Ekonomi Pengetahuan, atau Kognitarianisasi?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: fotolia.com



DILIHAT dari perspektif pekerjaisme (Tronti, dkk), setiap kali ada jenis ekonomi baru yang muncul maka persis di situ kapitalisme menemukan cara baru dalam meredam resistensi pekerja (supresi), sekaligus dalam meringkus lebih banyak lagi nilai kerja dari sang pekerja (eksploitasi) demi pertambahan profitnya. Oleh karena itu, apabila kita bersepakat bahwa hari-hari ini kita berada pada apa yang disebut-sebut ‘ekonomi pengetahuan’ (knowledge economy), maka pemetaan cara baru opresi dan supresi pekerja menjadi mutlak dibutuhkan jika kita mendambakan suatu exit strategy dari ini semua.


Ekonomi Pengetahuan

Namun sebelumya, apa dan mengapa ekonomi pengetahuan (EP)? EP juga sering disebut dengan nama-nama lain seperti ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) dan/atau ekonomi padat pengetahuan (knowledge-intensive economy). Ia pertama kali diutarakan oleh Peter Drucker, seorang sarjana manajemen dan juga filsuf di bidang perbisnisan dan korporasi, pada 1969 melalui bukunya The Age of Discontinuity. Singkatnya, EP merupakan suatu ekonomi yang mana pengetahuan merupakan alat untuk menciptakan nilai dan aset, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. EP merupakan penggerak inovasi; tanpa pengetahuan, maka tidak mungkin ada inovasi. Pasalnya, EP membutuhkan baik tenaga kerja yang berketerampilan tinggi, dan sekaligus ide-ide baru yang inovatif. Oleh karenanya peran institusi-institusi pengetahuan dan riset dan pengembangan (R&D) menjadi penting dalam mendongkrak perekonomian.

Lalu mengapa penting menyoal EP ini? Sederhana, karena hari ini semua kegiatan ekonomi/bisnis ditempel-tempelkan dengan gimmick “inovasi,” maka aspek pengetahuan darinya—khususnya dari perspektif pekerja—penting untuk diklarifikasi. Perlu bukti empirik? Jika kita lihat dalam laporan lembaga konsultansi McKinsey, Globalization in Transition: The Future of Trade and Value Chain (2019), disimpulkan bahwa transisi utama globalisasi perdagangan yang sedang berlangsung saat ini ditandai dengan semakin berubahnya corak produksi nilai barang dan jasa menjadi semakin padat-pengetahuan (knowledge intensive). Hal ini nampak dari beberapa hal, beberapa di antaranya: lonjakan signifikan pembelanjaan aset-aset tak terlihat (intangible assets: riset, merek, piranti lunak, dan hak cipta) terjadi di seluruh  rantai nilai dalam kurun 2000-2016; semakin banyak perusahaan yang merelokasi/buka cabang ke tempat-tempat yang banyak ditinggali pekerja high-skilled, ketimbang buruh murah sebagaimana penalaran umum; sekalipun secara volume masih kalah dari sektor perdagangan barang, pertumbuhan sektor jasa meningkat 60% lebih cepat dalam 10 tahun terakhir, malahan untuk sub-subsektor seperti jasa telekomunikasi, TIK, konsultansi bisnis dan konsultansi HAKI meningkat 200-300%. Jika perhatian kita saat ini banyak tersedot pada unicorn-unicorn startups, maka sebaiknya kita juga mulai melihat aspek-aspek pengetahuan dan imajinasi yang menjadi kandang dan lahan peternakan kuda-kuda mahal ini.

Laporan ASEAN Investment Report 2018 juga mengonfirmasi hal serupa. Khususnya apabila melihat alur investasi ke perusahaan-perusahaan rintisan (startup), yang tak lain adalah primadona dari paradigma inovasi dalam ekonomi. Secara umum, dalam dua tahun terakhir (2016-2017) terjadi peningkatan volume investasi ke ASEAN, dari $123 Miliar ke $137 Miliar. Menariknya, Singapura dan Indonesia bertengger di dua besar yang mendominasi dalam memarkirkan dana investasi tersebut; lebih menarik lagi, sekalipun masih kalah besarannya dari Singapura, Indonesia mengalami peningkatan lima kali lipat volume penanaman modal asing, dari $3,9 Miliar pada 2016, menjadi $23,1 Miliar pada 2017. Tren peningkatan investasi ini juga sejalan dengan yang terjadi di startup: hanya dalam tiga tahun saja sejak 2015, perusahaan-perusahaan rintisan di ASEAN mampu mengumpulkan dana investasi sebanyak hampir 1400% lebih banyak—$1 Miliar pada 2015 dan kini $13,8 Miliar (Juni 2018). Dari sekitar 13.500 startup di ASEAN, lagi-lagi Singapura dan Indonesia mendominasi dari segi jumlah, masing-masing 34% dan 31%. Sembilan (9) dari 50 besar startup di ASEAN berbendera—yang sama sekali bukan berarti milik—“anak bangsa.”

Semakin dominannya pengetahuan di dalam pertumbuhan ekonomi merupakan pertanda bagaimana pengetahuan tidak lagi menjadi sekedar penunjang ataupun pelengkap kegiatan produksi, melainkan menjadi jantung dari aktivitas ekonomi itu sendiri hari-hari ini.


Komposisi EP

Cukup sudah analisis lingkungan strategis bisnis, dan izinkan saya berpindah dari moda konsultan bisnis kembali ke pegiat gerakan kelas pekerja. Fenomena di atas, apabila dilihat dari perspektif pekerja, maka bisa kita cacah-cacah komposisinya—baik komposisi modal maupun komposisi kelasnya. Dari komposisi kelasnya—yi. seluruh pola spesifik yang berkaitan dengan proses penciptaan nilai—maka bisa dipetakan proses kerja yang disyaratkan dalam skema EP, yakni kerja-kerja yang mencakup satu hal: berpikir. Dalam genus ‘berpikir’ ini, bisa kita masukkan aktivitas-aktivitas yang termaktub di dalamnya: beralasan, berlogika, menginterpretasi, memaknai, menarik implikasi, mengekstrapolasi, merefleksikan, menyimpulkan, berimajinasi, berinovasi, berkreasi, dst. Aktivitas kerja sekunder/penunjang yang juga dibutuhkan adalah, a.l.: keterampilan membaca, mengulas, menyarikan, merangkum, mengamati, menganalogikan, merisa, dst., yang merupakan komponen penting dari kerja-kerja berpikir sebelumnya,

Sebagai sebentuk kerja, berpikir adalah mensyaratkan modal, yang dalam hal ini tentu adalah modal pengetahuan, a.l.: gelar, jabatan akademis, sertifikasi, keturunan profesor, wawasan, pengetahuan, daya logika, keluasan imajinatif, kecerdasan, sistematika pemikiran, kapasitas kreatif, dst. Modal lain yang tak kalah penting adalah yang mampu mengefisienkan pengoperasian modal-modal primer sebelumnya: keterampilan mengoptimalisasi piranti (lunak, keras dan digital), keterampilan mengolah data dan informasi, pengetahuan sumber-sumber data, keterampilan bertanya dan menggali data dan informasi, mentalitas dan ketahanan membaca, kedisiplinan meriset, dan juga modal-modal material nan klasik seperti: uang, infrastruktur, jejaring sosial, waktu luang, dst. Demikianlah komposisi modal yang disyaratkan dalam skema EP. Kesemua modal inilah yang dipekerjakan (put to work) oleh kerja berpikir untuk menghasilkan lini produk (product line) hasil kerja pengetahuan: ide, gagasan, inspirasi, konsep, model, hipotesis, teori, cetak biru, rekomendasi, konsultasi, pendapat, opini, pemikiran, usulan, proposisi, dst.  

Lini produk inilah yang menjadi komoditas dalam EP. Sebagai komoditas, tentu saja produk-produk tadi harus memiliki nilai jual di pasar (yi. nilai tukar), sehingga ia harus menjelma sebagai, a.l.: ide bisnis, model bisnis, inovasi bisnis, rencana bisnis, ide konten kreatif untuk pemasaran, rekomendasi kebijakan, rekomendasi bisnis, analisis pasar, analisis peluang bisnis, model manajemen, tapi juga visi misi pengembangan, trajektori pertumbuhan, taktik politik, manuver gerakan, siasat perlawanan dan yang terpenting saya kira strategi besar revolusioner, dst., dsb. Komoditas-komoditas inilah yang dengan bersamaan menciptakan pasar ide (marketplace of idea) berikut segmentasi konsumennya. Inilah dunia ekonomi di mana para pekerja kognitif (cognitive workers) berada.

Sejauh ini semuanya baik-baik saja, bukan? Apalagi bagi mereka yang sehari-hari terlibat di EP sebagaimana digariskan di atas, semuanya nampak normal-normal saja. Lalu di mana letak supresi dan eksploitasinya?


Pengetahuan sebagai Modal

Banyak aspek yang bisa dibahas untuk mengilustrasikan supresi dan menggambarkan eksploitasi pekerja kognitif di dalam EP. Namun demikian, waktu dan energi saya yang terbatas membuat saya harus mencicilnya dalam beberapa kesempatan. Untuk kali ini, saya hanya akan bahas aspek eksploitatif (pencurian nilai) dulu, dan itupun dari segi modal/kapital dan kerja saja. Aspek supresi (peredaman potensi resistensi dari proses kognisi) dan segi-segi lain (komoditas, nilai, produk, dan pasar) akan diteruskan lain kali.

Untuk memahami eksploitasi dalam EP, kita perlu memperhatikan keunikan dari pengetahuan sebagai modal. Apapun substansi dan kontennya, sebagai modal, pengetahuan dipakai untuk menciptakan nilai, yang kemudian dibekukan dalam bentuk produk kerja/komoditas. Saya yang memiliki pengetahuan mengenai ikan cupang dapat menggunakan pengetahuan itu untuk mengoptimalisasikan upaya dan usaha/bisnis ikan cupang saya. Dari contoh ini, bisa diintuisikan bahwa modal pengetahuan merupakan modal yang masih bersifat virtual; artinya, ia adalah berupa potensialitas. Sebagai potensi, modal pengetahuan harus diumpankan ke modal lainnya—uang, mesin, operator (sebagai aset)—untuk dimunculkan aktualisasinya sebagai “nyawa” dari sebuah produk, atau yang dalam bisnis lebih dikenal dengan sebutan: diferensiasi produk, unique selling point (USP), atau proposisi nilai produk. Saya tahu ini bukan dari Rhenal Kasali atau Tung Desem Waringin atau sejenisnya, tapi dari Gilles Deleuze, di  Negotiations (1995): “[w]e are told businesses have souls, which is surely the most terrifying news in the world.” Nyawa virtual ini harus menubuh di tubuh aktual agar supaya potensialitas pengetahuan bisa termaterialisasi dan beroperasi dalam menciptakan nilai. Inilah keunikan pertama, modal pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri untuk menciptakan nilai, ia harus teroperasionalisasi dan termaterialisasi dalam dan melalui senarai modal lainnya.

Kedua, penciptaan pengetahuan-pengetahuan baru berbanding lurus dengan proliferasi dan bahkan penggunaannya (lebih jauh, lih. Dmytri Kleiner, The Telekommunist Manifesto [2010]). Semakin pengetahuan dibicarakan, didiskusikan dan disosialisasikan secara terbuka di masyarakat, maka ia akan semakin berkembang. Umpan balik, dialektika, dialog dan juga urun rembug dari semakin banyak orang justru akan membuat pengetahuan itu semakin tajam lagi. Itulah mengapa dari perspektif ini adalah konyol, tolol dan oksimoron untuk menutup akses pengetahuan dengan tembok uang (wall of cash) (lebih jauh, lih. Gary Hall, Digitize This Book! The Politics of New Media, or Why We Need Open Access Now [2008]). Lalu penggunaan: berbeda seperti mesin yang semakin sering digunakan justru semakin aus; pengetahuan, semakin digunakan, akan semakin menjadikan pekerjanya lebih ber-pengetahuan. Di sinilah kita harus memahami arti kata ‘pakar’ (expert): orang yang sering menggunakan pengetahuannya akan semakin memperdalam pengetahuannya tersebut.


Kredit ilustrasi: www.irna.ir

Kognitarianisasi

Pada kedua karakter unik modal pengetahuan inilah—sifat virtual yang perlu diaktualisasikan dengan modal lain dan amplifikasi melalui persebaran dan penggunaan—eksploitasi terhadap pekerja kognitif muncul. Tapi sebelumnya, siapakah pekerja kognitif itu sebenarnya? Jika dilihat dari karakter-karakter di bagian sebelumnya, kita bisa simpulkan bahwa kapasitas untuk berpikir, modal untuk berpikir, dan produk ide adalah hal-hal yang dimiliki dan bisa dihasilkan oleh semua—ya, semua—orang di dunia ini. Tentu saja, derajatnya akan berbeda-beda. Namun tetap tidak kemudian mendiskualifikasi kenyataan dasar bahwa semua orang bisa dan memiliki kognisi. Generalitas pekerja kognitif ini penting untuk ditandaskan, karena pasalnya pengetahuan/kognisi itu adalah selalu kognisi general atau yang bahasa teknisnya disebut general intellect. Suatu pengetahuan hanya akan menjadi pengetahuan saat ia bisa diketahui (intelligible) oleh dan mengikuti kaidah-kaidah kognitif yang berlaku di masyarakat. Hal ini demikian karena memang, sebuah pengetahuan selalu munculnya dari tenagh-tengah masyarakat. (Dalam hal ini, ilham dan wahyu sayangnya tidak terkualifikiasi sebagai anggota dari genus ‘pengetahuan’). Dari perspektif EP, maka bukan pengetahuan namanya apabila ia tidak menemukan rumahnya di masyarakat (mis. karena tidak terpahami, tidak aplikatif, dan tidak berkontribusi bagi masyarakat). Pasalnya, lagi-lagi, hanya di dalam masyarakatlah EP menjelmakan diri dalam bentuk pasar ide untuk dikonsumsi oleh elemen-elemen masyarakat tersebut (individu, akademisi, pebisnis, pemerintah, dan kesemua yang membutuhkan ide, gagasan, rekomendasi dan inspirasi).

Kembali lagi ke eksploitasi. Mari secara sederhana mengartikan eksploitasi secara minimal, yaitu sebagai pencurian nilai kerja dari pekerja oleh pemilik modal. Disebut pencurian karena ada hasil kerja yang diambil dan dipakai tanpa memberikan kompensasi yang sebangun kepada sang pekerja. Dalam EP, proses eksploitasi ini erat kaitannya dengan kedua aspek unik modal pengetahuan. Pertama, karena pengetahuan itu muncul dari dalam masyarakat akibat persebaran dan penggunaannya oleh masyarakat secara timbal balik, dialogis dan dialektis, maka sederhananya: pengetahuan itu pada dasarnya berserakan di masyarakat. Siapakah pekerjanya?—seluruh masyarakat. (Lagi-lagi, tentu dengan derajat dan kualitas kerja yang bervariasi). Pengetahuan ini tentu saja masih bersifat mentah dan virtual, dan umumnya masih belum menjadi produk matang yang sudah aktual. Perlu kerja-kerja sekunder/pengolahan pengetahuan seperti pembacaan, pemaknaan, interpretasi, pengkodean, kategorisasi, dst., akan pengetahuan ini agar supaya ia bisa dijual dan menghasilkan profit. Eksploitasi terjadi saat ada orang/kelompok yang memiliki kapasitas mengolah pengetahuan yang ada dalam masyarakat, dan kemudian dengan […masukkan kata makian disini…]-nya memprivatisasi, memagari dan mencerabutnya dari masyarakat demi kepentingan pribadi. 

Semisal saya memiliki ide mengenai trik unik untuk mempercantik joget twerk, dan saya menunjukkan itu ke teman-teman saya. Lalu salah seorang teman saya mempelajarinya, dan menggunakannya untuk membuat video YouTube, dan kemudian mendapat uang dari sana. Dalam kasus ini, saya dieksploitasi oleh teman saya tersebut. Lainnya sekelompok akademisi menyelenggarakan pelatihan keterampilan akademis kepada publik dengan harapan memacu literasi masyarakat demi perubahan-perubahan sosial yang progresif. Namun ada beberapa orang yang melihatnya sebagai wahana memuaskan hasrat egois akan aktualisasi diri, mencari ilmu untuk menambah dekorasi curriculum vitae, dan mengepul sertifikat-sertifikat pelatihan belaka tanpa memiliki sedikitpun kesungguhan untuk secara serius mewujudkan perubahan sosial melalui jalur-jalur kognitif. Dalam kasus ini, sekelompok akademisi penyelenggara tersebut dieksploitasi. Para penulis IndoProgress dan media sejenis juga rentan dieksploitasi: tulisan-tulisan yang ditujukan untuk memajukan gerakan sosial hanya dipakai untuk memenuhi hasrat konsumeris pengetahuan pembaca yang masturbatoris pengetahuan, untuk menghiasi laman-laman medsos agar supaya nampak progresip, untuk “tetap menjaga kewarasan” sembari tetap berkubang di zona kenyamanan minimum di pekerjaan-pekerjaan yang mereka tahu pasti adalah bullshit jobs Graeberian tanpa ada upaya untuk mencoba membebaskan diri darinya, dst.

Mengerikannya (bagi saya), eksploitasi ini berlangsung normal secara etis, dan sekaligus mendapatkan perisai moralnya: adalah jahat dan jelek dan pelit lagi kikir ilmu apabila seseorang menolak untuk membagikan, untuk sharing pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain. Malahan bagi para pekerja kognitif yang memasang harga sedikit saja langsung dicap komersialisasi pengetahuan. Uniknya para pencibir ini tidak pernah secara serius mengarahkan cibirannya ke universitas, sekolah, les-lesan, dst., yang jelas-jelas menarik uang pangkal dan bulanan.

Eksploitasi juga datang dari aspek kedua keunikan modal pengetahuan, yaitu proliferasi dan penggunaan yang berbanding lurus dengan peningkatan kualitasnya. Seorang pekerja kognitif menjadi terkesploitasi tepat saat pengetahuannya dikoridori persebarannya dan dibatasi penggunaannya. Hal-hal ini mewujud dalam upaya-upaya mengerdilkan, membatasi dengan kriteria sempit, membirokratisasi, memonopoli luaran/capaian, dst. Semisal seorang teman saya yang adalah seorang programmer komputer, saat ia dipekerjakan di sebuah perusahaan, ia dibatasi keterampilannya hanya untuk satu jenis bahasa pemrograman saja. Waktunya habis untuk bekerja memelihara sistem perusahaan tersebut. Semakin lama ia bekerja, memang semakin tajam keterampilannya di satu bahasa pemrograman tersebut, namun sayangnya, semua keterampilan bahasa lainnya menjadi semakin memudar dan akhirnya  terlupakan. Begitu pula dengan seorang peneliti yang dipaksa/terpaksa melulu mengerjakan riset-riset pesanan, atau yang diribetkan dengan administrasi yang berbelit, atau yang ditundukkan superioritas profesor atau penyelianya untuk hanya menggunakan pendekatan atau metode tertentu saja. Dalam kedua kasus ini, mereka tereksploitasi; tapi apa yang dicuri dari mereka? Tidak lain adalah potensialitas tak terbatas dari pengetahuan lah yang dicuri dari mereka. Pembatasan dan pengekangan pengetahuan dengan cara apapun hanya akan mematikan kreativitas dan membunuh “nyawa” yang terkandung dalam pengetahuan. Ia akan stagnan, membusuk, dan semakin jauh dari masyarakat, dan semakin redup relevansinya. Pekerja yang memiliki modal pengetahuan yang dikekang ini akan semakin kehilangan modal tersebut, dan pada gilirannya menurunkan posisi tawarnya di pasar tenaga kerja pengetahuan (cognitive labor market).

Para pekerja kognitif yang terkesploitasi inilah yang bisa kita sebut sebagai kognitariat. Kognitariat adalah pekerja kognitif yang terkena imbas proletarianisasi oleh dinamika EP. Sebagai varian proletarianisasi di sektor kognitif, seorang kognitariat ter-kognitarianisasi dalam beberapa artian. Pertama, dalam artian ia bekerja secara gratisan bagi orang-orang yang memanfaatkan pengetahuannya tanpa memberinya kredit dan kompensasi yang setara. Nilai pengetahuan yang dicuri ini nilainya bervariasi seturut senarai modal-modal lain yang mampu mengaktualisasikan potensi yang terkandung dalam pengetahuan tersebut. Biasanya, semakin besar modal dampingannya (uang, misalnya), maka semakin besar magnitude aktualisasi suatu pengetahuan. Oh ya, tentu saja ini menjelaskan kenapa para investor malaikat pengembara (angelic venture capital) suka mencari ide-ide dari pekerja-pekerja kognitif (baca: founder startup) yang relatif misqueen. Supaya saat ide tersebut teramplifikasi, ia bisa ikut menuai profit dari pekerja tersebut. Ketimpangan dalam modal untuk mengaktualisasi pengetahuan bisa dituduh sebagai biang eksploitasi di sini. Kedua, dalam artian ia dimatikan dan dibatalkan secara bertahapn kepemilikannya akan modal pengetahuannnya. Dengan memaksa, mengerdilkan dan membatasi kreativitas dan ke-liar-an pengembangan dan eksperimentasi pengetahuan, dengan kata lain juga memutus sumbu nyawa dari pengetahuan. Di era EP yang mana pengetahuan adalah modal kerja, sang pekerja kognitif ini akan semakin terdesak posisinya dan semakin terperosok lebih dalam ke pasar tenaga kerja fleksibel.

Sialnya, lagi-lagi, proses-proses eksploitasi dan kognitarianisasi di atas adalah hal-hal yang normal, wajar, dan kerap kita temukan (dan alami) hari ini. Kita tidak bisa lagi melihat EP secara lugu, karena apabila dibedah dari perspektif pekerja seperti di atas, EP tidak lain adalah eufimisme bagi proses kognitarianisasi; dan karena inovasi adalah imperatif, maka eksploitasi pekerja kognitif akan terus menjadi sesuatu yang wajib dilakukan agar supaya ekonomi terus maju dan tumbuh.***


Hizkia Yosias Polimpung adalah peneliti di Koperasi Riset Purusha

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus