Gereja dan Kota yang Tidak Percaya, Atau: Bagaimana Gereja Berhenti Khawatir dan Mulai Mencintai Sekularitas

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: The Nation

 

APA lagi yang mau dibicarakan oleh agama dalam dunia yang sekular? Bukankah dunia yang sekular berarti sudah tidak ada lagi peran agama di ruang-ruang publik? Dalam tesis sekularisasi dari Auguste Comte sampai Max Weber menyatakan bahwa agama akan kehilangan nilai sosialnya dan ditinggalkan. Ia akan kehilangan relevansi dan perlahan-lahan mengalami kemunduran. Maka, dapat dimaklumi muncul berbagai seruan anti sekularisme dan sekularisasi di institusi-institusi agama. Ia merupakan ekspresi pertahanan diri atas ancaman dari gerak zaman. Namun benarkah agama tidak lagi bisa berbicara ketika kita melihat bahwa seluruh permasalahan yang perlu dijawab adalah permasalahan yang bersifat imanen, fana, material, atau saeculum?

Sekularitas bagi Charles Taylor adalah istilah yang lebih berfokus kepada kondisi kepercayaan. Kata ini menggambarkan status kepercayaan kepada tuhan yang tadinya tidak tergantikan, ultimat, dan tidak bermasalah menjadi satu dari sekian banyak pilihan.[1] Perlu diingat bahwa sekularitas tidak ada hubungannya dengan kebebasan seseorang untuk tidak memilih agama, namun pilihan untuk bertindak atas nama agama menjadi satu dari sekian banyak alternatif yang tersedia. Berbeda dengan abad pertengahan dimana manusia bekerja dan beraktivitas atas nama Tuhan, dari makan sampai berhubungan seksual. Selain itu, penekanan istilah ini adalah lebih kepada situasi sosial dibanding penekanan istilah sekularisme yang menekankan ideologi atau worldview.

Nuansa anti-klerik yang muncul bersama dengan bapak-bapak reformasi adalah komponen awal yang penting bagi domino terdepaknya tuhan tahta-nya alias sekularisasi.[2] Ia juga menemukan ekspresi yang lebih violent dalam kasus revolusi Perancis. Dunia, atau setidaknya dunia barat memasuki modernitas. Seluruh pergelutan tersebut digambarkan sebagai sebuah proses anak-anak menuju kedewasaan. Sebagai anak-anak, manusia hidup di bawah kendali sang ayah, dalam kasus ini gereja. Anak-anak ini, terpanggil oleh godaan janji-janji manis dari kedewasaan. Ia memimpikan otonomi dan kebebasan yang dimiliki orang yang telah dewasa. Dengan menerima modernitas, ia (atau paling tidak merasa) mendapatkan keutuhan tersebut. Sekarang hidupnya tidak lagi tergantung oleh aturan-aturan dan dongeng-dongeng indah sang ayah. Manusia menjadi buffered self, sosok utuh yang berakal-budi yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Dari landasan tersebutlah dunia, atau paling tidak dunia barat, membangun dan mengembangkan peradabannya. Secara ekonomi, terjadi transisi dari feodalisme ke kapitalisme beriringan dengan proses rasionalisasi, industrialisasi, urbanisasi dan, sekularisasi.[3] Ruang-ruang publik urban dikosongkan dari ayat-ayat alkitab atau kitab suci digantikan birokratisasi dan otomasi. Tidak ada lagi gedung pengadilan, perkantoran, ataupun taman-taman yang dibangun atas nama Tuhan. Manusia modern adalah manusia yang seratus persen profan dan seratus persen pragmatis. Tidak ada orang menyapu jalan, mengemudi taksi online, atau mengutak-atik spreadsheet selama 8 jam di balik meja kerja untuk Tuhan, namun untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperti nutrisi, rumah, atau seks.

Lantas, seperti apakah peran gereja di dunia yang seperti ini? Secara kontra-intuitif, bukan dengan menyerukan jalan mundur ke masa yang lebih “suci” dan “agamis”. Sikap seperti ini adalah sikap yang kekanak-kanakan. Sekularisasi adalah proses yang terjadi pada kita, sebuah realitas objektif. Namun juga penerimaan ini tidak melulu berarti kepasrahan total dan menerima dunia apa adanya. Penerimaan pada situasi objektif ini adalah fondasi untuk menyusun dan merancang orientasi misi gereja dan teologi Kristen. Dengan kata lain, sebuah pemahaman baru dari gereja. Seperti yang ditulis oleh M. M. Thomas bahwa:

“.  .  . we have overdone the idea of the church in the last fifty years of ecumenical theological thinking. I do not think we can go back to any non-church understanding of Christianity, but we have to look at the question of how the church as a congregation is different from the traditional idea of a religious community”[4]

Sekularisasi justru harus direspon dengan mengingat kembali karakter duniawi dari gereja.[5] Ia bukan lagi semata-mata menjadi komunitas yang bergelut di ranah spiritual namun juga merespons pergelutan duniawi (saeculum) karena letaknya di tengah-tengah dunia yang profan, fana, dan tidak sempurna, selayaknya Yesus di utus ke tengah-tengah dunia. Tugas Yesus di dunia adalah:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)

Dari ayat tersebut, dapat diturunkan tiga tugas Yesus, dan pada gilirannya tugas gereja sebagai tubuh Yesus: Kerygma (pengabaran), Diakonia (rekonsiliasi, pemulihan, dan pelayanan lainnya), Koinoia (mendemonstrasikan masyarakat yang baru). Di dalam konteks perkotaan yang sekular, Harvey Cox melihat operasionalisasi, yang disebutnya sebagai tugas menjadi avant-garde Tuhan, dari ketiga tugas ini adalah:

  1. Kerygma, penyiaran berita telah direbutnya kekuasaan. Iman Kristen meyakini bahwa kemenangan Kerajaan Allah sudah didapatkan[6] secara de facto. Sebelum kemenangan hadir secara de jure, tugas gereja adalah memberikan siar tentang dunia yang lebih baik dari hari ini, atau lebih mudahnya menyuarakan alternatif kepada mereka yang bergumul sehari-hari di perkotaan. Dunia dimana penduduk kota bisa mendapatkan kesejahteraan dan kemuliaan sangat mungkin dicapai tanpa perlu memilih antara calon Gubernur yang satu dan calon Gubernur yang lainnya
  2. Diakonia, atau pemulihan atas luka dan patahan yang dialami perkotaan. Edward C. Banfield and James Q. Wilson dalam City Politics, sebagaimana dikutip oleh Harvey Cox, melihat bahwa perkotaan terdiri dari berbagai macam perseteruan dan perpecahan.[7] Tugas Gereja adalah memulihkan perkotaan sekaligus orang-orang di dalamnya.
  3. Koinoia, membuat kota manusia terlihat. Peran Koinoia gereja yang bersimpangan dengan peran penyiaran. Namun di dalam Koinoia, peran rekonstruksi menjadi dominan. Secara singkat, peran ini adalah peran membangun model kerajaan Tuhan di gereja dan masyarakat tempat gereja hadir.

Selama gereja bersetia pada karakter duniawi-nya, dan bukan mentah-mentah menolaknya, maka gereja tidak perlu takut terhadap sekularisasi. Mungkin pemahaman tentang komunitas agama yang lama jadi menghilang dan tidak relevan. Akan tetapi dengan secara sigap merespons persoalan-persoalan zaman, gereja akan terus hadir dan akan selamanya hadir sampai “semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah”.***

 

Penulis adalah Jemaat Gereja Komunitas Anugerah Salemba dan salah satu pengasuh diskusi Rabuan

 

———–

[1]The shift to secularity in this sense consists, among other things, of a move from a society where belief in God is unchallenged and indeed, unproblematic, to one in which it is understood to be one option among others, and frequently not the easiest to embrace.” Taylor, Charles. A Secular Age. Harvard University Press, 2007. Hal: 3

[2] Sanchez, Jose Mariano. Anticlericalism: a brief history. University of Notre Dame Press, 2007

[3] Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Transl. 1995 Hal: 174

[4] Diambil dari surat M.M Thomas yang berjudul Concerning “The Missionary Structure of the Congregation”

[5] Sekali lagi hematnya dibedakan sekularisasi, sebuah proses yang terjadi kepada manusia, dengan sekularisme sebuah worldview dan preskripsi tentang yang ideal. Implikasi pembedaan ini juga berarti pembedaan antara menerima sekularisasi (dalam arti, eling akan situasi hari ini) dan mendukung sekularisme.

[6] Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Korintus 15:57)

[7] Cox mengutip 4 jenis konflik di perkotaan: “(1) center-city versus suburbs; (2) haves versus have-nots; (3) ethnic and racial tensions, especially white versus Negro; (4) the competition between political parties”. Tentu saja masalah perkotaan hari-hari ini lebih kompleks. Hal: 158

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.