Amba Ingin Pulang tapi Takut Jadi Komunis

Print Friendly, PDF & Email

Tak bisa dimungkiri, apa pun yang (dianggap) berbau peristiwa ’65, alias Gestok atau Gestapu (G30S/PKI), akan menjadi masalah yang seksi. Penyebabnya adalah adanya selubung ketabuan yang mirip jargon bahasa dangdut koplo, “bukak sithik jos!”, bukannya “bukak akeh jos!”. Dengan kata lain, menutupi sedikit dan membuka sedikit. Ketabuan justru membuat siapapun semakin berhasrat membicarakannya. Misalnya, di ranah sastra, puluhan karya yang mengungkit berbagai kejadian seputar 1965 serta serentetan kejadian terkait seperti penangkapan, pembantaian, dan penyingkiran struktural siapapun yang dianggap “PKI”, terus bermunculan. Semakin Orba secara struktural mencoba menutupi kejadian-kejadian pasca-Gestapu, semakin banyak penulis tergoda untuk menggalinya.

Kini, setelah Orba runtuh, keseksian itu malah makin menjadi-jadi. Banyak penulis yang ingin karyanya menjadi seksi bermain di sejarah yang (di)tabu(kan) tadi. Saya tidak mencoba sinis di sini (ya, sedikitlah) karena memang ada karya-karya yang menarik untuk dibaca dan benar-benar bisa menjaga keseksian tema ini dengan memberi sudut pandang berbeda dari sudut pandang Orba. Tapi, lagi-lagi, tak bisa dimungkiri, ada karya yang sekadar mendompleng popularitas tema ’65 padahal masih tetap menggunakan sudut pandang Orba. Dengan kata lain, karya-karya tersebut hanya ingin memberi kesan seksi karena keberanian membicarakan ’65 tapi tidak memberi sudut pandang berbeda.

Di penghujung 2012 yang lalu, muncul dua karya prosa berupa novel yang mengangkat tema ’65: Amba tulisan Laksmi Pamuntjak dan Pulang tulisan Leila S. Chudori. Dalam esai yang singkat ini, dengan dua kategori yang saya buat di atas, saya ingin tahu kedua novel ini termasuk dalam kategori yang mana. Apakah dua karya ini benar-benar seksi atau seksi-palsu seperti keseksian-operasi-plastik band-cewe band-cowo K-Pop? Sepintas, dua karya ini tampaknya sungguh-sungguh seksi dengan faktor ’65-nya. Titik berat keduanya yang terletak pada korban jelas bukan sesuatu yang ada di wacana ’65 a la Orba yang lebih senang pada pengkambinghitaman PKI dan tidak terlalu peduli dengan kekerasan yang menimpa anggota-anggota PKI.

Dengan sedikit prasangka buruk, saya tidak yakin kedua karya ini benar-benar seksi walaupun casing-nya menarik. Masih ada beberapa hal yang perlu ditanyakan, Siapa sih korban ’65 menurut kedua novel ini? Jangan-jangan cuma tujuh Jendral yang patungnya nunjuk-nunjuk itu? ‘Kan gawat kalau iya. Kemudian, siapa yang bukan korban? Tapi yang lebih penting, dari mana datangnya standar-standar yang digunakan kedua novel ini kala membuat garis antara korban dan bukan-korban? So, shall we dance?

 

Beneran Seksi Gak, Sih?

Langsung saja pada komentar pertama. Goenawan Mohamad (GM), yang membahas dua novel sekaligus ini dalam “Caping”-nya, menyebut bahwa dua novel ini penting karena menyuarakan suara orang-orang yang tersingkir dari catatan tahun 1965. Ternyata, dugaannya benar bahwa titik berat pada korban ini yang membuat keduanya seksi (untuk sementara ya). Namun, GM tidak melanjutkannya lebih jauh dan semakin memperkuat pertanyaan, siapa yang dimaksud sebagai ‘korban’ dan siapa yang dimaksud dengan ‘yang tersingkir’? GM malah seperti mencoba menghubung-hubungkan antara tahun 1965 dan 2012 dan mencari apa yang menjadi pengait kedua tahun tersebut. Sementara itu, Bambang Sugiharto dalam esainya “Amba: Enigma Batin Manusia dan Kekonyolan Ideologi”, menulis bahwa novel ini tidak sekadar merekam tetapi juga memberi bahasa pada enigma batin para korban. Menurutnya, para tokoh dalam Amba muncul karena situasi politik Indonesia yang dicabik-cabik aneka pertentangan penuh paranoia, ketidakpastian, dan kekerasan antarkelompok (BTI, Pemuda Rakyat, Lekra, Pemuda Marhaenis, kelompok-kelompok agama dan sebagainya).

Sejurus dengan GM, Bambang Sugiharto juga setuju bahwa wacana korban ini adalah titik yang paling menarik. Bambang Sugiharto (BS) sedikit berbeda, karena memberi sedikit petunjuk siapa korbannya walaupun masih ‘kentang’ (kena-tanggung). Menurut BS, yang dimaksud dengan korban dalam Amba adalah mereka yang terkena dampak kekerasan antarkelompok yang marak di sekitaran 1965—1966. Artinya, yang korban adalah mereka yang terseret masuk ke kelompok-kelompok tapi tidak berideologi; mereka adalah korban ideologi dan pihak yang ber-ideologi sebagai penyulut kekerasan. Bagaimana dengan mereka yang berideologi, katakanlah komunis dan anggota CC PKI? Apa mereka bukan korban? Tapi, seberapapun saya mempertanyakan pemaknaan BS, tampaknya Laksmi Pamuntjak setuju dengan pemaknaan BS tadi. Di sebuah forum diskusi karyanya, Laksmi mengamini pembacaan tersebut, dengan menyatakan bahwa Amba mengisahkan cinta sepasang anak manusia di tengah pusaran politik Indonesia di masa awal kemerdekaan. Cerita tentang Indonesia yang belum matang, penguasa yang mengotak-ngotakkan orang menjadi benar dan salah dari ideologi yang dianutnya.

Jawaban yang cukup memuaskan meski tak sampai mendalami sisi ideologis dari fenomena korban ini justru datang dari sebuah esai oleh Dea Anugrah yang mengulas Pulang. Dalam esainya, Dea menulis: “Dimas Suryo yang tak memilih ideologi tertentu itu menjerit pilu justru karena hak-haknya dirampas sebagaimana seorang komunis. Seakan ‘yang sungguh-sungguh komunis’ lebih layak mengalami penderitaan itu ketimbang orang seperti dirinya—yang ‘tak bersalah’ tapi ikut tersapu amuk tentara”. Ini menarik karena tampaknya ada kejanggalan yang sama di dua novel ini.

 

Kekerasan dan Korbannya

Dalam dua novel ini, ada dua spesies kekerasan. Pertama, kekerasan sipil seperti bentrokan antara dua atau beberapa pihak dengan kedekatan politisnya masing-masing. Kedua, kekerasan yang dilakukan negara (militer); misalnya, saat terjadinya penangkapan orang-orang PKI atau orang-orang yang di-PKI-kan. Korban-korban yang ada adalah korban dari dua spesies kekerasan ini. Bagi saya, titik berat kedua novel ini adalah spesies kekerasan yang pertama. Di sini, saya akan mendeskripsikan cara kedua kekerasan itu dinarasikan.

Kekerasan sipil, salah satunya cerita Salwa dalam Ambayang berkisah tentang saudara temannya yang ditangkap dan dibunuh anggota Ansor, hanya muncul sebagai kabar-burung-tangan-kedua-atau-ketiga dengan porsi narasi yang kecil dan diceritakan dengan sambil lalu. Kabar burung tersebut hanya menjadi selipan dalam alur utama dampak dan proses kekerasan negara. Kekerasan negara terdapat dalam bagian pembuka Pulang yang menceritakan secara detail penangkapan Hananto (anggota PKI). Contoh lainnya adalah penangkapan Bhisma, yang berujung pembuangan ke Pulau Buru dalam Amba. Dua kejadian itu dengan sangat rinci digambarkan. Dengan kata lain, dapat disimpulkan untuk sementara bahwa, secara naratif, empati dua penulis ini tertuju pada mereka yang merupakan korban kekerasan negara karena penderitaan merekalah yang jadi bahan alur utamanya.

Dalam Amba, kekerasan negara berbentuk pemburuan, penangkapan, dan pembuangan (tanpa proses peradilan) ke Pulau Buru. Misalnya, yang dibuang adalah Bhisma, kekasih Amba yang merupakan tokoh utama di novel ini. Bhisma adalah seorang dokter muda (lulusan sebuah universitas di Jerman Timur) yang simpatik pada gerakan kiri, namun secara struktural bukan anggota PKI meskipun sering mengikuti program-program organisasi-organisasi underbow PKI seperti Turba (turun ke bawah). Pada 2006, Amba kemudian memutuskan untuk mencari kekasihnya itu tapi yang ia temukan hanya seorang perempuan (istri Bhisma yang tak pernah Bhisma tiduri tanpa alasan yang jelas), kuburan Bhisma dan setumpuk surat Bhisma yang tak pernah dikirim yang dititipkan pada seorang kawan Bhisma, Manalisa si manusia-setengah-gosip (karena ia, bagi orang Buru, dipercaya sebagai semacam makhluk halus dan muncul sebagai cerita).

Dalam novel Pulang, yang terbuang adalah Dimas. Ia adalah seorang wartawan sebuah kantor berita yang jajaran direksinya terpecah menjadi dua kubu yang masing-masing “mewakili” faksi politik yang bertentangan. Kekerasan negara yang menimpanya sedikit berbeda dengan Bhisma walaupun ia mengalami kisah serupa karena ia juga terpisah dengan cintanya (Surti), istri dari teman sekantornya (Hananto). Ia, karena suatu hal pribadi, dikirim ke sebuah konferensi internasional komunis menggantikan Hananto dan tidak dapat kembali ke Indonesia. Ia menjadi eksil di Perancis, menikahi seorang gadis revolusioner Perancis angkatan ’68, kemudian memiliki anak (Lintang Utara) yang nantinya kembali ke Indonesia untuk menonton pergolakan ’98 (karena memang ia tidak ambil bagian tapi dekat dengan beberapa aktivis). Tampaknya, ia memiliki sifat yang mirip dengan bapaknya: tidak suka memihak.

 

***

 

Tak perlu terlalu memikirkan dengan njelimet dan berkali-kali membolak-balik halaman kedua novel ini untuk sampai pada kesimpulan awal bahwa korban kekerasan negara yang ada di dua novel tersebut merupakan mereka yang, entah mimpi apa, secara tak sengaja menjadi pihak yang dirugikan dari kekerasan tersebut. Bhisma bukanlah anggota partai (PKI). Ia ditangkap tentara di sebuah acara peringatan kematian temannya. Dimas juga bukanlah anggota partai. Ia hanyalah seorang peserta-pengganti yang kemudian paspornya dicabut. Mereka hanyalah orang yang terseret arus politik saat itu walaupun memang mereka “agak kidal”. Meski bentuk kekerasan negara yang dialami keduanya berbeda, tapi tetap saja penyebab penderitaan mereka adalah negara.

Nalar narasi dengan penjabaran kekerasan dan korban-korbannya seperti di atas (korban utama adalah mereka yang “tidak berideologi”) membuka banyak kejanggalan wacana kekerasan dan korban. Empati memiliki batasnya, seperti jumlah halaman kedua novel ini, yang meski tebal tetapi jelas punya batas karena tidak semua tokoh memiliki jatah yang sama untuk dinarasikan. Empati memberi pagar penentu siapa di luar dan siapa di dalam—siapa yang pantas dikasihani, siapa yang tidak. Jika kembali ke depan, novel-novel yang mencoba mengungkap tabu ini, memiliki tabunya sendiri. Mulai dari sini, semua akan lebih menarik. Mari kita lihat jatah narasi korban kekerasan negara yang jelas-jelas anggota PKI.

Tokoh-tokoh partai sebagian besar digambarkan sebelum pergolakan pasca-Gestapu. Menariknya, tokoh-tokoh partai tersebut digambarkan dengan nada sinis yang luar biasa. Dalam Amba, hal ini salah satunya terlihat ketika Bhisma mengajak Amba bertandang ke Sanggar Bumitarung. Di sanggar itu, keduanya bertemu dengan pelukis-pelukis Lekra yang kemudian, hampir secara kebetulan, membicarakan seni yang baik. Pelukis-pelukis kiri digambarkan sebagai orang-orang bodoh dengan pengetahuan Marxis yang kaku melalui komentar Bhisma: “Kasihan. Kasihan kawan tadi. Ia tidak tahu, mungkin tidak mau tahu, di Jerman, di seluruh Eropa Timur, Stalin benar-benar sudah mati, dikuburkan bersama seluruh fatwanya.” (Pamuntjak, 2012). Wow, lihat betapa fundamentalisnya para pelukis tadi. Mungkin sefundamentalis Habib Rizieq atau Osama (kalau sudah ada saat itu) di benak Bhisma dan Amba.

Kasus lain terekam di surat-surat-tak-sampai-nya Bhisma untuk Amba yang bercerita tentang ketegangan-ketegangan yang terjadi antara golongan tua dan golongan muda PKI. Saat itu, Bhisma berkenalan dengan salah seorang angkatan pertama Buru (Zakir). Zakir, yang jelas-jelas anggota partai, bercerita, setengah berkeluh-kesah, pada Bhisma tentang betapa beratnya membangun semua fasilitas di Pulau Buru dari titik nadir. Namun, Bhisma, yang seakan tak mau menerima bahwa ia lebih menderita, dengan enteng menganggap Zakir ini “terganggu dalam jiwanya”. Di surat yang lain, ia juga setengah menertawakan mereka yang hingga titik ini masih juga dengan berapi-api bercerita tentang Mao dan Revolusi Kebudayaan-nya hingga penentuan jenis hiburan yang harus revolusioner. Hampir-hampir tak ada empati buat orang-orang buangan ini di diri Bhisma. Ia malah seakan merasa bukan bagian orang-orang yang dihilangkan ini (hal ini akan dibahas lagi nanti). Kejadiannya sebanding kala Bhisma bercerita tentang ‘korban sesungguhnya’. Zulfikar, yang ternyata bukan orang partai, yang nantinya di tahun 2006 menemani Amba ke Buru mencari Bhisma. Zulfikar digambarkan sebagai orang berpendirian teguh yang berani dan setia kawan. Ia mengaku menjadi anggota partai saat diinterograsi oleh tentara karena pertunjukan hiburannya (Hikayat Hang Tuah) atas dasar rasa setia kawan saja. Kejanggalan ini saya rasa bukan tipo atau semacam silap-lidah. Ini silap-pikir si penulis novel.

Bagaimana dengan Pulang? Pemandangan yang kurang lebih sama terjadi. Hananto, seorang tokoh PKI, digambarkan dengan sangat sinis. Ia, menurut Dimas, adalah seorang lelaki hidung belang yang membenarkan tindakan selingkuhnya melalui pengetahuan Marxisnya. Namun, bukan itu yang jadi masalah buat saya. Masalahnya adalah wacana yang sama tentang fundamentalisme di diri Hananto yang tampak ketika mengobrol perihal sastra dengan Dimas. Wacana ini tadi sudah kita temui di Amba. Diceritakan dalam Pulang, Hananto merendahkan karya James Joyce (The Portrait of the Artist as a Young Man) yang dianggapnya kontrarevolusioner dan bernada borjuis karena hanya menceritakan hidup seseorang yang individualis dan, di sisi lain, mengagung-agungkan The Mother-nya Maxim Gorky (Chudori, 2012: 30—1). Kita seperti diajak kembali ke obrolan para pelukis di Sanggar Bumitarung atau perpecahan di antara tapol di Amba. Lagi-lagi, sama seperti para pelukis di Amba tadi, penderitaan Hananto tidak dikupas lebih dalam. Ia seperti menghilang dari cerita dan hanya hidup dari rangkaian ingatan Dimas semasa di Perancis.

Karenanya, berangkat dari narasi kedua novel itu, salahkah saya ketika saya menganggap bahwa semua penderitaan orang-orang PKI adalah buah dari fundamentalismenya yang konyol? Orang-orang PKI yang jadi korban kekerasan negara hanyalah segerombolan fundamentalis yang tak mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Jadi, sebagai konsekuensi logisnya, pembalasan yang mereka rasakan memang setimpal. Begitulah nada yang saya rasakan di kedua novel itu.

 

***

 

Wacana Korban dan Orde (Yang Selalu) Baru

Hingga bagian ini, sudah tak perlu dipertanyakan lagi bahwa ada sesuatu yang mengganjal, bahkan salah, dengan pendekatan “korban” di narasi kedua novel ini terutama dengan penggolongan (bukan-)korban. Tapi apa masalah sebenarnya? Untuk ke sana, saya harus kembali menilik narasi “korban” yang ada di dua novel ini dan membaca-ulang gejala-gejala janggal di dalamnya walaupun mungkin belum bisa sekhusyuk Freud kala”‘menggauli” gejala-gejala di diri pasien-pasiennya. Gejala, atau symptom istilah ilmiah di psikoanalisis, adalah sebuah kondisi ketika seseorang memunculkan, jelas dengan tak sadar (namanya juga psikoanalisis, ilmu tentang ketidaksadaran), kondisi-kondisi yang tidak wajar ditilik dari konteks kemunculannya. Ketidakwajaran ini muncul karena si subjek harus mengeluarkan apa yang sebenarnya ia inginkan namun tak memungkinkan karena tidak selaras dengan wacana besar (adat-istiadat, peraturan, perintah, dll.) di tempatnya berada. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa symptom adalah titik-titik di tapal batas antara dunia sadar dan dunia ketidaksadaran. Dari sisi ini, kejanggalan-kejanggalan yang hadir akan dikuliti.

Ketika kita berhadapan dengan sebuah kekerasan di depan mata kita, hal pertama yang meluncur keluar, sebagai refleks alamiah dalam kondisi masyarakat seperti ini, adalah empati (rasa kasihan) terhadap korbannya. Empati inilah yang lantas menciptakan dunia yang disusun dari interaksi pelaku-korban. Artinya, empati adalah dasar dari wacana korban, begitu juga yang terjadi di kedua novel ini. Dengan semakin terbukanya keran informasi setelah kejatuhan Soeharto, informasi-informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di tahun-tahun gelap 1965—1966 dan dampaknya, seperti penyingkiran mereka yang dicap PKI, mengalir. Tulisan akademis, gambar-gambar di Internet bahkan hingga acara berbau sejarah Indonesia di televisi menjadi hal biasa. Dari sana, pelan-pelan terbangunlah kengerian di benak khalayak umum. Kemunculan empati menjadi tak terhindarkan. Salah satu puncaknya adalah permintaan maaf Gus Dur, yang kala itu masih menempati kursi empuk Istana Negara, pada “komunis-komunis” korban pengejaran, penyingkiran, dan pembunuhan oleh negara dan milisi-milisi bentukannya. Meskipun akhirnya ditolak oleh salah satu korbannya, Pramoedya Ananta Toer, namun hal tersebut menunjukkan bahwa daya dorong empati bukanlah perkara sepele yang mudah diabaikan. Seorang Presiden, yang punya serombongan penasihat untuk memastikan tidak terjadinya blunder, pun tak kuasa untuk tetap menyampaikan empatinya.

Anehnya, dengan kondisi yang sudah lebih terbuka ini, empati yang sepintas terkesan bersifat “untuk segala usia”, dan bukan “17+” ini, ternyata tetap memiliki batas-batas dan kaidah-kaidahnya. Karenanya, dua buah novel yang ditulis 14 tahun setelah kejatuhan Soeharto pun di dalamnya masih terdapat penggolongan atas para “korban”. Bukankah hal tersebut berarti empati, sebagai dasar wacana korban, masih melakukan tawar-menawar, lantas kalah, dengan ideologi Orba sehingga menggunakan bahasanya? Bukankah, sebagai kesimpulannya, Orba belum selesai? Bukankah wacana korban juga yang dimanfaatkan Orba untuk memartirkan tentara-tentara Pahlwan Revolusi itu? Di titik ini, nampak sudah alasan tidak mencukupinya wacana korban untuk dijadikan sebuah bahasa kala membicarakan Gestapu dan serentetan kejadian setelahnya. Katakanlah, kemudian, menggunakan wacana korban, kita berhasil memartirkan korban yang berasal dari kaum komunis, lantas bagaimana? Ujung dari pemartiran, seperti pada Pahlawan Revolusi, adalah sebuah monumen, kenangan, dan perayaan. Saya kira, warisan sesungguhnya dari orang-orang yang berhasil mengorganisasi diri melawan Belanda di tahun 1926 hingga menempati posisi keempat di Pemilu tahun 1955 bukanlah semata-mata sebuah monumen a la Lubang Buaya; sebuah monumen tentang pembunuhan yang membunuh banyak nyawa. Namun, ini urusan nanti, alias untuk penelitian-penelitian yang lebih mendalam, yang harus dipegang saat ini adalah bahwa ideologi dan metode Orba belum benar-benar mati. Jadi, bagaimana cara membunuhnya untuk sekali dan selamanya? Apabila kita di dalam film Tutur Tinular, Mpu Ranubaya akan menjawab, “Tunggu dulu! Tidak semudah itu, Anak Muda!”.

 

Alergi Ideologi dan Romantisme

Apa sumbangan Amba dan Pulang untuk membunuh Orba? Pendekatan yang salah. Ya, kedua novel tersebut, paling tidak, memberi tahu para pembacanya cara yang salah untuk mendekati Orba. Menurut saya, keterjebakan pada wacana korban dua karya ini berangkat dari sinisnya mereka terhadap ideologi. Kata sinis di sini mengacu pada konsep cynicism-nya Slavoj Zizek yang ia kembangkan dari teori Peter Sloterdijk. Menurut Zizek, saat ini ada kecenderungan mendunia saat para pemikir dan penggerak bersikap antipati terhadap ideologi terutama dalam tingkatan sebagai dogma karena bagi mereka yang terpenting adalah bergerak tanpa memedulikan ideologi (Zizek, 2008: 25). Padahal, menurut Zizek, anti-ideologi ini bersifat ideologis yang justru melanggengkan ideologi-ideologi lama. Untuk membongkar ideologi yang sudah menjelma jadi otak kita semua ini, kita justru harus mempelajari atau bahkan memasuki ideologi-ideologi tersebut, dan bukan menghindarinya, dan menemukan sisi tertabunya (biasanya Zizek menggunakan istilah obscene). Dengan terkuaknya sisi obscene dari ideologi tersebut, dengan sendirinya ideologi tersebut akan kempis di kepala subjek. Pendekatan  untuk mengempiskan ini oleh Zizek, masih dengan mengembangkan konsep milik Sloterdijk, disebut kynis. Kynis dilakukan dengan mempertanyakan asal dari sebuah ideologi yang dihadapi sehingga subjek tidak disibukkan dengan wacana-wacananya bentukan ideologi itu sendiri sehingga memuluskan ideologi karena tak tersentuh tertentu (Zizek, 2008: 26).

Bagi saya, kesinisan kedua novel ini membuatnya terjebak dalam permainan ideologi lama seputar ’65. Kedua novel ini masih berputar-putar mempertanyakan siapa bersalah dan siapa yang tidak. Bersalah atau tidak, di konteks ini, jelas menggunakan standar Orba, yang sudah dengan akut terjangkit wabah red-scare McDonald, sebagai pelaku pemberangusan PKI dan siapapun yang di-PKI-kan. Satu-satunya alasan kenapa dibuat garis ketat antara korban yang PKI dan yang bukan, berdasarkan empati dan sinisme yang ada dalam narasi, adalah untuk membedakan siapa yang benar-benar pantas menerima hukuman dan siapa yang tak pantas. Mereka yang cuma nongkrong dengan orang-orang PKI dan terkadang ikut angkat kepalan tangan kiri, seperti Bhisma dan Dimas, jelas tak pantas; mereka terlalu lugu. Mereka yang memang meyakini makna kepalan tangan kiri tadi, apalagi kesyahduan The Internationale, seperti seniman-seniman Bumi Tarung dan Hananto, jelas pantas. Dengan kata lain, yang dipertanyakan adalah kebersalahan para korban yang berideologi dan bukan kebersalahan negara yang memberangus mereka. Di sini, wacana korban novel-novel ini malah berubah jadi wacana antikorban karena pelaku yang menjadikan mereka korban tidak dipertanyakan. Ketika narasi kedua novel itu bergelut dengan perihal siapa bersalah siapa tidak, siapa yang patut dibunuh siapa yang tidak sehingga enggan benar-benar memasukki masa tersebut, ada sebuah pertanyaan yang secara tak sadar mereka hindari; pertanyaan tabu yang sesungguhnya, yang selama lebih dari 30 tahun, dijaga dengan baik oleh Orba dan kini wacananya diteruskan di kedua novel ini. Pertanyaan tersebut adalah “siapa sih yang membuat standar bersalah atau tidaknya seseorang di masa itu?”.

Sinisme yang menjadi haluan narasi Amba dan Pulang kini adalah pendekatan yang umum ditemukan di banyak obrolan bahkan yang berada di wilayah akademis. Yang terkait dengan Orba dan PKI adalah penghapusan tiga huruf terakhir di G30S di buku-buku sejarah yang diperuntukkan bagi para siswa. Namun, anehnya, usaha untuk mempermasalahkan pendekatan sejarah berpusat pada negara dan militer tidak menjadi kecenderungan yang populer. Contoh lain, diskusi sampai skripsi berpendekatan Marxis kini mulai jarang yang dipermasalahkan, namun Tap MPR yang melarangnya tidak digubris sehingga terus membenarkan adanya geng-geng antikomunis. Di sini semacam ada di wilayah gelap yang sengaja didiamkan padahal justru di wilayah-wilayah tersebutlah fondasi ideologi Orba bercokol dengan kuatnya. Dengan tak tersentuhnya fondasi tersebut, orang-orang tak pernah benar-benar yakin bahwa Orba memang biang dari segala kerusakan yang ada di masa kini. Contohnya, kini orang sangat mudah membandingkan harga kebutuhan sekarang dengan harganya di masa Orba tanpa sekalipun memikirkan bahwa biang runtuhnya ekonomi Indonesia sejak 1998 adalah karena haluan ekonomi Orba. Yang paling monumental di kondisi ini adalah stiker-stiker bergambar Suharto, yang tiba-tiba ada di mana-mana, bertuliskan “Piye kabar e, le? Isih penak jamanku to?”. Romantisme semacam ini muncul karena sisi gelap Orba memang belum ditemukan dan kita semua terlalu enggan untuk menyadari bahwa Orba memang kuat dan masih berkuasa.

 

Daftar Pustaka

Chudori, Leila. Pulang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.

Pamuntjak, Laksmi. Amba. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Zizek, Slavoj. The Sublime Object of Ideology. London: Verso Books, 2008.

 

Alwi Atma Ardhana, mahasiswa program magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pengasuh bagian esei di situs mediasastra.com

Versi awal tulisan ini sudah diterbitkan di mediasastra.com. Dimuat ulang di sini untuk tujuan pendidikan.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus