Mengapa Sosialisme dan Urgensi Revolusi

Print Friendly, PDF & Email

MENGAPA Sosialisme? Pertanyaan tersebut diajukan oleh Albert Einstein dalam tulisannya di sebuah jurnal sosialis asal Amerika Serikat bernama Monthly Review.[1] Ini tidak mengherankan karena Einstein adalah seorang ilmuwan yang pandangan politiknya berhaluan kiri.[2] Pada tahun 1949, Monthly Review terbit pertama kali dan mengundang Einstein untuk menjadi barisan kontributor pertamanya bersama dengan Paul M. Sweezy, Leo Huberman, dan Otto Nathan.

Tidak banyak gagasan sosialisme yang dituangkan Einstein melalui tulisan, namun suaranya patut diperhatikan. Dalam tulisannya terkandung ide yang cukup radikal karena menuntut terjadinya perombakan atas struktur kapitalisme dan menggantinya dengan sosialisme. “Saya meyakini hanya ada satu jalan untuk mengeliminasi kejahatan besar tersebut [kapitalisme], yakni melalui pembentukan ekonomi sosialis, dengan dibarengi sistem pendidikan yang terorientasi kepada tujuan-tujuan sosial.”[3] Meski demikian, ia tidak menjelaskan bagaimana jalan menuju sosialisme. Apakah mungkin sosialisme jatuh dari langit atau diberikan cuma-cuma oleh para penguasa? Barangkali Einstein juga tidak senaif itu. Tidak ada satupun kata revolusi baik dalam kalimat tersebut maupun tulisannya. Bagaimana mungkin menumbangkan kapitalisme tanpa revolusi? Artikel ini mencoba untuk mengisi celah dalam argumen Einstein dengan membedah gerak sejarah yang mendorong manusia (terkhusus kelas pekerja) mau tidak mau harus menata ulang tatanan dunia lama saat ini melalui revolusi.


Akhiri Kapitalisme, Bangun Sosialisme

“Mengapa kamu sangat melawan terhadap pelenyapan ras manusia?” “Apa penyebabnya?” “Apakah ada jalan keluar?”[4] Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul akibat kapitalisme. Einstein menudingnya sebagai penyebab krisis dunia. Meski Einstein bukan ahli dalam bidang ekonomi politik dan ia tidak menelurkan ide ekonomi politik baru, apalagi teori-teori revolusi, menurutnya sah-sah saja untuk mengomentari katastrofe dunia yang disebabkan oleh kapitalisme dan memberikan solusi terhadapnya. Dan dalam pandangan saya, pemaparan Einstein mengemukakan hal-hal dasar tentang kapitalisme yang menstimulus perubahan sistem ekonomi. Einstein menyinggung karakteristik kapitalisme, yaitu kapital yang dimiliki pribadi dan kontrak kerja gratis. Laba adalah yang terpenting dan diletakkan di kursi prioritas. Sedangkan kelas pekerja hanya dihisap tenaganya untuk mengakumulasi kapital sebanyak mungkin.

Ketimbang mengupas gagasan sosialisme, Einstein meletakkan pembahasan operasional kapitalisme dengan porsi yang besar, sehingga ia dapat menunjuk satu argumen pokok, yakni dunia membutuhkan sistem alternatif yang kontra kapitalisme. Sosialisme, dalam hemat Einstein, dapat menyelesaikan krisis dunia dengan menerapkan sistem ekonomi terencana (planned), di mana alat-alat produksi dimiliki oleh banyak orang guna menjamin pemerataan distribusi kebutuhan hidup setiap orang.[5]

Untuk menjamin kebutuhan dasar setiap orang tercukupi, mau tidak mau alat-alat produksi harus menjadi milik banyak orang. Supaya terjadi demikian, harus revolusi! Namun, fatamorgana kapitalisme yang memakmurkan manusia masih menggiurkan, setidaknya sampai saat ini.


Mengapa Harus Revolusi?

Apakah Einstein menginginkan revolusi? Tidak ada keterangan lebih lanjut. Meski demikian, dia menegaskan bahwa sistem kapitalisme harus ditata ulang dan diganti dengan sosialisme. Kebohongan kapitalisme atas kemajuan peradaban manusia memerlukan kritik dan solusi alternatif. Pembualan semacam ini memengaruhi manusia dalam memahami sejarah. Tanpa pemahaman sejarah yang “dilihat dari bawah”, kehancuran dunia akibat kapitalisme tetap akan dinilai baik-baik saja.

Satu-satunya cara untuk mengakhiri kapitalisme hanya melalui revolusi. Walter Benjamin dalam tesis ke-6 di esainya yang berjudul “On the Concept of History” menulis, “Sang Mesias datang tidak hanya sebagai penebus; dia datang sebagai pemenang atas Antikristus.”[6] Benjamin menghadapi musuh besar, yakni fasisme. Karena itu, mesias dalam pemikiran Benjamin merupakan kelompok revolusioner anti-fasisme. Intinya adalah mesias merujuk pada kelas yang tertindas, sedangkan antikristus terasosiasi pada kelas penguasa yang menindas.[7] Dari kalimat Benjamin di atas, kita mendapati bahwa jika ingin mengubah status quo, harus ada revolusi. Tentang revolusi dalam tulisan Benjamin, Michael Löwy berpendapat,

Dalam pandangan saya, ketimbang “pembalikan,” ada dalam Benjamin sebuah kesatuan dialektis antara tujuan dan makna: tidak mungkin akan ada masyarakat tanpa kelas tanpa interupsi revolusioner atas kontinuitas sejarah (progres), maupun aksi revolusioner dari proletariat jika tujuannya (masyarakat tanpa kelas) tidak dimengerti di dalam segala ledakan mesianisnya, sebagai titik puncak. Tujuan Benjamin bukan “revolusi untuk revolusi itu sendiri” tapi dia percaya bahwa tanpa revolusi tidak akan terjadi penebusan, dan tanpa pandangan mesianis/redemptive atas sejarah tidak terjadi praksis revolusioner yang sugguh-sungguh radikal.[8]

Bagi Benjamin, sejarah harus dilihat dalam pertentangan kelas, layaknya teori Marx, yang mengambil perspektif pada kelas tertindas itu sendiri.[9] Ilusi pergerakan sejarah tanpa bingkai pertentangan kelas hanya menghasilkan konsep progresif sejarah, di mana sejarah adalah presentasi keberhasilan manusia menuju peradaban yang lebih maju.[10] Inilah yang dilawan oleh Benjamin. Sejarah yang ditulis oleh penguasa tidak akan mencantumkan catatan-catatan kotor pemberontakan dan perlawanan dalam upaya mereka untuk “membangun manusia menjadi lebih berkualitas.” Sejarah bukan seperti seseorang yang menaiki anak tangga dari lantai 1 ke lantai 2 dan seterusnya. Sejarah tidak linear seperti itu.

Sejarah diciptakan oleh massa, bukan sekumpulan manusia, kata Louis Althusser.[11] Tanpa konsolidasi dan meleburkan diri dalam gelombang manusia yang masif, sulit dibayangkan bagaimana ledakan revolusi terjadi. Namun beda ceritanya kalau gelombang massa sudah bergerak dan menciptakan suatu revolusi, ini tidak hanya tercatat dalam sejarah, sebagaimana ditulis dalam tesis ke-15 Benjamin, aksi tersebut menciptakan sejarah! “Yang mencirikan kelas-kelas revolusioner ketika momen aksi mereka adalah kesadaran bahwa mereka akan menciptakan lanjutan ledakan sejarah.”[12]

Revolusi menjadi jalan alternatif terakhir untuk merombak tatanan kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang menekankan solidaritas manusia dalam kepemilikan alat-alat produksi. Kelas pekerja mengemban tugas berat ini. Dari mereka, arah gerak sejarah ditentukan. Dari mereka, sejarah bisa diubah. Revolusi kelas pekerja “menyelamatkan” dunia dari penghisapan kapitalisme. Perubahan radikal semacam ini tidak mungkin datang dari mereka yang diuntungkan atas sistem penghisap tersebut. Justru kelas borjuis dan segala aparatusnya akan berusaha keras mempertahankan status quo. Apapun dan bagaimanapun caranya.

Apakah mungkin membangun dunia tanpa kelas sosial? Mustahil! Begitu kata banyak orang yang sangsi terhadap penghapusan privatisasi alat-alat produksi. Barangkali bagi sebagian manusia yang menjejakkan kaki di bumi ini (tapi merasa di surga), kelas sosial tetap akan selamanya ada, tidak bisa dan perlu diubah. Itu sudah ditetapkan dari Atas, kata mereka. Nampaknya kisah eksodus yang tergambar dalam Taurat seakan-akan hanya berisi makna spiritual belaka. Bukankah Musa terinspirasi Yahweh yang menghendaki Israel, bangsa budak, untuk terbebas dari tangan besi Firaun? Allah menciptakan sistem dan struktur sosial yang adil, semestinya manusia ambil bagian dalam membangun proyek tersebut.[13] Ini tercermin dari pembangunan komunitas Israel yang berdasarkan solidaritas di tanah perjanjian.[14]


Penuntasan Revolusi Indonesia, Mungkinkah?

Kita telah melihat bahwa kapitalisme dapat tumbang hanya melalui revolusi. Sayangnya, banyak orang tertipu bahwa kapitalisme membawa kemajuan peradaban manusia. Kualitas manusia semakin meningkat, katanya. Banyak orang yang saya maksud terletak di sebuah negeri yang konon pernah memiliki basis massa kerakyatan terbesar di dunia. Pasca 1965, sejarah Indonesia dicengkeram oleh kepentingan pemodal. Meski demikian, sejarah diwarnai oleh berbagai ledakan kejutan. Misalnya, tahun 1998, Orde Baru pimpinan Suharto diruntuhkan oleh kekuatan massa. Evo Morales pernah menjadi presiden pertama Bolivia dari kalangan indigenous yang anti-kapitalisme, meski baru-baru ini dikudeta militer sayap kanan. Apakah kisah “manis” kapitalisme berhenti sampai di sana atau bahkan terus berlanjut? Tentu saja tidak.

Di tengah derasnya arus kepentingan akumulasi kapital di Indonesia dan warisan fasis-militeris dari Orde Baru, reformasi sistem akan mengeluarkan hasil yang setengah-setengah. Dengan mengingat Indonesia sebelum 1965, kita mendapatkan tenaga revolusioner. Ada harapan sebuah upaya penyusunan sosialisme di Indonesia. Suatu memori manis, sebagaimana digambarkan Benjamin, seperti bangsa Israel yang mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu melalui Taurat dan ritual-ritual religius.[15] Jika massa mengingat memori kolektif masa lampau, niscaya revolusi bisa meledak. Dengan demikian, Pramoedya Ananta Toer menegaskan, “Sistem yang ada sekarang tidak bisa diperbaharui. Memperbaharui Orde Baru hanya akan menciptakan Orde Baru yang baru.”[16]

Revolusi belum paripurna. Reformasi bukan kata akhir dalam perjuangan dalam membangun sosialisme di Indonesia. Buktinya, pasca Reformasi 1998, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk memperlancar akumulasi kapital yang semakin parah di era kepemimpinan presiden terbaru. Tidak heran, beberapa waktu lalu gelombang massa menyeruak dan menampilkan diri dalam masyarakat Indonesia untuk, secara umum, menentang kepentingan oligarki. Karenanya, teriakan “#Reformasi Dikorupsi” yang bergaung keras belakangan ini lebih tepat sebenarnya adalah “#Revolusi Dikudeta” pasca 1965 yang menjadi titik nadir dalam perjalanan sejarah revolusi Indonesia. Setelahnya, orientasi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Indonesia bertolak jauh dari yang diperjuangkan oleh kalangan revolusioner. Pram, dalam wawancara di buku Exile sebagaimana dikutip Lane, menegaskan

Kapitalisme sama di mana-mana. Maksud satu-satunya adalah menghasilkan keuntungan sebesar yang diizinkan. Saya percaya akan hak setiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri tetapi, kenyataannya, hak tersebut tidak dihormati. Segalanya, bahkan nasib bangsa, ditentukan oleh bisnis besar. Dapatkah situasi masa kini berubah tanpa revolusi? Tidak bisa. Harus ada revolusi![17]

Pertanyaan retoris Pram di nukilan tersebut dapat dilontarkan untuk kita semua saat ini, bersama dengan solusi serupa. Barangkali tugas revolusioner, salah satunya, terletak pada pundak kaum muda. Kelompok ini menggerakkan dan mengubah zaman. Jika kaum muda di awal revolusi Indonesia gencar bermanuver untuk melawan kolonialisme dan imperialisme,[18] saat ini kaum muda pun juga masih dapat melakukan hal serupa. Stereotip apolitis terhadap generasi Z dipatahkan melalui gelombang massa yang sempat bergelora beberapa waktu lalu. Ada secercah harapan bahwa kaum muda kekinian masih mampu untuk berkonfrontasi terhadap kapitalisme dan semua pranata-pranata penjaga modal. Kebutuhan akan revolusi semakin mendesak, tidak dapat ditangguhkan lagi. Kelas pekerja dan kaum muda, sejarah ada di tangan kalian!***


Yasuo T. Huang adalah mahasiswa Sarjana Teologi di STT Amanat Agung; anggota Kristen Hijau


————–

[1] Albert Einstein, “Why Socialism?” Monthly Review 61, no. 1 (Mei 2009): 55-61. Artikel Einstein dicetak ulang tahun 2009 untuk memperingati 50 tahun berdirinya Montlhy Review.

[2] David Renton, “Albert Einstein’s Socialism,” Rethinking Marxism: A Journal of Economics, Culture & Society 13, no. 2 (2001): 132-145.

[3] “I am convinced there is only one way to eliminate these grave evils, namely through the establishment of a socialist economy, accompanied by an educational system which would be oriented toward social goals.” Einstein, “Why Socialism?,” 61.

[4] Einstein, “Why Socialism?,” 56.

[5] Einstein, “Why Socialism?” 61

[6] Walter Benjamin, Walter Benjamin: Selected Writings, ed. Howard Eiland dan Michael W. Jennings, vol. 4 (Massachussetts: Harvard University Press, 2006), 391. Benjamin menelurkan karya berjudul “On the Concept of History” yang dinobatkan Löwy sebagai salah satu tulisan revolusioner yang paling radikal, inovatif, dan visioner setelah “Theses on Feuerbach” dari Marx. Löwy, bab 6; Michael Löwy, Fire Alarm: Reading Walter Benjamin’s ‘On the Concept of History’, terj. Chris Turner (London; New York: Verso, 2005), 4.

[7] Löwy, Fire Alarm, 45.

[8] “In my view, rather than a ‘reversal’, there is in Benjamin a dialectical unity between ends and means: there will not be a classless society without a revolutionary interruption of historical continuity (‘Progress’), nor will there be revolutionary action of the proletariat if the end (a classless society) is not understood in all its mesianic explosiveness, as a breaking point. Benjamin’s ends are not ‘revolution for the revolution’s sake’, but he does believe that without a revolution there can be no redemption, and that without a messianic/redemptive view of history there can be no truly radical revolutionary praxis.” Löwy, Redemption and Utopia: Jewish Liberation Thought in Central Europe, terj. Hope Heaney (London; New York: Verso, 2017), bab 6, EPUB. Cetak miring oleh Löwy.

[9] Benjamin, Selected Writings, 394.

[10] Löwy, Fire Alarm, 39.

[11] Louis Althusser, “Louis Althusser Replies to John Lewis,” Australian Left Review 1, no. 38 (1972): 27-28.

[12] Benjamin, Selected Writings, 395.

[13] Perhatikan penegasan Frederich-Wilhelm Marquardt, “Taurat bertentangan dengan kemalasan anti-revolusioner.” H. Martin Rumscheidt, ” ‘Cross Over to Macedonia and Help Us!’ What is the Help Frederich-Wilhelm Marquardt May Bring Us Over Here?” dalam Theological Audacities: Selected Essays, ed. Andreas Pangritz dan Paul S. Chung, Princeton Theological Monograph Series 137 (Eugene: Pickwick, 2010), xiiii.

[14] Dick Boer, Deliverance from Slavery: Attempting a Biblical Theology in the Service of Liberation, terj. Rebecca Pohl (Chicago: Haymarket, 2017), bab 7.

[15] Benjamin, Selected Writings, 397.

[16] Max Lane, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah dan Politik, terj. Saut Pasaribu (Yogyakarta: Djaman Baroe, 2017), 46.

[17] Lane, Indonesia, 43.

[18] Benedict Anderson, Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, terj. Jiman Rumbo (Serpong: Marjin Kiri, 2018).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus