Pulau Arwah

Print Friendly, PDF & Email

AIR pasang tampak jelas dari tempatnya menopang dagu. Laut sedang bergejolak. Gelombang demi gelombang menyeret sekoci para nelayan di tepian dermaga.

Seseorang yang dinanti sepenjuru desa tiba di tengah hujan badai. Remaja berperawakan pendek itu menuju bar dengan sepatu bot berlumpur.

“Bagaimana?” tanya penjaga kedai.

“Pak Tua meninggal. Jasadnya akan dimakamkan di gunung, rombongan kita dapat menyeberang selat dengan kapal lewat tengah malam ini.”

Mendengarnya, harapannya pupus. Setelah menjual seluruh warisan orang tua, berbulan-bulan hidup di negeri yang membolak-balikkan hidup dan keyakinan, dia akan pulang tanpa sempat mewujudkan harapannya.

“Maaf,” ujar remaja itu kepadanya. “Seharusnya kau tak membuang-buang waktu di tempat terpencil ini.”

Dia ingat bagaimana dia sampai ke pulau itu. Suatu pagi, dia membaca iklan di surat kabar tentang ekspedisi menemui Pak Tua, sufi penghuni kedai di mana arwah-arwah berkumpul. Pada hari pertama di pulau itu, dia dan rombongan tur menyewa penginapan di sekitar kedai. Namun, di saat kedatangan mereka, Pak Tua tengah berlayar di Samudra Pasifik.

Melipur lara, mereka kemudian berbaur dengan penduduk setempat dan menjajali kuliner makanan mentah dari seluruh pelosok pulau dan berjemur di pantai. Namun, belum genap sebulan, satu demi satu dari mereka menyerah. Di bulan keenam, karena kehabisan uang dan berakhirnya masa cuti kerja, belasan dari mereka pergi begitu saja.

Malam itu, jelaslah hanya dia yang masih bertahan tinggal setelah dua belas purnama. Ditemani seorang pria ketus yang tiba pada malam sebelumnya. Selama di kedai, pria pendiam itu berbicara dengan suami-istri yang tinggal satu pondok dengannya.

 

SI PRIA berada di teras menunggui hujan reda saat dia kembali ke pondok.

“Sebagian tubuhmu basah kuyup,” ujarnya. “Siapa namamu? Aku Derila.”

“Lorka. Tadi aku sempat hampir pulang. Hujan tiba-tiba turun deras di tengah perjalananku, jadi aku kembali, dan pintu sudah terkunci.”

Dia tertawa dan melepas jaket, lalu melipat payung. “Itu takdirmu bertemu denganku lagi. Apa kau bisa temani aku naik ke gunung malam ini?”

“Kau akan menghadiri pemakaman itu?”

“Kau tahu jalan menuju gunung?” tanyanya. “Sungguh tak terbayang bagiku. Menyeberang selat, dan menempuh perjalanan tujuh belas mil.” Dia melanjutkan sembari tertawa skeptis.

“Ini tempat kekuasaanku,” jawab si pria, “kalau kau mau tahu.”

Derila mengernyitkan dahi.

 

PULUHAN tahun lalu, keluarga Lorka bermukim di pulau tersebut. Suku mereka pindah karena kerusuhan. Kakeknya turut meninggal dalam pembantaian karena ikut menggagas pemberontakan terhadap pemerintah korup.

Ayahnya tak mampu menjadi orang terdidik seperti kakeknya. Pekerjaan paling mulia yang pernah ayahnya lakukan hanyalah mengantarkan gelas minuman bagi opsir-opsir penjara dan menyuling arak. Sementara itu, Lorka dan adik-adiknya bertugas mengantarkan guci-guci arak berkeliling pulau.

Pada suatu malam, demi melindungi keluarga, secara sembunyi-sembunyi, ayahnya mengungsikan Lorka, ketujuh adik, ibu, dan bibi-bibinya keluar pulau. Mereka menumpang kapal menyeberangi danau. Malam itu, ratusan rumah menjelma debu. Ayah dan paman-pamannya diseret dengan kejam dan dibakar hidup-hidup. Hingga cerita ini ditulis, perkara itu tak pernah digubris lagi. Orang-orang di pulau itu mengalami amnesia komunal.

Sejak saat itu pula, Lorka berjanji menghapuskan semua identitasnya.

Sepanjang perjalanan hidupnya ke depan, ia ditakdirkan untuk selalu menjadi bebal akan kasih sayang. Terutama setelah ibunya menjual sekian karung batu mulia dan kulit kerang mutiara peninggalan ayahnya untuk ditukarkan sebagai mas kawin menikahi pria buncit yang gemar minum arak dan makan daging anjing. Ketika ibunya digagahi di dalam kamar pada malam pertama pernikahannya dengan lelaki itu, dendam bermula untuk membara dan membatu di dada Lorka.

 

SAAT Derila dan Lorka tiba di dermaga, puluhan tubuh yang telah membusuk dilempar dari atas kapal. Mayat-mayat itu diseret ke pinggir pantai. Derila menggigil dan menggigiti tas perbekalan. Lorka menaruh tangan di bahu Derila sewaktu melihat perempuan itu gemetar.

Mereka menumpangi kapal yang memuat hampir seluruh penduduk pulau. Ribuan orang ikut di kapal itu. Puluhan awak kapal mengikat tangan para penumpang yang berkeluarga dengan rantai. Seperti penumpang lainnya, Derila bertanya mengapa tangan mereka diikatkan pada satu sama lain.

“Kalian lihat mayat-mayat yang diseret tadi?” begitu jawaban yang dia terima dari seorang opsir. Tak ada jawaban lain setelahnya.

Namun, Derila masih menuntut, “Tapi….”

“Bila para perompak tidak berhasil menculik salah satu anggota keluargamu, kalian sekeluarga akan tewas terbunuh. Tidak akan ada yang memedulikan kalian.”

Derila dan pria itu berusaha menghalau perkataan opsir jahanam itu dan mulai berdesak-desakan. Pada akhirnya, mereka tidur di atas peti berisi kain sutra dan brokat yang dibawa penduduk pulau sebagai persembahan kepada jenazah Pak Tua.

Nyala lampu minyak tanah masih benderang tatkala gerimis mulai menyentuh geladak. Saat lampu padam, terjadi pembunuhan berantai dan satu persatu dari mereka tumbang menggelinding dari atas peti. Berkali-kali terdengar bunyi debum keras dari tubuh-tubuh yang dilemparkan ke perairan.

Merasa tak tenang dengan gerakan risau Derila, Lorka bangkit dari atas peti. Dengan sebelah tangan masih terborgol di tangan Derila, ia membuka peti itu. Ia keluarkan barang-barang dan lantas masuk ke dalam peti, dan membiarkan Derila menyusulnya.

 

LORKA yang ras mongoloid perlu melalui waktu puluhan tahun untuk mendapatkan kulit cokelat matang. Waktu yang sama diperlukan Sang Ayah untuk menjadi manusia baru. Di ruang berbeda, takdir menunjukkan kodrat Sang Ayah sebagai pembaca garis nasib.

Kehilangan separuh bola mata dan punggung dipenuhi tusukan panah, pada malam pembantaian itu, Sang Ayah berhasil berlindung ke permukiman yang dibumihanguskan dan ditinggalkan penakluknya.

Bertahun-tahun setelah permukiman itu berhasil membangun dirinya, dan orang-orang mulai menggelorakan tari keabadian dengan gelombang sukacita di pinggir api unggun, Sang Ayah memilih turun gunung dan mendirikan sebuah kedai minum bersama bocah pria yang setia tumbuh besar bersamanya.

Di kedai itu, Sang Ayah menghidupi dirinya sebagai penerawang masa depan—penglihatan yang diperolehnya setelah tiga bulan mati suri. Terlepas dari kejayaan kedai yang diasuh putra angkatnya, dari waktu ke waktu, Sang Ayah tetap bersetia menyeberang samudera untuk mencari jejak putra semata wayang yang melarikan diri dari istrinya: Lorka.

 

DERILA tepat berada di pelukan Lorka ketika peti dibukakan. Mereka hampir mati lemas kehabisan napas. Orang-orang menyadarkan mereka dengan menyiramkan sebejana air laut. Keluar dari dalam peti, mereka mulai menginjak genangan darah dan menyaksikan ratusan jasad yang robek. Di pinggiran geladak tercecer penggalan dan cuilan anggota tubuh yang tak lengkap. Wangi arak memenuhi udara dan mengaburkan bau amis jasad-jasad itu.

Mereka berdua mengikuti arah kepergian barisan yang membawa iring-iringan peti seukuran sekoci yang saling terikat dan diusung di atas kepala. Mayat-mayat di atas kapal pun mulai dilemparkan ke tepian pantai ketika mereka berdua turun dari geladak.

Sejangkau panorama pegunungan menyapa mereka dalam gulita subuh.

Ikatan rantai pada tangan-tangan penumpang yang tidak mengangkut peti dilepaskan. Segera setelahnya, tangan Derila yang kebas, tanpa alasan pasti, menggenggam erat tangan Lorka. Pria itu hanya tersenyum kikuk.

Derila menghidu aroma masakan rempah ketika perjalanan telah menyentuh rumah penduduk. Berbondong-bondong mereka mengangkut berkerat-kerat makanan ke arah gunung yang terjal.

“Tak masuk akal, Pak Tua yang kabarnya demikian sakti ini mati begitu cepat,” ujar Derila sementara mengikuti langkah warga yang mengangkut babi dan kalkun guling di bahu dan berlomba saling mendahului. Teriakan-teriakan sengit terlontar sepanjang perjalanan.

Lorka menyahut, “Kudengar, sekali ia mengumpulkan massa, ratusan ribu orang dari pulau lain rela berjubel menyambut bulan purnama. Pemakamannya kali ini barangkali akan jauh lebih ramai.”

“Aku menunggunya hampir dua belas purnama dan tak berkesempatan bertemu dengannya,” keluh Derila. “Dan kini aku menghadiri pemakamannya.”

“Seorang perempuan yang tak kurang sesuatu apa sepertimu tergoda untuk mengetahui masa depannya yang sudah pasti?”

“Bukan untuk ramalan. Aku datang untuk memanggil arwah kekasihku. Dia mati diculik penguasa. Ada yang bilang jenazahnya dikubur di bawah aspal landasan pacu pesawat.”

 

MEREKA berhenti mendaki di tengah gunung. Bau balsam meretas keluar melalui celah-celah dinding bambu ruang pembalsaman. Puluhan orang masih tetap membalsami tubuh Pak Tua yang ringkih ketika mereka hadir di area persemayaman jenazah. Layaknya pengawetan binatang pajangan, isi perut Pak Tua dikeluarkan untuk diganti dengan ramuan-ramuan dari permukiman suku pegunungan itu.

Para tamu menikmati sajian makanan di tengah gemuruh musik perkusi. Menyelinap di tengah tarian warga yang menjadi-jadi, Derila dan Lorka mencari tempat berlindung dari terik siang bercampur gerimis hujan di bawah kelambir kelapa.

Karena lapar, Derila hampir menerima ajakan bersantap warga sekitar.

“Mereka kanibal,” ungkap Lorka dalam bisikan, “Hati-hati saja. Pada babi dan kalkun guling tadi, mereka bisa menjejalkan olahan daging manusia buangan kapal.”

Penduduk setempat tidak memiliki mata pencaharian lain selain merompak kapal dan membunuh. Orang-orang yang tidak sanggup menggotong senjata dan berburu kerap menguliti mayat-mayat manusia yang dibuang dari kapal.

Belum cukup memaparkan hal-hal yang membungkam Derila, Lorka kembali melancarkan kejutan, “Pak Tua itu ayahku. Puluhan tahun kami saling mencari, tapi aku pun berakhir dengan menemukannya di pemakaman ini.”

Derila menatap sangsi ke arah Lorka.

 

SANG AYAH yang lemah diselamatkan oleh keluarga yang tak mengetahui satu detail pun tentang cara penyulingan arak. Bak terlahir kembali, ia dengan pantang menyerah mempelajari keterampilan menaklukkan alam: mengarungi samudra, mendaki tebing, membelah hutan, menenggelamkan mangsa dan memutilasinya di dalam air, berburu dan memanah, hingga mengenali racun dan panganan yang aman. Ia belajar membaca arah mata angin dari perpindahan benda-benda angkasa.

Pada suatu malam ketika ia mengalami peristiwa buruk di tengah hutan, yang mengharuskannya berlari sekian mil kembali ke pemukiman, mata batinnya terasah untuk berjumpa dengan penghuni alam arwah. Berminggu-minggu ia dibuat nelangsa oleh kemampuan itu. Namun, orang-orang yang tertarik akan kekuatan tersebut membantunya keluar dari masalah dengan mendirikan kedai di tengah kota. Ketika itu, lebih daripada ribuan orang telah ia pertemukan kembali dengan keluarga mereka yang telah meninggal. Dari sana ia mendapati julukan “Pak Tua”.

Kedainya tak pernah sepi, oleh manusia maupun oleh arwah-arwah yang ia undang. Sejak orang-orang memiliki ketergantungan pada perkataannya dan pada pertemuan dengan para arwah kerabat, ia lantas memutuskan untuk hanya menerima kedatangan tamu setiap malam purnama. Kian berjubelan orang-orang memesan kamar agar dapat mengunjungi kedai pada malam sakral tersebut.

Penduduk setempat menjadi kaya raya karena uang sewa kamar. Bertahun-tahun kemudian mereka memopulerkan makanan dan kebudayaan yang mereka tiru dari warga di kepulauan lain.

“Akhirnya, aku menyaksikan dengan mata kepala bagaimana ayahku didewakan dan jasadnya diupacarai dalam tradisi seperti ini,” tutur Lorka di sebelah Derila. “Aku tak menghadiri pemakaman ibuku ketika tubuhnya yang penuh borok katanya dikremasi.”

Mata sipit ayahnya masih bertahan, sementara kulitnya sudah berubah menjadi cokelat gelap dengan cukilan-cukilan bermotif hewan hutan. Saat malam menjelang, tubuhnya yang dibalsam lantas dimasukkan ke dalam peti mati dan diangkat dengan iring-iringan lagu dan tarian warga yang mengentak sepanjang perjalanan menuju puncak gunung.

“Lalu, kau tak mencoba mendekat? Ataupun menyentuh jasad ayahmu? Mengakuinya sebagai ayahmu, atau mencium mata kakinya? Atau apa pun?” tanya Derila dengan jengkel.

 

KETIKA jasad itu ditinggalkan di puncak gunung di antara bebatuan yang membeku dalam salju, dan langkah-langkah sekian orang terhenti karena tak dapat bertahan pada suhu dingin, Derila dan Lorka mulai menuruni gunung.

“Apa kau masih ingin bertemu dengan arwah kekasihmu?” tanya Lorka. [*]

______________________

Dewi Kharisma Michellia, kini tinggal di Yogyakarta.

Novelnya, Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

terbit pada Juni 2013.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus