Marxisme dan Sosiobiologi (Bagian 2)

Print Friendly, PDF & Email

SEKARANG serius. Sosiobiologi, menurut Edward Wilson, ialah ‘sintesis baru’. Apabila ‘sintesis modern’ (yang salah seorang pendirinya ialah ahli genetika J.B.S. Haldane, seorang Marxis tulen) mengintegrasikan ilmu evolusi Darwinian dengan genetika, ‘sintesis baru’ sosiobiologi berupaya memasukkan ilmu sosial ke dalam kerangka ‘sintesis modern’; sebagai cabang dari biologi evolusioner. Tujuannya menemukan asas-asas ilmiah universal dalam menjelaskan perilaku sosial binatang. Karena semua binatang, serumpil apapun kehidupan sosialnya, tak lebih dari binatang, pasti ada pondasi yang dibagi bersama yang bisa menjelaskan perilaku mereka. Pondasi itu ialah biologi mereka, yang tiada lain produk akhir adaptasi evolusioner. Ke pondasi inilah reduksi penjelasan mesti bertuju.

Memang tak ada yang gusar sewaktu sosiobiolog menjelaskan pola perilaku sosial rayap, dubuk, atau bonobo dengan asas-asas seleksi alam Darwinian. Tapi ketika dinyatakan bahwa asas-asas yang sama juga berlaku dalam menjelaskan perilaku dan kehidupan sosial manusia, barulah kehebohan muncul. Bagaimana tidak. Buat Wilson, perilaku manusia dan pernak-pernik kebudayaan tak lebih dari produk adaptasi biologis. Makna di dalamnya bisa didekati sebagai hasil dari penyebaban berlandas-mekanisme. Karena kebudayaan bertunas dari kognisi individual, maka cara paling efektif mengkaji kebudayaan ialah melintas semua tingkat organisasi dari gen ke organisme individual ke populasi, melewati secara ulang balik siklus reduksi dan sintesis sebagaimana selama ini dikerjakan ilmu-ilmu alam.[1]

Karena semua manusia saat ini satu spesies saja, dan biologi manusia relatif sudah selesai ketika Homo sapiens memenangkan perjuangannya terhadap alam Pleistosen (dan hominin lain akhirnya punah), maka program-program biologisnya, yang tak lain hasil seleksi alam itu, bukan hanya tetap sama, tetapi juga berlaku universal seperti gravitasi. Apabila kita coba “memaksa manusia keluar dari sifat-sifat khas-spesies kita itu”, menurut Wilson, maka kita akan “kesulitan jika tidak malah mustahil, dan nyaris pasti merusak terhadap perkembangan mental.”[2] Dan apakah sifat-sifat dasar khas spesies kita itu? Wilson mendaftar ada tiga belas.[3] Lionel Tiger dan Robin Fox serta Pierre van den Berghe, meringkasnya ke dalam enam ‘biogram’ pokok, yakni agresif, hirarkis, dominasi jantan, ikatan induk-anak, teritorialitas, dan penghindaran kawin-sumbang.[4] Apabila kita jumpai pola perilaku yang kelihatannya universal (dominasi, hirarki, mementingkan diri, misalnya) bolehlah kita sangka bahwa itu pertama-tama diproduksi dalam biologi oleh gen, bukannya dalam masyarakat oleh kebudayaan.

Sebagai kaum kaum terdidik, yang hidup dari kreativitas pikiran, banyak dari kita tersinggung dengan gagasan ‘semua ada di biologi’ ini. Bukankah manusia tidak hanya hidup dari roti? Bukankah manusia itu tak cuma raga tapi jiwa dan roh juga? Ngerti ngga sih, manusia itu berkesadaran, kreatif bisa bikin perkakas, dan bisa berkomunikasi lewat tuturan simbolik bertata bahasa sehingga bisa berdiskursus di kafe, berpuisi di komunitas penyair, atau bikin ribuan gambar meme di facebook?! Manusia itu bukan cuma beda taraf dengan binatang bray, tapi jenis! Bukan cuma kuantitas, tapi kualitas. Tak ada mahluk di kolong langit ini yang seperti manusia. Dan, sewaktu mereka tahu determinisme biologis sejalan dengan proyek naturalisasi kehidupan sosial di bawah kapitalisme, tak sedikit yang teriak: bajingan tengik antek-antek neoliberal!

Kritik makin menjadi-jadi sewaktu Richard Dawkins menerbitkan buku The Selfish Gene (1976). Apalagi buku ini dipuja-puji para politikus konservatif dan Republikan serta media-media kapitalis. Dan apabila kita menengoknya sekarang, boleh dibilang buku ini menyemai dalih-dalih ‘ilmiah’ pembenaran proyek neoliberalisme, yang utamanya dipimpin dengan penuh hikmah kebijaksanaan dari gagasan politik neo-konservatifnya Thatcher dan Reagan awal 1980an, tambahlah ada alasan yang cukup buat kritik itu.

Terlepas dari kaitannya dengan kebangkitan politik neokonservatif, di buku itu Dawkins mengunci asas reduksi analitis di tingkat gen dan tegas menyatakan bahwa organisme tak lebih dari orang-orangan sawah yang digerakkan dorongan gen-gen penyusunnya yang berebut tempat mereplika diri. Dengan sumberdaya terbatas, setiap gen berupaya keras merebut tempat yang sedikit itu. Karena itu secara hakiki gen akan mementingkan dirinya sendiri. Gen-gen yang tidak begini boleh disebut ‘mantan-gen’, karena niscaya ia menegasi hakikat diri dan tujuan asalinya sebagai replikator egois dan akan lenyap ketika ‘kendaraan sementaranya’ mati.

Sebagai wayang, organisme akan berperilaku sejalan dengan kepentingan gen-gennya, yakni memprioritaskan duplikasi gen-gennya sendiri ke generasi masa depan. Untuk itu setiap organisme mesti meningkatkan ‘kecocokan inklusifnya’ terhadap alam dengan berupaya bereproduksi. Semakin menyebar reproduksinya, makin mungkin gen-gennya untuk sukses terduplikasi. Organisme-organisme seperti petinggi partai Islam atau kyai di Bandung, misalnya, yang memperbanyak istri untuk dihamili, lebih cocok dengan gambaran organisme idealnya Dawkins. Sebaliknya, yang tidak begini, yang tiada daya upaya bereproduksi, lemah lesu menjomblo seumur hidup, bolehlah disebut ‘mantan-organisme’ karena menegasi hakikat keberadaannya sebagai mesin duplikasi gen. Ditarik lebih jauh, perilaku organisme dan populasi (maksudnya masyarakat dengan struktur dan lembaga-lembaga sosialnya) yang ‘tidak demikian’, bolehlah dikutuk sebagai ‘mantan-masyarakat’ yang, karena tidak sejalan dengan kodrat alami gen kita, niscaya akan mubazir dan punah.

Mengapa gen? Satu-satunya penjelasan mengapa ada organisme-organisme individual yang mengorbankan keberhasilan reproduktifnya demi keberhasilan individu lain, ialah bahwa seleksi alam tidak dihitung di tingkatan organisme, tetapi gen. Individu-individu altruis dalam kelompok tetap berbagi kolam gen yang sama dengan sesamanya. Dengan mengorbankan diri demi keberlanjutan kelompok, dalam jangka panjang, mereka membuat gen-gen ‘mereka’ lestari lewat pelestarian kolam gen kelompoknya yang bertahan selama kelompoknya juga lestari. Karena seleksi alam bekerja di tingkat gen, maka reduksi paling fundamental terhadap lapis-lapis organisasi kehidupan mestilah dikunci di tingkat genetik. Gagasan ini, ditambah dengan kecenderungan kuat pada iman Panglossian (: dunia sekarang adalah yang terbaik dari dunia terbaik yang mungkin ada), memungkinkan kemasukakalan gagasan bahwa masyarakat kapitalis itu alami dan dengan demikian benar secara ilmiah dan baik secara moral.

Sampai taraf tertentu, kritik-kritik atas sosiobiologi ada benarnya. Meski menyatakan berulang kali bahwa mereka tidak berurusan dengan sokong-menyokong keberadaan lembaga sosial dan praktik kultural tertentu dalam masyarakat kapitalis, namun di banyak tulisannya mereka menyatakan apa yang mungkin sekali diartikan sebaliknya. Wilson, misalnya, meyakinkan bahwa:

apabila suatu masyarakat terencana—yang penciptaannya tampaknya tak terelakkan di abad mendatang[5]—dapat dengan sengaja mengendalikan anggota-anggotanya keluar dari tekanan dan konflik yang pernah memberi keuntungan Darwinian pada fenotip yang merusak [agresi dan keegoisan], maka fenotip yang lain [kerjasama dan altruisme] boleh jadi hancur bersama mereka. Dalam hal ini, dalam arti genetis sepenuhnya, kendali sosial justru akan merampok kemanusiaan dari tangan manusia[6].

Masyarakat kapitalis sudah bagus karena di situ sifat dasar manusia (mementingkan diri dan agresif) dimungkinkan mengemuka melalui sistem persaingan pasar yang bebas (kalau bisa tak perlulah politik turut campur). Toh, filantrofi—sejenis altruisme yang tidak merusak kapitalisme—hanya dimungkinkan apabila sebagian orang berlimpah kekayaan, bukan?

Buat Dawkins “tidak ada negara kesejahteraan di alam”, dan artinya sistem ini “amat tidak alamiah”. “Negara kesejahteraan itu mungkin sistem altruistik terbesar di kerajaan binatang yang pernah diketahui”, kata Dawkins. “Tapi”, lanjutnya, “setiap sistem altruistik secara inheren labil karena ia terbuka untuk diselewengkan individu-individu egois yang siap sedia mengeksploitasinya.”[7] Meski tidak tersurat mengalamiahkan kapitalisme neoliberal, Dawkins mungkin percaya bahwa ‘negara kesejahteraan’ (apalagi sosialisme) itu sistem politik yang hanya cocok untuk ganggang atau koral, bukan untuk manusia. Sekali lagi, gagasan macam begini dilandasi andaian bahwa secara kodrati setiap organisme manusia itu mementingkan diri sendiri dan agresif karena organisme tak lebih dari kendaraannya gen yang berhakikat mementingkan diri dan agresif.

Kalau Anda pikir sosiobiologi mengajukan determinisme genetik, dalam arti bahwa tingkat-tingkat organisasi hayati lebih atas (sel, fenotip, organisme, perilaku, populasi, dst.) habis terjelaskan sifat-sifatnya dengan menengok organisasi paling fundamentalnya, memang benar. Lalu, apabila Anda pikir sosiobiologi itu tersirat sebagai sejenis fatalisme, dalam arti bahwa apa yang ada saat ini tidak bisa diubah sekadar oleh perjuangan politik dan seruan kultural, dengan khotbah dan himbauan, karena mereka tertanam di dalam biologi, dan biologi tidak begitu saja bisa diotak-atik, mungkin ada benarnya. Tidak sedikit kritik yang ditujukan pada pandangan tersembunyi ini.

Tapi, terlepas dari suka atau tidak dengan gagasan ini, satu hal yang mesti diambil hikmahnya ialah bahwa sosiobiologi menyediakan gambaran dunia alamiah yang sebetulnya mirip dengan gambaran dunianya Marxis perihal masyarakat borjuis. Soal doktrin mementingkan diri dan persaingan lebih fundamental daripada alltruisme dan kerjasama, Marxis waras tak perlu gusar. Dengan asumsi ada tekanan populasi atas sumberdaya langka untuk berlanjut hidup (tak soal itu karena lestarinya lembaga kepemilikan pribadi yang dijaga polisi, penjara, dan tentara), memang masuk akal apabila setiap orang tidak berbagi kemiskinan dan lebih mementingkan dirinya sendiri dulu.

Tak perlu pula Marxis reaksioner dengan mengkhotbahkan gambaran sebaliknya bahwa di alam altruisme dan kerjasama lebih fundamental dalam suksesnya evolusi, seperti yang dilakukan para pengikut Pangeran Kropotkin. Bukankah salah satu sasaran kritik Marx dan Engels terhadap sosialis utopis ialah keyakinan mereka bahwa ‘torang samua basudara’ dan iman bahwa secara kodrati manusia itu suka bekerja sama dan mementingkan orang lain?[8] Lagi pula, bagaimana bisa Marx menjelaskan akumulasi dan ekspansi kapital tanpa pengandaian perjuangan demi kepentingan diri di antara individu-individu kapitalis? Bagaimana pula Marx bisa mengajukan teori nilai-lebih dan tendensi perubahan komposisi kapital tanpa asumsi adanya perjuangan demi kepentingan diri antara individu-individu kapitalis dan antara kapitalis dan pekerja?

Mungkin pembaca ingat bahwa salah satu syarat yang diajukan Marx dan Engels ketika ditawari keanggotaan Liga Komunis ialah pengubahan semboyan Liga beserta program-programnya. Semboyan Liga sebelumnya ialah ‘semua manusia bersaudara’. Yang diajukan Marx dan Engels ialah seruan ‘semua proletariat sedunia bersatulah!’. Alih-alih ‘pernyataan’, mereka mengajukan ‘seruan’. Tersirat keduanya menyadari setiap orang mementingkan dirinya sendiri dulu. Tidak ada pengandaian setiap orang punya kecenderungan asali untuk bersatu padu dan mengorbankan kepentingan diri demi sesuatu yang abstrak seperti ‘manusia’, ‘proletariat’, ‘revolusi’, atau ‘bagi setiap orang sesuai kebutuhannya, dari setiap orang sesuai kemampuannya’. Oleh karena pada dasarnya setiap orang mementingkan diri sendiri, tak terkecuali juga manusia pekerja, maka mereka perlu diseru dan didorong untuk bersatu memperjuangkan apa yang melampaui pengalaman sehari-hari mereka sebagai individu. Tanpa seruan dan upaya pengorganisasian ini, maka apa yang akan mereka perjuangkan tak lebih dari soal kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja, dan jaminan sosial. Bagaimana tidak, kepentingan diri setiap individu pekerja ialah kesejahteraannya sendiri. Di luar itu nomor dua.

Kita boleh saja tunjuk hidung pemerintah neoliberal dan lobi-lobi kapitalis sebagai akar persoalan tak pernah beranjaknya serikat-serikat buruh dari soal-soal ‘ekonomisme’. Tapi bukankah faktanya memang para pekerja tidak niscaya revolusioner dengan sendirinya hanya karena mereka proletariat, seperti halnya mahasiswa tidak niscaya baca buku, berpikir, dan menulis hanya karena mereka mahasiswa? Kalau mereka diberi pilihan untuk revolusi Rabu depan atau naik upah sekarang, untuk merebut pabrik tahun depan atau peningkatan jaminan sosial saat ini juga, mungkin pilihan kedua yang akan banyak dipilih.

Boleh-boleh saja kita percaya proletariat itu satu-satunya kelas revolusioner di dunia persilatan saat ini. Tapi dengan pandangan naif secara naluriah mereka akan memperjuangkan lebih dari kepentingan mereka sendiri sebagai individu, dan menyerahkan revolusi kepada kehendak revolusioner mereka yang agung, itu artinya kita mengidap apa yang disebut Lenin sebagai ‘ganguan jiwa kekanak-kanakannya komunisme ultrakiri’ seperti yang menjangkiti anarkis-anarkis keblinger. Sosiobiologi mengingatkan Marxis bahwa dunia ideal yang hendak mereka perjuangkan bertumpu pada kenyataan bahwa setiap orang secara naluriah mementingkan dirinya sendiri dan tidak niscaya kenyataan ini punah segera setelah kita khotbahkan indahnya hidup berbagi dan agungnya masyarakat sosialis masa depan. Sosiobiologi menggedor pintu kamar kita saat kita giat bermimpi. Bukan usil, tapi mengingatkan, karena sosiobiologi juga menawarkan asas-asas ilmiah untuk membuktikan ada realitas material yang melampaui relasi sosial produksi, yang bukan ciptaan sadar kita dan seringkali berseberangan dengan kehendak kita menciptakan masyarakat sosialis adiluhung. Engels juga pernah bilang, “faktalah bahwa manusia muncul dari binatang, dan konsekuensinya mereka akan menggunakan sarana-sarana barbar dan nyaris kebinatangan untuk membebaskan diri dari barbarisme.”[9] Sosiobiologi memberikan kita teropong untuk menengok akar-akar sifat kebinatangan manusia. Apa yang tidak diberikan sosiobiologi ialah optimisme bahwa kita bisa mengubah realitas material itu secara sadar dan terorganisasi ke tempat yang kita inginkan. Mereka khilaf bahwa salah satu produk evolusi manusia ialah kesadaran-sosial beserta kelenturan perilaku yang bertopang padanya dan terbukti telah menghantar leluhur kita berhasil berjuang menghadapi bumi Pleistosen yang begitu berubah-ubah cepat ratusan ribu tahun lalu.

Dalam terang ini perlulah kiranya diupayakan pembangunan suatu organisasi pelopor yang mengabdi pada sekaligus mengatasi kepentingan-kepentingan individualnya proletariat, supaya kita bisa “membikin sejarah” sambil tetap sadar kita “tidak membikinnya sesuka hati dalam keadaan” yang kita bisa pilih sendiri sambil ngopi.***

Jatinangor, 7 Pebruari 2015

 

———–

[1] E.O. Wilson dan C.J. Lumsden (1991) ‘Holism and reduction in sociobiology: lessons from the ants and human culture’, Biology and Philosophy, 6: 401-12.

[2] E.O. Wilson (1977) ‘Biology and the social sciences’, Daedalus, 106 (4): 132.

[3] Ibid. yakni: 1) ukuran alami kelompok intim antara 10-100 orang, 2) poliginis, 3) sosialisasi panjang, 4) pergeseran ikatan ibu-anak ke ikatan sebaya’, 5) permainan sosial yang menekankan praktik peran, ejekan agresif, dan eksplorasi, 6) ekspresi wajah, 7) aturan perkerabatan, 8) penghindaran kawin-sumbang, 9) bahasa simbolik, 10) ikatan seksual intim, 11) ikatan orangtua-anak, 12) ikatan antarjantan, 13) teritorialitas.

[4] L. Tiger dan R. Fox (1971) The Imperial Animal. New York: Holt, Rinehart and Winston; P.L. van den Berhge (1975) Man in Society: a biosocial view. New York: Elsevier.

[5] Maksudnya, komunisme. Kalimat ini merupakan ejekan.

[6] E.O. Wilson (1975) Sociobiology: an new synthesis. h. 575; kalimat serupa muncul juga di E.O. Wilson (1980) Sociobiology: the abridged edition. Cambridge, Mass.: The Belknap Press, h. 300

[7] R. Dawkins (2006) The Selfish Gene. 30th anniversary edition. Oxford: Oxford University Press, h. 117-8.

[8] Coba camkan pernyataan keduanya: “The communist do not preach morality at all, as Stirner does extensively. They do not put to people the moral demand: love one another, do not be egoists, etc.; on the contrary, they are very well aware that egoism, just as much as selflessness, is in definite circumstances a necessary form of self-assertion of individuals. Hence, the communist by no means want… to do away with the ‘private individual’ for the sake of the ‘general’, selfless man”, K. Marx dan F. Engels (1975) ‘The German Ideology’, Karl Marx and Frederick Engels Collected Works, Vol. 5. London: Lawrence & Wishart, h. 247.

[9] F. Engels (1987) ‘Anti-Dühring: Herr Eugen Dühring’s revolution in science’, Karl Marx and Frederick Engels Collected Works, Vol. 25. London: Lawrence & Wishart, h. 168.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus