Ambil dan Bacalah Kitabmu Dalam Kasih!

Print Friendly, PDF & Email

 

Kejadian 1:28 – ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’

Matius 5:38 – ‘Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.’ 

DUA AYAT di atas adalah ayat yang bila kita lihat sekilas, mungkin akan membuat kita mengernyitkan dahi.

Kejadian 1:28 mempunyai dua aspek yang terkesan menyebalkan: (1) beranakcucu dan penuhi bumi, serta (2) taklukkan dan kuasailah bumi akan segala isinya. Tentu saat kita membacanya, akan terlintas mungkin ayat inilah yang jadi penyebab manusia, dalam hal ini orang Kristen yang membaca ayat ini, begitu eksploitatif terhadap dunia ini. “Beranakcuculah” bisa saja menjadi alasan mengapa manusia keranjingan beranak dan memenuhi bumi dengan doktrin-doktrin turunan yang terbentuk di masyarakat, seperti “banyak anak banyak rezeki” atau “kalau Tuhan izinkan punya anak, pasti Tuhan akan tunjukkan jalan ke depannya,” yang berakibat pada overpopulasi dan perusakan alam untuk dijadikan tempat hunian. Hal ini diperparah dengan bagian selanjutnya, “taklukkanlah dan kuasailah” yang memberikan alasan bahwa pusat kehidupan adalah manusia sebagai “makhluk pilihan Allah” yang berhak memakai segala yang ada di bumi sesuka hati selama kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi, dengan istilah-istilah seperti “demi kemajuan peradaban manusia”, “demi kemudahan manusia hidup” dan sebagainya. Buat kita, mungkin ayat ini adalah ayat yang cukup menjustifikasi syahwat manusia akan kuasa dan pemenuhan keinginan. Betapa sok berkuasanya Kekristenan itu bukan?

Sementara itu, Matius 5:38 juga ayat yang populer, dan dapat menimbulkan pembacaan bahwa kita harus “penuh kasih”, dimana bila diserang, jangan membalas, melainkan “lawan kejahatan dengan kebaikan.” Betapa lemah lembut bahkan lembeknya kasih Kristen itu bukan?

Saya pikir pembacaan dua ayat, yang satu dari Perjanjian Lama dan yang satu dari Perjanjian Baru, ini menggambarkan betapa tampak tidak menariknya Alkitab untuk dibaca, apalagi untuk orang-orang progresif. Perjanjian Lama dilihat begitu kasar dan “nirkasih” bahkan bisa menjustifikasi sang pemilik kekuatan (The Powers that Be) menindas, sedangkan Perjanjian Baru dilihat begitu “kelebihan kasih” dan bahkan menjustifikasi orang-orang tanpa kekuatan untuk berperilaku masokistis menghadapi penindasan. Alkitab adalah alat penindasan, bukan?

Bisa jadi.

Tapi bisa jadi juga selama ini kita telah salah melakukan pembacaan terhadap Alkitab.

Saat melihat Kejadian 1:28, saya ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Sudahkah kisah Penciptaan (Kejadian 1:1-2:25) dibaca secara keseluruhan?
  2. Sudahkah kita melihat Kejadian 2:15, di mana Tuhan malah memberikan mandat untuk “mengusahakan dan memelihara” (stewardship)?
  3. Sudahkan kita melihat kata asli “berkuasalah” yaitu radah yang ternyata digunakan juga dalam Mazmur 72:8, 12-14 untuk menggambarkan raja berkuasa dengan menunjukkan pola pemerintahan yang adil dan penuh kasih[1]?

Dan dengan ini, bukankah kita dapat lihat betapa indah dan parsitipatorisnya kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian, di mana manusia hanyalah makhluk yang begitu kecil dibandingkan alam semesta dan memiliki relasi yang asimetris dengan Sang Pencipta, namun mau Allah percaya untuk menjadi citra-Nya (imago Dei) yang penuh kasih, diundang untuk terlibat memenuhi bumi supaya bisa menyebarkan citra Sang Kasih di bumi, untuk kemudian merawat kehidupan bersama alam yang penuh harmoni dan saling melengkapi?

Saat melihat Matius 5:38, sayapun ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Sudahkah kisah Khotbah di Bukit (Matius 5-7) dibaca secara keseluruhan?
  2. Sudahkan kita mempertimbangkan populasi mayoritas pendengar Khotbah di Bukit saat itu, yaitu budak dan pekerja rendahan?
  3. Sudahkah kita mencoba melakukan pembacaan akan budaya di masa lalu, mengenai tangan kanan dan tangan kiri? Bahwa tangan kanan digunakan untuk hal baik, dan tangan kiri digunakan untuk hal buruk, dan penggunaannya secara eksplisit untuk berbagai gestur akan menghasilkan hukuman?
  4. Menampar pipi kanan membutuhkan tangan kanan bagian belakang (backhand), simbol penghinaan. Dengan memberikan pipi kiri, bukankah sang penampar harus menampar dengan telapak tangan (forehand) kanan, yang berarti sang penampar harus menganggap serius yang ditampar dan melihatnya setara?

Dengan pembacaan ini, bukankah kita dapat melihat petikan semangat perlawanan yang “aneh” yang ingin Yesus sampaikan dalam kisah Khotbah di Bukit, di mana para budak dan pekerja rendahan diajak untuk tiada henti melawan dan menantang majikan yang menindas hingga akhirnya terjadi sudut pandang yang setara, namun bukan dengan melakukan kekerasan, cara yang biasanya dipakai aparatur perpanjangan tangan penguasa untuk menghentikan perlawanan yang tertindas?

Lewat pembahasan dua ayat di atas ini, saya ingin mencoba menawarkan bagaimana pembacaan Alkitab bila dibaca secara holistik dan digali secara menyeluruh, bahkan tanpa kehilangan sudut pandang konvensional akan keilahian Kristus dan eksistensi Tuhan Sang Pencipta, dapat menghadirkan percikan-percikan semangat revolusioner yang malah menjadi bahan bakar perjuangan kita mewujudkan “bumi seperti di surga”, bukannya malah sebagai alat kontrol sosial masyarakat yang diada-adakan penguasa.[2]

Sudut pandang pembacaan yang akan saya coba sampaikan berpedoman pada St. Agustinus, seorang Bapa Gereja yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Confessions:

 

  1. Ambillah, Bacalah!

Salah satu bagian buku Confessions mengisahkan pertemuan (encounter) Agustinus dengan kitab suci. Salah satu peristiwa yang menjadi titik balik encounter itu adalah ketika Agustinus mendengarkan bocah-bocah menyanyikan lagu dolanan berjudul “Tolle, Lege” yang berarti “ambillah, bacalah” dan mendorongnya untuk membaca Alkitab. Diapun membaca teks Roma 13, teks yang membuatnya yakin untuk menjadi Kristen.

Pembacaannya akan Roma 13 saat itu tentu belum sarat dengan pengertian akan latar belakang ataupun konteks kepenulisan surat Roma. Konteks budaya lokal dan pengalaman-pengalaman Agustinus tentu memengaruhi pembacaannya, namun dia membaca bagian kitab itu bukan dengan segala peralatan penelaahan yang kita miliki saat ini. Tapi toh itu tidak menghalangi keteguhan Agustinus untuk berbalik dari jalannya yang sebelumnya, membimbingnya menuju kehidupan pelayanan yang begitu berpengaruh dan menjadi teladan dalam sejarah Kekristenan.

Pengetahuan akan berbagai teori dan konsep tentu saja penting dan berguna, namun semuanya itu bermula dari kehendak untuk membaca dan memahami. Bagaimana pemahaman akan bisa muncul tanpa pembacaan yang lengkap dan menyeluruh?

Maka poin pertama saya mungkin cukup klise dan membosankan, namun saya percaya esensial. Tolle, Lege! Sediakan diri untuk mau rendah hati dan belajar, ambil kitab suci, mulai baca dari awal hingga akhir dalam jangka waktu yang cukup sesuai dengan kemampuan kita membaca, dan selesaikan. Ulangi lagi dan lagi. Tak perlu kebanyakan cari tafsiran (walaupun untuk pembacaan selanjutnya tentu akan sangat baik bila bisa menggunakan berbagai tools yang dapat kita temukan di mana-mana dalam menafsir). Baca dulu secara menyeluruh. Biarkan pesan-pesan perlawanan terhadap dunia itu merasuki secara penuh, bukan dengan pembacaan setengah-setengah yang asal comot sana comot sini.

 

  1. Hermeneutics of Love – Kasih yang Revolusioner

Agustinus juga mencetuskan sebuah teori tafsir Alkitab yang disebut hermeneutics of love. Sebuah tafsiran dengan berpegang pada poin penting bahwa “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13). Iman Kristen begitu teguh berpegang bahwa Allah adalah Kasih, sehingga kasih adalah hal yang dapat dikatakan paling esensial dalam kekristenan. Pertanyaannya, kasih yang mana? Jawabannya, sejauh perenungan saya sejauh ini, adalah kasih yang revolusioner. Kasih yang mengubahkan, bukan memusnahkan. Kasih yang menawarkan uluran tangan bahkan kepada yang kita sebut sebagai musuh. Kasih yang terus menyatakan diri dalam pembacaan Alkitab dan coba kita temukan percikannya serta hidupi, hingga akhirnya ”kerajaan Allah” itu tergenapi, ketika semua akhirnya tunduk kepada Sang Kasih Sejati.

Gustavo Gutierrez, seorang pelopor Teologi Pembebasan, bahkan dalam pembukaan magnum opus­­-nya yang berjudul Theology of Liberation, berkeras bahwa tujuan utama (ultimate) bukanlah pembebasan, melainkan kasih. Saya coba kutip sepotong kalimatnya, demikian.

“The deepest root of all servitude is the breaking of friendship with God and with other human beings, and therefore cannot be eradicated except by the unmerited redemptive love of the Lord whom we receive by faith and in communion with one another”

Apa gunanya segala perjuangan kita bila didasari dengan dengki dan keinginan memusnahkan atau bahkan menindas balik pihak-pihak yang selama ini kita lawan, bukan kasih yang inklusif?

Bila kita tidak kuat membayangkan bagaimana dalam “langit dan bumi yang baru” semua orang saling merangkul dalam damai sejahtera, termasuk antara yang di masa lalu menjadi tertindas dan di masa lalu menjadi penindas, mungkin kita dapat mempertanyakan ulang, apakah pembacaan kitab suci ataupun perjuangan kita adalah perjuangan memahami dan menghidupi kasih yang revolusioner. Pergerakan yang tidak menghadirkan rekonsiliasi, menurut saya, adalah pergerakan yang hampa.

Kita bisa saja berdebat tiada akhir soal “apakah Alkitab fakta atau fiksi” ataupun “apakah Tuhan ada atau tidak” dan lain sebagainya. Persoalannya, apakah segala hal itu bisa secara substantif membawa kita pada perjuangan mewujudkan dunia yang benar-benar baik adanya?

Tak ada salahnya dengan, salah satunya, mulai melakukan pembacaan secara menyeluruh terhadap Alkitab. Benar, mungkin pembacaan kita akan menghasilkan kesimpulan yang beragam, bisa baik bisa buruk. Tapi, mungkin saja kita juga akan terheran-heran ketika menemukan bahwa nantinya bukan kita mencomot ayat-ayat Alkitab untuk justifikasi pergerakan kita, melainkan bahwa ternyata Alkitab secara utuh pada dirinya sendiri memiliki kerangka perlawanan, semangat pembaruan revolusioner, sehingga Alkitab malah menjadi bahan bakar agitasi massa yang begitu mendasar untuk melakukan perjuangan mewujudkan dunia yang lebih baik.***

 

Kepustakaan:

St. Augustine – Confessions

Miroslav Volf – Exclusion & Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation

Walter Wink – Jesus and Nonviolence: A Third Way

Alan Jacobs – A Theology Of Reading: The Hermeneutics Of Love

Gustavo Gutierrez – Theology of Liberation
https://biologos.org/blogs/archive/new-creation-the-hermeneutic-of-love
————–

[1] http://sinodegki.org/penuhilah-bumi-dan-taklukkanlah-itu/

[2] http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/story-of-jesus-christ-was-fabricated-to-pacify-the-poor-claims-controversial-biblical-scholar-8870879.html di mana dikatakan oleh Joseph Atwill, “The Roman Conspiracy to Invent Jesus’, asserts that Christianity did not begin as a religion, but was actually a sophisticated government propaganda exercise used to pacify the subjects of the Roman Empire.”

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus