SAYA: Mengubah Dunia! (Tentang Kritis, Partisipatoris dan Tesis 11 Marx)

 

“Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; padahal yang terpenting ialah mengubahnya”

Karl Marx, Tesis-Tesis tentang Feuerbach

 NATO

APABILA kita amat-amati dan renung-renungkan, sebenarnya kutipan di atas ini – yang saya yakin cukup sering kita dengar dalam rupa-rupa versinya – cukup bermasalah. Ya, bermasalah. Kutipan di atas adalah apa yang terkenal di kalangan ilmuwan sosial kritis sebagai tesis 11 Marx. Seperti diketahui, Marx menulis 11 tesis sebagai refleksi kritisnya atas Feuerbach melalui tulisan itu. Tesis 11 ini sering dipakai, saya juga pernah sih beberapa kali, untuk mengritik orang yang melulu berbicara sesuatu di tataran ideal, teori, filsafat, dan yang abstrak-abstrak nan melangit, tanpa pernah berjejak dan membicarakan hal yang kongkrit, apalagi melakukan sesuatu di kehidupan sehari-hari. Budaya populer kita punya sebutan untuk ini: NATO – no action, talk only.

Lalu mengapa tesis 11 ini cukup bermasalah? Pertama, apakah benar para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia? Apakah benar para ahli filsafat sebelum Marx tidak memiliki keinginan untuk mengubah dunia, menjadikan dunia lebih baik dan, meminjam kosakata hari-hari ini, sustainable untuk anak-cucu kita di masa yang akan datang – ketimbang Cuma menafsir-nafsirkannya saja sambil lalu? Dibahasakan untuk penggunaan hari-hari ini, apakah benar orang-orang yang kita kritik sebagai NATO (No Action Talk Only) ini benar-benar ‘hanya menafsirkan dunia’ tanpa berusaha mengubahnya?

Pertanyaan kedua, apakah benar para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia? Kata ‘telah’ merujuk pada suatu kondisi yang final, selesai, komplit, utuh, atau paripurna. Dengan kata lain, tesis 11 ini menganggap upaya penafsiran dunia ini sudah selesai, atau setidaknya sudah dilakukan – sehingga yang perlu dilakukan berikutnya adalah mengubahnya. Tapi kembali lagi, apakah upaya penafsiran dunia ini benar-benar telah selesai, rampung, final? Seolah-olah seluruh rangkaian kritisisme dan perdebatan (syukur-syukur kalau ada) terhadap tafsiran sang filsuf telah sampai pada terminal akhir kata sepakat. Seolah-olah bahkan pemikiran sang filsuf itu sendiri telah final dan, entah, mungkin saat ia merenung kembali di pispotnya, ia berubah pikiran. Atau mungkin, apakah benar upaya penafsiran ini telah dilakukan dengan baik dan benar, atau pakai bahasa Orde Baru, dengan murni dan konsekuen?

Saya kira kedua rangkaian pertanyaan ini, kalau saya boleh mewakilkan para pembaca sekalian, jawabannya adalah: ‘hmm.. ya nggak juga sih.’ Okelah, saya tidak akan membahas tesis 11 secara historis dalam konteks akademik dan sosial di zamannya.[1] Tapi yang penting bagi diskusi kita saat ini adalah sirkulasi dan artikulasi tesis 11 ini di kehidupan sehari-hari. Kita menjumpai tesis 11 ini, misalnya, dalam ungkapan-ungkapan sbb: ‘ah kamu cuma bisa ngritik terus, apa kerjamu untuk bangsa dan negara?’; ‘dasar omdo—omong doang, ngomong aja bisanya tanpa mempraktikkan.’ Bahkan ada yang lebih kasar, ‘bisanya cuma masturbasi intelektual saja, rakyat di luar sana sedang lapar dan menunggu tindakan kongkritmu!’ Saya yakin kita semua pernah dengar variasi lainnya—yang saya juga ingin dengar tentunya. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, kita bisa ajukan dua rangkain pertanyaan di atas, dengan jawaban yang saya yakin sama.

Saya kira tesis tersebut bisa jadi tidak relevan lagi karena hari ini sudah menjadi etos dan anggapan umum bahwa “we have to do something.” Dimana-mana kita jumpai tentang istilah-istilah seperti: ‘saran praktis’, ‘rencana aksi’, ‘rekomendasi kebijakan’, ‘things to do list’, dst. Bahkan saya rasa amat susah kita sebut nama-nama orang, apalagi pemikir, yang tidak punya pendapat mengenai ‘apa yang harus kita lakukan’ di dunia ini. Bukan begitu?

Pula agaknya tesis tersebut perlu dipertimbangkan lagi karena, saya kira, kita semua tidak benar-benar bisa mengonfirmasikan bahwa ‘dunia telah selesai ditafsirkan’ atau bahwa ia ‘telah ditafsirkan dengan baik.’ Kita umumnya hanya bisa percaya kepada penafsiran-penafsiran ini tanpa ada usaha untuk berpikir ribet-ribet kritis mengenai penafsiran-penafsiran ini. Tidak ada engagement terhadap substansi dan logika ketimbang retorik dan simpulan akhir dari penafsiran-penafsiran tersebut. Sehingga bagaimana mungkin dikatakan upaya penafsiran ini telah benar-benar dilakukan kalau tidak ada yang bisa benar-benar memastikan bahwa ia telah benar-benar dilakukan?

 

So What?

Okelah, bung Yosie, apa yang mau kamu sampaikan dengan ngotot betapa bermasalahnya tesis 11 Marx ini? So what? – mungkin pembaca akan bertanya. Sederhana saja, tidakkah ini aneh: kita tidak tahu benar, atau tidak bisa benar-benar memastikan suatu pernyataan, namun kita sehari-hari menggunakannya, baik itu untuk mengritik orang lain, atau sekadar untuk memotivasi diri sendiri. Yang terakhir ini (memotivasi diri), bahkan memaksa kita untuk berpikir vulgar, sok realistis dan pragmatis; dan seakan-akan menjadi dosa dan/atau hal yang memalukan untuk berpikir sedikit abstrak dan ideal. Demikian pula saat seseorang dilabrak dengan ungkapan itu, serta-merta ia akan menjadi orang yang nerd, geek, berkaca-mata kuda, atau malah kalau di dunia gerakan sosial: mahasiswa dan intelektual yang tiada berguna, antek-antek feodalisme kampus, penghuni menara gading, dst. Jadilah seseorang tersebut sansak bulan-bulanan bully yang empuk. Hebat bukan fungsi ungkapan ini, bahkan saat ia beroperasi di luar makna dan substansinya? Ini poin pertama.

Poin kedua, saya akan memperluas bahasan dengan menghubungkan ke hal lain yang masih tetanggaan. Penggunaan ungkapan tesis 11 dalam bentuk yang barusan ini, biasanya punya asumsi mengenai suatu keharusan untuk kita menjadi, salah duanya, “kritis” dan “partisipatoris.” Artinya, pemikiran kita – atau bahasa tesis 11-nya penafsiran-penafsiran kita – hendaknya memiliki karakter kritis yang tidak hanya mengawang-awang saja. Melainkan, ia bisa menjadi penuntun untuk tindakan kongkrit kita saat kita melibatkan diri di kehidupan sehari-hari – Marx tentu akan menyebut keterlibatan dalam perjuangan kelas.

Pertanyaan saya, lagi-lagi sama. Apa itu kritis, apa itu partisipatoris? Karena pertanyaan tersebut seolah-olah memang benar bahwa kita ‘hanya telah’ idealis dan tidak terlibat (engaged; participated)! Lagi-lagi, interogasi macam yang saya sampaikan di atas saya kerahkan. Kritis? Apa benar kita tidak kritis? Bukankah, kata common sense, “rakyat sekarang sudah pintar, tidak bisa ditipu lagi”? Juga lihat betapa kritisnya kita ke customer service saat Burger King kita ternyata ada kadal di dalamnya; atau saat ada SMS “mama minta pulsa” – kita bisa segera mengatakan itu bohong; atau bayangkan anda menjadi pegawai Lion Air saat harus merasakan keras, tajam dan berbobotnya kritik-kritik dari penumpang yang ditelatkan dan ditelantarkan maskapai anda.

Lalu partisipatoris. Apa benar kita selama ini tidak terlibat di dunia kita, dan tidak berusaha mengubah dunia? Seakan-akan kita saat ini ada di Mars dan mencerca Indonesia dan manusia-manusia uniknya, gitu. Saya tidak bisa berhenti heran betapa gandrungnya kita dengan film-film Reality Show: bedah rumah, atau bedah apa lah itu. Juga betapa Laskar Pelangi yang berbicara tentang kegigihan perjuangan sehari-hari, atau Slumdog Millionaire. Di dunia kampus, akademik dan gerakan pun, kita melihat gelombang – apa yang disebut kawan saya Geger Riyanto – sebagai “euforia etnografi”—begitu gandrung melihat partikularitas dan konteks-konteks keseharian; begitu gandrung dan ‘bangga’ untuk melakukan ‘penelitan lapangan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat’; begitu cepatnya hati tergugah untuk turun mengajar anak-anak terlantar di kolong jembatan dan di ruang kelas yang sebentar lagi atapnya roboh.

Ya..ya.. “So what?” kan yang akan Anda tanya? Saya akan menjawab hal yang sama: bagaimana mungkin kita menyuruh orang kritis dan partisipatoris jika pada dasarnya mereka semua sudah sedang dan selalu kritis dan terlibat?! Itulah mengapa kita harus benar-benar tegas, jelas dan jernih di sini dengan apa yang kita maksudkan dengan ‘kritis’ – karena jika tidak, maka massa pelanggan Lion Air yang terorganisir, yang melakukan demo marah-marah, bisa jadi manifestasi kesadaran kritis revolusioner. Demikian pula halnya, tanpa orientasi keberpihakan yang jelas ke arah mana ‘partisipasi’ kita konsepsikan, maka program-program semacam Indonesia Mengajar bisa jadi bentuk praksis perjuangan paling revolusioner abad ini.

 

Penutup

Saya lebih tertarik sebenarnya pada pertanyaan lain yang menurut saya merupakan pintu masuk menjelaskan teka-teki ini. Ada apakah dengan kata ‘kritis’ dan ‘partisipatoris’ dan saudara-saudaranya ‘mengubah dunia’, ‘emansipatoris’, ‘terlibat’, ‘do something’, dst…ini sehingga orang begitu menghasratinya, mendambanya, merindukannya – padahal ia telah selama ini lakukan?

Kalau saya boleh sotoy, jawabannya mungkin ada di awal, yaitu di Tesis 11 Marx tadi. Kita terlalu tergesa-gesa menyerah pada dorongan impulsif dan refleks kita untuk menjadi kritis dan partisipatoris. Walaupun ini adalah hal lumrah: maraknya media massa (lama dan baru) yang menyorot dan memviralkan imaji-imaji penderitaan, krisis, dan kelaliman. Terketuklah di hati kita (para kelas menengah ini yang tentu saja sudah kenyang dan punya kehidupan yang yahh…cukup layak lah ya..) untuk bergerak dan berbagi. “Oh indahnya berbagi”—kata penutup yang selalu saya jumpai di akhir broadcast message yang selalu tanpa diundang nyelonong ke ponsel saya.

Oscar Wilde pernah mengatakan, “adalah mudah untuk bersimpati dengan penderitaan, ketimbang bersimpati dengan pemikiran.” Saya yakin dan percaya, Wilde sama sekali tidak memaksudkan untuk mengerdilkan bahkan menegasikan pentingnya upaya-upaya kongkrit, “simpati dengan penderitaan.” Namun yang mau saya tekankan, sekaligus peringatan ramah saya, adalah sia-sia apabila kita mau mengubah dunia, apabila dunia tersebut tidaklah telah benar-benar kita tafsirkan. Orang-orang yang berkeras, ‘ah nggak penting banyak-banyak mikir, yang penting aksi,’ ‘sudahlah nggak usah berteori panjang-panjang, kita mesti pikirkan apa yang kongkrit bisa dilakukan,’ ‘riset itu kelamaan, pekerja sudah sesak tereksploitasi,’ atau mungkin yang lebih keseharian, ‘ah bego ah, pusing pala Barbie, yang penting kerja yang baik aja lah, baik sama sesama, masuk surga deh..’: semuanya ini saya khawatir hanya ingin menyelamatkan imaji diri mereka untuk ‘yang penting aksi!’ – karena ya, memang, hanya aksi yang bisa tampil dan disorot mata dan kamera—diabadikan dan dijadikan profile picture, malahan; dan ya memang hanya aksi yang nggak banyak tanya yang disukai bos dan atasan kita.

Oya, kadang-kadang seruan mereka diimbuhi imbuhan heroik semacam ini juga: ‘rakyat sudah menjerit lapar,’ ‘umat di luar sudah menderita,’ ‘alam sudah meronta karena kita eksploitasi,’ dan rangkaian imaji-imaji urjensi semu bikinan kita tentang mereka-mereka yang malang yang menunggu pertolongan kita. (Ya, urjensi semu, kecuali memang kemalangan-kemalangan ini belum pernah terjadi selama ribuan tahun manusia ada, dan baru saja terjadi di era selfie kita saat ini?) Jelas bahwa yang terpenting dalam ungkapan dan seruan-seruan ini adalah SAYA; atau kenyataan bahwa SAYA mengubah dunia. SAYA-lah yang menjadi pusat, ketimbang perubahan di dunianya. Dunianya berubah atau tidak bukanlah jadi urusan, setidaknya SAYA sudah melakukan sesuatu. Masalah dan kemalangannya teratasi atau tidak, bukan menjadi soal, yang terpenting SAYA sudah ikut merasakannya bersama, mendengar keluh kesah mereka yang malang, menangis bersama, berbagi bersama (dan tak lupa: berfoto bersama!—atau, well, eksyennya saya nggak lihat kamera, gitu). SAYA, SAYA, SAYA. – daripada kamu, Yos, bisanya cuma ngritik aja.

Terakhir sekali, mungkin tesis 11 hanya akan menjadi benar adanya hanya kalau kita mengartikannya secara benar, yaitu: benar, bahwa dunia telah benar-benar ditafsirkan; dan benar, bahwa mengubah dunia hanya mungkin dilakukan kalau tafsiran terhadapnya telah benar-benar dilakukan. ***

 

Penulis adalah Peneliti di Koperasi Riset Purusha; Editor Jurnal IndoPROGRESS

 

Artikel ini sebelumnya adalah materi pemantik untuk diskusi rabuan, “Mempertanyakan Kembali Kehidupan: Berpikir Kritis dan Emansipatoris,” Gereja Komunitas Anugerah, 26 Agustus 2015, Thamrin, Jakarta.

 

———
[1] Marx sebenarnya hanya menyasar Hegel yang hanya ingin “paint grey on grey,” yaitu hanya berfilsafat saja dan mengatakan apa adanya, “kalau abu-abu ya abu-abu,” tanpa terlibat di kehidupan kongkrit – lagi-lagi menurut Marx. Filsafat Hegel ini, di zamannya, memiliki banyak pengikut. Sehingga, secara retorik, bagi saya sah-sah saja mengutarakan tesis 11 dengan merujuk pada subyek yang generik.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus