Kepada-Nya Kami (Menolak) Berserah Diri

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Fabian Suchanek


MELELAHKAN harus memacu motor sepanjang Jalan Kaliurang: motor dan mobil yang saling berdempetan membuat udara terasa padat dan pekat. Maka, kelegaan timbul sedikit pada diri saya barang bisa melepaskan diri dari keramaian jalan menuju sebuah kafe kecil. Seorang teman telah menunggu di sana untuk wawancara dan, seperti yang telah saya duga, ia—Gilang namanya—telah tampak duduk di bawah cahaya lampu kafe saat saya sampai. Ia menghadap laptopnya dengan serius, gelas kopinya setengah kosong. Ia boleh jadi terlihat seperti pengunjung tipikal kafe ini. Namun, barangkali ada satu perbedaan besar yang tak kasat mata: bahwa, tak seperti kebanyakan pengunjung kafe, rasa percayanya terhadap Tuhan telah menguap tak bersisa.

Lama tak bersua dengannya, saya menghampirinya dengan senyum canggung mengambang dan berbasa-basi sejenak. Tak lama bagi kami untuk sampai kepada bahasan utama, yaitu ketidakpercayaannya pada Tuhan. Merasa waswas orang-orang akan mencuri dengar pembicaraan sensitif ini, saya bertanya kepada Gilang apakah ia nyaman untuk mengobrol di dalam kafe. Setengah tersenyum usil, ia menjawab saya:

“Tenang saja, aku sudah pernah terlibat argumen dengan orang asing tentang itu di tempat ini.”

Di negara di mana kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama diwajibkan oleh pemerintah, religiusitas telah lama berada di bawah lampu sorot dalam diskursus lanskap sosial Indonesia. Agama memang menjadi sesuatu yang sangat mudah ditemukan dalam keseharian di negara ini: di sinilah tempat di mana masjid dan gereja dapat ditemukan berdiri berseberangan, di mana lentera melayang pelan bak ubur-ubur saat Hari Waisak, namun di satu sisi juga di mana orang-orang berdemonstrasi dan mendukung penuh sistem negara Islam yang absolut. Hasil survei dari Varkey Foundation membuktikan bagaimana agama menjadi aspek penting di Indonesia: dari 200.000 informan yang lahir antara tahun 1999 – 2001, 93% meyakini bahwa agama merupakan sumber kebahagiaan mereka.

Namun demikian, hanya sedikit yang kita tahu mengenai kelompok 7% sisanya—yaitu, kelompok dengan orang-orang seperti Gilang yang berani berkata bahwa agama bukanlah sumber dari kebahagiaan mereka. Di negara dengan visibilitas religius yang tinggi seperti Indonesia, anak-anak muda ireligius pun rupanya toh tetap ada di sana; tersembunyi di balik doa-doa shalat Jumat dan dentang-denting lonceng gereja. Mereka hidup di bawah bayang-bayang, jauh dari perhatian orang-orang, dan tak jarang menjalani kehidupan ganda yang dilematis. Sikap ini tentu dapat dipahami mengingat hukum dan masyarakat Indonesia yang melihat ireligiustias sebagai sesuatu yang tidak selaras dengan ide tentang “menjadi Indonesia”. Undang-undang Indonesia, misalnya, melarang warga negara untuk mengkritisi (atau menistakan, dalam bahasa undang-undang) agama dan menyebarkan ideologi ateis. Dengan salah satu tujuan pendidikan nasional berupa pengembangan iman dan takwa siswa, posisi yang bias dan ofensif terhadap ireligiustitas kerap kali dimunculkan secara sadar pada latar pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, Universitas Gadjah Mada pernah menerbitkan sebuah artikel menanggapi disertasi seorang doktor filsafat yang berjudul “Menangkal ateisme melalui penguatan ideologi Pancasila” pada tahun 2017 silam.

Di negara yang terlampau ganas terhadap ireligiusitas ini, kisah apa saja yang ada di balik anak-anak muda Indonesia yang memilih untuk tidak mempercayai tuhan maupun agama apapun? Bagaimana pula mereka harus bertahan dalam keseharian mereka?


Berpisah dengan Tuhan

Adalah sebuah kontrak tak terelakkan bagi anak-anak Indonesia untuk dimasukkan dalam sebuah komunitas keagamaan semenjak mereka lahir. Semenjak saat itu, agama menjadi sesuatu yang tak terhindarkan dalam hidup mereka di masa depan: menyelongsongi mereka dalam bentuk ceramah pagi di televisi hingga kewajiban untuk berdoa sebelum kelas dimulai.

Namun demikian, kecintaan terhadap Tuhan dan agama tidak selalu tumbuh dalam hati mereka. Dalam beberapa kasus, rasa ini alih-alih mengering—bahkan mati. Beberapa mahasiswa ireligius di Yogyakarta, yang saya wawancarai untuk esai ini pada tahun 2018, berkata kepada saya bahwa keputusan mereka untuk megucapkan selamat tinggal pada Tuhan jamaknya bermula pada rasa kecewa yang muncul terhadap Tuhan ketika mereka masih percaya.

Sebelum terjun lebih dalam, saya kira perlu ditekankan bahwa ireligiusitas di Indonesia mencakup spektrum yang sangat luas. Beberapa orang, misalnya, menolak sama sekali untuk mempercayai konsep Tuhan dan agama; beberapanya percaya kepada Tuhan namun tidak untuk agama; beberapa lagi mempercayai adanya kekuatan non-Tuhan di atas manusia; dan ada pula yang mempercayai Tuhan namun berpikir bahwa beribadah hanya buang-buang waktu saja. Dua informan saya misalnya, Rosita dan Joan, tidak percaya kepada Tuhan dan agama kendati mereka menolak untuk digolongkan dalam sebuah kelompok yang saklek. Mereka berdua memiliki pengalaman buruk dengan perundungan di sekolah dan pada waktu-waktu itulah kekecewaan mereka terhadap Tuhan mulai menyeruak keluar. Doa-doa yang mereka kirimkan tidak terjawab, berkebalikan dengan apa yang mereka percayai selama ini: bahwa Tuhan bersama orang-orang yang tertindas dan sengsara. Kasus ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami olah Kaka, yang toh tetap mengalami kekalutan pikiran yang parah kendati ia telah berdoa dengan khusyuk menjelang masa ujian akhir. Dalam kasus Gilang, adalah kepedihan patah hati yang membuatnya kecewa kepada Tuhan. Ia sempat berkencan dengan seorang gadis Kristiani selama bertahun-tahun sampai akhirnya orang tuanya memintanya untuk mengakhiri hubungan percintaan tersebut—tentu atas alasan bahwa pernikahan antaragama tidak sejalan dengan ide-ide Islam. Hal ini lantas membuatnya bertanya-tanya: kalau Tuhan memanglah baik, mengapa Ia harus memisahkan dua sejoli hanya karena mereka berdua memuja-Nya dengan cara yang berbeda?

Perlahan tapi pasti, kekecewaan ini beralih wujud menjadi sebentuk skeptisisme terhadap logika agama. Perempuan eks-Muslim terutama menjadi kelompok yang skeptikal dengan bagaimana Islam lebih memihak laki-laki ketimbang perempuan. Joan, misalnya, merasa tidak nyaman dengan fakta bahwa Islam tidak memiliki rasul perempuan. Bagi Janice, seorang pegawai negeri yang menyebut dirinya ateis, Islam sangatlah patriarkis. Sepanjang perjalanan Gilang menjadi seorang yang ireligius, ia juga merasa bahwa kreasonisme dalam Islam tidak masuk akal sama sekali dibandingkan evolusionisme.

Pada satu titik yang sangat menentukan, semua pertanyaan ini lantas mendorong mereka untuk terjun ke dalam jurang ketidakpercayaan. Joan dan Gilang mengaku bahwa mereka merasa lebih bebas untuk berpikir tanpa merasa takut berdosa. Janice pun berbagi pendapat yang sama—setelah bertahun-tahun menjelajahi berbagai rupa religiusitas, ia memutuskan bahwa menjadi seseroang yang sama sekali tidak percaya membuatnya nyaman dengan dirinya sendiri.

Namun demikian, perlu diingat bahwa keputusan untuk menjadi seseorang yang ireligius tidaklah gratis. Harga yang harus dibayar oleh mereka yang tidak percaya, umumnya, adalah bahwa mereka harus senantiasa menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan. Sebagaimana yang Timo Duile katakan: anak-anak muda ini harus memainkan “multiple identities”—atau identitas ganda. Seringkali, mereka akan berpura-pura untuk melakukan shalat di balik kamar yang tertutup. Selama Ramadhan, mereka tidak terlihat makan dan minum di depan keluarga mereka untuk memberikan kesan bahwa mereka berpuasa. Dalam kasus Arkan, seorang mahasiswa antropologi, kepura-puraan ini melampaui lingkaran teman dan keluarga belaka. Arkan kerap harus turun ke lapangan dan tinggal di sebuah keluarga yang, tak jarang, sangat religius. Demi mendapatkan reputasi yang baik di antara informan, Arkan pun akhirnya harus berpura-pura menjadi pengunjung setia masjid setempat kendati hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsipnya.


Pergulatan-Pergulatan Internal

“Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku berlaku berbeda di depan teman-teman dan di depan orang tuaku.”

Hening merebak sejenak sebelum suara serak Gilang—yang waktu itu baru saja bangun tidur nun di sana—menggema lagi di ujung telepon.

“Pada teman-temanku, aku merasa tidak punya—kasarannya—kewajiban moral apapun. Tapi, orang tua berbeda. Mereka sudah banyak melakukan banyak hal untukku. Aku takut bahwa suatu hari aku akan melihat mereka terluka karena perbuatanku. Ya, memang betul apa yang mereka lakukan—memaksaku menjadi Muslim apapun keadannya—merupakan pelanggaran atas kebebasanku. Tapi lagi, aku paham betul bahwa mereka melakukan itu bukan untuk menekanku, melainkan karena mereka menyangiku. Aku berhak untuk bebas dan mengekspresikan apa yang aku inginkan, tapi mereka juga berhak untuk tidak disakiti setelah bertahun-tahun menyayangiku. Itu sih, dilemaku.”

Untuk kaum muda seperti Gilang, merupakan hal yang jauh dari mudah untuk menjadi ireligius secara terang-terangan. Tidak hanya hukum di Indonesia yang tak ramah terhadap mereka yang tak beragama, pergulatan-pergulanna emosional dan psikologis pun menjadi suatu hal yang membebani dan tak banyak diusung ke permukaan. Terdapat sebentuk dilema, ketakutan, dan rasa malu yang menahan anak-anak muda ireligius untuk mengejawantahkan dirinya dalam bentuk yang sebenar-benarnya.

Perasaan campur-aduk terhadap orang tua menjadi kebingungan emosional nomor satu di antara kaum muda yang tak bertuhan dan tak beragama. Nyaris semua informan yang saya wawancarai dibesarkan oleh orang tua mereka dalam didikan yang agamis. Bagi orang tua mereka, melihat anak-anak tumbuh menjadi orang-orang yang tidak religius merupakan kekecewaan yang amat besar—jika tidak ingin disebut tragedi. Pikiran tentang mengecewakan orang tua bukan hal yang mudah bagi anak-anak muda ini. Mereka pun takut bahwa pengakuan mereka suatu hari kelak akan merusak hubungan kekeluargaan mereka dengan orang tua. Janice, misalnya, sempat mengaku kepada ibunya mengenai posisi religiusnya. Sambil menangis, ibunya menjawabnya: “Lantas siapa yang akan mendoakanku kelak ketika aku meninggal?” Tidak ingin mengungkit luka yang sama, Janice tidak pernah membawa topik ini lagi sama sekali.

Di samping beban emosional, pergulatan psikologis pun juga muncul. Hari-hari pertama kuliah merupakan waktu yang sangat berat untuk Joan. Ketika banyak temannya menemukan ketenangan dalam beribadah, Joan seringkali merasa hilang dan tidak tahu ke mana harus mengadu. Pernah ia memutuskan untuk pergi ke psikolog hanya untuk diwejangi agar lebih banyak berdoa. Merasa malu untuk menjelaskan kalau ia “berbeda”, Joan tidak pernah buka mulut mengenai ketidakreligiusannya dan hal itu membuatnya tidak mendapatkan pertolongan seperti yang dibutuhkan.

Dalam beberapa kasus, adalah rasa takut yang mencekam yang mendominasi. Janice mengaku bahwa ia kerap dihantui ketakutan kalau-kalau cuitannya diketahui oleh atasan. Hal ini lantaran sebagai pegawai negeri, ia diharuskan untuk percaya kepada Tuhan. Gilang juga harus sangat berhati-hati dalam ihwal terbit-menerbitkan tulisannya yang berhaluan nonreligius: akankah tulisannya menyinggung orang-orang, menimbulkan kekacauan, atau lebih buruk—menjebloskannya ke penjara? Sayangnya, rasa takut yang demikian tidak hanya berhenti pada saat itu saja. Ia menjalar, menyentuh aspek-aspek lain dalam kehidupan mereka di masa depan seperti perihal bisa-tidaknya mereka mencalonkan diri sebagai wakil rakyat di Indonesia atau bagaimana mereka harus membesarkan anak mereka kelak di masyarakat yang sangat religius.

Satu pasal yang pasti: selama ireligiusitas masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu serta sumber dari segala kejahatan di Indonesia, pergulatan-pergulatan internal ini akan terus melekati orang-orang muda ini. Namun demikian, hidup harus terus berjalan. Mereka harus tetap bangun saban pagi dalam kepura-puraan untuk mengindari diskriminasi atau bahkan persekusi. Gilang sempat berkata kepada saya bahwa ia masihlah beruntung lantaran ireligiusitas merupakan sesuatu yang dapat disembunyikan rapat. Pertanyaan selanjutnya: hingga kapan gerangan?***


Esai ini sebelumnya diterbitkan dalam Bahasa Inggris di Inside Indonesia Edisi 134, dengan judul “In God we (don’t) trust”. Untuk melindungi identitas informan, semua nama yang tertera merupakan pseudonim. Dipublikasikan ulang di sini untuk tujuan Pendidikan.



×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus