Tuhan Yang Dikenal Kartini

Print Friendly, PDF & Email

MENDEDAH Kartini dari sisi sosial dalam perjuangan emansipasi wanitanya, sudah begitu umum. Ini wajar karena berkat itulah, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dalam Kepres RI No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. Tetapi bagaimana jika membedah hiruk-pikuknya kehidupan Kartini pada sisi ketuhanan dan kerohaniannya? Dan adakah relevansi beserta hikmahnya bagi kehidupan ultra-modern ini? Ini tanda tanya, dan jarang sekali disentil.

Pertama-tama perlu dikaji secara utuh tentang maksud isi surat-suratnya yang berkaitan dengan ketuhanan, sebagaimana berikut:

“Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia,” Raden Ajeng Kartini dalam Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon.

 Di surat yang ditujukan kepada E.C Abendanon, tertanggal 15 Agustus, 1902, Kartini menyatakan dirinya bertuhan kepada nurani. Pernyataan tersebut selaras dengan ucapan seorang sufi, Abu Hamid Al Ghazali: Tuhan ada dalam prasangka hamba-Nya. Bahwasanya petunjuk kebenaran semata-mata dari nurani sendiri (suara hati).

Ini tidak bermakna Kartini tidak beragama, atau dalam tanda kutip menganut paham kebatinan. Kartini tetaplah seorang Islam (muslimah), tetapi keislaman yang diyakini Kartini bukan sekedar formalitas belaka, alih-alih sebatas ber-Islam karena faktor keturunan (walau itu diakui sendiri oleh Kartini. Tapi dalam hatinya Kartini ingin sekali mempertanyakan, dan pada gilirannya memperkuat pondasi keimanannya). Sebagaimana visi keagamaan (keislaman) Kartini yang ditampilkan dalam suratnya kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902:

“Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah “kebajikan”, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh! Orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya!”

Di sini tampak bahwa bagi Kartini sendiri, intisari dari pada agama adalah: kebajikan. Berarti pemahaman Kartini mengenai agama bermuara pada aspek moralitas bukan sekedar norma saja. Tentu, Kartini mengimani Allah secara realistik, bukan simbolik, apalagi metafisik. Seperti kata penyair Russia, Tolstoy: Tuhan ada di tempat yang berdebu. Oleh karenaya, bagi orang yang menyakini Tuhan, Ada, maka mestinya memiliki sifat-sifat ketuhanan: kasih, sayang, pemurah. Sedang menurut Kartini, orang yang – menyakini adanya Tuhan – mampu mengikuti nuraninya (suara hati).

Sebenarnya, agak membingungkan ketika menanyakan “Siapakah Tuhannya Kartini? Nuranikah? Allah-kah? Pertanyaan ini dijawab oleh Mr. C. Th. van Deventer (Baca: De Gids, September 1911):

“Kalau orang hendak tahu tentang Tuhannya Kartini? Yah, Dialah Yang Tertinggi tanpa Batas, yang menyebabkan orang-orang Islam, Kristen dan Yahudi bersaudara satu dengan yang lain, yang menyebabkan juga orang-orang Brahma dan bahkan juga orang Kafir dijiwai dan bahwa Kebajikan dan Cinta merupakan ketentuan-ketentuan yang terutama.”

“Kepercayaan pada Tuhan itulah yang terutama baginya, keibadahan hanya soal tradisi. Sebagai orang yang terdidik secara Islam, ia ingin tetap menjadi Islam sekalipun ia tidak buta terhadap beberapa kelemahan dari ajaran itu, karena bentuk kepercayaan itu baginya akhir-akhirnya adalah soal kedua, dan setiap bentuk itupun punya kelemahannya sendiri..”

 “…Tidak pernah dihadapkan kepada kita dengan lebih jelas betapa perasaan-perasaan keagamaan pada orang Jawa yang telah bersentuhan dengan peradaban Barat mendapatkan suatu pentahbisan yang lebih tinggi tanpa harus memunggungi agama Islam.”

Sayang, van Deventer hanya menetapkan ciri khas Tuhan yang diimani Kartini, bukan menyebut secara spesifik. Dan jika memang disebutkan secara spesifik, pertanyaannya, adakah sekarang Tuhan bersama bagi penganut Kristen, Hindu, Buddha, Islam, Konghuchu? Namun bagi Kartini, secara pribadi, semua agama sama (Baca: Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja) dengan pernyataan tegasnya: inti segala agama adalah kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi indah dan baik.

Jika ditelusuri lebih jauh, diketahui, Kartini tidaklah belajar pada satu agama, bukan Islam saja. Pun Kartini mempelajari Buddha melalui buku Buddhisme karya Fielding, yang kemudian dikomentarinya (Surat, 10 Agustus 1901, Dr. N. Adriani):

“Itulah seorang idealis, yang mempropagandakan keyakinannya yang sangat indah: ‘mengalahkan kejahatan dengan cinta’. Sangat bagus dalam teori, tapi duh! Betapa sulitnya dipraktekan. Kami suka membacanya, bahkan membaca bukunya yang lain Naar’t Groote Licht, yang menggarap masalah-masalah aktual dewasa ini”

Kartini menyatakan ketakjuban atas teori dalam Buddhisme guna mengalahkan kejahatan dengan Cinta. Sebuah pembahasan agama yang belum – pernah – Kartini jumpai. Sedang, di sisi lain, Kartini sadar bahwa keadaan masyarakat dan lingkungannya yang kental akan adat (feodalisme) dan ketataperundangan Belanda (kolonialisme) sehingga ia mengeluarkan statement: Duh! Betapa sulitnya dipraktekan. 

Selain kepada Fielding, Kartini juga belajar Hindu pada Pandita Ramabai. Ia adalah seorang wanita Hindu pertama-tama yang memelopori perlawanan terhadap nasib buruk wanita Hindu sebagaimana diakibatkan oleh adat dan agama, terutama sekali kenistaan dan penganiayaan terhadap para Janda. Di kemudian hari, Pandita Ramabai ini menjadi inspirator gerakan Kartini. Dalam suratnya kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902, ia mengutarakan rasa takjubnya:

“Tentang wanita India yang gagah berani ini kami telah dengar lebih banyak. Aku masih bersekolah waktu untuk pertama kali mendengar si gagah berani itu. Ah-ya! Aku masih dapat mengingatnya begitu baik: waktu itu aku masih sangat, sangat muda, masih bocah berumur antara 10 dan 11 tahun, waktu aku dengan semangat membakar membaca tentangnya di koran. Aku menggigil gugup: jadi bukan hanya wanita kulit putih saja kehidupan bebas itu dapat direbut! – juga wanita berkulit coklat dapat membebaskan diri, merebut kemerdekaan.”

Tentang agama Nasrani, Kartini telah berkenalan sejak di duduk di bangku sekolah. Di saat itu, Kartini pernah menghadiri pentahbisan geraja Kedung Penjalin. Dan menurut R.M Singgih Susalit, putra tunggal Kartini, ibundanya memiliki hubungan dengan Zending di Jepara, dan menguasai isi Injil. Ketika diminta berkomentar, Kartini menyatakan: kalau Belanda hendak mengajarkan kesalehan mutlak (Nasrani) pada orang Jawa, haruslah diajarkan kepada mereka itu cara mengenal Tuhan yang Maha Esa, Bapa Cinta. Bapa seluruh MakhlukNya, tak peduli orang Nasrani, Islam, Buddha, atau Yahudi.

Sedang agama Islam sendiri, yang dipeluk Kartini, tidak begitu banyak yang ia ketahui. Bahkan bahasa Arab pun, ia tiada mengerti. Ia menyatakan: tentang ajaran Islam itu, tak dapat aku menceritakannya, Stella,” katanya pada suatu kali di tahun 1899 (Surat, 6 November 1899, kepada Estella Zeehandelaar), karena:

“Ia melarang pemeluknya mempercakapkannya dengan orang lain yang tidak seiman. Dan bagaimanapun, aku adalah seorang Muslimat, karena leluhurku beragama Islam. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai agamaku, kalau aku tidak mengenalnya? Tidak boleh mengetahuinya? Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun. Di sini tiada seorang pun mengenal bahasa Arab.”

Akhirnya, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa pengujaran Kartini tentang Tuhan, ialah nurani, bukan hal yang mengherankan. Keyakinannya itu berangkat dari hasil pengalaman (tekanan dan benturan), dan keadaan sosio-kultural masyarakat sekitar yang jahiliyyah, jika dianalogikan dengan kaum Quraisy pada masa permulaan dakwah nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Kemudian Kartini menyatakan pula, bahwa:

“…agama yang sesungguhnya ialah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain.”

Dalam hal ketuhanan, Kartini bertolak dari Islam sendiri, ialah Allah yang termanifes ke dalam nurani. Kedua, berkaitan tentang agama, ia menyatakan bahwa inti agama adalah kebajikan. Kartini memandang, agama sebagai penggerak beriperilaku humanis (amal sholeh), katanya: In ‘t kort, zendingsarbeid-doch zonder doop (pendeknya, kerja amal-tapi tanpa baptis). Kesadaran humanis dalam agama ini diperoleh Kartini dari bacaan dan pendidikan Sekolah Rendah Belandanya sebagai asas modernisme.

 

Pengaruh Barat

Pada masa kebijakan Politik Etis – politik balas budi – (edukasi, irigasi, imigrasi) Kartini termasuk beruntung. Sebagai bagian dari golongan ningrat (Pangreh Praja), ia memperoleh kesempatan pendidikan Sekolah Rendah Belanda. Di sana ia mendapat percikan cahaya modernisme dari Barat, walau sekecil-kecilnya: baca-tulis (latin), dan berhitung.

Di Sekolah Rendah Belanda itu, ia berkenalan dengan peradaban Barat sehingga pengetahuannya ter-upgrade sesuai kemajuan zamannya. Pemikiran Kartini, di usia masih belia, sudah diliputi hal-hal yang rasional dan humanis, selain Kartini pun berwatak landhep graitho pasemon. Di bidang ketuhanan, Kartini begitu tajam menyoroti, hingga ke akarnya, ingat katanya: Tuhanku adalah nurani, dan inti segala agama adalah kebajikan.

Di Barat, terdapat istilah teodise di bidang ketuhanan (Lihat: Loekisno Choiril Warsito, Paham Ketuhanan Modern: Sejarah dan Pokok Ajarannya). Pertama kali dibumikan oleh Leibnizt dalam karyanya, Essais de Theodicee (1710), sebagai usaha pemecahan masalah penyelenggaraan Tuhan berdasarkan terang akal-budi semata, dan penelaahan keadilan Tuhan.

Antara paham ketuhanan Kartini sendiri, serta teodise, keduanya memiliki kesinambungan. Di satu sisi Kartini memandang Tuhan seadil-adilnya dan universal tanpa membeda-bedakan agama apapun, demikian, di sisi lain, teodise sebagai ajaran penelaahan keadilan Tuhan. Dan paham teodise sudah bergulir sejak sebelum kelahiran Kartini, tahun 1879. Boleh dikata, Kartini telah terilhami teodise walau tak secara gamblang disebut.

Terlebih, Kartini telah baca Zangwil Droomen van he Ghetto atau Impian dari Ghetto yang bercerita tentang keadaan sosial yang sangat buruk pada perkampungan-perkampungan Yahudi di London. Pun Kartini telah tuntas membaca Max Havelaar karya Multatuli, alias Eduard Douwes Dekker, yang mengisahkan tentang kejamnya penerapan tanam paksa (culturstelsel) di sekitar daerah Lebak, Banten.

 

Penutup

Dari uraian ringkas tentang sepak terjang Kartini di bidang ketuhanan, dan pengaruh dari Barat, setidaknya, minimal, memberikan penerangan pada akal-budi kita tentang corak pemikiran seorang Kartini di bidang ketuhanan yang universal. Dapat dibayangkan, bilamana, ada Kartini kedua di abad millenium ini maka ia akan keras menyikapi segala ketidakadilan yang mengatasnamakan agama, bahkan atasnama Tuhan, seperti katanya:

“Agama menjaukan kita dari dosa, lantas berapa banyak dosa yang kita perbuat atas nama agama.”***

Penulis adalah mahasiswa UINSA, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan PBA, aktif di PMII

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus