Corak Produksi dan Fetisisme Misteri: atau, Mengapa Umat Beragama Perlu Belajar Ekopol

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: 123RF.com

 

BAGI sebagian orang, pelibatan kajian ekopol (political economy) dalam program pendidikan gerakan-gerakan keagamaan tertentu mungkin dirasa aneh. Apalagi kajian ekopol yang dimaksud di sini mengacu pada apa yang sering disebut sebagai “ekopol heterodoks” (heterodox political economy), semacam mazhab yang terasosiasikan dengan nama Karl Marx, seorang pemikir dari abad ke-19, yang sejarah hubungannya dengan agama kurang manis.

Mengapa belajar ekopol? Tidak cukupkah Kitab Suci dijadikan satu-satunya landasan orientasi etis dan praksis gerakan-gerakan sosial keagamaan? Saya tidak bisa bicara mewakili umat beragama lain.[1] Tetapi kalau bagi umat Kristen, Kitab Suci-nya, yaitu Alkitab, sebenarnya telah memberikan dasar yang cukup kuat untuk mendorong keberpihakan, misalnya soal keadilan agraria, penguasaan alat produksi, serta keberlanjutan ekologis. Dalam kisah penciptaan, dikisahkan bagaimana Allah menempatkan Adam dalam taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Pasca pembebasan dari perbudakan di tanah Mesir, bangsa Israel dipercayakan tanah untuk dikelola secara adil, salah satunya lewat larangan memperdagangkan tanah secara mutlak (Im. 25:23). Ada pula peraturan tentang tahun Sabat dan tahun Yobel (Im. 25:1-28) di mana secara berkala ada waktu istirahat untuk tanah garapan dan redistribusi kepemilikan. Ketika ketamakan mendorong praktik perampasan tanah, seperti yang terjadi dalam kisah kebun anggur Nabot (1Raj. 21), Allah melalui nabi-Nya, Elia, mengutuk pelakunya, yaitu raja Ahab. Di kitab nabi-nabi, ada Yesaya yang memperingatkan orang-orang tamak yang serakah dalam penguasaan tanah:

Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri! (Yes. 5:8)

Dalam presentasi perdana-Nya pasca-pembaptisan, Yesus mendeklarasikan “tahun rahmat Tuhan,” menggemakan tradisi Yobel tentang redistribusi tanah. Oleh Paulus, penantian akan penebusan atau keselamatan digambarkannya sebagai momen yang bukan hanya ditunggu-tunggu oleh manusia, tetapi juga “seluruh makhluk” (Rom. 8:19). Dan dalam Yerusalem baru yang turun dari sorga, kitab Wahyu menggambarkan bahwa bukan cuma manusia dan kota yang ada di sana, tetapi juga sungai dan pohon-pohon yang dari daunnya keluar penyembuhan bagi bangsa-bangsa (Why. 21-22). Ini semua menunjukkan adanya dorongan teologis, moril, serta utopis dalam Alkitab untuk keadilan dalam hal penguasaan sumber daya alam dan alat produksi, serta keberlanjutan lingkungan.

Lalu mengapa masih perlu pembelajaran ekopol? Belum cukupkah kejelasan soal keberpihakan dalam Kitab Suci untuk memberi petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan terkait dengan isu-isu ini? Sebagai seorang Protestan, saya dibesarkan dengan didikan tentang doktrin “kecukupan Alkitab” (the sufficiency of Scripture). Tapi saya diajar pula bahwa pencarian akan prinsip dan nilai yang terkandung dalam Kitab Suci untuk diterapkan ke dalam situasi kontemporer mensyaratkan proses hermeneutis yang patut disertai pertimbangan tentang rentang perbedaan dunia penulis Kitab Suci dengan pembacanya. Dan perihal pembahasan ini, perbedaan yang krusial dan menuntut perhatian itu adalah perbedaan mengenai pola pengorganisasian kegiatan produksi (corak produksi).

Di sinilah pembelajaran ekopol menjadi penting. Ia menolong para penghayat agama dan pembaca Kitab Suci untuk memahami rentang perbedaan pola pengorganisasian kegiatan produksi dalam dunia Kitab Suci dengan yang beroperasi hari ini, demi ketepatan aplikasi. Jika kritik-kritik sosial para nabi ditujukan kepada figur-figur serakah pengakumulasi tanah, bagaimana semangat itu diterjemahkan hari ini dalam era di mana corak produksi yang mendominasi memang memiliki sifat dasar yang ekspansif serta mendorong percepatan proses akumulasi dan eksploitasi? Sementara dalam Kitab Suci ada perintah yang tegas untuk bekerja, bagaimana kita mengaplikasikannya hari ini ketika corak produksi yang mendominasi, tak seperti dalam dunia Kitab Suci,[2] memisahkan kepemilikan alat produksi dari para pekerjanya, berikut konsekuensi-konsekuensinya? Tanpa kesadaran mengenai rentang perbedaan ini, upaya kita mengaplikasikan dorongan dari Kitab Suci dalam dominasi corak produksi kapitalis akan mudah terjebak dalam pola reaktif dan terbatasi dalam tuduhan moral atas pengusaha dan korporasinya. Kita marah dan mengutuk PT. BNIL sebagai perusahaan yang jahat ketika Pendeta Sugianto dipenjara. Kita menggebu-gebu dalam solidaritas untuk petani-petani Kendeng ketika aspirasi mereka dimentahkan begitu saja oleh pihak penguasa. Tetapi ketika semuanya telah mereda, dan selama tidak ada kasus yang menggegerkan, kita pikir dunia ini baik-baik saja. Kita merasa bahwa institusi agama cukup menjalankan peran profetiknya di tengah maraknya konflik agraria dan ancaman krisis ekologi dengan mengingatkan umatnya supaya tidak tamak, atau menjadi pengusaha/pemimpin perusahaan yang bermoral dan ramah lingkungan. Memprogramkan aksi penanaman pohon, mengembangkan budaya hemat listrik, air, ataupun pola konsumsi minimalis lainnya, tapi tak menyentuh problem hakiki dari corak produksi kapitalis yang pada dasarnya berkontradiksi dengan cita-cita kelestarian alam.

Selain perbedaan corak produksi dunia Kitab Suci dengan dunia hari ini, pembelajaran ekopol juga penting karena perkembangan kepercayaan-kepercayaan keagamaan sendiri berkaitan erat dengan sejarah perkembangan corak produksi masyarakat. Doktrin, konsep teologis, dan semesta kepercayaan yang bertumbuh serta bersilang sengkarut dalam periode tertentu adalah bagian dari proses adaptasi, konsolidasi, normalisasi, resistensi, atau bahkan subversi terhadap perkembangan corak produksi masyarakat. Para pembaca Das Kapital akan menemukan, misalnya, komentar Marx soal kekristenan dalam perkembangan borjuisnya (Protestantisme, Deisme), dengan kultus manusia abstrak, sebagai bentuk keagamaan yang paling cocok untuk masyarakat dengan corak produksi kapitalis, merefleksikan relasi sosial-produksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (kontras dengan penyembahan terhadap alam yang berkembang dalam masyarakat di mana perkembangan daya produksinya rendah, sehingga relasi sosial antara manusia dengan sesamanya dan dengan alam terhitung dekat).[3] Atau dalam pembahasan tentang akumulasi primitif, di mana pengambilalihan dan pengusiran populasi agrikultural yang membuat kota-kota tersuplai dengan massa proletar yang siap dieksploitasi meyakinkan seorang penulis sejarah pada intervensi langsung pemeliharaan Ilahi.[4] Kita bisa perluas lagi contoh-contoh ini dengan langkah teologis founding fathers ekonomi (liberal) seperti Hugo Grotius, John Locke, dan Adam Smith yang meminimalisir efek dosa, menekankan kehendak bebas manusia, serta menaturalisasi keberpusatan pada kepentingan diri dalam doktrin manusia yang mereka gagas.[5] Atau yang lebih dekat, dalam perkembangan sejarah teologi Kristen di Indonesia, mengapa teologi kemakmuran menjamur sekarang, dan bukan tahun 1960-an?

Apa yang biasanya sekadar dijustifikasi dengan menggunakan otoritas maupun kelonggaran tafsir, ternyata bisa dilacak akar-akar materialnya. Yang sering diklaim sebagai misteri ternyata tidak sepenuhnya misterius. Kalau Marx membuka Das Kapital dengan menyingkap selubung relasi sosial dalam corak produksi kapitalis di balik fenomena komoditas, kita bisa pula melakukan analisis yang mengungkap relasi ideologis dengan kenyataan corak produksi di balik klaim-klaim misteri dalam teologi. Yang pertama menelanjangi apa yang Marx sebut “fetisisme komoditas,” sementara yang kedua mungkin bisa kita sebut sebagai demistifikasi “fetisisme misteri.”

Jangan salah paham. Saya sama sekali tidak mengusulkan agar kita mengganti saja Kitab Suci dengan Das Kapital, atau ramai-ramai meninggalkan rumah ibadah lalu fokus belajar ekopol. Analisis ekopol yang akurat dapat menajamkan upaya-upaya menerjemahkan imperatif moral dan ideal utopian dalam agama ke tengah-tengah dunia, agar menjadi tepat dan efektif. Sebaliknya, saya meyakini bahwa dorongan utopis dalam agama berpotensi pula menjadi motor yang membuat analisis ekopol tak sekadar jadi rumusan-rumusan mati, tapi juga kekuatan yang mengubah dunia.

Dengan menolong pembelajar teologi untuk menjangkarkan analisis teologinya pada akar-akar material suatu gagasan, ekopol dapat menjadi mitra kerja yang amat mendukung bagi kajian teologi. Kritik teologi berdasarkan analisis ekopol sangat mungkin dilakukan. Sebaliknya, karena adanya relasi ideologis dengan corak produksi di balik klaim-klaim teologis, kita bisa pula melakukan kritik terhadap kenyataan ekopol tertentu melalui penempatan postur teologi.

Terakhir, teoretikus ekopol seperti Marx bukanlah nabi atau rasul. Jangan sampai kita yang biasa berkutat dengan kanon dan otoritas dalam agama mendekati teks seperti Das Kapital seolah-olah ia merupakan Kitab Suci baru. Pembelajaran terhadap teori-teori ekopol harus selalu diiringi dengan upaya mengujinya dalam kenyataan material. Teori-teori ini hanya akan berguna sejauh mereka membantu kita untuk menguak kenyataan, melihat struktur, dan mengidentifikasi masalah. Dan untuk itu, tidak ada yang lebih baik selain berpartisipasi aktif dalam organisasi-organisasi yang bukan hanya mendorong pembelajaran teori-teori tersebut, tetapi juga mengondisikan pengujian-pengujiannya dalam dunia nyata, sembari berupaya mengubahnya.***

 

Penulis tergabung dalam Jaringan Pemuda Kristen Hijau Jawa Timur. Tulisan ini awalnya disiapkan sebagai kata pengantar untuk acara Sinau Ekopol: Akumulasi Primitif, yang diselenggarakan oleh Kristen Hijau dan FNKSDA Malang di Warung Kalimetro, Malang, 19 Juli 2017.

 

————-

[1] Mohon maaf untuk generalisasi kategori “agama” di beberapa bagian dalam tulisan ini. Penulis menyadari luasnya cakupan istilah tersebut, melampaui model-model yang diasumsikan di sini. Sebagaimana nampak dalam tulisan, model yang digunakan di sini berciri Protestan, seturut dengan tradisi asal penulis. Pembaca dipersilakan mengadaptasi usulan dalam tulisan ini dengan model yang digelutinya masing-masing.

[2] Di sini saya merujuk pada Kitab Suci umat Kristiani bagian pertama, atau yang biasa disebut “Perjanjian Lama”.

[3] Marx, Capital, Vol. I, Ch. I, Section 4.

[4] Ibid. Ch. XXX.

[5] Lih. Roland Boer dan Christina Petterson, Idols of Nations: Biblical Myths at the Origins of Capitalism (Minneapolis: Fortress, 2014).


comments powered by Disqus