Cornel Simandjuntak Cahaya, Datanglah!

Print Friendly, PDF & Email

dengan tertunduk di depan angan pusaramu

kuserahkan bagi kepeloporanmu

Tidak mudah menuliskan riwayat pemuda Siantar, anak terkemuka dari rakyat dan zamannya ini. Kesukarannya karena, pertama-tama, tidak seorang orang besar pun diketahui sebelumnya bahwa kelak ia akan menjadi orang-besar. Lalu, perihal tokoh yang seorang ini, bahkan sampai tahun terakhir usianya orang tidak sadar bahwa dia adalah sebenar-benar tokoh sejarah dan bukan tokoh tiupan yang hanya padat dengan angin. Sebagai komponis, karena usianya dan sehubungan dengan itu jumlah penampilan karya dan pribadinya, dia bahkan belum disebut serempak dengan nama-nama – misalnya – Kusbini dan Bintang Sudibio. Sebagai patriot, salah seorang sahabat dekatnya berkata, “Apa istimewanya? Ketika itu setiap anak muda, tanpa berhitung-hitung untung-rugi, mengangkat senjata dan bertempur melawan musuh-musuh kemerdekaan. Cornel Simandjuntak hanya seorang di antara yang banyak….”

Lebih lanjut, tidaklah mudah menuliskan riwayat patriot-komponis dan komponis-patriot ini lantaran usianya yang pendek. Terlalu pendek! Terhitung sampai dengan tanggal berpulangnya, 15 September 1946, Cornel Simandjuntak berumur dua puluh enam tahun saja. Dari dua puluh enam tahun itu, masa kekomponisannya, terhitung dari 7 Maret 1942 ketika Bala Tentara Dai Nippon mendarat di Jawa, hanya berlangsung selama 4 tahun beberapa hari. Dalam masa yang sangat pendek itu pun Cornel hanya sempat menikmati udara kebebasan selama kira-kira setahun. Udara kebebasan yang dia ikut rebut dan kawal dengan senjata itu dihirupnya dengan paru-paru yang dirongrong TBC parah dan sebutir peluru mengeram di paha. Kira-kira tiga tahun sisanya dia hidup di bawah penindasan fasisme Jepang dengan polisi rahasianya yang terkenal tajam, bukan saja mata dan telinganya, tetapi juga mata-pedang samurainya.

Selama masa pendek yang terus-menerus di bawah intaian hantu-Kenpeitai dan hantu-maut itulah Cornel Simandjuntak “berkiprah” mencipta. Kurang dari dua puluh buah lagu digubahnya, tetapi lagu-lagu yang tinggi mutu seninya dan pula – tiada syak Iagi – tinggi semangat patriotismenya. Maka adalah lukisan lugas sajalah apabila untuk peringatan sepuluh tahun meninggalnya komponis ini penyair almarhum Agam Wispi menulis sebuah sajak panjang: “Gugurnya Seorang Komponis”. ‘Gugur’, sebuah kata yang memang hanya tepat diperuntukkan bagi para pahlawan. Berkatalah Wispi antara lain:

 

di sini terbaring anak merdeka

yang tiwas menggenggam nyala

lagu atau senapan

abu atau kebebasan

detik jantungnya telah memilih

tegapkan arah langkah

rubuh dan tidak menyerah

….

di sini terbaring anak merdeka

seorang seniman memanggul senjata

yang tiwas menggenggam nyala

 

Harimau Meninggalkan Belang, Manusia Meninggalkan Nama

Truk menuruni jalan Pakem dari arah utara dengan kecepatan biasa. Sekelompok anak sekolah di tepi jalan terhenti. Mereka berpaling ke arah peti mati di atas truk yang terus melaju. “Cornel Simandjuntak meninggal! Cornel Simandjuntak meninggal!” Entah dari mana sumber berita itu terbit. Entah sejauh mana puIa kabar itu pun telah dan akan bergalau. Anak-anak yang pulang dari pelajaran Latihan Militer[i] itu terus kembali ke sekolahnya, jenazah di atas truk pun terus menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.

Peristiwa itu terjadi pada medio September 1946 di ujung lapangan tembak Sekip, di pinggir utara kota Yogyakarta. Jalan Pakem yang dahulu bermula dari kilometer ke-4 sampai Pakem itu, kemudian disambung dengan Jalan Terban Taman yang ada “di bawahnya”. Ruas panjang itu akhirnya dinamakanlah dengan seenaknya: “Jalan Cornel Simandjuntak”! “Dengan seenaknya” karena dari penggantian nama itu bertautlah dua sebutan, Cornel Simandjuntak dan Pakem. Padahal Pakem, sayangnya, mempunyai dua konotasi tidak menggembirakan, rumah sakit jiwa dan sanatorium penderita TBC. Penghuni di sana adalah orang-orang gila dan batuk-darah! Lalu, benggolan macam apakah gerangan Cornel Simandjuntak itu?

Mudah-mudahan kekeliruan penalaran seperti itu tidak akan terjadi kelak, misalnya, satu generasi mendatang. Niat untuk mengucapkan terima kasih itu, yaitu dengan menamai jalan sesuai namanya, memang dapat menjadi kabur lantaran caranya yang “dengan seenaknya”. Beda, misalnya, dengan mempertautkan nama A.B. Nobel untuk “Hadiah Nobel”, Joseph Pulitzer untuk “Hadiah Pulitzer”, Lomonosov untuk sebuah universitas, Ni Ehr untuk pabrik piano dan alat-alat musik, atau Adinegoro untuk karya jurnalistik dan lain-lain.

Bagaimanapun Yogyakarta telah mengabadikan namanya. Entahlah Medan dan khususnya Siantar, kota kelahirannya pada 1920 yang silam. Dan Jakarta? Barangkali salah satu di antara remang-remang taman Jakarta adalah pula Taman Cornel Simandjuntak di samping taman-taman Chairil Anwar, Amir Hamzah dan lain-lain!

Sebutan pahlawan pada akhirnya memang selalu berwatak politis. Maka tinggallah orang berharap, semoga arti di dalamnya tidak cenderung menciut, yaitu menjadi batas-batas kawasan struktur formal organisasi kekuasaan. Berharap supaya sebutan itu tidak hanya dibagi dua, antara “tukang perang” berseragam militer dan “tukang pidato” berkemeja putih.

Pada 1957, bertepatan dengan sebelas tahun hari wafat pahlawan pembaru ini, di Yogyakarta diadakan peringatan untuk “menempatkan Cornel Simandjuntak pada tempat yang sebenarnya”, bukan saja “sebagai seorang pejuang tanah air”, akan tetapi terutama “sebagai pahlawan dalam dunia musik Indonesia.”[ii] Peringatan itu berupa pergelaran karya-karyanya oleh paduan suara 500 orang pelajar dan mahasiswa di bawah pimpinan N. Simanungkalit dan sebuah orkes simfoni yang terdiri dari tujuh puluh orang musisi di bawah pimpinan Nicolai S. Varfolomeyeff. Mata acara peringatan lainnya yang penting adalah perbaikan makam beserta monumennya di pekuburan umum Kerkop yang terletak di tengah kota Yogyakarta itu.

Pada 1962 Cornel Simandjuntak menerima Satya Lencana Kebudayaan secara anumerta. Dan pada 1978, tepatnya 10 November, sebagai penghormatan kepadanya, makamnya yang di Kerkop itu dibongkar. Kerangka jenazah Cornel dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta. Di peristirahatannya yang baru ini, seperti pahlawan-pahlawan yang lain, Cornel kehilangan pertanda kepahlawanannya di dunia musik. Monumen di atas kepalanya yang berupa sebuah tangga nada itu tak lagi diberikan kepadanya.[iii]

 

Zaman dan Keadaan yang Melahirkannya

Andaikan Perang Pasifik tidak pemah pecah dan fasisme Jepang tidak pernah berkuasa atas Indonesia, maka – seperti pernah “diramalkan” oleh Bung Karno kira-kira seperempat abad sebelumnya – mata rantai imperialisme dunia di kawasan ini tidak akan pernah rapuh, kemerdekaan Indonesia pun tak akan pernah sempat diproklamasikan, Angkatan 45 sebagai konsepsi politik kebudayaan tak akan pernah lahir, dan Comel Simandjuntak akan menjadi ibarat sebutir biji unggul di antara tak banyak lainnya yang tidak beroleh tanah pesemaiannva.

Pengandaian sejarah itu bisa ditambah lagi dengan: andaikan sobat fasisme Jerman di Timur Jauh itu bukan Jepang yang fasis militer! Jepang, dengan nilai-nilai budayanya telah membuatnya agresif secara militer dan ekonomi serta memiliki pula sikap-sikap rasialis tertentu, didasari atas antara lain kokutai dan bushido.[iv] Namun demikian Jepang juga mempunyai wajahnya yang lain, wajah seni yang peka terhadap segala yang serba indah dan halus.[v]

Restorasi Meiji tahun 1868, yang secara kultural berwajah Barat itu, selepas satu dekade berikutnya telah ditinjau kembali dan bahkan berangsur-angsur ditinggalkan. Bersama dengan berkembangnya Nippon Seishin, Semangat Nippon, orang mulai menemukan kebanggaan baru terhadap unsur-unsur kebudayaan tradisional Jepang.

Untuk menopang dan melestarikan kekuasaannya di Indonesia serta memenangkan “Perang Asia Timur Raya”, Jepang membentuk pasukan Heiho sebagai pasukan bantuan bagi tentaranya. Atas pesanan, Cornel menggubah lagu-lagu “Asia Sudah Bangun” dan “Puji Kepada Heiho”. Jepang juga membentuk pasukan kuli yang dinamakan romusha – “remuk rusak,” kata orang-orang desa ketika itu – yang dikirim ke belakang garis depan perang di daerah Pasifik dan Asia Tenggara, dan sejalan dengan itu Cornel menggubah “Bekerja”, “Ke Pabrik” dan “Ayunkan Palu Bikin Kapal”. Sementara, untuk pasukan cadangan, Jepang membentuk pasukan Peta (Pembela Tanah Air), dan oleh Cornel digubahnya lagu “Mars Pasukan Sukarela”.[vi]

Di bidang organisasi, apabila larangan bagi rakyat untuk membentuk perhimpunan-perhimpunan politik, serikat buruh, dan organisasi-organisasi sosial lainnya dipertahankan, akan terbukalah kedok palsu Jepang tentang “persaudaraan Asia”. Maka wajah yang anti-demokrasi itu diberi jubah organisasi keagamaan dan organisasi massa sebagai penyalur kegiatan politik-sosial-ekonomi, sudah tentu menurut selera sendiri, yaitu Majelis lslam A’la lndonesia (MIAI) dan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang belakangan menjadi Majelis Syura Muslimin lndonesia (Masyumi) dan Hookookai. Rakyat dan pemudanya dihimpun pula di dalam barisan Seinendan dan Keibodan yang dibentuk sampai di desa-desa yang paling terpencil sekalipun.

Sebagaimana negara totaliter lainnya, Jepang agaknya mengutamakan ideologi yang dilaksanakan dengan agitasi dan propaganda secara sangat intensif. Sebuah badan khusus yang diketuai almarhum Mr. Syamsuddin, Tiga A – Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia, Nippon cahaya Asia – didirikan untuk mewujudkan apa yang dinamakan Hakko Ichiu yang secara harfiah berarti “delapan penjuru di bawah satu atap.”[vii]

Kokutai yang melandasi sikap rasialis dan agresif serta semangat bushido yang membakar nafsu fasisme militer menemukan dan lebih lanjut memanfaatkan setuntas-tuntasnya sentimen kebangsaan yang sedang mulai mendidih. Segala yang berpredikat nasional mendapat angin karena fasisme itu membutuhkan tiang-tiang penyangganya, walau pada akhimya angin itu berhembus balik menjadi bumerang baginya juga.

Bukan saja di Indonesia, melainkan juga di Jepang sendiri media massa dikekang kuat, seniman dan sastrawan dikerahkan sebanyak-banyak dan sekuat-kuatnya. “All writers, artists, and musician were urged to join national ideals.” Sehubungan dengan ini, Kan Kikuchi, seorang sastrawan terkemuka, berbicara di depan sidang himpunan nasional seniman pada April 1943 berkata, antara lain, “The artistic value of music, art, and literature is secondary; what we must do is to produce those works which have sales value and contribute money to the state; only in that way can we serve the state.”[viii]

Bahwa seni dan sastra mempunyai daya organisasi dan mobilisasi, peradaban umat manusia sejak zaman primitif pun telah memberikan pelajarannya. Maka seperti berlomba ketika itu, antara kaum nasionalis dan kaum fasis dalam mengorganisasi seniman dan sastrawan. Badan Pusat Kesenian lndonesia, sebagai hasil pertemuan kaum seniman budayawan dan cendekiawan, didirikan di Jakarta pada 6 Oktober 1942 dan nama Cornel Simandjuntak belum tampil di sana. Wajah dan penampilan badan ini mirip-mirip Pujangga Baru kira-kira sepuluh tahun sebelumnya, dan anutannya sama strategisnya – yang lebih dulu ke Eropa Barat dan yang belakangan ke Asia Timur Raya. Kegiatan pertama Badan ini, memperingati pecahnya perang Asia Timur Raya, dijatuhkan pada 8 Desember 1942, melalui fragmen berjudul “Lukisan Zaman”,[ix] semacam simfoni orkes Jaya Wijaya dalam tata gerak.

Asas-asas kerja Pusat Kesenian Indonesia, seperti ditetapkan pada rapat pertamanya, “bermaksud mencipta kesenian lndonesia Baru, antara lain dengan jalan menyesuaikan dan memperbaiki kesenian daerah menuju kesenian Indonesia Baru”. Adapun pengurusnya terdiri dari: Sanusi Pane (Ketua), Mr. Sumanang (Sekretaris); Winarno, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Kamajaya (anggota-anggota yang tersebut akhir merangkap Sekretaris Eksekutif). Badan Pelatih terdiri dari: Andjar Asmara, Ny. Bintang Sudibio, Ny. Sudjono, Ny. Ratna Asmara, S. Sudjojono, Basuki AbduIah, Kusbini, Dr. Purbotjaroko, Mr. Djoko Sutono, Dr. Rosmali, Kodrat dan Inu Perbatasari. Badan Pengawas terdiri dari: Ir. Sukarno, Sutardjo Kartohadikusumo, Mr. Maria Ulfah, Ir. Surachman, Mr. Ahmad Subardjo, KH Mas Mansur, KH Dewantara dan Ichiki (seorang Jepang).

Pada 8 Oktober, dua hari sesudah Badan Pusat Kesenian Indonesia berdiri, Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu) membentuk Badan Perfilman. Dinamai Djawa Eiga Kosya, badan ini dipimpin oleh seorang sineas Jepang S. Oya, dengan program pertama membuka Sekolah Tonil di bawah pimpinan R. Ariffien dan menggunakan panggung sandiwara Miss Tjitjih sebagai arena praktik. Program berikut mempersiapkan berdirinya Pusat Kebudayaan, Keimin Bunka Shidosho, yang menjadi kenyataan pada 1 April 1943, tetapi diresmikan pada 29 April sebagai hadiah ulang-tahun bagi Kaisar Tenno Heika.[x]

Maksud dan tujuan Pusat Kebudayaan adalah (a) Untuk menyesuaikan kebudayaan sekarang dengan cita-cita Asia Timur Raya; (b) Bekerja dan melatih ahli-ahli kebudayaan bangsa Nippon dan Indonesia bersama-sama; (c) Memajukan kebudayaan Indonesia. Bagian-bagiannya meliputi Kesusasteraan dengan Ketua Armijn Pane dan Pemimpin R. Takada dan M. Josyida; Lukisan dengan Ketua Agus Djajasuminta dan Pemimpin T. Kohno, T. Ono, dan T. Tsutsumi; bagian Musik dengan Ketua dan Wakil Ketua masing-masing Mr. Utoyo Ramelan dan Kusbini serta Pemimpin N. Iida, K. Tsutsumi, dan T. Aoki; bagian Sandiwara dan Tari-menari dengan Pemimpin K. Jasoeda dan Wakil Winarno serta Penulis R. Ariffien; bagian Film dengan Pemimpin S. Oya dan T. Ishimoto serta Wakil Ketua R. Sutarto dengan didampingi (baca: diawasi) oleh 3 orang pimpinan Jepang, N. Iida, K, Tsutsumi dan T. Aoki. Nama Cornel Simandjuntak juga tidak muncul!

Badan Pusat Kesenian Indonesia menjadi lumpuh oleh adanya Pusat Kebudayaan ini. Supaya tidak kehilangan inisiatif sama sekali, digunakanlah Putera yang didirikan oleh Gunseikanbu pada 9 Maret 1943. Organisasi legal yang dipimpin oleh “empat serangkai” (Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansyur) itu diperluas kegiatannya dengan membentuk bagian kesenian, lengkap meliputi segala cabang seni. Di sinilah seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan pelopor Angkatan “Indonesia Baru” yang kemudian dikenal sebagai Angkatan ’45 berkumpul dan berkiprah, termasuk Cornel Simandjuntak.

Di bawah rezim militer fasis itu sudah tentu semua langkah ditujukan untuk kepentingan taktis maupun strategis mereka dan terlaksananya program politik jangka pendek maupun jauh, termasuk memenangkan perang ATR untuk mewujudkan cita-cita Tiga-A. Dalam rangka itulah perkembangan seni dan sastra digalakkan, khususnya penciptaan dan penyiarannya. Sekolah-sekolah, kesatrian-kesatrian Peta, organisasi-organisasi Keibodan dan Seinendan yang sampai ke dusun-dusun terpencil, Keimin Bunka Shidosho yang mempunyai cabangnya di setiap syu-u (karesidenan), Hookookai (jadian dari Putera), dan Fujinkai {ormas wanita satu-satunya yang ada), semuanya merupakan kemudahan dan wahana sangat baik untuk pekerjaan propaganda dan agitasi. Di samping itu juga ada pusat jawatan radio Jepang (Hoso Kanri Kyoku) dengan delapan cabang-cabangnya di Jawa (Hosokyoku), di mana masing-masing mempunyai Shodansa yaitu kantor cabang di kabupaten-kabupaten, berikut jaringan radio-umum yang terdapat di pelosok-pelosok tempat.

Dongeng Momotaro dituturkan sampai ke desa-desa tandus di kaki gunung, begitu pula dua buah buku kumpulan lagu-lagu Jepang, Nyanyian Kita – untuk anak-anak – dan Nyanyian Umum – untuk segala umur – beredar di segala penjuru dan pelosok. Lebih dari 200 judul lagu ada di dalam kedua jilid buku nyanyian itu, namun dua macam saja corak pokok yang terdapat padanya: tegap gagah membangkitkan semangat dan halus melarat-larat mengundang kesetiaan. Berkumandanglah lagu seperti ini misalnya:

Majulah,

Nimitz dan Mac Arthur!

Biar kami kirim kamu,

Ke dasar noraka!

 

Atau lagu sentimental “Umi Yukaba” yang membangkitkan semangat kamikaze, “Sina no Yoru” yang menghina Cina, “Azia Toa” yang bersemangat menganjurkan dan mengajarkan “persaudaraan Asia”, “Heitaisan Arigato” yang mengharuskan kita membungkukkan badan berterima kasih kepada tentara, atau “Senandung Asia” (“Azia no Uta”) yang mengajak mengganyang Inggris dan Amerika (“Bei-Ei”) walaupun tidak segegap segempita versi Indonesia ini:

 

Awaslah Inggris dan Amerika

Musuh seluruh Asia

Yang hendak memperbudakkan kita

Dengan sesuka hatinya

Inggris kita linggis

Amerika kita setrika… dst,

 

Siapa pencipta lagu di atas tak dikenal. Tetapi menilik ketepatan irama pada lirik, barangkali komponis yang sangat dekat dengan Cornel Simandjuntak jika seandainya bukan dia sendiri. Dengan sinis, sambil memenuhi pesanan, ia memain-mainkan bakat dan keahliannya dengan seenaknya untuk menunjukkan betapa gampang menjadi seorang ekspeditur. Walaupun demikian ia tidak sekadar memamah-biak “bei mir bist du schon” [kau sudah bersama denganku—Jerman] untuk kemudian dimuntahkan kembali sebagai “bakmi tiga sen”….

 

Daya invensinya yang kuat dan orisinal, pribadinya yang berwatak dan berpendirian

Lebih baik orang dengan bakat 2% disertai kerja keras 98% ketimbang sebaliknya. Itu ucapan seorarig komponis besar Rusia akhir abad lalu, Aleksander Glinka. Tetapi Cornel Simandjuntak bukan sekadar orang muda yang berbakat dan suka kerja keras. Di atas segalanya ia seorang yang berdedikasi. Bukan dedikasi seekor kuda kepada sang sais atau seorang hamba kepada majikan, melainkan dedikasi dari satu pribadi yang berwatak dan berpendirian.

“Bagaimana kita tidak berontak,” katanya pada suatu hari di loteng gedung Keimin Bunka Shidosho yang dahulu di jalan Noordwijk itu. “Orang musik hanya memilih gampangnya saja, bakmi tiga sen, pengganti teks bei mir bist du schon. Melodi tetap seperti Schalger import yang telah menjadi sangat populer. Tugas kita tugas pengarang. Menciptakan yang baru. Kita bukan ekspeditur….”[xi]

Pernyataan itu diurainya sendiri dalam cita-cita yang menggelantung di bayangan angan-angannya: “Ya, tidak lama lagi bangsa Indonesia tentu akan mempunyai pencipta-pencipta yang asli, bukan pencipta-pencipta yang menyebut dirinya pencipta karena ia pandai meniru beberapa motif lagu yang telah usang dan menurut perasaannya tak dikenal lagi.”[xii]

Tidak jelas kepada siapa kritik pedas itu dialamatkan. Adakah kepada “Orang Musik” atau “Orang-Orang Musik” tertentu yang pilih gampang, sehingga menjadi penjiplak, peniru, atau pembebek? Ataukah ditujukan terhadap dunia musik Indonesia pada umumnya yang masih terus “memamah-biak” irama keroncong, stambul, dan “melanggam-keroncongkan” lagu-lagu rakyat –seperti yang dilakukan terhadap “Kecik-Kecik”, “Walang Kekek”, dan “Jangkrik Genggong” dalam tahun-tahun 5O-an misalnya? Konon ia pun tidak puas terhadap Indonesia Raya – baik dari segi teknik komposisi maupun orisinalitas ide. Adalah demi pendekatan secara politik dan pemahaman tentang peranan politiknyalah – yang dalam hal ini ia sendiri ikut mempertaruhkan hidup dan matinya – maka konsep-konsep artistik harus ditundukkan dengan sukarela pada asas-asas estetika. Maka tatkala panitia lagu “Indonesia Raya” yang dibentuk atas prakarsa Bung Karno mengakhiri sidangnya pada 8 September 1944, yang di dalamnya Cornel Simandjuntak merupakan salah seorang di antara dua belas orang anggotanya,[xiii] tidak sepatah kata pun dari putusannya yang “menyentuh” “Indonesia Raya”, baik sebagai lagu maupun kedudukannya.

Pribadi Comel yang berwatak dan berpendirian itu juga dicerminkan di dalam pembicaraannya sehari-hari. Melalui telepon dengan Rosihan Anwar (Kisah-Kisah: Jakarta Setelah Proklamasi, Pustaka Jaya), antara lain:

“Bagaimana keadaanmu, Cornel?” Tanya saya melalui telpon dari Pecenongan.

Suara Cornel yang mendengking itu menyahut:

“Baik saja.”

“Semangatmu masih kuat?”

“Berjuang terus, Bung!” Jawab komponis Cornel Simandjuntak yang anggota API [Angkatan Pemuda Indonesia].

Kalau kita mendalami hasil karjanya, kata Nicolai S. Varfolomeyeff,[xiv] “jang ternjata punja daja penggerak dan patriotik, hal mana sangat berdjasa kepada perdjuangan bangsanja sewaktu revolusi Indonesia berlangsung,” maka “adalah patut kita menghormatinja lebih daripada sebagai seorang komponis sadja. Cornel salah seorang diantara beberapa pahlawan lainnja jang mendjadi korban langsung dari pada revolusi jang lalu.”

Tentang pribadinya yang berumur pendek namun sarat amal mulia itu, K.H. Dewantara pendidik yang arif juga memberikan penilaiannya:

“Cornel Simandjuntak telah dihadapkan pada kenyataan, bahwa perjuangan kemerdekaan rakyat kita berkecamuk dengan sengitnya. Pada saat itulah, dengan penuh keyakinan dan ketekunan, ia telah turut secara aktif dan sadar menyumbangkan bakatnya untuk perjuangan kemerdekaan. Dengan menciptakan secara produktif lagu-lagu heroik maka Simandjuntak dapat ikut menyemarakkan dan menggairahkan semangat perjuangan pemuda-pemuda dan rakyat kita di segala front. Jasa ini sungguh besar dan… bukan terletak hanya di bidang perjuangan kemerdekaan saja,” namun “juga dalam hal yang sama pentingnya, ialah dalam bidang gerakan kebudayaan umumnya dan pembangunan senisuara nasional khususnya.”[xv]

Pada 19 September 1945, sekitar sebulan setelah Proklamasi sudah dikumandangkan, diadakan rapat raksasa di lapangan Ikada, di bawah todongan bedil dan kepungan tank angkatan darat balatentara Dai Nippon. Rapat itu berlangsung singkat. Kurang dari seperempat jam. Sukarno mengendalikan gelegak amarah rakyat. Lalu susutlah gelombang arus massa Jakarta itu. Pulang kembali ke rumah masing-masing, tidak untuk “menggantang asap” sambil “bergendang dengkul” tetapi tetap siaga untuk menerima aba-aba “Siap!” dengan bersenjatakan semangat di kepalan tinju. Juga Cornel Simandjuntak. Pemuda itu tiba-tiba tampil memimpin laskar pemuda kawan-kawan sekampungnya di bilangan Tanah Tinggi, Senen. Keikutsertaan yang bukannya karena terseret arus, apalagi sekadar untuk “menutup malu” sebagai seorang pemuda. Dengan sadar Cornel “menggantungkan biolanya” untuk ditukarnya dengan bedil. Dia telah tampil sebagai pemusik terdidik sekaligus sebagai patriot; “produk negatif” bagi fasisme militer Jepang dengan daya tempur dan daya gempur efektif terhadap penindasan dan pembelengguan yang bukan tidak disadari dan dielakkan, melainkan ditumbuhkan dan dipupuk. Ibarat bibit unggul disemai di tanah perawan, digarap dengan segenap daya pula!

Alkisah cerita lain. Suatu ketika tentara Jepang telah dilucuti dan tentara Sekutu (Inggris dan Gurkha) beserta pemboncengnya (Nica) telah mendarat di Indonesia dan berkubu di berbagai penjuru kota Jakarta. Bersama M. Naibaho, Gayus, Yusuf A., dan satu atau dua orang kawan lainnya, Cornel berbincang tentang bahan peledak yang diperolehnya dari Banyuwangi. Mereka membuat granat tangan dengan besi-besi pipa sebesar lengan. Sesudah siap beberapa buah, beberapa hari kemudian, berangkatlah mereka bersama-sama untuk menguji hasil buatannya itu. Ke daerah Sunter, tak jauh dari kediaman S. Sudjojono sana. Lemparan pertama dan kedua tak meledak. Garis-garis ketegangan hati yang kecewa tergores di jidat mereka, terutama Cornel. Dan ketika lemparan berikut pun meledak, komponis muda itu pula yang menyambutnya dengan semangat paling melonjak-lonjak. Lalu kepada kawan-kawan tersebut sekaligus diucapkanlah niatnya untuk meledakkan tangsi Gurkha di Penggorengan Tanah Tinggi yang berpagar bambu tinggi itu.

Tidak diketahui, pernahkah atau urungkah Cornel melemparkan granat tangan buatan sendiri itu ke tangsi Batalyon-X di Bungur yang terkenal bengis itu. Andaikan pernah, pastilah tidak meledak. Karena peristiwa lebih lanjut, kira-kira bulan November 1945, bersama dengan laskar pemuda lainnya Cornel memimpin laskar pemuda di kampungnya menyerbu markas tentara Sekutu itu. Pada saat itu sebutir peluru melanggar tubuhnya. Belum sembuh benar ketika ia meninggalkan CBZ (sekarang RSCM) Jakarta. Peluru yang mengeram di tubuhnya pun tak bisa dikeluarkan, dan bahkan dibawanya ke kubur sebagai kesaksian seorang patriot di hadapan Tuhan-nya.

Kepada Asrul Sani suatu hari ia pemah berpesan, “Kalau Saudara hendak mencari saya, jangan cari di rumah. Saya ada di markas API, Menteng 31. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang merasa bebas sebebas-bebasnya. Dan dengan kebebasan yang saya perdapat ini saya tentu akan dapat menghidupi jiwa saya. Saya tidak ingin perasaan kebebasan itu hilang. Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut di dalamnya. Dan untuk itu, maka kita harus maju tak gentar untuk menghadapi semua tantangan dan percobaan itu….”[xvi]

Sikap dan pendiriannya lugas dan tegas sebagai pejuang. kebebasan ini didapat dari “pendidikan politik” di tengah praktik kehidupan langsung, tiga setengah tahun di bawah politik penindasan dan pengurasan fasis. Singkat tapi habis-habisan. Sebelum masa itu Cornel “hanya” seorang “seniman murni” belaka, dengan ciri watak dan pendirian yang telah terlihat.

Syahdan, pada suatu malam-minggu di Prinsen Park, dalam minggu-minggu pertama pendudukan tentara Jepang. Hiburan tari dan nyanyian untuk “tentara dan rakyat” antara lain menampilkan seorang biduanita yang membawakan lagu “Sina no Yoru”. Tempik sorak gemuruh ketika biduanita itu membungkukkan tubuhnya pada akhir nyanyiannya lebih merupakan luapan selera rendah serdadu-serdadu yang mendapat libur hadiah menang perang. Beda dengan Cornel Simandjuntak. Ia memaki-maki. Karena bukan saja biduanita itu tak pantas diberi sandangan penyanyi, juga nada-nadanya banyak yang tak tepat serta bangunan iramanya pun tak terucapkan.

“Jangan cuma maki-maki!” sahut kawan-kawannya. “Coba kau tampil sendiri di panggung sana.”

“Mintakan waktu pada pengantar acara!” Cornel ganti menuntut.

Salah seorang kawannya maju menghampiri panggung. Sebentar dia saling bisik dengan seorang Jepang di sana, kemudian melewati pengeras suara Cornel Simandjuntak dipersilakan naik panggung. Dan mengalunlah lagu yang sama, sebenar-benar “Sina no Yoru”, tanpa disadarinya makna politiknya, serta dibawakannya dengan suara seorang penyanyi sekaligus pemusik. Sejak di HIK Muntilan dulu, sekolah formalnya yang terakhir, Cornel memang dikenal sebagai penyanyi terbaik sekolah itu, di samping dikenal mahir bermain piano, biola gitar dan klarinet hingga menjadi kebanggaan Pater J. Schouten, pemimpin orkes dan guru musik sekolahnya.

Melihat penampilannya yang berani, pasti, dan meyakinkan sebagai penyanyi dan pribadi sekaligus, kawan-kawannya tersentak. Mereka lalu teringat, dia memang sangat “keras”, tegas, dan blak-blakan dalam memimpin anggota paduan suara. Telinganya sangat tajam apabila mendengar nada sumbang menyelinap di tengah alunan suara yang banyak itu. Suatu saat, di luar latihan, seorang gadis cantik mengharapkan pujian Cornel diucapkan di depan umum. Tetapi yang terdengar: “Sekedar menyanyi, kau mungkin bisa,” komentarnya. “Tapi menjadi penyanyi, tak ada syarat-syarat padamu!” Mereka yang mendengar terbeliak. Ada pula yang menahan nafas. Setengahnya saling bisik. Yang bersangkutan merah tersipu. Sesudah latihan usai, seorang kawan menegur.

“Apa aku salah?” Cornel berkilah. “Kalau dia bertanya tentang kecantikannya, tentu akan kujawab: Kaulah paling cantik di antara kawan-kawanmu. Tapi yang ditanyakannya kemampuanya menyanyi. Suaranya jelek, menyanyi tidak bisa. Apa lagi? Daripada dia mempunyai gambaran salah tentang dirinya sendiri, dan paduan-suara ini pun menjadi suara bersama yang tak padu?”

Cornel yang tenang ibarat lubuk yang dalam. Cornel yang banyak tertunduk mengamalkan ilmu padi. Dia polos, “telanjang”, dan terus-terang sebagaimana kebenaran tak pernah berkedok dan bersolek. Dia seniman sejati, wujud kebenaran hakikat keindahan itu sendiri. Perasaannya amat peka, perfeksi dan disiplinnya amat ketat sebagai cermin dari kehormatan dan kecintaannya terhadap hakikat keindahan itu. Dan di depan hamparan kenyataan ini Cornel, antara lain, ditemukannyalah nilai keabadian – dengarkanlah apa yang dinyanyikannya dalam “Citra” dan “Kupinta Lagi”, misalnya – nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kebebasan di dalam bingkai keselarasan yang menafasi hampir seluruh komposisinya. Dan harmoni yang menggetarkannya, dan karenanya sangat ditekuni dan dikuasainya itu, bukan saja sebagai masalah keundagian dalam komposisi, melainkan juga sebagai masalah asasi di dalam alam semesta.

Konon, kata seorang sahabat dekatnya, tak jemu-jemu suatu waktu Cornel membaca sebuah buku dalam bahasa Belanda, biografi dua orang tokoh besar kemanusiaan yang sangat berkebalikan dalam metode: Lenin dan Gandhi. Tetapi tentu bukan karena buku ini saja jika dalam tempo sangat pendek Cornel tampil matang sebagai manusia dan komponis. “Ia seniman muda Indonesia ideal,” kata sahabat itu.

Di bawah asuhan Pater J. Schouten, Cornel banyak “bergaul” dengan komponis-komponis besar dunia hingga diangkatnya Schubert sebagai gurunya mengenai lied, komposisi piano dan vokal solo khas era Romantik. Ditambah dengan gemblengan fasis Jepang, gesekan dengan kawan-kawan seniman di Keimin Bunka Shidosho dan lain-lain-dan-lain-lain…, semuanya itu ibarat rabuk dan siraman air bagi bibit dan tanah yang penuh vitalitas dan potensi itu.

“Hidup itu Musik,” ucap Glinka. Dan Cornel yang lebih muda dan hidup di tengah kancah pertempuran pula berkata: “Orang yang tak suka musik, sudah matang jadi pembunuh!”[xvii]

Memang menjadi masalah yang istimewa penting dan peliknya bahwasanya musik dipisahkan dari dunia yang diucapkan melalui kata-kata, garis, dan warna. Sikap demikian hakikatnya, secara filosofis, mengingkari karakter ekspresif pada musik. Dan dengan demikian mengingkari humanitas dan rasionalitas pada musik. Sejarah musik mutakhir menunjukkan bahwa “bahasa-musik”, yang dengan pendapat Kant dan Hegel bisa dinamakan akustik matematik itu, berupa gejala interval dan nada. Dalam teori E.G. Wolff,[xviii] interval yang merupakan the original cell of music itu adalah Spannung. Penjelasan ini membawa kita pada analisis psikologisme terhadap interval sebagai lambang musikal, melalui apa gagasan-gagasan musikal diucapkan.

Musisi Austria Anton von Webern, pernah berkata, “Don’t write music entirely by ear.” Dan berikut ini komentar Igor Stravinsky[xix] menanggapi kalimat itu, “He obliges the hearer to become a listener, summons him to active relations with music…”  Tentang nada dan interval, Stravinsky berkata bahwa komponis dewasa ini “does not think of notes in isolations but of notes in their intervallic position in the series in their dynamic, their octave, and their timbre. Apart from the series ‘notes’ are nothing; in it, their recurrence, their pitch, their dynamic, their timbre, and their rhythmic relation determine form….”

Dapat dipastikan Cornel belum pemah bertemu atau dipertemukan dengan guru-guru dan kawan-kawannya, Stravinsky dan Webern. Tetapi pada karya-karya Cornel yang sangat kuatlah konsep-konsep musikologi paling mutakhir digubah menjadi komposisi sebagaimana kutipan-kutipan tersebut di atas.

Lalu, apakah kunci jenialitasnya dia? Cornel Simandjuntak tampil dengan ketepatan pandangan dan sikap pendirian politik. Mengapa? Justru karena dia seorang seniman sejati yang tak mau berkhianat terhadap kebenaran. Dia kiranya sepakat dengan semboyan pelukis S. Sujoyono dahulu – sesama kawan dalam Keimin Bunka Shidosho – bahwa “yang benar selalu indah”[xx] tetapi yang indah memang tidak selalu benar!

Demikianlah, maka Cornel Simandjuntak menjadi peka terhadap aspirasi kemanusiaan umumnya dan bangsanya pada khususnya, seperti tercermin dari antara lain lagu “Asia Sudah Bangun”, atau “Citra”, yang diangkat dari pengalaman erotis yang sangat pribadi sekalipun! Bertolak dari aspirasi kemanusiaan itu, daya inovasinya tercurah tuntas, tidak terbatas secara estetis tetapi juga teknis artistik.

Cornel Simandjuntak adalah tokoh terkemuka Angkatan 45 di bidang musik, dalam estetika maupun artistik. Berbeda dengan Angkatan 45 di bidang sastra yang humanisme universil – walaupun preambule, anggaran dasar Gelanggang tidak berniat demikian[xxi] – Angkatan 45 di bidang musik yang dibawa oleh Cornel Simandjuntak membawa nilai-nilai baru dengan elan revolusi nasional. Tentang hal ini tidak usah sebutkan bagian terbesar dari karyanya, tapi nyanyikanlah dalam renungan “Tanah Tumpah Darahku”, sebuah lagu seni dengan syair Sanusi Pane yang dalam andante maestoso sangat menyentuh dasar lubuk air mata keharuan itu.

 

Marilah kita Berdendang Kawan, Yo Hayo Hayo Hayo…

Pada zaman Jepang tampillah Cornel Simandjuntak dengan lagu-lagu yang berbau propaganda, seperti “Mars Pasukan Sukarela”, “Asia Sudah Bangun”, “Bekerja”, “Puji Kepada Heiho”, “Maju Indonesia”, “Maju Tak Gentar” (yang sesudah proklamasi syairnya digantinya sendiri), “Indonesia Merdeka” (yang lebih terkenal sebagai “Sorak-Sorak Bergembira”), dan “Ayunkan Palu Bikin Kapal”.

Tak urung suatu ketika Asrul Sani bertanya kepadanya: “He, Bung Cornel! Mengapa Bung mau mencipta lagu-lagu seperti ‘Asia Sudah Bangun’ dan ‘Ke Pabrik’ yang semata-mata hanya berisi bahan propaganda itu? Apakah Bung tidak merasa, bahwa Bung sebenamya sudah berkhianat kepada diri sendiri sebagai seorang seniman?” Pertanyaan ini mengarah tepat pada pandangan Cornel tentang musik Indonesia.

Sampai pada saat itu musik Indonesia belum pernah ada dalam kenyataan, baik secara politik apalagi secara kultural, dan khususnya secara musik. Indonesia dalam musik ketika itu berupa alunan lagu-lagu keroncong, stambul, dan langgam dalam matra yang telah beku seperti sepatu-kayu perempuan Cina, sehingga tak mungkin diperbaiki kecuali dengan membelah dan membuatnya baru sama sekali. Cornel di bidang musik seperti Chairil Anwar pada sastra. Irama zaman baru setelah Cornel tak lagi berlenggang kangkung dan sekadar memuji panorama Indonesia indah atau menyampaikan nasihat dalam petatah-petitih dalam gurindam dan pantun. Irama zaman itu bahkan bukan sekadar berderap yang monoton tetapi, seperti kata Chairil, berderu bercampur dengan debu pula! Dentuman meriam dan berondongan senapan-mesin tak mungkin diucapkan seperti pada kekenesan “Mortir telah berdentum, tandanya mulai…” atau dengan kegenitan “Pasukan juki” yang “kian kemari” dalam irama Gambang Semarang belaka.

Masalah penting yang juga dihadapi Cornel adalah bangsanya yang buta-nada-Indonesia, dengan sendiri juga interval Indonesia dan pada gilirannya juga irama Indonesia lantaran Indonesia memang belum lahir kecuali dalam angan-angan. Apa yang ada adalah nada, interval, dan irama daerah-daerah, sehingga apabila Indonesia Raya dinyanyikan bersama oleh massa seperti pada rapat raksasa Ikada pada 19 September itu, yang terdengar adalah Indonesia Raya dalam berbagai cengkok.

Lalu apa yang dilakukan Cornel lebih lanjut pada dua hal, massa dan musik? Pada massa, ia memelek-nadakan rakyat Indonesia dengan sekaligus memberikan dasar-dasar pendidikan musik secara praktis. Cara yang ditempuh adalah dengan menggubah lagu-lagu berirama mars yang umumnya sederhana dan mudah, dengan bahasa Indonesia yang baik, namun mempunyai daya agitatif, padat tapi juga orisinal. Secara teoritis dasar-dasar pendidikan musik di Indonesia ini digarapnya pula, di samping catatan-catatan dan komposisi selama bulan-bulan terakhir terbaring di sanatorium Pakem – tatkala dia harus mengangkat kembali biolanya dan membaringkan bedilnya di sisi ranjang-sakitnya. Untuk menjangkau massa yang paling jauh di dusun, organisasi pemerintahan fasis Jepang “membantunya” lewat Hookookai, Fujinkai, Seinendan, Keibodan dan lain-lain sebagai sarana dan wahana.

Pada musik, apabila dikatakan bahwasanya revolusi “rejects yesterday”, maka apa yang dilakukan Cornel Simandjuntak memang pekerjaan revolusioner. Sejauh mana ia mengenal dan mengagumi Glinka, tidak seorang pun kawan terdekatnya yang masih ada yang bisa menunjukkan. Tetapi Cornel memang konsekuen dengan rumusan Glinka, “life is music”. Maka menulis atau mengarang lagu tidak lain hanyalah memberikan presisi musikologis suara irama kehidupan melalui lambang-lambang yang telah disepakati bersama. Lalu dibebaskanlah kata-kata dari hukum-hukum bangunan lagu yang telah membelenggu secara konvensional, seperti dirinya sendiri bersama dengan bangsanya sesaudara sedang membebaskan diri dari hukum-hukum bangunan lagu-dunia lama. Dihancurkanlah sepatu-kayu perempuan Cina itu, karena bukan kaki yang harus mengabdi sepatu tetapi sebaliknyalah: sepatu harus mengabdi kaki.

Melodi harus mengabdi pada syair sesuai dengan aksentuasi kata. Dalam pada itu harus diingat bahwa, dalam bahasa Indonesia modern, tekanan jatuh pada suku kata kedua dari belakang, kecuali bila ia bervokal lemah (yaitu vokal “e” pada “sedang”, “benar”, “lebih” dan sebagainya) sehingga tekanan berpindah pada suku kata di belakangnya; dan suku kata-suku kata yang mendapat tekanan tersebut di dalam lagu harus ditempatkan pada pukulan birama terkuat (pukulan pertama pada umumnya dan pada birama 4/4 pukulan ketiga) atau diberi nada lebih tinggi daripada suku kata yang tidak bertekanan.

Di Eropa hal yang demikian itu sudah berjalan selama berabad-abad. Tetapi ini merupakan hal baru bagi Indonesia karena para pengarang musik Indonesia umumnya adalah pemusik-alam yang tidak memperoleh pendidikan komposisi. Karena itu pula kebanyakan lagu-lagu Indonesia mempunyai kata-kata tidak senafas dengan melodi dan harmoni atau sebaliknya. Maka menjawab Asrul Sani tentang lagu-lagunya yang berbau propaganda fasisme itu Cornel berkata:

“Saudara, ini bukanlah khianat. Tetapi saya telah meniadakan diri saya sendiri. Barang-barang bestelan ini janganlah saudara anggap sebagai suatu hasil seni. Dalam hal ini saya sudah menjadi seorang tukang pembuat lagu. Asal ada orang yang minta dibuatkan, saya buatkan. Tetapi bagi saya sebetulnya ini suatu korban. Tetapi kita ini hanya perintis saja. Saya hendak membawakan perasaan musik modern ke dalam hati rakyat. Rakyat kita hanya mengenal toonladder yang mempunyai lima suara. Bagaimana mereka akan dapat mengerti dan menghargai lagu-lagu yang terdiri lebih dari lima suara, apalagi simponi-simponi atau musik-musik klasik yang berat? Tetapi sekarang lagu-lagu bestelan yang diperlukan oleh Jepang untuk propaganda, yang terdiri dari suara-suara yang lengkap telah dimasukkan ke desa-desa, ke gubuk-gubuk, ke pabrik-pabrik. Lagu-lagu itu dinyanyikan di parit-parit kaum pekerja, di kebun-kebun, oleh orang-orang yang selama ini hanya mengenal toonladder yang bersuara lima itu. Jangan lihat keindahan lagu itu, baik bunyi atau arti, tapi lihatlah hasilnya. Toonladder yang mempunyai tujuh suara telah sampai ke lapisan rakyat kita yang paling bawah.…”

Demikianlah pandangan Cornel. Dan dengan demikian pula, suara irama Indonesia baru akan bisa diucapkan setuntasnya. Sudah menjadi tujuan Cornel sebagai komponis untuk mengarang lagu dengan corak Indonesia, yaitu dengan jalan memasukkan sebanyak-banyaknya unsur melodi dan ritme Indonesia, yang dalam sejarah musik disebut sebagai pengikut aliran nasionalisme,

Untuk menunjukkan betapa “gampangnya” menggubah lagu ala keroncong yang terkungkung dalam kebekuan konvensi itu, sambil ngobrol santai di tengah kawan-kawannya ia corat-coret seenaknya. Mempermainkan bakat yang diupam dengan kemahirannya dalam ilmu komposisi, lahirlah “Mari Berdendang.” Temanya memang “memuja alam nan permai” ala keroncong, namun tak urung jadilah dengan kesederhanaannya sebuah lagu gembira segar, dinamik, dan penuh optimisme.

 

Marilah kita berdendang kawan

Tari nan permai, tari nan permai

Riang gembira berdendang kawan

Tari nan permai, tari nan permai

Yo hayo hayo hayo

Hirup hawa nan bersih

Lenggang tangan nan gemulai

Nyahlah sedih!

Yo hayo hayo hayo

Hidup jiwa berseri

Tari bebaslah mulai

tak berhenti!

Marilah dendang memuja kawan

Alam nan permai, alam nan permai.

 

 Dialah Pelopor Opera, Dia pun Mengangkat Motif Musik Daerah

“Mari Berdendang” membuktikan corak komposisinya yang konsekuen hendak memadukan antara melodi dengan syair. Dan bila benar kata L. Manik bahwa lagu “Tari nan Permai” itu merupakan karyanya yang terakhir, tersirat kuat-kuat tentang betapa cemerlang komponis pembaharu ini.

Namun demikian sebagian besar lagu-lagu Cornel, yang ditulisnya baik pada zaman pendudukan Jepang maupun pada awal zaman kemerdekaan, adalah lagu-lagu mars yang sederhana, bersifat umum dan mudah ditangkap, penuh kegembiraan dan membangkitkan semangat, dinamis dan gagah. Akan tetapi Cornel sebagai komponis tentu saja tidak ingin terbatas pada gubahan lagu-lagu mars yang sederhana belaka, terbatas pada “selera awam” yang masih dalam taraf lagu-lagu perjuangan, lagu rakyat, stambul, dan keroncong. Cornel ingin pula menulis lagu-lagu yang bila ditinjau dari sudut musikologi lebih bermutu. Hati Cornel mengangankan karya-karya serius dan seestetis mungkin, tapi telinga Cornel mendengar nyanyian masyarakatnya yang masih bertaraf sederhana. Dia berdiri di antara keduanya, selera awam dan impian komponis. Cornel, dengan demikian, di satu pihak menunjukkan dirinya sebagai seniman yang berbakat besar; di pihak lain sebagai guru yang menguasai metode, paham tentang cara-cara yang sistematis dan paham tentang teknik komposisi. Lalu lahirlah dari pensilnya lagu-lagu seperti, antara lain, “Citra” dan “Mekar Melatiku” yang romantis. Dengan terciptanya lagu-lagu Cornel jenis ini yang barangkali dimaksudkannya sebagai awal musik Indonesia Baru, dunia musik Indonesia mencatat sejarah perkembangan sangat penting. Motif lagu-lagu karangannya jenis ini segera menjadi “model” yang diikuti oleh banyak komponis Indonesia, sehingga selanjutnya sejarah musik lndonesia mengenal pembedaan antara jenis “hiburan” dan “seriosa”. Maka pintu pun dibuka bagi perubahan dunia musik Indonesia secara lebih pesat.

Cornel tidak berhenti di sana. Dia tak mau membuang umur menunggu “perjuangan selesai”, menunggu bangsanya kranjingan musik klasik. Seolah-olah “mempersetankan” musikalitas bangsanya, Cornel mencipta menurut perasaan dan motifnya “sendiri”. Dia tumpahkan isi hati dan kepribadian “sendiri”. Dia berkhayal dengan cita-cita musik “sendiri” tanpa terpengaruh siapa pun dan susunan musik apa pun. Tanpa imitasi-imitasian, tanpa epigon-epigonan, Cornel bukan pembebek, apalagi penjiplak!

Lalu lahirlah darinya harmoni yang indah, bentuk melodi yang bagus serta imajinasi yang tepat seperti, misalnya, pada lagu-lagu “0, Angin” dan “Kemuning”. Dan darinyalah bertolak corak bangunan baru musik Indonesia yang lebih universal. Dialah pelopor dan peletak batu dasar bagi musik Indonesia Baru, yang membuat musisi asing pun mengagumi gubahan-gubahannya sebagai hasil seni yang bermutu. Sepeninggal Cornel, setelah dunia musik Indonesia pun telah semakin maju, orang mulai memperbincangkan karangan-karangannya. Sementara kritikus ada yang menggugat sampai ke detail-detailnya serta mencap bahwa karya-karyanya bercorak kegerejaan, bercorak Gregorians, serta bersuasana Batak tanah kelahirannya.

Kritik itu sesungguhnya kerdil dan subjektif. Tak ada yang salah karena Cornel Simandjuntak adalah putra Batak, daerah di tanah air yang telah menerima pekabaran Injil sejak medio abad ke-19, dan daerah yang seni suaranya telah berpadu dengan seni suara gereja. Justru dengan bekal seni suara yang bercorak khas Batak dan religius itulah Cornel Simanjuntak mengembangkan dan mematangkan bakatnya. Dan yang kemudian lahir dari tangannya adalah, selain lagu-lagunya yang bertema patriotisme dan bernafaskan perjuangan, yang berdentam-dentam seperti “Maju Tak Gentar” juga, terdapat “Tanah Tumpah Darahku” yang hikmat hening mengharukan. Lagu-lagu dengan corak tersendiri: corak Cornel Simandjuntak. “Nafas gereja” itu mustahil hilang, dan mengapa harus hilang? Namun sama sekali tak berarti bila disejajarkan dengan karya-karya R.A.J. Sudjasmin dan Amir Pasaribu pada, misalnya “Semangat” dan “Lagu Biasa” (atas sajak-sajak Chairil Anwar) dan “Merah Kesumba” (atas sajak Iramani, nama samaran Njoto) dari akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, Nafas Batak? Cornel bukan Simandjuntak yang besar kalau dia tercabut dari akarnya! Namun jangan dilupakan bahwa dia pun menulis lagu-lagu yang mengambil motif-motif musik daerah lain, khususnya motif gamelan. Cornel juga menyusun sebuah orkes Bali “Putera Ibu Indonesia”.

Cornel adalah sebuah batu tapal terbesar dalam sejarah musik Indonesia sampai kini. Tak seorang pun yang menyelusuri jalan sejarah ini, bahkan juga sejarah politik, yang tak berhenti di hadapannya dan mengkajinya. Karangan-karangannya yang mempunyai melodi dan harmoni menarik, dengan segala problem-problemnya itu, memang perlu dikenal dan dipelajari. Beberapa lagunya menjadi lagu wajib nasional, lagu wajib dalam pemilihan bintang radio dan lagu terpilih para pesertanya, menjadi pendukung dalam pertunjukan drama dan film, misalnya “Citra” untuk drama dan film dalam judul sama dan “Kemuning” untuk film “Antara Bumi dan Langit” (atau “Frieda”, mengikuti nama tokoh utama dalam film ini) dari Usmar Ismail.

Cornel pelopor musik vokal Indonesia baru karena ia melakukan perubahan revolusioner dalam cara menggubah musik vokal seperti yang telah dikemukakan di atas. Dia berguru kepada Frans Schubert yang melarut dalam Goethe, dan Cornel sendiri melarut dalam Sanusi dan Armijn Pane, Usmar Ismail, Sutomo Djohar Arifin, J.E. Tatengkeng dan lain-lain. Bukan sekedar melarut dalam irama, tapi juga dalam suasana dan cita-cita. Isi dan bentuk sajak itu dihidupkannya dalam susunan nada-nada yang dikarangnya. Ketajaman telinganya telah mampu menangkap melodi khayal yang telah “berbisik sendiri” ke dalam sajak-sajak yang dihadapinya. Terkadang ada suasana dan cita-cita, dalam isi dan bentuk sebuah sajak yang, walau tanpa diucapkan melalui musik, sudah demikian nyaring di telinga dan “hati”. Tetapi ada pula sajak yang isinya bukan saja jelas di “kepala” melalui telinga tetapi juga jelas di “dada” melalui seluruh pori-pori tubuh, dengan menggunakan cara atau alat tertentu. Alat-alat itu bisa merupakan seni pidato yang lebih prosaik, seni deklamasi yang semakin lirik, tetapi seni musik yang “akustik matematik”-lah yang merupakan alat terdekat untuk itu.

“Kemuning”, sebuah lagu seninya yang terbaik atas dasar sajak Sanusi Pane, yang dikelompokkan musikus Indonesia sebagai lagu seriosa, merupakan pengucapan yang mantap berkat analisisnya yang tepat. Pada voorspel dan awal melodinya berserulah dia: “Kemuning!” Karena pohon sebatang inilah saksi bisu baginya yang berhati hancur karena sesudah bertahun menanti, tiada bersua lagi dengan Adindanya. Padahal di sanalah dahulu ia selalu menanti dan mereka saling membisikkan cinta. Secara tema sesungguhnya merupakan perulangan belaka atas kisah romantik-revolusioner yang tragik dari Saija dan Adinda. Penggantian ketapang dengan kemuning, kecuali untuk mencari efek poetik dramatik barangkali juga untuk menghindari sensor fasis saat itu.

Kemudian dikisahkanlah dengan sangat melodius percintaan yang syahdu itu. Klimaks pernyataan kekecewaannya yang tak terpecahkan karena “tidak datang seorang pun jua” dijeritkannya pada kalimat-kalimat terakhir. Dalam irama musiknya yang penghabisan itu dia bertanya dan berseru:

 

Kemuning!

dimana gerang

Adinda utama?

 

Jerit pertanyaan yang tak terjawab itu memukau dengan sebuah slot-akord yang, dengan menggunakan modulasi, seolah-olah menjadi tak berkesudahan.

Betapa akrab dia dengan sajak yang digubahnya itu. Begitulah dalam “Kemuning”, demikian juga dalam “0, Angin” dan “Citra”, tetapi bahkan juga dalam sajak-sajak untuk lagu-lagu koornya, seperti “Kupinta Lagi” (Sanusi Pane). Koor ini dikarang sebagai pembukaan untuk sebuah karya instrumental berupa overture dari opera-nya berjudul “Madah Kelana” yang diangkat dari kumpulan sajak Sanusi Pane dalam nama sama. Di dalam opera yang direncanakannya ini akan dimasukkan pula beberapa karya-karyanya terdahulu seperti misalnya lagu-lagunya “0, Angin” dan “Kemuning” tersebut.

Di tahun-tahun ketika itu, pada zaman-zaman penuh kemelut seperti itu, Cornel sudah sampai pada karya-karya instrumental berupa overture. Maka ternyatalah betapa besar bakat musiknya, betapa tajam inteligensinya dan betapa sangat memadai pula keahliannya di dalam soal-soal instrumental. Untuk membawakan tema pertama karyanya ini Cornel mempergunakan klarinet. Beberapa fragmen dari rencana operanya itu pernah disiarkan melalui radio pada zaman pendudukan Jepang. Tetapi sayang, maut terlalu cepat menjemputnya, dan opera “Madah Kelana” tak pernah terselesaikan. Tetapi dia telah memulai, dan dialah pula pemulanya!

Sebagai penutup saya mendengar suara mineur dari kebimbangan yang berseru-seru:

 

Hai!

Pagi yang baru menjelang,

Pulangkan imanku yang sudah hilang

Berikan daku cinta dan hasrat

supaya aku boleh mendarat!

 

Lalu modulasi menjadi mayeur, terdengar bisik harapan!

 

Kulihat terang meski tak benderang

sehingga gelap lambat-laun

lambat laun kan lenyap!

 

Namun kebimbangan itu juga yang kembali terus berseru-seru:

 

Datanglah cahaya dihati

Bawalah imanku kembali

Datang, datang

Pagi, pagi

Datang, datang

Pagi, pagi

Datang, datang

Pagi, pagi

Datanglah cahaya di hati

Bawalah imanku kembali

 

Dan sesudah diseru dan diseru, akhirnya menjerit Comel Simandjuntak tinggi-tinggi:

 

Datang

Cahya

Datang

Cahya

Cahya

Datanglah!***

 

 

 

 

 

 

[i] Latihan Militer pada tahun-tahun itu diberikan di sekolah-sekolah lanjutan di Yogyakarta, dengan pengajar para kadet “Militaire Academie” yang ada di kota itu.

[ii] Lian Sahar, Ketua Bagian Penerangan Panitia, “Pengantar Kata”, Sumarjo L.E., Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Kem. PPK, ln Memoriam Cornel Simandjuntak; halaman 3 dan 10, Peringatan Cornel Simandjuntak, Yogjakarta 1957.

[iii] Makamnya di Kerkop berupa sebuah pusara tiga tingkat dengan baki pedupaan di kaki dan sebuah tangga nada di kepala serta prasasti pada tingkat kedua, berbunyi: “Gugur Sebagai Seniman dan Pradjurit C. Simandjoentak 15-9-1946.”

[iv] Taro Sakamoto, Jepang Dulu dan Sekarang, Yayasan Obor lndonesia dan Gadjah Mada University Press, 1980.

[v] Ibid., xviii; lihat juga Kamajaya, Sejarah Bagimu Neg’ri, U.P. Indonesia Yogyakarta 1979, halaman 11.

[vi] Ibid., halaman 48-52; bandingkan dengan Masuo Kato, The Lost War, New York, Alfred A. Knopf, lnc., 1946, halaman 178-195.

[vii] Iwa Kusuma Sumantri, Sedjarah Revolusi Indonesia, Djilid Pertama, halaman 82/8; lihat juga Masuo Kato. op.cit., halaman 184.

[viii] Masuo Kato, op.cit., halaman 191.

[ix] Pusat Kesenian Indonesia didirikan pada 6 Oktober 1942 di rumah Bung Karno, Jalan Oranje Boulevard No. 11 (sekarang Jalan Diponegoro) atas prakarsa Bung Karno yang didukung oleh para seniman, sastrawan dan cendekiawan pada umumnya. Atas saran Sutardjo Kartohadikusumo, Ketua Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK), badan baru tersebut membatasi kegiatannya pada kesenian agar supaya tidak “berbenturan” dengan kegiatan PPRK yang dipimpinnya. Salah satu asas PPRK, tercantum pada ADAT (Anggaran Dasar dan Anggaran Tetangga) Fatsal 2c. berbunyi: “Menggunakan Radio Ketimuran untuk turut memadjukan kebudajaan Ketimuran.”

[x] Pusat Kebudayaan atau yang lebih dikenal dengan nama Jepangnya, Keimin Bunka Shidosho, terbentuk atas hasil perundingan antara pimpinan Barisan Propaganda Jepang (Sendenbu] dengan pimpinan Pusat Kesenian Indonesia. Pengumuman berdirinya pada 1 April 1943 dan kantornya di Jalan Noordwijk 39 (sekarang Ir. H. Juanda) Jakarta, tetapi diresmikan baru pada 29 April 1943.

[xi] Amir Pasaribu, “Cornel Pembaharu”, sambutan pada Peringatan Cornel Simandjuntak, Yogyakarta 1957.

[xii] Diah Sri Mulyantinah, “Mengenang Komponis Pejuang: Cornel Simanjuntak” dalam Keluarga, Oktober 1977 No. X, Th. 24, 30-33.

[xiii] Panitia Lagu lndonesia Raya yang dibentuk oleh prakarsa Bung Karno menyusul janji pemerintah Jepang tentang kemerdekaan Indonesia “di kelak kemudian hari” pada awal September 1944, dengan tugas untuk menetapkan melodi dan naskah syair yang seragam. Diketuai oleh Bung Karno dengan anggota-anggota: 1. Ki Hajar Dewantara; 2. M. Akhiar; 3. Ny. Bintang Sudibio; 4. Darmawijaya; 5. Kusbini; 6. K.H. Moh. Mansyur; 7. Mr. Muhammad Yamin; 8. Mr. Sastromulyono; 9. Sanusi Pane; 10. C. Simandjuntak; 11. Mr. Akhmad Subardjo; 12. Mr. Utoyo. Keputusan yang ditetapkan pada 8 September 1944 ialah:

Pertama: Apabila lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan satu couplet saja, maka ulangannya dilakukan dua kali; apabila dinyanyikan tiga couplet, ulangannya dilagukan satu kali kecuali pada couplet yang ketiga, ulangannya dua kali.

Kedua: Ketika menaikkan bendera Merah Putih lagu lndonesia Raya diperdengarkan dengan ukuran cepat 104. Ketika sedang berbaris, maka dipakai menurut keperluan 1-2-120.

Ketiga: Perkataan “semua” diganti dengan perkataan “sem’wanya”, noot ditambah “do”.

Keempat: Perkataan “refrain” diganti dengan perkataan “ulangan.”

[xiv]Cornel Simandjuntak Sebagai Komponis, buku peringatan op. cit. halaman 15.

[xv] Pedjuang Dalam Dua Bidang, ibid., halaman 13-14.

[xvi] Diah Sri Mulyantinah, “Mengenang Komponis Pejuang: Cornel Simandjuntak” dalam Keluarga, Oktober 1977 No. X, Th. 24, 30-33.

[xvii] “In memoriam Cornel Simanjuntak”, Kompas, 14 September 1980.

[xviii] Galvano Della Volpe, Critique of Taste, NLB, 1978, halaman 211, catatan kaki.

[xix] Ibid., halaman 215-216.

[xx] “Kami tahu kemana senilukis lndonesia hendak kami bawa”, S. Sudjojono; brosur Seniman Indonesia Muda, 1947.

[xxi] Preambule Anggaran Dasar Gelanggang yang didirikan di Jakarta pada 19 Nopember 1946 oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, Baharudin dan Henk Ngantung, antara lain menyatakan: “Generasi ‘Gelanggang’ terlahir dari pergolakan roh dan pikiran kita, yang sedang menciptakan manusia lndonesia yang hidup…” Kemudian pada 18 Pebruari 1950 dipertegas dalam “Surat Kepertjajaan Gelanggang” Seniman Merdeka, antara lain: “Revolusi bagi kami ialah jalan penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan”. Sebuah penegasan yang justru mengabur!

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus