Konsep-konsep Seni S. Sudjojono

Print Friendly, PDF & Email

Tulisan ini berusaha memetakan konsep-konsep seni dalam pemikiran Sudjojono dengan bertolak dari kumpulan esainya yang dibukukan dan diberi judul  Seni lukis, Kesenian, dan Seniman.

****

Jika ditanya “Siapa pelukis Indonesia yang dikenal?”, mungkin kebanyakan orang akan menjawab Raden Saleh atau Basuki Abdullah. Di samping kedua nama itu, sebenarnya Indonesia di era 1930-an mempunyai pelukis dan kritikus seni bernama S. Sudjojono. Sudjojono lahir dengan nama Sudjiojono Sindudarsono yang berarti Sudjiono anak Sindu. Sudjojono di sekitar akhir 1930-an menghilangkan huruf “i” dari namanya sehingga menjadi Sudjojono dengan alasan lidahnya senantiasa keseleo tiap kali menyebut “djiojono” (Siregar, 2010: 23). Sudjojono hidup pada kurun waktu 1913[1]-1986.

Sudjojono adalah salah satu seniman yang terlibat dalam pendirian Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) dan Seniman Indonesia Muda (SIM). Persagi dikenal sebagai organisasi seniman lukis pertama di Indonesia yang membubuhkan kata Indonesia pada nama organisasinya. Penggunaan nama Indonesia ini membuktikan adanya semacam komitmen untuk mengusung identitas yang membawa aliran baru, paham baru, dan falsafah baru, sesuai kenyataan yang ada (Subandi, 2000: 120). Persagi seringkali dikatakan sebagai tonggak dimulainya era baru, kesadaran baru, pengetahuan baru, dan tradisi baru dalam seni lukis di Indonesia. Persagi dengan menggunakan kata “Indonesia” juga turut menegaskan identitas kebangsaan. Bertopang pada dasar pikiran yang demikian, banyak pengamat seni mengatakan bahwa Persagi merepresentasikan nasionalisme yang paling nyata dalam bidang kesenian dan kebudayaan (Siregar, 2010: 124—5).

SIM merupakan organisasi seniman yang didirikan oleh Sudjojono bersama Trisno Sumardjo, Sunindyo, Sudibio, Abdul Salam, dan Basuki  Resobowo pada tahun 1946 di Madiun. SIM merupakan bagian dari Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). SIM pada tahun 1947 pindah ke Solo. Para pelukis seperti Solichin, Suromo, Surono, Nashar, Zaini, Dullah, Trubus, dan Kartono Judhokusumo berkumpul dan bekerja di sanggar SIM. SIM menerbitkan jurnal Seniman. Fokus sebagian besar artikelnya selama dua tahun terbit adalah campuran aspirasi dan sikap politik serta pandangan estetik di dalam seni (DKJ dan PKJ Taman Ismail Marzuki, 2007: 169).

Nama Sudjojono seringkali diidentikkan dengan Persagi sekalipun bukan hanya Sudjojono yang mendirikan Persagi. Pengidentikan nama Sudjojono dengan Persagi terjadi karena beberapa pernyataan dasar Persagi mengarah ke dalil-dalil Sudjojono (Aminuddin Th Siregar, 2010: 118—9).

Sudjojono merumuskan pikirannya mengenai hakikat seni dalam sebuah kredo, yaitu jiwa ketok atau “jiwa tampak”. Seni adalah jiwa si seniman yang terlihat. Sudjojono dalam beberapa sumber, seperti salah satunya dalam esai Trisno Sumardjo diberi sebutan “Bapak Seni Lukis Indonesia Baru” karena perannya menyadarkan hakikat seni kepada masyarakat Indonesia dan karena teknik serta visi barunya dalam melukis yang berusaha melepaskan diri dari sudut pandang kolonial (Sumardjo,1949 dalam Aminudin TH. Siregar (ed). 2006:  26). Pendapat ini dikritik oleh Dan Suwaryono. Ia menyakini pelopor seni lukis modern Indonesia bukanlah Sudjojono melainkan Raden Saleh sebab Raden saleh adalah pelukis Indonesia pertama yang mengekspresikan gagasan dan pemikirannya dengan cara Barat (Sidhi, 1993: 16).

Visi baru apa yang diperkenalkan Sudjojono dalam dunia seni lukis? Sudjojono dikenal sebagai penentang gaya melukis mooi-Indie. Mooi berarti indah, dan Indie adalah Hindia Belanda, artinya Hindia Belanda yang indah. Mooi-Indie adalah genre lukisan pemandangan yang dominan di Hindia Belanda waktu itu (Siregar, 2010: 36). Mooi-Indie biasanya dicirikan dengan trimurti gunung, jalan, dan pohon. Nusantara pada abad ke-19 dilukiskan sebagai “semua serba bagus dan romantis, semua serba enak, tenang, dan damai” (Sudjojono, 2000: 1). Pelukis yang melukis demikian, bagi Sudjojono, hanya hendak melayani si turis saja (Sudjojono, 2000: 3).

 

Contoh lukisan mooi-indie:

ernest

Pemandangan, Ernest Dezentje (sumber: http://loka-majalah.com/archives/675)

 

Mengapa Sudjojono menentang gaya mooi-Indie? Ada latar belakang kesadaran sosial, politik di balik penetangan itu, yaitu kontradiksi dari ungkapan pelukis mooi-Indie dengan keadaan masyarakat yang umumnya menderita. Pelukis mooi-Indie hanya tertarik pada keindahan-keindahan alam dan tidak pernah tertarik dengan keadaan sesungguhnya, seperti penderitaan para petani dan kehidupan orang-orang kampung (Burhan, 1997: 4—5).

Sudjojono juga sempat aktif dalam dunia politik. Menjelang pemilihan umum yang pertama, yaitu awal tahun 1950-an, Sudjojono masuk ke dalam Partai Komunis Indonesia (Rosidi, 1982:42). Sudjojono juga turut mendirikan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Sudjojono kemudian terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Komunis Indonesia sejak 1956 hingga mengundurkan diri di tahun 1958 (DKJ dan PKJ Taman Ismail Marzuki, 2007: 170). Kegiatan melukis Sudjojono selama menjadi anggota DPR berkurang karena aktif dalam kegiatan politik (Rosidi, 1982: 42).

Sudjojono di masa 1949—1959 gencar menganjurkan agar seni lukis kembali ke realisme yang mengawali perseteruannya dengan Trisno Sumardjo. Sudjojono dalam periode anjuran realisme ini menciptakan suatu jargon “realisme nasi” dan teori “lincak sebagai lincak”, dalam lukisan-lukisannya (DKJ dan PKJ Taman Ismail Marzuki, 2007: 170). Sudjojono menganjurkan realisme sebagai pendekatan dalam seni lukis sebab menurutnya ini lebih reel sebagaimana perjuangan rakyat yang reel. Menurut Sudjojono, rakyat lebih mengerti lukisan dengan gaya realisme daripada aliran-aliran yang lain. Trisno Sumardjo, bertentangan dengan Sudjojono menyatakan bahwa Rakyat Indonesia, pada kenyataannya, dapat mengerti lukisan di luar aliran realisme dibuktikan dengan banyaknya stilir dalam seni-seni primitif Indonesia seperti pada relief-relief candi.

 

Jiwa Ketok

Sudjojono memahami kesenian sebagai jiwa ketok (jiwa yang nampak). Sudjojono dalam esainya yang berjudul “Kesenian, Seniman dan Masyarakat” mempertanyakan apa yang disebut sebagai kesenian.

“Apakah itu kesenian? Untuk menjawab ini susah sekali. Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa ketok. Jadi kesenian adalah jiwa. Jadi kalau seorang sungging membuat sebuah patung dari batu atau kayu, maka patung batu atau patung kayu tadi, meskipun ia menggambarkan bunga, ikan, burung, atau awan saja, sebenarnya gambar jiwa tadi. Di dalam patung ikan, patung burung, atau awan tadi kelihatan jiwa sang Sungging dengan terangnya. (Sudjojono, 2000: 92)

Kesenian bagi Sudjojono ialah jiwa seniman yang terlihat. Karya seni merupakan gambaran jiwa seniman sekalipun materi yang direproduksi ialah tiruan dari kenyataan. Hal ini dapat terjadi karena menurut Sudjojono jiwa bukanlah suatu kamar klise yang menangkap kenyataan sebagaimana adanya. Sudjojono memberi ilustrasi tentang proses kreatif yang berangkat dari penglihatan ditangkap jiwa lalu dimanifestasikan dalam gambar atau lukisan.

“Lebih jelas lagi umpamanya: Seorang pelukis hendak melukis seekor burung. Pelukis harus melihat burung dengan perantaraan matanya. Dari mata tadi, jiwanya mendapat cap burung, lalu mengadakan suatu proses psikologis di dalam. Sesudah proses ini terjadi, maka barulah dia melukis dengan perantaraan tangannya. Jalanya jadi demikian: burung-matajiwa; jiwa-tangan-gambar burung.” (Sudjojono, 2000: 11).

Sudjojono menyatakan sekalipun objek yang dilihat sama, dan sekalipun cara kerja mata mempunyai persamaan dengan cara kerja lensa foto, namun “jiwa kita bukan hanya suatu kamar klise saja”, yang langsung memantulkan objek sama persis apa adanya. Jiwa tadi mempunyai watak yang berbeda-beda. Jiwa mempunyai filsafat hidup, perasaan warna, perasaan indah yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Corak dan gaya gambar tadi berbeda satu sama lain karena nasionalitas masing-masing seniman. “Jadi, gambar (ialah) suatu buah pekerjaan proses jiwa kita dan bukan gambar klise optische opname mata kita saja.” (Sudjojono, 2000: 11). Seniman di sini bukan sebagai penerima yang pasif tetapi sebagai subjek yang aktif mengolah hasil cerapan-cerapan indera.

Sudjojono menyatakan kebesaran karya seni tidak tergantung sederhana atau tidaknya materi yang diangkat sebagai subjek, tetapi dari jiwa si seniman itu sendiri.  Subjek dalam karya seni diangkat dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sudjojono menyatakan,

“[…] meskipun yang diceritakan oleh seorang seniman itu perjuangan pemuda, revolusi, pemberontakan, atau yang digambarkan pemimpin revolusi sebagai Diponegoro, atau yang dilukiskan atau yang dinyanyikan Sosialisme, hancurnya kapitalisme dan lain-lain cerita yang hebat-hebat dan diberi judul yang muluk-muluk… tetapi si pembuat tadi hanya berjiwa sebesar kudis. Buah pekerjaannya hanya akan menjadi sampah dan gagal belaka dalam ujian sejarah.” (Sudjojono, 2000:98).

Sudjojono kemudian menguatkan pernyataannya bahwa yang materi seni berangkat dari keseharian sambil meletakkan harapan kepada seniman-seniman muda bangsa Indonesia:

“Sekarang hanya terletak pada seniman-seniman muda bangsa Indonesia sendiri. Kalau dia hendak membuat sesuatu, janganlah menyangka bahwa kebesaran sesuatu itu terletak pada hebatnya cerita, pada motif, atau muluk-muluknya titel, tetapi lebih baik peliharalah jiwamu dengan jalan:

Berani hidup, berani melarat, cinta kebenaran, berjuang untuk kebenaran, meskipun musuh dewa sekalipun, tetap sederhana, tetapi kalau perlu angkuh seperti garuda. Insya Allah kesenianmu akan besar, meskipun kamu menceritakan melati, kesenianmu akan hebat, meskipun kamu menyanyikan sunyi, kesenianmu akan abadi, meskipun kamu melagukan mati” (Sudjojono, 2000:99).

“…maka sekarang kita bertanya: Apakah kesenian umumnya, kesenian yang tidak hanya menceritakan perjuangan hidup manusia, yang juga menceritakan barang yang “remeh-remeh” berguna bagi manusia?”

(Sudjojono, 2000:101).

 

Kebenaran Lebih Unggul dari Keindahan

Sudjojono membuka tulisan berjudul “Kebenaran Nomor Satu, Baru Kebagusan” dengan menyatakan bahwa “seni lukis baru tidak mempropagandakan kebagusan, akan tetapi mempropagandakan kebenaran pada tiap-tiap orang. Kebenaran yang dimaksud di sini ialah kesesuaian dengan realitas, merepresentasikan state of affair yang berada secara aktual di dunia atau merepresentasikan objek yang berada secara apa adanya yang merupakan representasi asli dari objek tersebut. Merepresentasikan state of affair dapat dilakukan dengan menggambarkan objek dengan cara tertentu, yaitu tidak selalu tampilan luarnya persis dengan kenyataan, tetapi yang perlu dipertahankan ialah isinya harus tetap merepresentasikan kenyataan. Seni dalam hubungannya dengan kebenaran ialah sebagai kendaraan menuju dunia aktual (Taylor, 2000: 54). Teori kebenaran yang dianut, dengan demikian, ialah teori korespodensi yang menyatakan bahwa suatu pengetahuan sahih apabila proposisi bersesuaian dengan realitas yang menjadi objek pengetahuan itu. Kesahihan korespodensi ini memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian inderawi, atau dapat dibuktikan secara langsung (Rapar, 1996: 42).

Kebagusan yang dimaksud Sudjojono ialah keindahan. Cabang filsafat yang mempelajari tentang keindahan disebut estetika. Keindahan diperdebatkan dalam diskursus estetika dari masa ke masa. Realis mempermasalahkan asal penilaian keindahan: apakah dari kemampuan subjek untuk menangkap kualitas-kualitas atau dari kemampuan benda untuk memengaruhi responden karena mengandung objektivitas. Masalah ini muncul ketika akan menjelaskan bagaimana kualitas keindahan dapat diketahui. Platonisme klasik berpendapat bahwa keindahan berada dalam dunia Ide yang supersensible, yang oleh teoritis abad ke-18 disebut sebagai kualitas quasi-sensory.

Imannuel Kant dengan filsafat transedentalnya menjangkarkan pengalaman keindahan pada kategori-kategori kognisi. Kaum skeptis mengkritik keindahan hanya cerminan dari kesenangan estetik subjektif dan oleh karena itu kurang objektif (Brown, 2000:9). George Santayana (1863—1952), mengembangkan estetika naturalistis. Santayana menolak objektivitas keindahan. Keindahan menurut Santayana identik dengan kesenangan yang dialami manusia ketika mengamati objek-objek tertentu. Santayana mengatakan bahwa keindahan itu adalah perasaan senang yang diobjektifkan dan diproyeksikan ke dalam objek yang diamati (Rapar, 1996: 69). Sudjojono sendiri tidak memperinci kriteria apa yang dimaksudkan sebagai keindahan, namun Sudjojono menulis demikian.

“Kebagusan yang disebabkan oleh warna-warna cantik dan garis-garis yang berkembang-kembang (sierlijk) saja sebagaimana lagaknya raja jin bangsawan, belum tentu kebagusan yang benar, sebab biasanya kebagusan yang demikian hanya hendak menutupi kekosongan batin saja.” (Sudjojono, 2000: 51).

Selanjutnya, “Kebagusan dan Kebenaran ialah Satu”, demikian Sudjojono mengatakan, “Kebenaran menjamin suatu kebagusan, asal keluarnya kebenaran tadi tak berdusta pada dirinya sendiri. Sebaliknya, bagus yang hendak bagus saja tidak menjamin kebenaran di dalamnya.” (Sudjojono, 2000: 52).

Sudjojono memberi contoh anak kecil yang berlari telanjang di tengah jalan, kelihatan segala-galanya, tetapi toh tetap bagus. Anak kecil tersebut walaupun wajahnya penuh ingus tetap terlihat simpatik karena, menurut Sudjojono, ini bares, tidak berlagak, benar, dan dengan sendirinya bagus (Sudjojono, 2000: 52). Sudjojono kemudian memberi ilustrasi lagi:

“[…] cobalah anak tuan yang baru berumur 6 bulan, tuan pangkas, tuan potong polka, lalu tangannya tuan tolak pinggangkan, dan tuan tengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti mandor besar kebun mengontrol pekerjaan kuli-kulinya, tuan terkejut akan efeknya. Tuan ketawa melihat anak tadi. Sebab kebagusan tadi tidak mengandung kebenaran.” (Sudjojono, 2000: 52).

 

Realisme Sudjojono

Sudjojono dikenal sebagai penganjur realisme dalam seni lukis. Seni lukis Indonesia baru, menurut pandangan Sudjojono, haruslah dapat diterima rakyat banyak dan rakyat tidak mengerti serta tidak menyukai kesenian abstrak. Rakyat menyukai kesenian yang dapat diterima oleh matanya yaitu kesenian realisme (Rosidi, 1982: 40).

Sudjojono dalam biografi singkat Vincent van Gogh yang ditulisnya membagikan pengetahuan tentang realisme melalui percakapan Zola, salah satu tokoh yang ditemui van Gogh di suatu restoran di Prancis.

“Kalau Tuan menggambar kebagusan seorang perempuan sama dengan saya menceritakan kebagusan si perempuan tadi sebagaimana juga saya lihat sehari-hari. Tokoh saya itu akan saya ceritakan juga umpamanya, bahwa dia pernah sakit kudis, pernah lupa di malam di Bade Bulogne atau sering mengatakan: God ver Dom! Saya ceritakan ia tidak sebagai perempuan yang kita kenang-kenangkan, lalu cerita tadi saya bagus-baguskan, akan tetapi saya ceritakan dia sebagaimana perempuan tadi hidup biasa, bukan?” (Sudjojono, 2000: 46).

Kemudian van Gogh menyambung:

“Memang, mesti saya gambar perutnya umpamanya tidak seperti perut bidadari, akan tetapi sebagai perut orang perempuan biasa yang berusus.” (Sudjojono, 2000: 46).

Realisme menggambarkan seseorang atau sesuatu sebagaimana adanya kenyataan, sekalipun mengandung kejelekan dalam pandangan umum. Realisme bukan hanya berangkat dari angan-angan. Namun, realisme juga bukan hanya seperti naturalisme yang ingin melukiskan kenyataan sebagaimana adanya tetapi dalam realisme ada nilai lain yang ingin diperjuangkan dalam lukisan tersebut, misalnya untuk kemanusiaan atau pendidikan. Realisme yang bermakna bagi Sudjojono ialah realisme yang juga menghargai hal-hal batiniah bukan hanya hal-hal materi. Pernyataan ini muncul sewaktu Sudjojono mengulas karya Basuki Abdullah dalam tulisan “Pameran Gambar 8 Desember”.

“Dia (Basuki Abdullah) orang yang banyak sekali melihat barang-barang bagus di Eropa. Dan bisa pula membawa barang-barang bagus tadi ke Indonesia. Realisme betul bagus, akan tetapi realisme tanpa jiwa, berarti materialisme yang tak menghargai kebatinan. Di watak inilah letak rontoknya kebudayaan Barat. Ambillah teknik Barat yang jitu itu. Tetapi teknik saja tidak cukup. Teknik hanya suatu alat untuk memudahkan jiwa berkembang di bawah pengaruh kebenaran dan kesederhanaan. Bombasme dan kecongkakan bisa menenung orang, tetapi kala-makara zaman tak makan tenung siapa juga.” (Sudjojono, 2000: 89).

 

Lawan terhadap Kolonialisme dan Kapitalisme

Kolonialisme dapat diartikan sebagai praktik sosial yang diizinkan (dilegalkan) negara untuk mengeksploitasi wilayah-wilayah asing yaitu mengeksploitasi bahan-bahan mentah, budak, maupun tenaga kerjanya untuk dipakai oleh pemerintah Barat atau kepentingan komersial (Mudji Sutrisno, 2004: 178). Perlawanan Sudjojono terhadap kolonialisme nampak dalam tulisannya yang berjudul “Seni Lukis Indonesia Sekarang dan Yang Akan Datang” mengkritik banyaknya lukisan pemandangan alam yang muncul. Sudjojono menyebut jenis lukisan-lukisan seperti ini adalah mooi-Indie. Sudjojono hendak menggugat kemapanan dalam lukisan-lukisan yang menggambarkan “semua serba bagus dan romantis bagai surga, semua serba enak, tenang, dan damai” ini. Para pelukis dan publik tidak bisa lepas dari trimurti gunung, pohon kelapa, dan sawah. Jika ada pelukis yang melukis di luar trimurti tersebut, lukisannya tidak akan pernah laku (Sudjojono, 2000: 1—2). Sudjojono menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, umpamanya dari turis-turis atau orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis, bagi Sudjojono, harus muncul dari dalam hidup kita sehari-hari (Sudjojono, 2000:6).

Sudjojono juga melukis gunung, bukit, jalan, tetapi ia memotret dari sudut yang berbeda. Tidak sekadar hafalan triade gunung, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha menggambarkan kesadaran akan alam Indonesia bebas dari cara umum sesuai citarasa turisme di zaman Sudjojono. Seumpama dalam pemandangan tersebut terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang menganggu pemandangan yang indah, Sudjojono tetap menggambarkannya.

 

ss

Aku Cinta Padamu Tanah Airku (sumber: http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/7979/Artist/143)

 

Sudjojono menyatakan bahwa kebagusan tidak dicari di zaman kuno, Majapahit atau Mataram, atau dari sudut pandang si turis (Sudjojono, 2000: 6). Sudjojono juga tidak menyarankan untuk membuang semua pengaruh rasa dari Barat. Ia menyarankan untuk mempelajari teknik dari Barat yang bagus untuk kemudian membangun rasa Indonesia yang cocok dengan zaman (Sudjojono, 2000: 16—7). Pencarian identitas dalam seni lukis, menurut Sudjojono, juga dapat dilakukan dengan mempelajari kehidupan rakyat jelata di kampung-kampung dan desa-desa. Sudjojono mengatakan “di merekalah terletak kesenian yang merdeka, segar, dan hidup”. Sudjojono mengajak untuk kembali melihat corak keindonesiaan melalui kegemaran warna, corak pakaian, lagu, dan rasa sayur masyarakat desa (Sudjojono, 2000: 15).

Selain kolonialisme, kapitalisme menjadi salah satu lawan dalam konsep seni Sudjojono. Kapitalisme secara umum berarti sistem perekonomian yang menekankan peranan kapital (modal) yakni kekayaan dalam segala jenisnya (Lorens Bagus, 2000: 391). Perlawanan Sudjojono terhadap kapitalisme salah satunya tampak tulisan berjudul “Kopi” (jiplak). Dalam tulisan itu, disebutkan bahwa penyebab pelukis mengkopi lukisan ada tiga macam yaitu “pertama, modal mencari nama; kedua, modal mencari uang; dan ketiga, modal menggambar banyak” (Sudjojono, 2000: 54). Dikatakan sebab pertama dan kedua masih bisa dimaafkan, tetapi tidak untuk sebab ketiga.

Semangat perlawanan terhadap kapitalisme juga termuat dalam tulisan “Pameran Gambar 8 Desember” ketika membahas karya pelukis muda, Kartono Yudhokusumo. Sudjojono memuji lukisan Yudhokusumo tetap memiliki corak Kartono meskipun mendapat didikan dari beberapa pelukis. Sudjojono kemudian melanjutkan, “pujian saja tidak cukup, Kartono. Besar kecilnya pekerjaan kamu di kelak hari, terletak pada kuat-lemahnya watak kamu sendiri.” dan mengingatkan bahwa “gelombang hidup banyak sekali, besar-kecil datang dari sudut-sudut yang tak kamu sangka-sangka. Gelombang apakah paling besar, Mas Jon?” Tanya kamu barangkali, “Gelombang cinta duit, Kar!” (Sudjojono, 2000: 86—7).

Salah satu lukisan Sudjojono, berjudul Di Balik Kelamboe Terboeka (http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/4311/Artist/143). Menunjukan bahwa Sudjojono mengambil tema dan objek lukisan dari barang atau peristiwa sehari-hari.

 

Sumber

Burhan, Mukhamad Agus. Perkembangan Seni Lukis Mooi Indie sampai Persagi di Batavia 1900—1942. Yogyakarta: Tesis S2 Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, 1997.

Burhan, Mukhamad Agus. “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris” dalam Politik dan Gender: Aspek-aspek Seni Visual Indonesia (Adi Wicaksono, et al. (ed.)). Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2003.

Brown, John H. Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy. New York: Routledge, 2000.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Seni Lukis Indonesia Tidak Ada. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta,  2007.

Sidhi, Ipong Purnama dan Hariadi SN. “Komitmen Pak Djon Pada Sang Penyanyi” dalam Kompas, Selasa, 25 Mei 1993, halaman 16.

Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Rosidi, Ajip. Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari. Yogyakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010.

Siregar, Aminudin TH. Sang Ahli Gambar: Sketsa, Gambar, dan Pemikiran Sudjojono. Tangerang dan Jakarta: Sudjojono Center dan Galeri Canna-Indonesia, 2010.

Subandi. Kritik Seni Lukis Modern Indonesia 1937—1965. Yogyakarta:

Tesis S2 Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, 2000.

Sudjojono, S. Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia, 2000.

Sumardjo, Trisno. “Bapak Seni Lukis Indonesia Baru” dalam Seni Rupa Modern Indonesia Aminudin TH. Siregar (ed.). Jakarta: Penerbit Nalar, 1949.

Taylor, Paul. “Art and Truth” dalam Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy. New York: Routledge, 2000.

 

* Anastasia Jessica Adinda S. adalah alumnus Program Magister, Fakultas Filsafat, UGM. Beliau kini adalah pengajar pada Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya.



[1]      Beberapa sumber menulis 14 Desember 1917 dan sumber lain menulis 1914 atau 15 Desember 1913 atau bulan Mei 1913. (DKJ dan PKJ Taman Ismail Marzuki, 2007: 168).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus