Don’t Worry, Be Afraid

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”. Karya-karyanya dapat dijumpai di sini


DI AWAL dekade ini, saya mendadak terkenang perkataan guru matematika SMA saya. Suatu hari ia mencontohkan cara mengerjakan sebuah soal. Ia tiba-tiba berhenti menulis dengan spidolnya. Ia menatap soal yang terpampang beberapa lama. Ia mandek. Dalam kebingungannya, ia berceletuk di depan para murid.

“Don’t worry! Be afraid!”

Para murid saling menatap dan tertawa kering mendengar celetukan spontannya—seperti saat kami mendengar guyonan-guyonannya yang lain. Kini, nyaris dua dekade selepasnya, saya teringat lagi dengan celetukannya. Saya merasa ingin tertawa kering lagi dengannya. Hanya saja, kali ini saya ingin tertawa karena tersadar betapa profetiknya kata-kata tersebut saat dilepas dari konteksnya.

Dekade baru ini menyambut kita dengan petaka-petaka menggusarkan. Banjir Banten, Jawa Barat, Jakarta yang dipantik oleh curah hujan tertinggi sejak 154 tahun silam. Kebakaran di Australia yang sudah melalap lahan lebih luas dari Jawa Barat, Banten, Jakarta digabung. Dan seakan tak ingin ketinggalan, ancaman konflik besar selepas panglima perang Iran terbunuh dalam serangan AS.

Anda sudah mengucapkan selamat tinggal kepada dekade 2010 yang bermasalah. Kita sudah meratapi kejancukannya dua minggu silam—berharap ratapan kita, bak cukuran rambut baru, juga membuang sial. Sialnya, alam semesta seakan berkomplot untuk membenarkan ucapan tahun baru Zlazloj Zlizlek, akun meme Slavoj Zizek. Selamat tahun baru, cuitnya. Jangan khawatir. Persoalan baru pasti menanti.

Don’t worry. Be afraid.

***

Kalau Anda khawatir, Anda tentu saja boleh menenangkan diri dengan ucapan-ucapan para pejabat. Orang pemrentahan, toh, realistis, tidak reaksioner dan berorientasi solusi bukan?

Anda cemas ditakut-takuti Extinction Rebellion bahwa kita tengah berada dalam krisis iklim? Apa kata Bappenas di sini mungkin dapat melegakan Anda. Kita belum berada dalam fase krisis, kata mereka. Krisis iklim pasalnya bakal ditandai dengan lingkungan yang sudah tidak bisa dihidupi lagi.

Kekurangan pernyataan ini satu saja. Satu dan fatal. “Masih bisa dihidupi” bukan kriteria yang menyenangkan untuk mendefinisikan krisis.

Perubahan iklim tidak akan memunahkan umat manusia. Saya akan mengulang-ulang pernyataan barusan kalau Anda bahagia mendengarnya. Manusia sama dengan kecoak—sama-sama terlalu liat untuk dibasmi. Manusia bisa hidup dan bercocok tanam di seputaran Chernobyl sekalipun. Banyak yang sanggup tinggal sendiri di tengah hutan ketika mereka muak dengan masyarakat dan, mungkin, gunjingan tetangga.

Kelak ketika kondisi Jakarta sudah kelewat berabe, Anda pun bisa membayangkan orang-orang akan mencari tempat baru untuk bermukim dan bekerja. Tapi, jujur saja, maukah Anda bahkan sekadar mengangankannya? Anda bangun di keesokan hari setelah banjir gawat berikutnya. Hal pertama yang Anda dapati adalah iklan-iklan hunian baru bebas banjir di Cibubur, Citeureup, Cileungsi.

“Citeureup Prestigious Regency, your climate change worry-free cluster! Tiga jam lagi harga naik!”

Sebodoh-bodohnya gambaran ini, Anda tahu, ia mungkin terjadi dalam bentuk yang lain, yang lebih tragis.

Belum percaya? Pengembang-pengembang di negara lain mulai memprioritaskan risiko iklim dalam investasi propertinya. Mereka tahu, kehidupan akan tetap berjalan setelah kiamat iklim sekalipun. Dan mereka tahu, masing-masing orang akan mendahulukan keamanannya sendiri-sendiri.

Dalam kondisi ini kita tahu siapa yang akan membayar paling mahal. Bukan pejabat yang akan terus dipercaya lantaran keyakinan “siapa yang bakal mengeluarkan kita dari krisis kalau bukan mereka?” Tentu bukan mereka juga yang dengan kocek tebalnya masih bisa menjangkau properti dan sumber daya yang kian mahal seiring perubahan-perubahan lingkungan.

Kiamat iklim bukanlah akhir zaman yang digambarkan oleh kitab-kitab. Ia tidak terjadi seraya empat penunggang kuda hari akhir mendatangkan bencana dan wabah yang akan langsung melanda seluruh umat manusia secara merata.

Ia terjadi dengan tidak adil. Pertama-tama dengan menenggelamkan mereka yang di bawah.

***

Anda masih ngotot tidak ingin khawatir? Anda curiga narasi-narasi krisis iklim adalah cara membujuk Anda terjerat dalam sebuah sekte?

Saya orang baik. Saya ingin menyediakan Anda pilihan. Jadi, kini saya sampirkan pandangan seorang penasihat senior di Kemenko Kemaritiman dan Investasi yang disampaikan dalam sebuah seminar dan dicatat seorang kawan yang jengkel mendengarnya.

“Perubahan iklim itu terlalu highly politicized,” ujarnya. “Kalian boleh belajar keluar negeri, tapi kita jangan mau didikte asing.”

Anda dengar? Wacana perubahan iklim memuat kepentingan negara-negara asing. Anda boleh lega karena wacana ini pasti dimanipulasi sedari awal oleh negara-negara bersangkutan. Mereka takut negara berkembang akan menyalip mereka dengan pembangunannya yang jorjoran. Mereka ingin mengerem keberdaulatan ekonomi Indonesia dengan menanamkan ide perubahan iklim.

Hanya saja, saya sendiri malah semakin cemas mendengarnya. Jalur masuk isu krisis iklim ke panggung politik tidak pernah semulus jalan tol. Donald Trump menganggapnya beban ekonomi yang tidak adil. Ini adalah pengetahuan yang nyaris umum—bahkan wajib diketahui seorang yang bekerja sebagai penasihat tinggi di bidang lingkungan. Sang penasihat tidak mengetahui hal galib barusan dan memilih mengikuti naluri konspiratifnya? Keyakinan sekte kiamat iklim kita masih jauh lebih masuk akal dibanding keyakinannya. Keyakinan bahwa suara sumbang Bapak Gubernur adalah yang menyebabkan banjir tempo hari bahkan masih lebih masuk akal.

Dan bila keyakinan barusan adalah keyakinan kebanyakan pejabat kita—yang mana kemungkinannya sangat besar—jangan salahkan saya bila hanya satu pesan yang terngiang di kepala saya. Don’t worry, be afraid.

Pejabat Bappenas mengatakan perubahan iklim belum terbilang kritis pada Desember 2019. Beberapa hari berselang, banjir Banten, Jawa Barat, dan Jakarta terjadi.

Namun, saya tidak heran dengan kekonyolan-kekonyolan barusan. Krisis iklim bukanlah isu yang semenarik itu di Indonesia. Aparteid iklim lebih lagi. Pejabat mungkin malah akan bertanya apakah aparteid iklim itu nama oleh-oleh khas Afrika Selatan atau bukan.

Saya masih bisa membayangkan perdebatan yang akan dijejalkan kepada kita 10-15 tahun lagi ketika keadaan sudah kian tak tertolong. “Gibran Rakabuming ini tidak becus mengurus Jakarta!” ujar satu kubu pendukung yang kini dijuluki kalong. “Sudah satu bulan banjirnya belum surut. Lebih baik waktu pas Anies masih jadi gubernur, banjirnya surut cuma dalam dua minggu.”

“Heh!” balas kubu pendukung lain berjulukan katak. “Kata Anies kalau dia jadi presiden, dia bisa lebih efektif mengendalikan banjir. Sekarang mana buktinya?”

“Sudah-sudah,” kubu NKRI harga mati menengahi. “Kita minum amer sajalah. Ini salah orang-orang kampung buang sampah sembarangan.”

***

Dengan kekonyolan-kekonyolan tersebut, mungkin saya perlu menyeriusi rencana hari kiamat saya. Anda mungkin sebaiknya juga. Rencana saya adalah bila penunggang kuda hari kiamat pertama datang, saya akan minggat ke kampung keluarga angkat saya ke Seram. Saya akan hidup di tempat di mana kebutuhan pokok masih bisa diproduksi sendiri. Saya akan bekerja di sana sebagai tukang pijat karena saya payah dalam memancing tapi dikenal jago memijat.

Sayangnya itu mungkin tidak akan terjadi. Dari tahun ke tahun, saya merasa ketinggian laut kian dekat dengan permukiman mereka. Dengan suhu permukaan yang kian panas, ikan kian sulit ditangkap. Bagaimana dengan sepuluh tahun lagi? Dua puluh tahun lagi? Kecuali orang-orang kaya, sepertinya semua akan sama babak belurnya.

Don’t worry, kata guru SMA saya. Be afraid.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus