruh pabrik, dan tukang  permak, pada dasarnya saling terkait satu sama lain, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Bagian ini akan mengelaborasi lebih jauh soal itu, terutama terkait bagian-bagian yang ‘tak tampak’.

Tukang permak ada di bagian paling akhir dari rantai produsen ini. Mereka muncul dari kelemahan-kelemahan yang ada di pabrik garmen, sementara industri garmen sendiri muncul karena kelemahan yang ada pada penjahit desainer—selain juga dalam rangka akumulasi kapital para pemodal. Di satu sisi, buruh pabrik garmen dihisap nilai lebihnya oleh kapitalis, namun di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menghisap ladang uang para penjahit dan desainer.

Jika diumpamakan, penjahit/desainer ini adalah sungai. Aliran dari banyak sungai ini mengalir pada sebuah danau besar yang dinamakan pabrik garmen. Danau besar tak melulu mampu menampung debit dan akibatnya air mengalir ke kalen-kalen hingga selokan, yang diumpamakan tukang permak. Aliran air inilah yang disebut sebagai aliran ekonomi.

Kemudian, pakaian yang diciptakan di pabrik-pabrik juga sesungguhnya menandakan penyeragaman.

Dunia busana (fashion) pada dasarnya adalah dunia yang kompleks. Busana berbeda dari pakaian. Jika busana merujuk pada model dan produk budaya tertentu, maka pakaian adalah produk asal jadi dan dipakai. Jika busana mempertimbangkan estetika dan etika, maka pakaian sekadar membalut tubuh. Jika busana adalah konsesus antara dua orang (pembeli dan penjahit), maka pakaian adalah produk yang harus diterima apa adanya.

Pasar, tentu saja, lebih suka “pakaian”  alih-alih “busana” karena ia menciptakan keuntungan lebih besar. Ia tidak peduli dengan penyeragaman. Pakaian yang lebih banyak dikenakan masyarakat sekarang adalah “kemauan pasar”. Anda tinggal pergi ke toko dan memilih mana yang paling cocok, bahkan tetap memilih salah satu di antaranya karena memang butuh meski yang tersedia bukan murni selera Anda.

Seorang desainer fesyen yang pernah bicara dengan saya mengeluh ada orang yang mau membeli “pakaian” seharga Rp500 ribu di sebuah pasar modern tapi enggan mengeluarkan uang yang sama untuk produk “busana”.  Ia heran karena produk yang desainer itu buat dapat dipastikan lebih detail dan duplikasi model yang amat minim.

Akhirnya, agar tetap dapat bersaing, dia berinovasi dengan membuat pakaian ready to wear dengan harga lebih miring, sekitar Rp 100-200 ribu.

Produksi pakaian massal juga membunuh aspek kreativitas si pembuat. Dunia busana (fashion), bagi para penjahit dan desainer, merupakan tempat berkreasi. Bahkan di dunia ini memotong kain pun ada tekniknya. Proses-proses kreatif inilah yang dirampas ketika seseorang lebih memilih membeli pakaian jadi.

Batik di Lasem, kain tenun di Mandailing Natal, dan songket di Kupang tentu saja tidak bisa dibandingkan kualitasnya dengan kain-kain hasil cetakan instan. Di baliknya ada proses kreatif yang berkelindan dengan budaya masyarakat dan tradisi setempat. Bukan berarti tak ada kreativitas sama sekali pada produk massal. Awal mulanya tetap ada orang yang mencurahkan daya pikirnya untuk menciptakan pola atau sejenisnya. Tapi setelah masuk ke lini produksi, semua tinggal direplikasi via mesin.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di industri pakaian ini juga punya pola yang sama di tempat-tempat lain. Pola makan kita, misalnya, juga diseragamkan lewat restoran cepat saji, atau lewat gerakan makan beras meski leluhur mengajarkan makan sagu. Ada proses pendiktean yang tak kasat mata tengah terjadi di mana-mana.


Isma Swastiningrum, lahir di Blora pada 21 Maret 1993. Minat penelitiannya tentang pekerja dan ekonomi kaum pinggiran.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus