Jutaan Orang Bahkan Tidak Menyadari Ketimpangan Struktural Bukan Bacotan Buku Kiri Belaka

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf, “I will paint living people who breath and feel and suffer and love”. Karya-karyanya dapat dijumpai di sini


ADA kalanya saya ingin menepuk punggung seseorang untuk melipur laranya namun bukan dengan tangan saya. Saya ingin menepuk punggung mereka dengan morning star.

Lima tahun silam, seorang kenalan—sebut saja namanya Totoro—datang ke rapat dengan raut muram durja. Hari itu, nama-nama komisaris baru BUMN diumumkan. Komisaris-komisaris orang dekat SBY digantikan dengan deretan nama dari tim relawan pemenangan Jokowi. Salah satu komisaris yang baru diangkat? Teman dekat Totoro.

“Kok dia bisa-bisanya terpilih?” omel Totoro.

Totoro merasa kawannya itu tak cukup kompeten untuk jabatan bersangkutan. Saya tak tahu detail hubungan mereka. Namun, saya tahu, ada perkara yang lebih personal. Totoro tak sekadar merasa kawannya tidak becus. Kecemburuan juga terpapar di dahi Totoro bak papan pengumuman.

Totoro sendiri bukan orang yang betul-betul becus dalam pekerjaannya. Ia adalah doktor ilmu politik. Ia dimandati tanggung jawab sebagai frontman untuk berurusan dengan klien dalam beberapa pekerjaan kami. Akan tetapi, ketidakbecusannya mengakibatkan saya, pekerja balik layar, acap harus mengambil alih tanggung jawab berkomunikasinya.

Totoro tak henti berkeluh kesah sampai kami berpisah. Saya tak berkata apa-apa. Saya tak punya urusan dengan kecemburuannya. Saya tak peduli dengan pengangkatan kawannya—saya menganggapnya sebagai kenyataan politik menjengkelkan Indonesia yang belum ada kaitannya dengan saya. Hanya saja, beberapa waktu selepas saya tak berurusan dengan Totoro, saya mendapat kabar ia dipanggil oleh istana. Ia diangkat sebagai tim komunikasi Presiden.

Saya geleng-geleng. Saya tak cemburu. Saya hanya berharap kemarin-kemarin ketika Totoro terpukul di depan saya, di tangan saya terdapat senjata dari abad pertengahan.

Saya akan menepuk-nepuk punggungnya dengan itu.

***

Saya yakin, kejengkelan semacam bukan perasaan saya sendiri. Hidup ini tidak adil. Dan ia jadi lebih menjengkelkan lagi ketika orang-orang bersikeras ketimpangan semacam tidak ada. Di hadapan kita terbentang lintasan lari lurus. Semua dianggap berlomba lari dari titik mulai yang sama.

Seorang warganet acak pernah mengomentari tulisan saya sebagai ekspresi kesinisan orang-orang kiri yang tidak akan membawa saya ke mana-mana. Ah, tahu apa? Ketahuilah ini: Totoro bahkan tak memerlukan keahlian seminimal kemampuan menulis untuk terangkut menjadi tim komunikasi orang nomor satu Indonesia. Rekrutmen untuk menyaring penulis majalah pusat perbelanjaan tak bergengsi pinggiran kota bahkan masih lebih didasari asas meritokrasi.

Kawan Totoro yang menjadi komisaris BUMN? Saya tidak kenal dengannya. Namun, bila seseorang yang tersertifikasi tidak kompeten sudah bicara tentang ketidakkompetenan orang lain, saya tentu tidak bisa menampiknya.

Dan lima tahun selepas ritual bagi-bagi bancakan itu, kini Anda melihat semuanya kembali diputar ulang di depan mata Anda. Pejabat-pejabat dipilih ibarat memilih teman untuk kerja kelompok sekolah.

Fachrul Razi, menteri agama, ditunjuk lantaran dikenal sebagai penceramah semasa dinasnya dan, ehem, beredar di orbit pergaulan Luhut Binsar Panjaitan.

Fadjroel Rachman, jubir presiden, dipilih karena… berpengalaman sebagai komisaris di bidang konstruksi dan aktivis? Oh, maaf, karena ia punya banyak pengikut di Twitter, getol perang cuit, dan dekat dengan Jokowi.

Dan ketika hulubalang-hulubalang yang “ikhlas” membantu kampanye Jokowi mulai menunjukkan gelagat kecewa karena kursi menteri sudah penuh? Kejutan, kursi wakil menteri kini tersedia.

“Bung Geger ini masih saja bisanya sinis. Tak bisakah Bung Geger memperhatikan orang-0rang yang mulai dari nol? Orang-orang ini ada lho.”

Oh, tentu saja saya memperhatikan mereka. Saya memperhatikan Hary Tanoesoedibjo, dan Chairul Tanjung. Angela Tanoesudibjo dan Putri Tanjung tidak mulai dari nol. Namun, ayahanda mereka? Anda bisa memuji-muji dan mencium kaki ayahanda mereka. Chairul Tanjung dilahirkan di keluarga yang sehari-harinya makan singkong, katanya. Hary Tanoesoedibjo sempat menjadi tukang suruh yang pekerjaannya menenteng tas, katanya.

Sayangnya, rahasia bisnis yang paling mujarab biasanya adalah yang paling dijaga dari kebocoran. Dan Chairul Tanjung maupun Hary Tanoesoedibjo adalah orang dekat Anthony Salim di hari-hari mereka merintis bisnisnya. Bisnis Chairul Tanjung terkerek Bank Mega. Dan, konon, sosok yang membekingi Chairul Tanjung membeli Bank Mega adalah Anthony Salim yang waktu itu baru saja kehilangan BCA. Investasi-investasi paling basah Chairul Tanjung lainnya pun dilakukan dalam kemitraan dengan Anthony Salim. Hary Tanoesoedibjo? Hary Tanoesoedibjo secara rutin memenangi pembelian aset-aset grup Salim. Salah satunya adalah perusahaan induk Indomaret.

Oh, siapa Anthony Salim tanya Anda? Ia adalah anak dari Sudono Salim atau Liem Sioe Liong. Liem Sioe Liong awalnya adalah pemasok logistik tentara. Ia diperkenalkan dengan Soeharto oleh perwira logistik sepupu sosok yang kelak menjadi presiden kedua Indonesia itu. Ia akan menjadi pilar bisnis keluarga Suharto selepasnya. Ia mendapatkan monopoli dalam sejumlah bisnis berkat intervensi Suharto. Setiap kali imperium bisnisnya bermasalah, negara Orde Baru akan dengan gesit mengucurkan bailout.

Semua menjadi lingkaran yang utuh.

“Tapi, Bung Geger,” timpal musuh imajiner saya, “saya juga baca buku yang Bung baca! Liem Sioe Liong awalnya dikenal di lingkungan tentara karena ia cekatan, disiplin, dan ulet. Artinya, tesis Bung bahwa keberhasilan selalu dikerek relasi tak sepenuhnya kena dong!”

Baiklah, taipan-taipan tertentu punya kegesitan inheren. Seheboh apa pun relasi yang dimilikinya, tanpa kualitas diri ini imperium bisnisnya tidak akan pernah berdiri, apalagi mapan. Namun, bisakah kita menghitung peluang realistis seseorang bertemu dengan presiden dalam hidupnya dan bukan sekadar untuk selfie bareng? Bisakah kita menghitung peluang seorang wirausaha kecil dengan semangat hidup meluap-luap masuk ke lingkaran dalam orang-orang paling berpengaruh negeri dan situasi sejarah mendukung ia bertubi-tubi mendapatkan megaproyek dari mereka?

Nyaris nol persen. Dan kian kemari, percayalah, peluang itu kian tertutup. Konglomerat dan politisi kian canggih dalam memonopoli kesempatan-kesempatan sukses paling moncor dan menyerahkannya kepada sanak saudaranya belaka.

Ada segelintir anak muda yang gilang-gemilang bisnisnya? Latar belakang mereka tidak akan berbohong. Akan ada nama besar di belakang mereka. Sebanyak apa pun mereka mencoba berbisnis dan gagal, mereka selalu punya nyawa cadangan. Orang tuanya akan senantiasa ada di belakang untuk meniupkan kepada mereka kehidupan yang baru. Tak heran kalau satu-dua dari mereka punya startup yang berjaya.

Saya gagal berbisnis dengan investasi ratusan juta yang saya pinjam dari bank? Saya mati. Kebanyakan kita tak punya kesempatan kedua untuk bangkit dari kegagalan finansial spektakuler sebagaimana orang-orang yang lebih beruntung itu. Ayah saya hancur karena terlalu percaya dengan perdagangan saham jangka pendek. Petani terjerat hutang besar karena gagal panen.

***

Namun, keberadaan insan-insan seperti musuh imajiner saya adalah hal wajar. Bacot orang-orang seperti beliau ini adalah hal wajar. Pemakluman terhadap ketimpangan pendapatan adalah hal yang wajar di masyarakat yang lebih timpang ketimbang masyarakat yang lebih setara. Warga masyarakat yang lebih timpang cenderung merasa keberhasilan orang menduduki strata sosial tinggi ditentukan oleh kerja keras. Warga masyarakat yang lebih timpang juga lebih menemukan pemenuhan dan kepuasan lewat panjat sosial.

Saya bisa membayangkan suatu hari Totoro menerbitkan buku kisah sukses, karenanya. Cerita kesuksesan hidup yang ditulis orang dalam istana? Siapa yang tidak akan tertarik dengannya dalam masyarakat yang mengelu-elukan kisah panjat sosial yang berhasil? Hanya saja, saya berharap, saya bisa menjahili deskripsi belakang bukunya sebelum terbit. “Sebuah kisah inspiratif tim komunikasi istana yang tak bisa berkomunikasi. Satu-satunya komunikasi yang dilakukannya adalah meminta istana memanggilnya.”

Terdengar menarik bukan?

Dan deskripsi belakang buku semacam bisa kita pakai seandainya pengusaha dan pejabat anak-anak pengusaha dan pejabat terdahulu ingin menerbitkan cerita hidupnya. “Cerita perjuangan hidup seorang insan yang perjuangan paling beratnya adalah meminta restu dan modal dari orang tuanya.”

Oh, saya sinis? Benar, saya sinis. Dan saya akan terus sinis selama jutaan orang tidak menyadari mereka tak akan pernah bisa menghasilkan seribu dolar setiap hari. Selama jutaan orang tidak menyadari net worth megah mensyaratkan nama belakang tertentu. Selama jutaan orang tidak menyadari biografi-biografi kesuksesan adalah pameran ego yang tidak ada isinya.

Budi Setiawan adalah sosok fiktif. Aktor pemerannya saja menganggapnya guyonan.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus