Hancurnya Narasi Otentik Masyarakat Modern (Bagian-1)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: The Partially Examined Life


APA yang mendominasi keresahan Hannah Arendt terhadap peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam masyarakat modern abad 20?  Ada dua hal, yang pertama adalah keterasingan manusia hidup di dunia, dan yang kedua adalah berkembang-tumbuhnya totalitarian. Kedua konsep kunci ini telah menimbulkan krisis dalam masyarakat modern yang hidup tanpa makna dan telah dijajah oleh kerja (labour), belanja dan mesin totalitarian.

Kiranya kita dapat menjenguk sejenak pada karya Émile Zola, Germinal (1885), yang menggambarkan kondisi buruk kehidupan buruh pertambangan di Montsou, Prancis Utara. Mereka hidup di abad industri yang modern, jutru menjadi representasi dari masyarakat yang tertindas oleh mesin kuasa dalam struktur industri. Tubuh mereka telah menjadi komoditas kerja dan hak milik pribadi pemberi kerja, sementara kerja bagi mereka adalah untuk mendapatkan nafkah (uang) yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan kata lain, buruh pertambangan itu seluruh hidupnya telah terpenjara dalam kerja, dan kegiatan kerja pun menjadi dominan dalam masyarakat modern. Inilah salah satu sudut panggung gambaran masyarakat modern yang dipersoalkan Arendt, yang menurutnya telah mengingkari ontologi kerja itu sendiri.

Tulisan ini menuturkan kembali ulasan Simon Swift[1] tentang Hannah Arendt yang sebenarnya tidak secara khusus membahas tentang kerja. Swift, seorang profesor di bidang sastra, menawarkan metode tutur (storytelling) untuk membaca Arendt, sehingga kita dapat merasakan karya Arendt sebagai teks yang hidup atau karya sastra yang radikal dalam menghardik tradisi filsafat dan politik modern. Struktur ulasan akan dibagi menjadi tiga bagian: (1) mengulas argumen Swift yang mendaku bahwa seluruh karya Arendt adalah narasi; (2) metafisika masyarakat modern menurut Arendt;  (3) narasi kerja masyarakat modern menurut Arendt; dan (4) rangkuman yang berasal dari catatan Swift dan penulis.


Bernarasi Menolak Teori

Sebelum membahas ke dalam jantung pemikiran Arendt mengenai kerja, perlu kiranya kita memahami mengapa Swift meneguhkan seluruh karya Arendt sebagai karya sastra atau sebagai narasi sejarah, politik, filsafat. Peneguhan Swift itu menarik, karena pada umumnya orang meneguhkan Arendt sebagai filsuf politik. Swift terlihat ingin lebih jauh dari sekedar itu, karena karya Arendt tak dapat ditafsirkan menurut satu atau dua pendekatan. Karya Arendt adalah multi-penafsiran, justru karena Arendt menggunakan pendekatan fenomenologi melalui metode narasi untuk menilai fakta krisis yang melanda Eropa abad 20.

Pada pengantar tulisannya, Swift mengakui bahwa Arendt adalah seorang pemikir penting bagi siapa pun pembaca yang ingin merasakan kisah traumatik dalam sejarah Eropa abad 20. Darinya pula kita akan mendapatkan pencerahan untuk memahami  bencana yang tak pernah diduga siapa pun penggagas dan pendukung modernitas –sebagai karya dari abad Pencerahan. Dalam posisi ini Arendt bertindak sebagai narator atau penutur (penyerita) yang menuturkan pengalaman pribadinya dalam melewati peristiwa-peristiwa totalitarian dan modernitas di Eropa yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.[2]

Maka tak dapat dipungkiri bahwa sumbangan Arendt sangat besar dalam berbagai lapangan studi yang mencakup filsafat, politik, sejarah modern, kajian budaya (cultural studies), kajian mengenai holokaus dan keyahudian. Tetapi, menurut Swift, masih sedikit yang berupaya untuk meneguhkan sumbangan Arendt dalam studi sastra, padahal karya Arendt di matanya merupakan karya yang bertutur, teks yang hidup, tak ubahnya sebuah biografi. Itulah sebabnya Swift berupaya untuk membawa Arendt ke dalam kajian sastra, secara khusus untuk pengembangan sastra naratif, guna menciptakan rasa sejarah bagi mereka yang memiliki identitas politik dan budaya Eropa[3].

Mungkin tak berlebihan jika Swift mempertegas konteks sejarah Eropa sebagai lokus identitas karena dari sanalah Arendt memulung peristiwa bencana dan menyingkap sumbernya. Sementara dirinya ditempatkan sebagai penutur yang menafsirkan kesaksiannya dalam sejumlah peristiwa tersebut. Lantas Arendt merajut fakta sejarah (peristiwa) dan gagasannya dalam menilai peristiwa seperti sebuah biografi kritis (critical thinker’s life). Maka dari itu Swift menawarkan cara memahami gagasan Arendt adalah dengan memperlakukan karya Arendt sebagai kisah kehidupan seorang pemikir (filsuf), seniman atau pun politisi. Dari situ kita akan memperoleh kata kunci gagasannya, meski Swift membedakan karya ‘biografi kritis’ Arendt dengan karya serupa pada umumnya.[4]

Perlu sedikit disinggung bahwa karya Arendt, menurut Swift, telah melawan produksi teks yang bersikap tiranis –yang seakan-akan kebenaran berpusat pada diri sang pengarang. Menurut Arendt tak ada gagasan yang sungguh murni berasal dari seorang pengarang, melainkan bahwa sebuah gagasan merupakan produksi komunitas. Sebuah karya filsafat mau pun yang setara dengan biografi pengarangnya, sejatinya berasal dari gagasan komunitas yang dikemas oleh pengarang itu. Dalam hal ini Arendt senada dengan Rolland Barthes yang mengkritik komoditas teks dalam masyarakat kapitalis. Komoditas teks adalah permainan untuk memperdaya pembaca, seolah-olah mengajak pembaca membangun keintiman dengan pengarang atau melalui tokoh narasi untuk memperoleh pengetahuan yang tersembunyi di dalam sebuah karya. Relasi itu menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan hak milik pribadi pengarang (yang menjualnya) dan pembaca (yang membelinya.[5]

Dengan demikian Arendt pun telah melawan tirani kepemilikan pribadi atas karya dan perlakuan teks sebagai barang komoditas belanja. Arendt pun berupaya melawan hasrat pembaca untuk masuk ke dalam ranah intim pengarangnya. Kita dapat merasakan pada seluruh karya Arendt, yang meski dinyatakan oleh Swift sebagai biografi kritis, namun tak memberi peluang bagi pembaca untuk menelusup ke dalam kehidupan pribadi Arendt.[6] Di sini, menurut Swift, Arendt telah mempertegas gagasan pemisahan ranah privat dan publik. Karyanya adalah kepublikan dan karena itu ia tak akan mengungkapkan sisi privatnya, dan menjaganya sangat rapat agar pembaca tak menelusup ke dalamnya.

Tetapi karya biografi kritis Arendt tak sekedar sebuah cerita, karena gagasan di dalamnya merupakan pemberontakan yang radikal terhadap krisis masyarakat pada masa itu. Tidak hanya itu, Arendt juga menawarkan jalan keluar dari krisis tersebut (pembebasan). Itu berarti Arendt menciptakan teori, tetapi menurut Swift, Arendt justru menolak teori. Meski tak dipungkiri Arendt telah dipengaruhi oleh teori kritis Heidegger, Marx dan Nietzsche, tetapi Arendt berbeda dengan para pemikir pos-struktuturalis mau pun pos-modernis pada umumnya. Ia dapat membenci tetapi sekaligus menghormati karya Marx dan Marxian lainnya. Ia menghormat pada karya Heidengger, tetapi sekaligus bertolak-belakang dengan karya gurunya tersebut. Menurut Swift, pada dasarnya Arendt ingin keluar dari perangkap yang berembel-embel teori kritis akademis, dan karena itu ia menoleh kepada narasi.[7]

Swift menunjukkan bukti penggunaan metode tutur (storytelling) sebagai pilihan Arendt untuk menoleh kepada seni ketimbang teori. Arendt sendiri mengatakan bahwa tutur yang naratif merupakan tindakan aktif, kreatif dan dinamis, yang diperlawankan dengan yang statis pada tradisi intelektual Barat mengenai apa yang disebut teori. Narasi totalitarian akan banyak mengalami reduksi apabila dipaparkan dalam kemasan teori politik klasik seperti tradisi Barat tersebut. Sementara Arendt mengajak kita menyelam ke kedalaman totalitarian untuk memahami sifat dasar kondisi-kondisi manusia modern dan keunikannya. Arendt sendiri mengatakan bahwa metode tutur membuka diri terhadap berbagai tafsir, bahkan bisa jadi merupakan narasi yang tetap terbuka untuk perdebatan sepanjang masa.[8]

Tetapi Swift mempunyai penilaian lain bahwa Arendt bernarasi dengan metode tutur agar mampu melampaui sejarah pahit yang dialaminya sebagai perempuan Yahudi pada masa Nazi. Fakta adanya pembersihan ras Yahudi yang dilakukan oleh rezim Nazi merupakan pemicu yang  menyadarkannya bahwa ada yang salah dalam modernitas. Kesadaran itu lantas membimbing perlawananannya terhadap kejahatan dunia modern yang dianggap lazim dengan cara bernarasi.[9]


Metafisika Masyarakat Modern

Konsisten dengan peneguhan Swift atas karya Arendt sebagai sebuah narasi, maka konsep-konsep kunci yang dibahas Arendt dalam seluruh karyanya tak lebih dari sebuah narasi pula. Dalam The Human Condition, Arendt membahas tentang tiga konsep kunci yang penting yaitu kerja (labour), karya (work) dan tindakan (action). Tetapi sebelum membahas lebih khusus mengenai salah satu konsep kunci tentang kerja, ada baiknya kita mengikuti plot Swift untuk membedah problem Arendt terhadap metafisika Barat.

Menurut Swift, sasaran bidik Arendt yang diungkapkan dalam The Human Condition adalah tentang dua hal, yang pertama mengenai tradisi filsafat Barat; dan yang kedua kritik terhadap masyarakat modern. Dalam buku itu Arendt mengisahkan bagaimana masyarakat modern memandang dirinya, masyarakatnya, serta tindakan-tindakannya yang dibentuk oleh warisan pandangan filsafat dan teologi Barat yang absolut. Meski telah terjadi upaya dari sejumlah filsuf untuk membongkar warisan masa lalu dan memperbaikinya, tetapi sejatinya belum ada yang mampu memperbaikinya[10]. Ia ungkapkan hal itu pada The Life of Mind:

Saya jelas telah bergabung dengan barisan pemikir yang untuk beberapa lama mencoba membongkar metafisika dan kategori-kategori dalam filsafat, seperti yang kita tahu berasal dari masa Yunani Kuno sampai hari ini. Pembongkaran tersebut (rupanya)  hanya mungkin sampai pada asumsi bahwa benang tradisi itu rusak dan ternyata kita tidak akan mampu memperbaharui itu (LM: 212)[11]

Mengenai pengakuan yang jujur itu, Swift menyejajarkan Arendt dengan Derrida di mana seluruh upaya untuk mendekonstruksi metafisika ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, kategori-kategori filsafat itu telah terwariskan dengan sangat kuat dan menentukan fondasi berpikir dan tindakan masyarakat modern. Metafisika masyarakat modern (baca: Eropa atau Barat) sejatinya mewarisi filsafat yang tumbuh sejak Yunani Kuno dan teologi Kristiani yang terkonstitusi pada abad pertengahan. Teologi Kristiani mengajar orang untuk mengutamakan kehidupan yang kontemplatif dengan berdoa ketimbang bertindak. Serupa pula dengan filsafat yang berakar pada tradisi Yunani Kuno yang mengajarkan orang untuk (berpikir) kontemplatif ke dalam dunia idea yang absolut.  Fondasi berpikir ini terbukti tetap hidup dalam masyarakat modern. Arendt mencontohkan ketika Uni Sovyet mengumumkan peluncuran satelit ke angkasa untuk pertama kalinya di dunia pada 1957, kemajuan teknologi itu ternyata hanya untuk membebaskan diri dari keterbatasan hidup di bumi. Arendt menuduh hal itu sebagai sikap melarikan diri atas keterasingannya di dunia (world alineation), sebagaimana nenek moyang Yunani Kuno melarikan diri ke dalam mitologi dewa-dewi di kerajaan Olympus. Pun orang-orang abad pertengahan  melarikan diri dari kondisi kedagingan manusia kepada ketuhanan. Maka jelaslah manusia modern mewarisi narasi metafisika manusia masa lalu yang berupaya mengatasi ketaksanggupannya menghadapi dirinya yang terasing di bumi dengan cara melarikan diri ke ‘angkasa’ –terbang mengarungi ketakterbatasan yang non-manusia.[12]

Pembongkaran metafisika itu, menurut Swift, menunjukkan adanya dua kata kunci yang dilontarkan Arendt, yaitu mengenai tegangan antara bertindak (acting) dan berpikir (thinking). Bertindak merujuk pada sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai pengada di dalam masyarakatnya. Dalam The Human Condition, Arendt mendeskripsikan bahwa tindakan merupakan cara untuk menyingkap makna manusia dalam menghubungkan dirinya dan diri yang lain di dalam masyarakat. Melalui tindakannya, menurut Arendt, manusia dapat menampakkan dirinya dan merealisasikan yang ada pada dirinya. Cara pengungkapan tindakan itu tak lain melalui seni bertutur atau mendongeng (menceriterakan kembali sebuah cerita), sehingga dalam komunitas tersebut satu sama lain saling mengenal dan memahami makna yang dimiliki anggota masyarakat tersebut. Tetapi bagi Arendt, tindakan yang mengandung makna penuh dan fundamental adalah tindakan yang bermakna politik. Arendt memberikan contoh tindakan yang bermakna politik adalah pembangkangan sosial seperti yang ia tulis dalam karyanya tentang Civil Disobedience (1970). Pembangkangan sosial dalam dekade 1960an sampai dengan 1970an dinilai Arendt sebagai tradisi ‘baru’  (sesudah tradisi revolusi) gerakan massa yang memberi petunjuk adanya krisis dalam otoritas pemerintahan.[13]

Maka dari itu, menurut Arendt, manusia memahami dunianya adalah sebagai publik, di mana mereka dapat mendefinisikan ruangnya dengan cara mendiskusikan kepentingannya. Itulah politik, dan politik adalah kepublikan yang merangkup perbedaan dan keterbatasan kondisi manusia. Manusia bertindak dalam politik atau dalam kepublikannya itu untuk menciptakan narasi dirinya. Maka tindakan yang bermakna adalah yang politik. Sementara sungguh disayang manusia modern yang telah berhasil membalikkan tradisi bertindak lebih dominan ketimbang berpikir, dan menghasilkan karya canggih modernitas di berbagai bidang, tetapi  tindakan mereka dinilai Arendt tanpa makna. Di satu pihak, tindakan mereka tetap seperti manusia pembuangan di dalam dunia, yang getol menciptakan teknologi canggih untuk mentransendensikan dirinya ke alam ‘angkasa’ atau idea. Di lain pihak, kehidupan manusia telah didominasi oleh kegiatan kerja yang, menurut Arendt, senilai dengan keaktifan binatang mencari makan, sehingga terasing dari tindakan (action) yang bermakna otentik, yaitu politik atau kepublikan.[14]***


Bersambung ke bagian-2

—————-


[1] Simon Swift, Hannah Arendt, (London and New York: Routledge, 2008)

[2] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 18-19

[3] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 18-19

[4] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 20

[5] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 24-26

[6] Dalam tafsiran penulis, Swift hendak menegaskan bahwa karya Arendt bukanlah otobiografi, melainkan sebuah biografi tetapi yang ditulisnya sendiri dan ia berada dalam alur peristiwa atau plot cerita. Itulah keunikan dari karya Arendt.

[7] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 28-29

[8] Catatan penulis:  metode tutur biasanya dipergunakan untuk menyeritakan peristiwa yang mengerikan, yang mungkin sulit untuk dibayangkan oleh orang-orang yang tidak mengalaminya. Sebaliknya hanya dengan metode ini penutur dapat  berjarak dari tragedi sejarah sehingga dapat menuturkan pengalaman traumatiknya kepada orang lain.

[9] Swift, Hannah Arendt, op.cit, hal 19-21

[10] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 35

[11] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 35

[12] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 36

[13] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 48-50

[14] Swift, Hannah Arendt, ibid, hal 37 dan 43

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus