Ditempa dengan Darah dan Api:

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: illustrating-marx.com

Laporan dari Konferensi “Towards a Global History of Primitive Accumulation”


BAGAIMANA tanah, laut, habitat, dan tubuh manusia terinkorporasi ke dalam pasar global? Pertanyaan ini menginspirasi lebih dari empat puluh peneliti untuk bertemu dalam konferensi “Towards a Global History of Primitive Accumulation”. Konferensi ini berlangsung di International Institute of Social History (IISH) di Amsterdam, Belanda, dari tanggal 9 hingga 11 Mei, 2019, dan disponsori oleh IISH, University of Pittsburgh, Carnegie Mellon University dan University of Houston. Selain para pembicara dan panitia, para peserta berasal dari banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Brazil, Britania Raya, Swedia, Jerman dan Austria. Banyaknya peserta yang mengikuti konferensi selama tiga hari ini menunjukkan kebangkitan kembali minat atas pertanyaan-pertanyaan seputar peran kekerasan dan perampasan dalam sejarah panjang kapitalisme.

Istilah ‘akumulasi primitif’ (kata ‘primitif’ adalah terjemahan dari ursprüngliche) digunakan Karl Marx untuk mendeskripsikan asal mula kapitalisme dalam salah satu bagian yang paling detil dalam penjelasan sejarah di bukunya Kapital. Marx menunjukkan bahwa kapitalisme hanya dapat berkembang setelah kekerasan dan perampasan dalam skala besar telah terlaksana, baik di Eropa dan di wilayah-wilayah kolonisasi. Bagi Marx, perampasan awal ini “ditulis dengan huruf-huruf darah dan api”. Bagian relevan dalam Kapital menunjukkan bahwa agar relasi sosial terstruktur seputar produksi komoditi, produsen-produsen mandiri harus dipisahkan dari alat produksi subsistennya, dan sumber daya milik bersama harus dikonsentrasikan dan diprivatisasi. Dalam panel pembuka, panitia konferensi Pepijn Brandon berargumen bahwa kedua elemen ini dapat dipisahkan dalam ruang dan waktu. Setelah dirampas, tanah, tenaga kerja, dan kapital harus disatukan lewat proses yang memakan waktu berabad-abad dan bentuk yang berbeda-beda. Bagi panitia yang lain Niklas Frykman, itulah sebabnya mengapa penting untuk mendasarkan teori pada penelitian sejarah, baik untuk menunjukkan variasi bentuk-bentuk akumulasi primitif, maupun untuk memastikan bahwa konsep tersebut tidak menjadi terlalu mengambang ataupun terlalu luas.

Sebagaimana makin jelas lewat presentasi-presentasi dalam konferensi ini, akumulasi primitif tidak dibatasi pada asal-mula kapitalisme. Sebaliknya, ia adalah proses yang berkelanjutan, hadir dalam setiap tahap sejarah kapitalisme. Brandon menekankan terdapat dua cara akumulasi primitif berlanjut: di satu sisi, masyarakat pasar terus berekspansi ke lahan-lahan baru, seiring dengan semakin banyaknya wilayah yang terinkorporasi ke dalam pasar global, dan semakin banyak aspek-aspek kehidupan yang terkomodifikasi. Misalnya, dalam dekade-dekade belakangan lebih dari 7 juta orang telah terusir dari pedalaman Kolombia untuk membuka jalan bagi pertambangan dan narco-capitalism, sebagaimana disinggung Aaron Tauss dan Forrest Hylton dalam presentasi mereka. Namun selain menginkorporasi wilayah-wilayah baru, Brandon juga mengatakan bahwa “kapitalisme mereproduksi wilayah luarnya”: rakyat, tanah, dan materi juga dilemparkan keluar dari akumulasi, menjadi surplus, pengangguran, sampah. Komodifikasi bukanlah jalan satu arah. Maka dalam diskusi tentang kolonialisme di British Columbia, Justin Paulson dan Julie Tomak menunjukkan bahwa komodifikasi tanah dan pemaksaan model kapitalisme Eropa membawa serta pemusnahan masyarakat asli yang sebelumnya berdagang dengan mereka.

Kekerasan dan pemaksaan akumulasi primitif niscaya membawa serta negara, pengorganisir kekerasan dalam skala terbesar. Wendy Matsumura memeriksa peran kompleks negara dalam menutup sumber daya milik bersama di Jepang antara tahun 1920-an hingga 193030-an, terkadang melawan kepentingan petani-petani kecil dan industrialis rel kereta. Amiya Kumar Bagchi menekankan pengalihan kekayaan dalam skala besar dari koloni-koloni ke negara-negara imperial sebagai faktor penting dalam akumulasi primitif. Dengan menggunakan contoh industri militer di awal era modern, Peter Way menunjukkan bahwa trinitas pemerintah, bisnis, dan militer tidak dapat dipisahkan: militer negara bergantung pada pasar untuk menyediakan kebutuhan mereka, dan sebaliknya banyak proses dalam kapitalisme didorong oleh kebutuhan militer. Dalam presentasi keynote-nya, Jairus Banaji menghubungkan kembali konseptualisasi negara ini ke dalam sejarah luas kapitalisme, dengan berfokus pada cara pedagang-pedagang dan negara-negara saling membentuk satu sama lain dalam momen-momen perkembangan kapitalisme yang berbeda. Banaji juga mengusulkan untuk mengakhiri pembacaan sejarah kapitalisme yang sifatnya “bertahap/stagist”, yang membatasi negara, kapital dagang, atau akumulasi primitif ke dalam periode-periode tertentu yang partikular. Sejarah kapitalisme yang disusun dengan teliti akan menganalisis bagaimana tiga unsur ini terus hadir dan saling memengaruhi.

Pertanyaan tentang pemaksaan menuntun pada diskusi tentang kerja paksa dalam sejarah. Heide Gerstenberger berargumen bahwa kompetisi pasar tidak secara inheren menggiring kepada kerja upahan, tetapi bahwa para pemilik modal secara historis menggunakan cara-cara apa saja seturut dengan kekuatan mereka untuk memproduksi komoditas. Seperti yang disampaikan oleh Marcel van der Linden dalam kata penutup presentasinya, kerja paksa itu ada secara kontinu, melibatkan variasi cara-cara yang berbeda untuk meyakinkan pekerja supaya menjadi produktif bagi kapital. Rafael Marquese mempresentasikan makalah yang ditulis bersama Leonardo Marques tentang transisi rezim-rezim perbudakan di Brazil, menunjukkan bagaimana perbudakan untuk pertambangan emas di periode modern awal amatlah krusial untuk industrialisasi Eropa. Dale Tomich menganalisis tempat perbudakan dalam kapitalisme global. Melalui penciptaan pasar global, produk-produk kerja dengan level-level pemaksaan yang berbeda bisa dibandingkan, dan ini mendorong perluasan persebaran komoditas gula dari Mediterania, hingga perbudakan rasial dari Azores, dan akhirnya menyeberangi Samudra Atlantik.  Thierry Drapeau mengungkapkan detil-detil teknis model perkebunan-budak di Barbados, menunjukkan bagaimana kebutuhan untuk membuat pekerja-pekerja menjadi produktif meski mereka punya kecenderungan untuk melawan, telah mendorong para investor untuk mengikat para pekerja pada perkebunan-perkebunan yang tersentralisasi. Dalam prosesnya, mereka memantapkan rasialisasi kerja perbudakan.

Diskusi-diskusi ini mengangkat pertanyaan-pertanyaan tentang definisi kapitalisme. Jika pemaksaan begitu penting dalam perkembangan masyarakat pasar, dapatkah kita betul-betul mendefinisikan kapitalisme dengan kehadiran kerja upahan? David Mayer melacak berbagai macam jawaban atas pertanyaan ini dengan mengetengahkan pandangan sejarawan-sejarawan Amerika Latin. Bagi Van der Linden, semua input untuk produksi, termasuk tenaga kerja, harus dikomodifikasikan supaya label “kapitalisme” dapat dicantumkan. Namun komodifikasi tenaga kerja tidak harus mengambil bentuk upah. David McNally menunjukkan bahwa pasar “terus menghantui” kehidupan pekerja-pekerja yang diperbudak, yang secara konstan terancam untuk dijual ke tempat kerja lainnya.

Ancaman ini, dan seluruh strategi manajemen yang dikembangkan oleh para pengeksploitasi modal sepanjang sejarah kapitalisme, bekerja untuk membendung perlawanan para pekerja. Banyak presentasi yang karenanya menunjukkan bagaimana perlawanan membentuk cara-cara di mana tanah dan tenaga kerja terinkorporasi dalam kapitalisme. Rossana Barragán dan Forrest Hylton menunjukkan bagaimana sistem rotasi kerja untuk penduduk asli di pertambangan perak di daerah koloni Potosí, menunjukkan bahwa keputusan-keputusan produksi tidak hanya lahir dari para pedagang dan kolonial, tetapi juga dari para pekerja yang melawan mereka. Tithi Bhattacharya mencatat bagaimana masyarakat asli yang terusir karena penggundulan hutan di wilayah-wilayah lain India, dipekerjakan di perkebunan teh Bengal, sebagai jalan untuk mengatasi aksi-aksi mogok para pekerja lokal. Noeleen McIlvenna dan Terence Dunne melacak perlawanan di Amerika Utara pada abad ke-18 dan Irlandia abad ke-19, menunjukkan bagaimana pengaruhnya pada sistem kepemilikan tanah di tempat-tempat ini.


Pepijn Brandon sedang membuka Konferensi. Kredit foto:
Tithi Bhattacharya

Konversi lahan menjadi komoditi yang diperdagangkan adalah bagian penting dari kisah akumulasi primitif. Alexia Yates mendiskusikan bagaimana tanah difinansialisasi di Prancis dan koloni-koloninya pada abad ke-19, untuk memanfaatkan kepercayaan tentang sifat stabil tanah untuk perdagangan finansial. Navyug Gill menunjukkan bagaimana pada saat yang sama di India, administratur-administratur kolonial Inggris mengklasifikasikan manusia berdasarkan produktivitasnya, demi mengatasi rentannya wilayah tersebut untuk mengalami banjir, kekeringan, atau problem produksi. Hillary Taylor menunjukkan proses serupa di Inggris pada era modern awal, di mana pekerja-pekerja pedesaan dipaksa bersaksi di pengadilan untuk mengakhiri konflik lahan, untuk mengonversi pengetahuan mereka tentang hak-hak kepemilikan tradisional menjadi kepemilikan-kepemilikan atas tanah yang siap untuk memproduksi nilai lebih. Edward Baptist memformulasikan konsep baru “Kapital Gelap” untuk menteorikan bagaimana kapitalisme bergantung pada kapital yang diakumulasi di luar buku keuangan para pedagang, seperti tanah hitam, bahan bakar fosil, dan pengetahuan masyarakat asli.

Pertanyaan-pertanyaan seputar peran berkelanjutan negara dikembangkan paling tajam lewat presentasi-presentasi tentang akumulasi primitif di bawah rezim-rezim sosialis, sebuah area riset yang kurang disentuh dalam diskusi tentang akumulasi primitif. Dalam presentasi keynote-nya, Wendy Goldman menganalisis perdebatan seputar industrialisasi Uni Soviet awal. Para perencana negara diperhadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana membangun industri tanpa mengonsentrasikan surplus. Apakah petani harus dibuat merugi, sehingga kapital dapat mengalir ke kota-kota? Atau apakah produk mereka harus diberi harga pasar, dengan harapan bahwa konsumsi mereka pada akhirnya akan merangsang industri perkotaan? Di tahun 1929, kolektivisasi pertanian yang diterapakan secara paksa di bawah Stalin, menghasilkan industrialisasi yang berkembang pesat dengan mengorbankan petani. Presentasi Don Filtzer tentang Yevgeny Preobrazhensky, seorang ekonom Bolshevik, menunjukkan model-model pertumbuhan yang berbeda yang muncul dari oposisi kiri di tahun 1920-an.

Model industrialisasi Stalinis dengan mengorbankan petani diterapkan di negara-negara lain yang katanya dikuasai pekerja. Dalam presentasi-presentasi lain, Alina-Sandra Cucu, Jacob Eyferth, dan Shuxuan Zhou menunjukkan bahwa pertukaran-pertukaran tak setara antara wilayah desa dengan kota dulunya merangsang industrialisasi di Romania dan Cina. Velia Luparello dan Adam Fabry mendiskusikan bagaimana para wanita di Hongaria terinkorporasi ke dalam angkatan kerja dalam skala masif setelah Perang Dunia II, tetapi dengan bentuk yang berbeda dengan yang terjadi pada pria. Presentasi-presentasi ini menunjukkan bagaimana tenaga kerja dan tanah ditundukkan pada logika akumulasi kapital bahkan dalam masyarakat-masyarakat yang mengaku sosialis. Dalam kata-kata Cucu, “negara bertindak sebagai kapital” dengan jalan mengekstraksi surplus, khususnya dari wanita-wanita di desa, demi melancarkan industrialisasi.

Pada akhirnya, konferensi ini berkembang pada pertanyaan tentang konsep-konsep yang telah diturunkan kepada kita dan bagaimana mengujinya di hadapan sejarah. Apakah negara dan pasar itu begitu terpisahkan? Apakah pertukaran damai dan perampasan yang penuh kekerasan itu memang merupakan kutub-kutub yang berlawanan? Apakah perbudakan itu sifatnya antagonistik dengan kerja upahan? Dalam kata-kata penutup mereka yang menggugah, Silvia Federici dan Peter Linebaugh menghubungkan pertanyaan-pertanyaan historis dan teoretis ini dengan pertanyaan-pertanyaan politis di hadapan kita hari ini. Seiring dengan perjalanan kapitalisme global melalui krisis eksistensial panjangnya dan kekerasan yang terus bertambah, penting bagi kita untuk menganalisis bagaimana ragam unsur-unsurnya telah beroperasi bersama dan bertahan hingga kini.***


Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus