Tentang Waktu Tak Produktif dalam Kapital[1]

Print Friendly, PDF & Email

 

Une minute. On nous a volé une minute.

– Robert Linhart, L’Établi

Satu menit. Mereka mencuri satu menit dari kita.

– Novel Robert Linhart, L’Établi

BAIK diungkapkan dengan istilah ‘waktu tak produktif’ (unproductive time) maupun ‘waktu non-produktif’ (non-productive time), tetap saja aneh bila kita berpikir dapat menemukan ungkapan tersebut dalam Kapital Marx; Marx tidak pernah meluangkan satu halaman atau bahkan satu baris pun untuk menggunakan istilah-istilah ini. Dalam kaitannya dengan ‘nonproduktivitas’, Marx memberikan perhatian terutama pada masalah ‘tenaga kerja tak produktif’ yang dijabarkannya terutama dalam Teori-teori Nilai-lebih, sebagaimana juga dalam Kapital jilid 2 dan 3, sebagai konsekuensi logis determinasi tenaga kerja oleh nilai, dalam skala reproduksi yang lebih besar pada berbagai departemen dan cabang yang berbeda dalam modus produksi kapitalis. Dalam hal ini, yang menarik perhatian Marx bukanlah ‘ketidakproduktifan’ itu sendiri, sebagai gagasan yang darinya dapat kita turunkan berbagai kemungkinan konsep tentang ‘yang tak produktif’, melainkan sebuah operasi spesifik terhadap nilai, sebagai ukuran untuk menilai apakah tenaga kerja tersebut produktif atau nonproduktif. Sebuah tenaga kerja disebut produktif hanya apabila menghasilkan nilai, dan disebut nonproduktif ketika berhenti menghasilkan nilai, terlepas pembedaan yang kemudian dibuat Marx antara tenaga kerja produktif atau nonproduktif bagi kapital secara keseluruhan dan tenaga kerja produktif atau nonproduktif bagi kapitalis perseorangan.

Ketidakproduktifan itu sendiri, dilihat dari determinasinya oleh nilai, bersifat netral, karena pada dirinya ia tidak memiliki arti kecuali dalam hubungannya dengan produksi nilai, dan tenaga kerja nonproduktif tetap bersifat eksternal terhadap tenaga kerja produktif sebagai elemen yang diperlukan bagi produksi kapitalis, terlepas dari fakta bahwa tenaga kerja nonproduktif tetap menjadi cadangan bagi tenaga kerja produktif yang potensial dalam skema reproduksi yang diperluas. Saya tertarik untuk mengkaji apakah ketidakproduktifan ini, begitu dilepaskan dari asosiasi eksklusifnya dengan tenaga kerja nonproduktif seperti dijelaskan dengan panjang lebar oleh Marx, dapat menjadi konsep yang dengannya kita dapat menandai tempat-tempat lain, dimana dikotomi antara produktif/nonproduktif dapat membuka sejumlah problematik dalam modus produksi kapitalis; dan apakah ketidakproduktifan ini tidak selalu netral seperti kelihatannya, tapi dapat menjadi sebuah tempat antagonisme di dalam modus produksi ini. Salah satu titik masuk yang mungkin adalah masalah ‘waktu yang tak produktif’ sebagai salah satu dari sekian modus – meminjam istilah Peter Osborne – “temporalitas di dalam kapital”, yaitu temporalitas di dalam modus produksi kapitalis, yang terungkap baik sebagai ‘waktu tenaga kerja’ (times of labour) maupun sebagai ‘waktu kapital’ (times of capital). Fakta bahwa produktivitas produksi menghasilkan temporalitasnya sendiri, berarti bahwa produksi ini tidak selalu produktif, karena produktivitas tersebut mungkin sebagai ciri khas produksi sejak ia terbedakan dari hal-hal ‘tak produktif’ yang mengiringinya. Sementara, tidak selalu jelas apakah pembedaan tersebut benar-benar ada, karena produktivitas merupakan prinsip maksimalisasi produksi, yang dengannya produksi cenderung secara alamiah memperbesar jangkauannya. Esai ini berharap dapat memaparkan modus spesifik temporalitas ini di dalam kapital sebagaimana ditemukan dalam teks Kapital,dan sebisa mungkin menemukan, jika ada, kemungkinan ruang antagonisme dalam modus temporalitas tersebut.

 

Waktu Tak Produktif dalam Waktu Tenaga Kerja

Sekilas, tampaknya seluruh ‘teori’ tentang waktu tak produktif tersketsakan dalam konteks waktu produksi yang merupakan fokus utama Bab 13 Kapital jilid 2.Teori tersebut pertama-tama tidak dituangkan secara sengaja oleh Marx sebagai sebuah konsep khusus, tetapi sekadar sebagai sebuah pengandaian tersirat yang ditinggalkan oleh waktu produksi, yaitu sebagai sisa dari penggunaannya sebagai waktu produktif maupun sisa dari jam kerja yang dihabiskan di dalam waktu produksi. Bab 5 dalam buku yang sama akan menyebut sisa ini sebagai ‘ekses’: “Perbedaan antara keduanya [waktu produksi dan waktu kerja] terletak pada ekses waktu produksi terhadap waktu kerja” (Marx 1992:201). Namun demikian, fakta bahwa waktu tak produktif diisyaratkan di sini sebagai sisa yang kurang lebih bersifat eksternal terhadap waktu produksi dan waktu kerja bukanlah segalanya — kita akan bahas nanti — karena hal tersebut hanya menyentuh sisi objektif waktu tak produktif, sementara waktu tak produktif juga terbentuk di dalam jam kerja sebagai modus temporal waktu tenaga kerja.

Pertama-tama, diperlukan pemilahan untuk memperoleh kejelasan mengenai hal ini. Waktu tak produktif tidak identik dengan ‘waktu tak-bekerja’ dari waktu kerja (working time), misalnya waktu pekerja untuk tidur dan makan. Sementara waktu tak-bekerja ini merupakan batas dari jam kerja (Marx 1982: 341), bisa saja waktu ini didefinisikan sebagai waktu tak produktif dalam artian bahwa ia adalah waktu untuk tidak-bekerja, yaitu waktu bebas saat pegawai berhenti bekerja untuk beristirahat atau tidak berproduksi. Sementara benar bahwa waktu tak-bekerja adalah sebentuk waktu tak produktif, sebaliknya tidak benar bahwa waktu tak produktif selalu adalah waktu tak-bekerja.

Untuk menempatkan waktu tak produktif ini secara lebih akurat di dalam waktu tenaga kerja (time of labour), waktu ini perlu diletakkan pertama-tama dalam konteks waktu-kerja (labour-time) sebagai temporalitas yang imanen dari proses produksi. Waktu-kerja, sebagai waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah komoditas, tampak bagi pekerja sebagai momen di mana produktivitas diperankan dan dimainkan dalam arti sepenuhnya. Ia adalah waktu yang, bagi pekerja, dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara, dari sudut pandang kapitalis, ia adalah periode dimana tenaga-kerja (labour-power) dihabiskan dengan cara yang berguna (Marx 1982:302).Sementara produktivitas disini berhubungan dengan pengeluaran tenaga-kerja secara maksimal, namun penting bahwa pengeluaran ini berlangsung dalam kemungkinan tertinggi dari kegunaan tenaga-kerja tersebut maupun alat-alat produksi lainnya. Sebab, dalam hal tenaga-kerja, pengeluaran ini harus sesuai dengan maksimalisasi tenaga-kerja selama waktu-kerja, “mengingat dia (kapitalis) harus memastikan bahwa pekerjanya tidak sedikit pun menganggur” (Marx 1982: 303).

Dari sini kita mendapatkan determinasi pertama waktu tak produktif: ia adalah waktu pengangguran seorang pekerja selama waktu-kerja, waktu menganggur di dalam waktu-kerja.

Fakta bahwa terkadang seorang pekerja menganggur tampaknya hanyalah fakta ‘netral’ yang tidak memiliki arti signifikan bagi kapitalis secara khusus, dan bagi proses produksi secara umum, karena waktu ini hanyalah momen yang tidak bernilai dibandingkan dengan keseluruhan proses produksi yang objektif yang telah berlangsung dari awal dan yang akan menghabiskan seluruh waktu kerja. Hal ini dikarenakan, sekali tenaga-kerja dibeli dan proses produksi siap dimulai, semua temporalitas yang termasuk di dalam proses produksi ini telah diobjektivikasi menjadi ‘sesuatu’, sebagai totalitas yang tidak lagi terbedakan pada dirinya, sebuah Gegendständlichkeit. Sekali tenaga-kerja dibeli, semua temporalitas yang termasuk di dalamnya dalam bentuk waktu-kerja telah dihadirkan sebagai waktu objektif yang pada dirinya bersifat produktif, terlepas dari fakta bahwa waktu itu mengandung sekian detik pengangguran.

Tetapi, yang menarik adalah menggaris bawahi reaksi dari pihak kapitalis. Jika waktu-kerja telah dibeli dalam totalitasnya, dan telah diobjektivikasi sedemikian rupa sebagai waktu yang tidak terbedakan pada dirinya, mengapa kapitalis masih peduli dengan suatu momen dari waktu yang sudah bersifat homogen ini? Fakta bahwa momen-momen sekejap yang terdiferensiasi di dalam waktu-kerja, seperti halnya momen pengangguran ini, menarik perhatian seorang pemberi kerja yang sangat teliti ini tidak bertentangan dengan fakta tentang totalitas waktu-kerja yang telah dia tetapkan. Jika totalitas semacam ini muncul sebagai totalitas kuantitatif yang beku, penerapannya, bertentangan dengan penampilannya yang abstrak dan global, mesti tunduk pada tatanan kualitatif, yang dalam hal ini bernama ‘intensitas’: “Di dalam perdagangan dimana tenaga-kerja digunakan, tenaga-kerja tersebut harus memiliki kemampuan rata-rata, kecekatan dan kecepatan yang umum dalam perdagangan itu, dan kapitalis kita merasa perlu untuk membeli tenaga kerja dengan kualitas normal demikian. Tenaga-kerja tersebut harus dikerahkan seturut jumlah upaya rata-rata dan tingkat intensitas yang biasa” (Marx 1982: 303).

Di sini muncul sebuah totalitas yang berbeda dari sebelumnya, yang merupakan konjungsi antara kuantitatif dan kualitatif; waktu-kerja muncul sebagai totalitas yang terobjektivisasi dan kuantitatif yang bersifat homogen pada dirinya, hanya jika ia memperhitungkan temporalitas tenaga-kerja yang kualitatif, subjektif, dan terdiferensiasi, demi mereduksinya, dengan mengasimilasikan, menyesuaikan dan menggabungkan partikularitasnya ke dalam totalitas waktu-kerja yang terbaharui, ke dalam totalitas riil yang di dalamnya seluruh kemungkinan temporalitas kuantitatif dan kualitatif diperhitungkan.

Waktu tak produktif semacam ini, dalam kamus kapitalis, sinonim dengan ketidakefektifan,ekses waktu yang muncul di dalam waktu-kerja sebagai waktu yang dapat menghambat berjalannya waktu yang secara sosial diperlukan untuk menghasilkan nilai-guna. Tetapi jika waktu ini merupakan ekses, ekses ini tidak berada di luar waktu-kerja, namun di dalam dan bersamanya. Apa yang dapat dilakukan oleh kapitalis dengan memperhitungkan ekses ini adalah tidak membiarkan ekses waktu ini memenuhi ruang produktif dalam waktu-kerja – karena jika ini terjadi, maka sama sekali tidak akan ada proses produksi – tetapi juga tidak melenyapkannya sama sekali – karena jika ini terjadi, totalitas waktu-kerja yang homogen akan kehilangan aspek kualitatifnya yang mutlak bagi homogenisasinya sebagai suatu totalitas yang selalu dapat diperbaharui dan memperbaharui dirinya sendiri – melainkan membatasi kemungkinannya dengan secara terus-menerus menormalisasi dan mengontrol faktor-faktor objektif tenaga kerja dan elemen-elemen subjektif tenaga-kerja (intensitas, skill, kapasitas, kapabilitas, ketangkasan, kompetensi, kecepatan, kecerdasan, dll.).

Untuk memastikan bahwa proses produksi berlangsung tepat sejalan dengan waktunya, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh produksi sebuah nilai-guna, kapitalis memiliki dua tugas utama: memastikan tenaga-kerja berada di bawah kondisi normal, yaitu di bawah kondisi-kondisi material dan objektif yang memungkinkan setidaknya pemfungsian tenaga-kerja secara normal, ekuivalen dengan biaya yang dikeluarkan kapitalis untuk menyiapkan tenaga kerja itu sendiri. Hal apa pun yang berpotensi mengganggu pemfungsian secara normal ini mesti dijauhkan dari sekitar pekerja agar tak ada yang dapat mengalihkan perhatian pekerja dan menghambatnya untuk mengeluarkan energi penuh dan kapasitas kerjanya. Waktu menganggur, dengan demikian, bukan kesalahan pada dirinya; ia adalah kesalahan dari kurangnya kondisi memadai yang memungkinkan berfungsinya tenaga-kerja secara normal dan teratur. Di sini muncul hal yang tampak paradoksal: saat si kapitalis mencoba memastikan kondisi-kondisi normal yang mendukung pemfungsian tenaga-kerja secara baik, tampaknya dia melakukannya demi kepentingan pekerja, karena apa yang dilakukannya adalah menjauhkan potensi gangguan dan ketidakteraturan dari pekerja, untuk menjamin ‘kenikmatan bekerja’-nya. Padahal, itu sebenarnya dilakukan demi kepentingannya sendiri untuk memastikan berfungsinya tenaga-kerja secara umum, dengan mengantisipasi adanya kemungkinan gangguan yang mengarah kepada waktu menganggur dan valorisasinya oleh subjektivitas pekerja.

Seiring dibentuknya kondisi-kondisi normal ini, sebagai syarat bagi normalisasi tenaga-kerja yang fungsional, muncul tugas kedua kapitalis, yaitu memastikan keefektifan tenaga-kerja. Hal terakhir ini lebih menyentuh kondisi subjektif dan fisik tenaga-kerja daripada lingkungan material di sekelilingnya, karena yang mengganggu tidak lagi datang dari kurang memadainya kondisi-kondisi eksternal, melainkan dari kurang memadainya kapasitas internal tenaga-kerja. Jika dalam lingkungan material yang baik potensi ketidakefektifan dapat terjadi dan berulang dengan satu dan lain cara, seperti potensi waktu menganggur tersebut, ini semata-mata disebabkan oleh ketidakmampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baik yang tersedia. Sebagai tanggapan atas ketidakmampuan ini, kapitalis merespon dengan meningkatkan kapasitas tenaga-kerja atau mengganti elemen yang tak efektif dari tenaga-kerja tersebut dengan yang lain. Di sini mulailah pembedaan antara tenaga-kerja yang berkualitas dan yang tak berkualitas, antara yang berkeahlian dan yang tak berkeahlian. Bertentangan dengan sifat tak terbedakan yang ditunjuk Marx dari sudut pandang valorisasi, dimana tidak penting apakah tenaga kerja bersifat sederhana atau kompleks (Marx1982:305), dari sudut pandang efektivitas yang internal terhadap pemfungsian tenaga-kerja, merupakan hal yang penting apakah tenaga-kerja itu berkualitas atau tidak. Di sini, di bawah tuntutan efektivitas, hal lain yang mendapat perhatian kapitalis tidak hanya berupa waktu menganggur, tetapi juga –determinasi kedua waktu tak produktif – berupa waktu pemborosan instrumen tenaga kerja.

Kapitalis cukup menyadari semua kemungkinan ketidakefektifan dari produksinya. Itu sebabnya, ia harus mencegah semua risiko yang mungkin ditimbulkan oleh ketidakefektifan ini terhadap proses produksi. Tetapi jika risiko ini layak disesali, itu disebabkan karena risiko itu datang dari tenaga-kerja tak efektif yang tidak tahu bagaimana menggunakan instrumen tenaga kerja secara efektif sesuai dengan penggunaannya yang ditentukan. Pemborosan ini sangat dilarang, bukan karena nilai yang dimiliki oleh instrumen tenaga kerja itu sendiri, melainkan karena, pertama, instrumen tersebut merepresentasikan kuantitas tenaga kerja yang terobjektivikasi sebelumnya (Marx 1982:303), dan pengeluarannya dengan cara yang boros ini membuat proses ‘objektivikasi’ tenaga kerja sebelumnya sia-sia, dan karena, kedua, pemborosan ini merupakan pemborosan tenaga kerja yang aktual itu sendiri, dengan demikian pemborosan waktu-kerja, sebagai waktu konsumsi yang boros.

Apa yang menarik adalah menggaris bawahi bagaimana waktu konsumsi yang boros ini tidak terlalu boros, ketika kita memasuki ranah waktu produksi dalam arti sirkulasi, yang merupakan objek Kapital volume 2. Waktu sia-sia yang riil, yang dalam waktu-kerja tampil sebagai kesalahan tenaga-kerja yang tak efektif, sebagai ekses yang tak dikehendaki dari ketidakmampuan subjektifnya, lenyap menjadi sekadar penampakan dalam waktu produksi, yang mengalami proses objektivikasi menuju objektivitas yang lebih tinggi dan lebih abstrak yang mengandaikan pada dirinya ketakproduktifan sebagai unsurnya yang konstitutif, dan seluruh proses ini mempengaruhi status temporalitas yang dilibatkannya, sebagai bentuk lain dari waktu tak produktif.

 

Waktu Tak Produktif dalam Waktu Kapital

Waktu tak produktif dalam ranah waktu produksi menunjukkan bahwa ketidakefektifan, berbeda dengan yang dikutuk sebagai hal yang sia-sia dalam waktu tenaga kerja, secara niscaya merupakan bagian konstitutif dari waktu produksi. Waktu konsumsi yang boros, yang dalam waktu tenaga kerja terjadi akibat kerusakan yang diakibatkan oleh pekerja karena kelalaian atau ketidakcakapannya, dapat ditoleransi, bahkan dimengerti, karena yang penting sekarang bukan lagi tenaga-kerja subjektif, melainkan tatanan produksi yang objektif, yang subjek utamanya bukan lagi tenaga-kerja, melainkan modal itu sendiri, modal sebagai operator yang mengoverdeterminasi proses produksi yang lebih tinggi. Di sini, yang boros atau yang tak efektif menjadi niscaya, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari produksi. Apa yang penting untuk dicatat adalah bahwa, sebagai bagian tak terpisahkan dari produksi, waktu tak produktif dipindahkan dari kemelekatan internalnya pada tenaga-kerja ke kemelekatannya pada komoditas, pada produk itu sendiri, sebagai ukuran baru keefektifan dan ketidakefektifannya.

Pertanyaan yang melatar belakangi waktu produksi ini adalah: berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu proses dari sebuah komoditas, yang mungkin terdiri dari beragam proses produksi, dan dengan demikian terdiri dari beragam waktu kerja? Waktu produksi adalah waktu yang diperlukan oleh produksi yang mencakup periode dari proses kerja, tetapi yang tidak mesti dihabiskan oleh proses kerja, karena ia merupakan waktu di mana ‘objek kerja’mesti menjalani durasinya sendiri sebagai komoditas. Sementara durasi ini, panjang, dan kecepatannya berbeda satu sama lain untuk tiap-tiap komoditas, waktu produksi yang dibutuhkan oleh komoditas dalam totalitas produksi bersifat ‘heterogen’, tetapi ‘heterogenitas’ ini pada dasarnya homogen, karena ia merupakan waktu dari komoditas sebagai hasil dari kerja yang diobjektivikasi, dan bukan waktu tenaga-kerja.

Waktu tak produktif adalah konstitutif terhadap waktu produksi karena terdiri dari sesuatu yang kita sebut ‘durasi’ komoditas: interupsi, jeda, istirahat, tiadanya aktivitas (inactivity).“Proses produksi itu sendiri dapat mencakup interupsi-interupsi proses kerja, sehingga mencakup pula waktu kerja, masa jeda terpaparnya objek kerja terhadap tindakan proses-proses fisik, tanpa butuh lagi tambahan tenaga kerja manusia” (Marx 1992: 201). Seperti yang tergambar dari “jagung yang ditabur, anggur yang masak di gudang, atau bahan kerja yang terpapar proses kimia” (Marx 1992: 201), interupsi-interupsi ini merupakan waktu yang tak beraturan tetapi diperlukan dan harus diperhitungkan dalam proses produksi guna memastikan keteraturan dan kelangsungan produksi; segala yang terjadi bergantung pada waktu dari komoditas sebagai ‘sesuatu’, sebagai objek dalam dirinya. Misalnya, tidak selalu jelas bahwa tipe anggur Beaujolais tertentu dan tipe anggur Burgundian tertentu membutuhkan waktu interupsi yang sama agar fermentasi keduanya dapat berlangsung dengan baik – selanjutnya, belajar dari pengalaman masa lalu, kaum kapitalis akan mengenalinya – karena interupsi berbeda yang dibutuhkan masing-masing bergantung pada waktu dari elemen kimia di dalam objek, di dalam anggur itu sendiri. Waktu tak produktif yang dibutuhkan dan diandaikan oleh masing-masing tetap berbeda satu sama lain; namun perbedaan ini, ketakteraturan ini, diperlukan demi terbentuknya komoditas yang bagus. Apa yang tampak kemudian bagi tenaga-kerja adalah ‘ketakaktifan’ dan ‘keadaan istirahat’ dari komoditas — karena saat itu tenaga-kerja berhenti sejenak dari aktivitasnya menangani objek dan menyerahkannya kepada alam — meski yang sebenarnya terjadi adalah ‘kehidupan’ (liveliness) tertentu dari objek, yaitu proses transformasi diri objek dengan potensi alamiah yang dimilikinya.

Waktu jeda ini tidak menciptakan nilai maupun nilai-lebih (Marx 1992: 201). Ia adalah suatu interupsi murni yang harus dibiarkan terjadi oleh kapital, tetapi tetap dalam kendali dan pengawasannya; tetapi pada dirinya, ia merupakan waktu hampa yang tak berbahaya dan tak menguntungkan bagi kapital. Dampak yang ditimbulkan dari waktu tak produktif semacam ini terhadap kapital adalah bahwa ia membentuk suatu modal produktif yang diam di tempat, suatu ‘modal laten’ (Marx 1992: 201). Modal itu tetaplah produktif, karena selalu hadir dalam proses dan durasi produksi, terlepas dari berbagai ketakmenentuan di dalamnya, tetapi pada saat itu, ia tidak berfungsi dalam arti sesungguhnya, karena tidak menghasilkan nilai pada saat itu juga dengan tindakannya yang langsung; di sini modal semata-mata berfungsi sebagai syarat penentu bagi produksi yang sedang berjalan. Apa yang mencirikan modal laten, tak bergerak, tapi produktif ini adalah bahwa ia menunjukkan suatu ‘kesiapan’ bagi proses produksi selanjutnya atau di masa mendatang, dalam sebentuk Zuhandenheit ala Heidegger. Bentuk interupsi yang niscaya ini membentuk apa yang, sekali lagi, Marx sebut sebagai ‘ekses’, ekses konstitutif yang dengannya waktu produksi dapat dibedakan dari waktu kerja, dan sementara ekses ini tidak dapat diatasi atau dihapus begitu saja, maka yang dapat dilakukan oleh kapital hanyalah membuat suatu formula umum, dimana “semakin waktu produksi dan waktu kerja mendekati kesetaraan, semakin besar produktivitas dan valorisasi suatu modal produktif tertentu dalam suatu ruang waktu tertentu” (Marx 1992: 202).

 

Catatan tentang dua determinasi waktu tak produktif

Dua determinasi waktu tak produktif ini, baik dalam ranah waktu kerja maupun dalam ranah waktu kapital, hingga kini tampak sebagai dua jenis waktu tak produktif yang sepenuhnya terpisah dan tak saling berkaitan, salah satunya internal terhadap waktu-kerja sehingga lebih terbuka kepada antagonisme tenaga-kerja dan kepada berbagai bentuk ekspresi tenaga kerja yang tak tereduksi, kualitatif, dan tersubjektivikasi, sementara yang lainnya berada di luar waktu-kerja, dan membentuk suatu objektivitas yang konstitutif dan ‘beku’ dari produksi, dan dari komoditas apa adanya. Masih menjadi pertanyaan bagaimana mengaitkan kedua jenis waktu tak produktif tersebut, selain dengan memandangnya semata-mata dari gerak dialektis objektivitas waktu-kerja menuju objektivitas produksi yang lebih tinggi. Isyarat yang diberikan oleh Marx ditunjuk secara implisit dalam Bab tentang Periode Kerja, dimana dia mendefinisikan periode kerja sebagai “tindakan produksi yang saling terkait” (Marx 1992: 308), yang terdiri dari hari-hari kerja yang masing-masing memiliki interupsinya yang mungkin atau niscaya, dan karenanya waktu tak produktif yang mungkin atau niscaya pula. Apakah ini berarti bahwa periode kerja merupakan tempat pertemuan dan interpenetrasi, bahkan antagonisme kedua jenis waktu tak produktif tersebut, dimana objektivitas proses produksi yang murni dan beku dalam waktu kapital dapat menjadi tempat antagonismeyang datang dari waktu tenaga kerja?

Mempertimbangkan adanya kemungkinan antagonisme tersebut, layak diperhatikan bahwa Marx memberikan elaborasi yang sangat sedikit tentang antagonisme ini, bahkan di dalam waktu tak produktif dari waktu-kerja, kecuali dalam ungkapan ‘perampokan’ – “Saat pekerja menghabiskan waktu santainya untuk dirinya sendiri, saat itulah ia merampok kaum kapitalis” (Marx 1982: 342) – dan ‘pencurian’: “Apabila pekerja bebas beristirahat sejenak, pihak manajemen dasar dan rendahan yang mengawasinya dengan mata melotot akan mengeluh bahwa ia telah mencuri dari mereka” (kutipan dari N. Linguet, Marx 1982: 342). Sudut pandang Marx secara umum mewakili cara pandang yang dianut oleh kaum kapitalis, dan bukan oleh pekerja. Menjadi pertanyaan apakah ‘perampokan’ dan ‘pencurian’ tersebut dapat memiliki konotasi positif apabila kita meletakkannya di sisi pekerja, sebagai momen ‘kebebasan’ yang niscaya untuk mengganggu kepenuhan temporalitas yang didesakkan oleh kapital.

 

Referensi

Marx, Karl. 1982. Capital: A Critique of Political Economy, Volume 1, terj. Ben Fowkes. London: Penguin.

_________. 1992. Capital: A Critique of Political Economy, Volume 2, terj. David Fernbach. London: Penguin Classics.

 

[1] Esai berjudul “On Unproductive Time in Capital” (https://www.academia.edu/7869875/On_Unproductive_Time_in_Capital) ini awalnya ditulis oleh Muhammad Al-Fayyadl untuk seminar yang diikutinya bersama Prof. Peter Osborne (redaktur jurnal ‘Radical Philosophy’ dan penulis ‘How to Read Marx’) di Universitas Paris-VIII (Vincennes-Saint-Denis), pada tahun 2014. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk keperluan kajian dan diseminasi gagasan.

 


comments powered by Disqus