Hancurnya Narasi Otentik Masyarakat Modern (Bagian-2)

Print Friendly, PDF & Email

Potret Hannah Arendt. Kredit foto: thegolfclub.info


Narasi Kerja Masyarakat Modern

SEBELUMNYA pada Bagian-1, telah disinggung bahwa masyarakat modern telah membalikkan dominasi berpikir menjadi bertindak. Tetapi apa yang disebut bertindak dalam pengamatan Arendt adalah tumbuhnya perilaku masyarakat modern yang disibukkan oleh kegiatan kerja dan belanja dan hal itu bahkan mendominasi kehidupan mereka.

Ada pun pengertian tentang kerja (Yunani: ponein) menurut Arendt adalah bagian dari narasi oikos yang dimetaforakan Arendt seperti tubuh manusia. Kerja dibedakan dengan karya (work) yang dimetaforakan tangan (Yunani: ergazesthai).[1] Kerja adalah kedirian manusia yang unik yang berjuang untuk bertahan hidup. Arendt merujuk pada pandangan Aristoteles yang memandang kerja melalui metafora “budak” atau binatang yang terus menerus memenuhi kebutuhan “majikan”nya untuk hidup.  Kerja berkoneksi dengan keprivatan manusia, karena semata untuk melayani kebutuhan kemanusiaannya itu sendiri. Pesoalan itu terbit, menurut  Arendt, ketika masyarakat modern mengaburkan pemisahan antara oikos dan polis atau “yang privat” dan “yang publik”, sehingga kerja bergeser ke ranah polis, dan kerja kemudian berhubungan erat dengan konsumerisme (dalam arti gaya hidup belanja komoditas). Merujuk pada tradisi Yunani purba itu rumah tangga sebagaimana juga tubuh, bekerja untuk melayani kebutuhan dasar fisik manusia dalam rupa makan, perlindungan dan kenyamanan dirinya. Maka dari itu manusia terikat dalam oikos atau tubuhnya, sehingga menjadi tidak bebas. Sebaliknya, ranah polis merupakan ranah kebebasan yang dapat membebaskan manusia dari keterikatannya pada oikos. Namun manusia akan dapat memasuki ranah kebebasan ketika berhasil menjadi “tuan” yang mampu mengatasi hasrat sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup belaka (yang dimetaforakan “budak”) seperti layaknya binatang. Itulah sebabnya, menurut Arendt (menggarisbawahi Aristoteles), manusia akan menemukan kebebasannya dalam komunitas yang berada di ranah publik. Ranah publik adalah ranah pembebasan untuk menjadi manusia yang otentik.[2]

Invasi  kerja ke ranah publik, menurut Arendt, merupakan titik tolak bencana yang dialami masyarakat modern. Masyarakat modern yang kini hidup didominasi untuk kerja telah terpenjara di ranah publik, di ruang komunal, sehingga mereka tidak mampu berpartisipasi untuk membuat tindakan yang politik.  Maka mereka kehilangan identitas kediriannya yang unik dan mengalami alienasi. Padahal ranah publik diyakini Arendt sebagai ranah pembebasan dari kerja dan karya, untuk mencapai tindakan yang politik dan menjadi manusia yang otentik. Maka dengan masuknya kerja ke ranah polis atau publik, diri manusia modern terpenjara sepanjang hidupnya sejak dalam oikos sampai polis. Dari situlah  awal  bencana itu muncul, ketika batas-batas telah hilang antara yang asali dan politik.[3]

Dengan demikian narasi kerja dalam masyarakat modern telah berubah menjadi instrumen narasi totalitarian yang memenjara kebebasan manusia di ranah publik. Narasi manusia modern bergerak antara waktu kerja untuk produksi komoditas (buruh) dan waktu kerja untuk konsumsi komoditas (belanja). Arendt menyontohkan narasi siklus konsumsi yang paling kasar, yakni makan.  Kerja dan makan merupakan siklus, di mana kerja memproduksi komoditas, dan kemudian komoditas itu kita makan dan kita buang menjadi tai yang terurai dan bersenyawa dengan unsur alam lainnya menjadi materi. Materi itu kita caplok untuk produksi komoditas lagi (reproduksi), dan kemudian kita makan, dan seterusrnya.[4]

Narasi konsumsi itu digambarkan dalam “Ullyses” karya James Joice yang menarasikan seorang pahlawan bernama Leopold Bloom yang pada saat makan siang di sebuah kafe, merenungkan tentang keindahan tubuh manusia dan kebutuhan makan. Bagi Bloom keindahan adalah lekuk tubuh perempuan yang direpresentasikan oleh kecantikan Dewi Venus. Bentuk kecantikan tubuh yang ideal ini berkebalikan dengan tubuh yang kita sadari, tubuh manusia yang fana, yang mirip mesin bergerak mengikuti siklus yang digambarkan Joice: memasukkan makan dari satu lubang dan mengeluarkan ampas makanan dari lubang yang lain. Narasi Joice ini sebangun dengan narasi Arendt tentang kerja dan konsumerisme masyarakat modern, bahwa bencana itu terjadi ketika diri manusia modern menjadi mesin yang bergerak mengikuti siklus kebutuhan hidup belaka. Maka dari itu manusia modern terhambat untuk mencapai tindakan yang otentik, yakni pembebasan yang diidamkan Arendt[5].

Padahal menurut Arendt, kondisi asali kehidupan manusia adalah keterbatasannya yang terentang antara kelahiran dan kematian. Oleh sebab itu,  yang asali dari manusia hidup adalah memaknai narasi awal dan akhir yang disebutnya “pengakuan kisah-hidup dari awal hingga akhir”. Narasi tentang kehidupan diri manusia bukan dikisahkan oleh dirinya, melainkan dituturkan oleh orang lain. Kita saling menuturkankan tentang kehidupan yang terbatas dan mengakui keterbatasan itu, tetapi penuturan atas kita sebagai individu itulah yang senantiasa mengalami kelahiran kembali (reproduksi). Hal ini bukanlah ketakterbatasan, keterbatasan itu mengalami proses reproduksi terus menerus. Maka dari itu  Arendt memperkenalkan tentang konsep natalitas, sebagai kemampuan kondisi manusia untuk bereproduksi dalam tantangan dan persoalan kepublikan (bukan melarikan diri kepada sesuatu yang abstrak dan absolut, seperti misalnya aspek keilahiyahan).[6]

Maka kita dapat membayangkan bencana yang dialami manusia modern yang terpenjara dalam narasi kerja, yang tak mempunyai kesempatan untuk memaknai narasi hidupnya dari awal hingga akhir –menjadi tuturan orang lain sebagai anggota masyarakat. Seluruh kesibukan dirinya tak lagi untuk menjadikan dirinya mencapai tindakan yang bermakna otentik melainkan untuk menjadi tai yang dibuang begitu saja. Jika hal itu kita refleksikan pada Germinal karya Zola, maka sungguh miris bahwa modernitas justru menciptakan kondisi kemiskinan yang memenjara keluarga-keluarga buruh dalam industri pertambangan yang di dalamnya diwarnai kekerasan fisik dan seksual. Kerja yang dilakukan oleh buruh itu tak lebih dari tai, sedangkan tubuh mereka yang menjadi sarana bagi kerja adalah oikos yang terpenjara dalam industri pertambangan. Maka dapat dibayangkan, apabila mereka tak melakukan pembangkangan sosial melawan tuan mandor, mereka akan kehilangan narasi dirinya. Tetapi Zola berpikir, seperti halnya Arendt, yang masih memercayai harapan atau natalitas. Sesuai dengan Germinal (kalender Revolusi Prancis) yang artinya adalah musim semi, musim bertumbuh atau kelahiran baru, maka Zola mengubah narasi kerja menjadi narasi (tindakan) politik, di mana buruh-buruh dalam pertambangan itu berhasil melawan tuan mandornya yang kejam.

Tetapi Arendt, menurut Swift, berbeda dengan Marx, karena pendekatan fenomenologinya bukan untuk menempatkan kerja (dan tenaganya) sebagai suatu kelas dalam struktur kapitalisme. Arendt menempatkan kerja secara fenomenologis sebagai kegiatan manusia yang menghubungkan dirinya dengan dunia dan sebagai bagian dari kondisi asali manusia. Oleh sebab itu, Arendt tidak menawarkan pembebasan kelas, melainkan pembebasan kegiatan kerja itu sendiri.

Sebagai tambahan, saya pikir, ada penilaian Swift terhadap Arendt yang perlu diangkat di sini. Ketika membaca narasi Arendt ia dapat melihat adanya perbedaan pandangan antara Arendt sebagai perempuan dan Heidegger sebagai laki-laki terhadap pembebasan (publik), dan pola itu serupa dalam perbandingan antara karya T.S. Elliot dengan Virginia Woolf. Heidegger memandang ranah publik tidak otentik, karena merupakan kerumunan sosial, di mana dalam hal pengalaman kematian menjadi milik umum. Padahal kematian, menurut Heidegger, adalah milik diri sendiri, sebagai cara otentik untuk menyadari tentang yang asali dari diri sendiri. Maka dari itu ruang publik, bagi Heidegger, bukan ruang pembebasan diri. Sebaliknya Arendt berpendapat bahwa ruang publik adalah ruang pembebasan untuk menemukan diri yang otentik. Kematian dipandang Arendt sebagai suatu peristiwa yang memaknai diri atau individu berakar pada komunitas, milik sebuah komunitas, sehingga kematian bukanlah isolasi diri, melainkan petanda yang memungkinkan percakapan sebuah narasi diri di mulai. Barangkali pandangan Arendt ini dapat dicontohkan pada munculnya orang-orang yang mulai mempercakapkan tentang si mati, misalnya, sebagai orang yang baik, orang yang setia pada hidup sederhana sekali pun dihina keluarganya, di mana pada saat si mati masih hidup justru tak ada narasi mengenai dirinya.  

Cara pandang Heidegger itu senada dengan  T.S. Elliot yang menunjukkan konsistensi  imaginasi (laki-laki) : (…) dalam kerumunan manusia yang begitu banyak melewati Jembatan London, kematian menjadi hilang, terlepas dalam kerumunan (….), yang berkebalikan dengan Virginia Woolf yang menyatakan: (…) kematian adalah sebuah upaya untuk berkomunikasi, perasaan orang pada ketidakmungkinan mencapai puncak yang mistis (….).[7]


Rangkuman dan Refleksi

Swift mendaku bahwa karya Arendt adalah sebuah narasi yang dapat digunakan untuk pengembangan studi sastra. Karya Arendt ia golongkan ke dalam biografi kritis yang unik karena Arendt menulis dengan menyertakan dirinya di dalam tulisannya sebagai subjek tanpa bermaksud menulis otobiografi. Sementara Arendt tak hanya memberikan kesaksian dan pengamatannya terhadap bencana-bencana kemanusiaan sepanjang abad 20, melainkan juga mengkritik tradisi metafisika Barat dan kategori-kategori dalam filsafat yang tetap dianut masyarakat modern.

Metafisika yang dikritiknya adalah metafisika yang membawa manusia terasing dalam dunia dan kemudian melarikan diri ke ranah idea yang absolut. Maka dari itu bagi metafisika ini berpikir kontemplatif lebih mulia nilainya ketimbang bertindak. Sementara masyarakat modern telah berhasil membalik bertindak lebih tinggi nilainya ketimbang berpikir. Tetapi metafisika kuno itu bertransformasi menjelma menjadi mitos masyarakat modern, di mana kemajuan teknologi yang mampu menembus batasan ruang, hanyalah pelarian manusia dari keterasingannya di bumi untuk menggapai angkasa yang tak terbatas dan non-manusia. Manusia modern seperti halnya nenek moyang yang hidup bersama mitos dewa-dewi di angkasa raya.

Selain menjadi manusia yang tetap terasing di dunia, masyarakat modern telah mencerabut kerja yang seharusnya bersifat privat dan berada di ruang privat, menjadi publik. Hal ini menimbulkan bencana. Sebab, masyarakat modern yang berhasil membalik bertindak lebih dominan terhadap kerja, namun yang terjadi adalah mereka dikuasai oleh kerja dan belanja dalam kegiatan hidupnya. Padahal kerja tak lebih merupakan kegiatan binatang mencari makan (animal laborans) tetapi justru hal itu yang dominan. Akibatnya masyarakat modern tidak sempat melakukan tindakan yang otentik, yaitu melakukan kegiatan politik atau kepublikan untuk menciptakan narasi bagi dirinya. Akibatnya masyarakat modern hidup tanpa makna dan narasi.

Swift menilai kekhasan Arendt sebagai pemikir perempuan yang serupa dengan pemikir perempuan lainnya, yang umumnya dipengaruhi oleh konsep natalitas dalam mengatasi keterbatasan manusia. Hal ini berkebalikan dengan, contohnya Heidegger dan pemikir laki-laki lainnya, yang selalu berpola pada konsepsi mortalitas dalam mengatasi keterbatasan tersebut. Maka ketika Arendt memandang krisis masyarakat modern, Arendt memercayai bahwa pembebasan itu adalah proses natalitas naratif yang terjadi dalam kepublikan ketimbang dalam keprivatan.

Tetapi bagaimana mungkin masyarakat modern akan memiliki kesempatan untuk mereproduksi narasi-narasinya (natalitas), apabila kehidupannya telah dipenjara dan ditindas oleh kerja yang nilainya sebatas animal laborans. Kerja telah merampaskehidupan masyarakat modern sehingga tak sempat menciptakan narasi otentiknya (politik dalam kepublikan), dan akibatnya bukan natalitas yang terjadi melainkan bencana katastropi.

Pandangan Arendt ini menurut saya sungguh memadai dalam menjelaskan persoalan manusia yang terasing sekaligus tertindas secara non-struktural. Dalam hal ini justru Arendt dapat menjawab sumber bencana katastropi karena masyarakat modern tak mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan natalitas, dan kehilangan narasi dirinya dalam komunitas. Karena itu masyarakat modern selalu ingin melarikan diri dari realitas kepublikannya dan menyerahkan diri kepada sesuatu yang abstrak dan abslout. Kita dapat menyaksikan bagaimana masyarakat modern saat ini hidup dalam dunia maya media sosial ketimbang dunia realitas yang nyata, yang tak lain adalah cermin pelarian dari keterasingannya di dunia karena telah dijajah oleh kerja.

Namun demikian kita dapat mempertanyakan pemikiran Arendt yang, menurut saya, dapat ‘berbahaya’ dalam konteks tindakan politik. Arendt tampak begitu ‘naif’ ketika tak memperjelas “siapa” yang otentik dalam bertindak politik.[8] Seperti kita tahu bahwa dalam ranah politik akan terjadi kontestasi atas keberagaman kepentingan. Faktanya, dalam pengalaman sejarah selama ini yang mempunyai peluang untuk melakukan tindakan otentik (politik) adalah kelompok masyarakat yang memiliki power (bahkan mungkin menciptakan atau menggunakan mesin otoritarian). Tidakkah hal itu berarti hanya orang-orang yang memiliki kekuasaan tersebutlah yang mampu menciptakan narasi dirinya secara otentik? Tidakkah kemudian Hittler, penguasa yang menghabisi ras Yahudi –di mana Arendt adalah korbannya, suka atau tidak suka ia telah menciptakan narasi dirinya yang dibicarakan orang sepanjang masa? Justru pemikiran Arendt yang fenomenologis ini akan terasa utuh apabila dikawinkan dengan pemikiran yang struktural, yang memperjelas “siapa” yang otentik bertindak politik.***


Kepustakaan:

Arendt, Hannah, The Human Condition, chapter III “Labour”, (Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1958)

Kristeva, Julia, Hannah Arendt: Life is a Narrative, terjemahan ke dalam Inggris oleh Frank Collins(Toronto and London: University of Toronto Press, 2001)

Swift, Simon, Hannah Arendt, (London and New York: Routledge, 2008)


————


[1] Hannah Arendt, The Human Condition, chapter III “Labour”, (Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1958). hal 79-81

[2] Swift, Hannah Arendt , op.cit, hal 66

[3] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 67-68

[4] Swift, Hannah Arendt, op.cit, hal 67

[5] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 67-68

[6] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 62

[7] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 63-64

[8] Gugatan ini dapat pula dibaca pada karya Julia Kristeva, Hannah Arendt: Life is a Narrative, terjemahan ke dalam Inggris oleh Frank Collins(Toronto and London: University of Toronto Press, 2001)

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus