Georg Lukács untuk Masa Kini (2): Reifikasi dan Agensi Proletariat

Print Friendly, PDF & Email

Lukács dan teorinya tentang reifikasi. Kredit ilustrasi: Platypus


Reifikasi dan Reduksi Waktu ke dalam Ruang

REIFIKASI adalah konsep yang paling diasosiasikan dengan filsafat Lukács di tahun 1920-an. Meskipun Lukács mengikuti sosiolog-sosiolog neo-Kantian seperti Max Weber atau Georg Simmel, tulisan-tulisannya di tahun 1920-an berhutang banyak pada Marx. Seperti halnya Marx, Lukács ingin memahami bagaimana relasi-relasi sosial—yang diciptakan oleh manusia dalam relasinya satu sama lain dan dunia natural yang mereka jumpai—menjadi seperti objek. Ia juga ingin mengerti bagaimana proses ini mentransformasi manusia menjadi objek.

Lukács menyebut contoh sebuah pabrik. Meski teknologi yang digunakan dalam sebuah pabrik (atau, kita dapat menambahkan, sebuah gudang modern atau call centre) seringkali tidak manusiawi, sesungguhnya tidak ada yang secara prinsipiil kapitalistik tentang permesinan ataupun produksi massal. Adalah mungkin untuk membayangkan produksi, desain, dan teknologi dalam skala besar yang melayani dan mengembangkan kebutuhan serta kemampuan manusia.

Namun dalam tempat-tempat kerja di masa Lukács—dan di masa kita sekarang—kerja bersifat opresif. Kerja mensyaratkan buruh untuk menjadi seperti mesin dengan menuntut aktivitas tersebut (atau kerja intelektual seperti mengajar) dikuantifikasi secara rasional dan dibuat lebih efisien serta terprediksi. Kepribadian manusia dan keunikannya dianggap sebagai kesalahan-kesalahan yang perlu dibereskan.

Lukács menggunakan teori Marx tentang fetisisme komoditas untuk menjelaskan pokok ini. Sebagaimana diterangkan oleh Marx, komoditas dipertukarkan menurut nilai pasarnya yang diukur secara kuantitatif dalam bentuk uang. Nilai ini tidak ada urusannya dengan kualitas-kualitas hakiki yang terkandung dalam komoditas—adalah mustahil untuk menarik nilai moneter dari kegunaan rumah, mobil, atau komputer. Sebaliknya, nilai ditentukan oleh waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi sesuatu. Namun kerja bersifat kualitatif dan bervariasi. Sehingga, agar produksi modern yang berorientasi pertukaran dapat diprediksi, kerja harus diabstrakkan dan dikuantifikasi. Nilai-guna kerja yang konkret ialah bahwa ia memproduksi kegunaan yang riil, kualitatif, dan jelas. Namun nilai-tukar kerja adalah upah; sejumlah uang. Eksploitasi muncul dari kesenjangan antara kerja konkret dan kerja abstrak. Dengan kerja konkret, seorang pekerja memproduksi nilai baru. Namun mereka dibayar hanya untuk kerja abstrak-nya—yaitu, menurut standar upah per jam.

Lukács memperdalam kritik produksi komoditas ini dan mengembangkannya pada totalitas relasi sosial. Ia melakukannya dengan mengamati bahwa seorang pekerja dijadikan objek selagi bekerja: kita diharapkan untuk menjalankan tugas secara reguler, secara terprediksi dan kuantitatif, dengan imbalan upah. Lukács meyakini bahwa hakikat manusia adalah kreatif dan kualitatif—dan karenanya ia melihat proses ini sebagai sumber degradasi. Waktu, menurutnya, harus dianggap konkret—misalnya seorang perajin atau seseorang yang membesarkan anak. Seorang perajin yang membuat gitar akan mengerjakannya hingga selesai, dengan bergantung pada kemahirannya, kualitas gitarnya, dan seterusnya. Atau orang tua: untuk menyusui bayi atau menidurkannya, butuh waktu yang tak menentu.

Sebagai kontras, proses produksi yang modern bergantung pada standardisasi kerja manusia. Memparafrasekan Lukács, waktu direduksi menjadi ruang datar. Ini membuat pekerja menjadi objek. Logika ini tidak dibatasi pada kerja manual. Dalam profesi-profesi kerah putih—misalnya, mengajar—hasil kerja semakin diukur dengan metrik kuantitatif yang meratakan dan menurunkan kualitas produksi.

Logika sosial ini didasarkan pada cara borjuasi hidup, berproduksi, dan menata dunia. Borjuasi adalah kelas penukar yang membutuhkan keterprediksian dan rasionalitas untuk membuat profit. Sehingga milyaran pertukaran setiap harinya, dan juga sistem legal yang meregulasi bentuk produksi ini, membentuk keseluruhan masyarakat menjadi abstrak dan kuantitatif.

Logika ini berimbas pada area-area lain yang tidak secara langsung bersifat ekonomis. Misalnya, dalam bidang hukum, seperti yang ditekankan oleh Lukács (mengikuti Max Weber), seorang hakim menjadi mirip dengan mesin yang dirancang untuk menyatakan penilaian-penilaian yang terprediksi, asal masukan-masukan (serta biaya) yang diperlukan terpenuhi. Dalam sistem pengadilan kriminal, hukuman terutama diukur lewat denda (untuk pelanggaran-pelanggaran minor) atau masa penjara untuk pelanggaran-pelanggaran serius. Ini distandardisasikan dan dipasangkan dengan sistem penjara yang juga rasional.

Jadi struktur-struktur modernitas yang secara formal bersifat rasional sesungguhnya menyembunyikan irasionalitas. Penderitaan seorang pekerja dalam lini produksi atau ketidakmanusiawian birokratis yang dihadapi oleh tahanan dalam penjara modern hanyalah sisi lain dari sistem produksi massal yang ilmiah ataupun sistem hukum yang secara formal berciri rasional.


Antinomi-Antinomi!

Dengan menekankan kreativitas dan kualitas manusia, Lukács menunjukkan bahwa kapitalisme, meski berusaha memaksakan rasionalitas formal di mana pun juga, tidak akan pernah dapat bertahan tanpa tenaga kerja. Karena itu, ketegangan antara nilai guna dan nilai tukar, atau antara kualitas dan kuantitas, yang bekerja di tengah masyarakat dan pengalaman individu atasnya, menciptakan krisis-krisis dan keganjilan-keganjilan, baik pada level masyarakat dan pengalaman sehari-hari individu.

Krisis finansial adalah contoh yang paling jelas. Milyaran transaksi—masing-masing bersifat rasional—berkombinasi untuk menghasilkan pola-pola dan ketegangan-ketegangan yang irasional. Investasi dapat membanjiri satu sektor, menuntun pada spekulasi, inflasi, dan pasokan berlebih. Ketika ketegangan-ketegangan ini menjadi terlalu besar untuk ditanggung oleh suatu ekonomi, ia memasuki resesi; suatu krisis overproduksi. Ini menunjukkan, menurut Lukács, kekerasan yang di atasnya sistem ini dibangun. Penggusuran—atau bahkan perjuangan pekerja miskin untuk memenuhi kebutuhannya dengan posisi yang selalu tidak menguntungkan—adalah contoh-contohnya.

Bagi individu-individu, Lukács melabeli pengalaman kita tentang reifikasi sebagai “posisi kontemplatif.” Sebagai individu, kita tidak memiliki kontrol yang nyata atas relasi sosial yang mendominasi kita dan mengorganisasikan kehidupan kita. Reifikasi menyembunyikan fakta bahwa kapitalisme ada karena dibangun (built)—dan karenanya dapat diruntuhkan (un-built). Ini berarti bahwa kita melihat masyarakat sebagai sesuatu yang alami dan tidak dapat diubah, atau kita melihatnya secara kontemplatif.

Istilah “posisi kontemplatif” tidak boleh dirancukan dengan deskripsi tentang keadaan pasif. Apa yang digambarkannya adalah ketidakberdayaan. Seseorang bisa menunjukkan ketidakberdayaannya lewat ekspresi panik ataupun menyerah.

Tentu saja kita tidak berdaya secara berbeda-beda. CEO perusahaan besar jelas sangat berkuasa—tetapi ketidakberdayaannya termanifestasikan dalam ketidakmampuannya untuk mengubah (atau bahkan menangkap) hukum-hukum sosial mendasar dari masyarakat kapitalis.

Pengalaman ketidakberdayaan kaum tertindas lain lagi. Bagi seorang eksekutif atau profesional yang mapan, posisi kontemplatif bisa jadi relatif nyaman atau menjadi sumber gengsi dan kemakmuran. Namun bagi seorang pekerja, reduksi pada status objek adalah tidak manusiawi. Bagi seorang single mother, perjuangan untuk beradaptasi dengan hukum-hukum masyarakat yang seksis dapat begitu membebani.

Lukács berargumen bahwa pengalaman-pengalaman disonansi yang intens ini, pada level sistem maupun individu, menunjukkan bahwa kapitalisme tidaklah alami. Sebaliknya, ia dikonstruksi secara historis. Kesadaran ini menciptakan kemungkinan perlawanan.


Dari Sejarah menuju Kesadaran Kelas

Lukács berargumen bahwa setiap krisis adalah otokritik kapitalisme, yang menunjukkan bahwa ia tidaklah alami, tetapi faktanya merupakan ekspresi kontingen yang historis dari gaya hidup borjuasi. Apapun yang tidak alami dibuat oleh manusia. Dan apa saja yang dibuat (made) bisa dihancurkan (unmade). Namun penghancuran kapitalisme membutuhkan dua hal: pertama, subjek yang sanggup membentuk kembali dunia, dan kedua, subjek yang posisinya memungkinkannya untuk memahami dunia yang sedang ia bentuk kembali.

Seperti halnya Marx dalam tulisan-tulisan revolusioner awalnya, Lukács menominasikan proletariat untuk tugas ini. Ia melakukannya dengan dua alasan. Pertama, kaum proletar memproduksi nilai—karena itu, tenaga kerja proletar yang terbendakan (reified) adalah esensi dari dinamisnya kapitalisme. Buruh memproduksi segalanya, mulai dari plastik dalam tameng polisi anti huru-hara, hingga program pendukung internet, obat-obatan dan perumahan. Proletar—tidak seperti kelas lainnya—berada dalam posisi untuk menghentikan semuanya.

Namun hal ini memerlukan motivasi. Lukács mengusulkan bahwa bibit motivasi tersebut terdapat pada pengalaman objektifikasi total selama hari kerja. Tentu saja ada banyak cara untuk mereduksi seseorang menjadi objek. Seorang budak dijadikan objek lewat sistem sosial koersif yang brutal. Perempuan dijadikan objek lewat seksisme. Para tahanan diperlakukan sebagai objek untuk diatur dan dikontrol.

Apa yang berbeda dengan proletariat ialah bahwa para pekerja adalah agen dalam objektifikasi mereka sendiri. Kita berkehendak sendiri untuk pergi bekerja. Bahkan dalam objektifikasi kita yang paling dalam, kita menjaga sisa kemerdekaan subjektif kita. Inilah mengapa Lukács mendeskripsikan proletariat sebagai kelas komoditas-komoditas yang sadar diri.

Hal ini menyediakan prakondisi—tetapi bukan kondisi penuh—bagi kesadaran kelas. Jadi ketika Lukács mendeskripsikan proletariat sebagai “subjek-objek sejarah”, yaitu, sebagai subjek kolektif yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, ia tidak sedang berargumen bahwa hal itu merupakan fakta aktual. Ia sadar bahwa kesadaran kelas yang penuh (yaitu bahwa mayoritas proletar secara aktif dan sadar mengubah masyarakat) adalah peristiwa yang eksepsional yang hanya dapat muncul dalam konteks krisis dan ketegangan yang mendalam.

Bukti dari sebuah teori seperti ini hanya dapat ditemukan dalam praktik. Hubungan antara teori dan praktik menjelaskan arti, bagi Lukács, dari filsafat.***


Esai ini adalah versi pendek dan revisi dari artikel yang diterbitkan di jacobinmag.org. Artikel tersebut bisa ditemukan di tautan ini.

Daniel Lopez adalah Contributing Editor di Jacobin Magazine dan Honorary Research Associate di Thesis Eleven Forum for Social and Political Theory di La Trobe University, Melbourne. Buku pertamanya, Lukács: Praxis and the Absolute terbit pada bulan Oktober 2019.

Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus