Agam Wispi: Tentang Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia (Bagian 2)

Print Friendly, PDF & Email

Teks di bawah ini transkrip wawancara Hersri Setiawan (HS) dengan Agam Wispi (AW) tentang “menjadi eksil, puisi eksil, Indonesia”, dan tentang berbagai soal sekitar itu. Wawancara berlangsung di Verlengde Kerkweg 2, Kockengen, Nederland, pada 22 November 1992.

[2]

Tantangan Identitas dan Bayangan Ketakutan

HS: Sekarang… tadi sudah disebut bahwa kreativitet itu yang memberi daya hidup. Lalu, karena terpisah dengan tanah air dan dengan rakyatnya, artinya terpisah dengan pembacanya, sebenarnya, bagaimana… apakah Bung berpikir tentang bagaimana uitvoering (pelaksanaan, perwujudan—Red) dari kreativitet itu?

AW: Ya, pada waktu itu masih ada yang disebut kording, yaitu koran dinding. Saya menyiarkan sajak-sajak saya di situ. Atau saya simpan, dan saya baca sendiri. Atau dibacakan di depan kawan-kawan. Tapi yang penting menurut saya begini, ya, antara lain. Saya mulai merasakan di situ kehilangan tanah air. Ada akibatnya di dalam puisi. Ada akibatnya. Akibatnya aku kehilangan nafas Indonesia itu. Nafas itu, mungkin juga dalam bentuk…, ungkapan yang hidup. Itu sudah mulai terasa sangat mencari-cari. Itu mulai terasa. Sebab bagaimanapun rakyat itu kan mempunyai ungkapannya sendiri. Kehidupan lingkungan Indonesia itu mempunyai ungkapan sendiri terhadap suatu gejala. Dan ini tidak ada lagi. Yang ada itu hanya yang didapat dari koran… ya? Itu tidak cukup sebenarnya. Dan bukan itu maksudnya. Dan sekarang juga itu terasa. Sekarang lebih-lebih lagi terasa. Dengan berkembangnya kehidupan di Indonesia. Inilah yang sangat mengerikan sebenarnya. Bagi penyair.

HS: Tapi massa pembaca Bung sekarang kan lain dengan masa pembaca yang ungkapannya berkembang yang di tanah air?

AW: Ya!

HS: Apakah menjadi sangat penting? Tentang ungkapan yang tertinggal dengan ungkapan tanah air?

AW: O…, ini nanti kita sampai pada kesimpulan, akan menyinggung, untuk siapa aku menulis sekarang itu? Aku sekarang hanya sampai pada kesimpulan: untuk manusia! Apakah itu manusia Indonesia atau manusia Eropa. Dan tidak peduli, apakah itu tentang Indonesia atau bukan tentang Indonesia. Kehidupan sebagai manusia. Manusia Indonesia tentu. Nah, di sinilah. Jadi ini, apa namanya, inilah satu perubahan penting pada masa eksil ini. Yaitu apa yang disebut sastra untuk… hasil sastra saya untuk rakyat… Mana? Rakyatnya yang mana, yang bagaimana? Jadi saya sampai kepada sastra hanya untuk manusia.

HS: Di mana saja?

AW: Di mana saja!

HS: Tapi bahasanya?

AW:  Bahasanya itu saya hanya bisa bahasa Indonesia. Dan hanya itu yang aku anggap aku mampu. Kalau tidak nanti aku palsu, tokh? Artinya mencoba-coba dengan bahasa asing, dan menjadi dibuat-buat ditertawakan orang: “Ini sudah ketinggalan pemakaian kata-kata ini.” Dalam bahasa Belanda saja tidak mungkin. Kalau Jerman masih mungkin. Tidak berani saya. Nah, satu segi lain, yang ikut menolong, ini adalah perkayaan pandangan saya dengan sastra dunia.

HS: Maksud Bung segi positif dari kehidupan eksil?

AW: Ya! Dari kehidupan eksil. Saya ambil satu umpama. Goethe. Saya baru mempelajari ketika di Jerman. Baru kenal itu di Jerman. Tapi memang Goethe sudah berpuluh tahun ada di Indonesia. Bukan tidak dikenal. Dia sudah menulis Faust segala macam. Ya, tokh? Dengan membaca itu saya mendapat satu pengalaman baru. Kehidupan baru. Artinya ada yang disebut, dan ini istilahnya datangnya dari Goethe juga, “sastra dunia”. Istilah ini. Sastra Dunia. Wereld literatuur. Weltliteratur. Waktu itu Goethe sudah sampai kepada India, mencakup India segala macam. Dan dia sebutlah Weltliteratur itu. Istilahnya lahir dari dialah! Dan di DDR[1] umpamanya, saya mendapat kesempatan berkenalan bahwa yang disebut wereld literatuur itu bukan saja Eropa. Juga Amerika Latin. Bahkan ada analisa tentang roman-roman Amerika Latin yang sama sekali lain dari roman-roman Eropa. Mereka mempunyai identitas sendiri. Padahal roman datangnya dari Eropa. Coba bayangkan ini! Juga Indonesia, kan? Apakah dia menyatakan identitasnya sendiri? Sekarang saya tidak tahu, sampai di mana perkembangannya. Tapi roman juga datangnya dari Eropa buat mereka. Sama dengan di Amerika Latin. Kalau kita baca umpamanya… siapa nama pengarang yang menulis Seratus Tahun… eenzaamheidKesunyian?

HS: O, Garcia Marquez.

AW: Garcia Marquez, umpamanya. Bagaimana ia mengambil pemikiran-pemikiran fantasi dan kepercayaan rakyat, yang tidak mungkin ada di Eropa. Itu kan satu perkayaan dunia sebetulnya. Apakah Indonesia bisa bikin begitu? Kalau saya sudah terang tidak mungkin. Mestinya yang di Indonesia yang melakukan itu. Tapi apakah mereka sampai pada pemikiran taraf Sastra Dunia? Tidak tahu, bagaimana perkembangannya di sana. Tapi kupikir ini satu keharusan sebenarnya buat mereka. Mungkin sekarang sudah ada usaha-usaha dengan masalah terjemahan. Tapi itu saja tidak cukup sebenarnya.

HS: Tapi itu problem orang yang di tanah air?

AW: Yang di tanah air, ya! Sebenarnya orang-orang eksil bisa membuat tema orang eksil. Apakah roman atau puisi.

HS: Dengan bahasa mereka sendiri?

AW: Bahasa mereka sendiri! Ambillah umpamanya, kita ambil Jerman. Jerman punya pengalaman banyak dalam sastra eksil ini. Misalnya Anna Seghers, sebagai pengarang wanita. Dia menulis tentang… roman yang pertama itu tentang eksil. Namanya pun kalau saya tidak salah Exil juga, tentang bagaimana seorang wanita dalam menunggu mendapatkan paspor untuk mendarat ke Amerika. Menanti di Spanyol. Di situ menunggu di suatu warung kopi dengan segala macam perasaan kegelisahan… bisa dibayangkan itu. Bagaimana gelisahnya. Ada kemungkinan ditangkap, dan dikembalikan ke Jerman. Yang berarti mati atau konsentrasi kamp. Sampai dia menulis tentang banyak hasil-hasil sastra selama eksil di Amerika Latin. Bagaimana dengan Brecht, misalnya. Juga termasuk Thomas Mann.

HS: Di antara sastrawan yang “ter-eksilkan”, ada di Eropa atau di mana, apakah Bung kenal? Ada yang mulai menulis begitu? Menulis pengalamannya sebagai eksil? Sebab dalam seni lukis, misalnya, saya pernah ngobrol sama Bung Resobowo.[2] Dia bilang tidak ada tema yang bisa dilukis. Saya bilang tidak betul. Di sepanjang Sungai Amstel itu tema….

AW:  Tidak betul! Tidak betul! Nah, karena itu, ini sebenarnya terutama bisa didapatkan pada puisi. Mungkin, roman, mereka tidak mampu mengerjakannya. Atau belum tahu bagaimana mengerjakannya, itu juga mungkin. Atau kita belum membuka persoalan ini pada mereka supaya ditulis sebagai roman. Juga mungkin. Cobalah ambil. Cerita pendek, umpamanya. Prosa. Di samping itu ada problem mengambil jarak tentu saja. Itu minta waktu, kan? Ada waktu. Oleh karena itu, saya melihat mungkin umpamanya di dalam puisi saja yang baru ada. Tapi itu pun nampaknya onbewust (tidak sadar—Red). Tidak menyebutkan eksil. Seperti saya sebutkan pada beberapa sajak-sajak saya, nyata-nyata eksil. Jadi mereka masih belum merasakan betul, kawan-kawan luar negeri, perlunya ada sastra eksil. Ambillah umpamanya cerita-cerita pendek yang terbit sekarang, yang dibukukan oleh Kohar itu.[3] Kan kembali pada zaman dulu?

HS:  Itulah! Itulah maka saya tanya…

AW:  Kan aneh itu!? Itu tidak betul. Tidak betul sebenarnya. Tidak betul bahwa di sini tidak ada. Semua! Hasil sastra kan hasil kehidupan dia konkret? Tapi mungkin juga… sebenarnya dia bisa… katakanlah, dia belum berintegrasi dengan masyarakat Belanda. Kan dia bisa tulis tentang belum berintegrasinya dengan masyarakat Belanda sebagai orang eksil?

HS: Apa sebabnya….

AW: Apa sebabnya!

HS: Dan bagaimana melihat tanah air sekarang….

AW: Nah! Tapi juga ada ketakutan saya kira.

HS: Oo…?!

AW: Ini ketakutan ini… saya pernah tanya pada seorang kawan, umpamanya. “Bagaimana kalau Bung menulis memoar?” Bagaimana jawabannya? “Aah… kalau saya menulis memoar nanti saya terpaksa mengungkit-ungkit soal partai ini-itu… nanti saya menyebut nama seseorang ini-itu….” Nah, jadi rasa ketakutan ini ada. Walaupun saya tahu dia bukan penulis, ya? Tapi saya katakan, “Bung kan punya pengalaman banyak sekali, yang diperlukan oleh teman-teman untuk membacanya.”*** (Bersambung)

 

*Hersri Setiawan adalah  seorang eks-tapol Pulau Buru. Ia tinggal di Belanda untuk mengikut istrinya yang sakit kanker, tapi kemudian isterinya meninggal di Belanda. Ia kembali delapan belas tahun kemudian, dengan istri barunya, Ita Fatia Nadia. Mereka menikah tahun 2004.

 

 

 

[1] DDR, singkatan dari Deutsche Demokratische Republik, Republik Demokrasi Jerman; sebutan awamnya ialah Jerman Timur yang menjadi “Blok Timur”; karena ada Jerman Barat yang “Blok Barat”. Istilah-istilah “timur” dan “barat” ini adalah dalam kerangka berpikir Perang Dingin yang juga ditandai dengan batas teritorial dan politik yang berupa Tembok Berlin.

[2] Basuki Resobowo, pelukis ekspresionis, seangkatan S. Sudjojono; anggota pimpinan pusat Lekra; meninggal 4 Januari 1999 di Amsterdam.

[3] Abdul Kohar Ibrahim, pelukis anggota Lekra Jakarta Raya; hidup sebagai eksil di Belgia; penerbit berbagai majalah dan buku kumpulan karya-karya sesama eksil.


comments powered by Disqus