Edisi LKIP08

Print Friendly, PDF & Email

Daftar Isi Edisi Ini:

  1. Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia: Wawancara dengan Agam Wispi
  2. Nasionalisme Layar Lebar Kita
  3. D. N. Aidit, Sastra dan Geliat Zamannya [i]
  4. Rumah Tusuk Sate

Sesungguhnya, kami ingin mengawali pengantar ini dengan ucapan Dirgahayu RI yang Ke-68. Namun, berita tentang pemboman di Wihara Ekayana yang berseliweran di timeline twitter serta jejaring sosial lainnya, membatalkan hal itu. Kami pun lantas hendak menundukkan kepala sejenak, mengheningkan cipta, berdoa. Tapi ah, sudah terlalu banyak doa didaraskan dari Sabang hingga Merauke, Sangirtalaut hingga Sabu, toh beberapa saat lagi kedukaan demikian berulang jua kita dengar.

Era kita seumpama twitter. Entah twitter yang salah atau kita yang salah. Permasalahan terus berganti, terus terjadi, dalam skala kecil-kecil, namun meresahkan hati kita yang fana begitu rupa melalui resonansi media informasi. Berpindah-pindah tempat dengan cerita dan tema yang berbeda-beda pula. Belum sempat kita mencerna apa sesungguhnya terjadi, kita sudah disuguhkan kesedihan yang baru. Belum selesai kita dengan Cebongan, kita sudah disuguhi kebrutalan FPI, dan sekarang peristiwa Wihara. Bagaikan memantengi timeline pujaan hati, tak jelas juga apakah dia sedih atau bahagia, karena apa yang diutarakannya dalam 140 karakter bak langit dan bumi dalam waktu sepuluh menit.

Lantas, LKIP Agustus 2013 ini pun hadir, rencananya ingin memeriahkan Dirgahayu RI itu, memberinya karangan bunga dengan harapan berumur panjang. Tapi apalah pentingnya umur panjang untuk negara jika nasib hidup rakyatnya esok hari pun masih berupa tiga tanda tanya besar? Lantas, kami pun jadi paham, mengapa terkadang bunuh diri jadi begitu seksinya. Di tengah kegamangan, Aidit patut ditengok. Dalam salah satu puisinya, Bung Ketua berujar, ‘…kita pasti akan sampai ke ujung jalan ini/di mana tak ada sepatu usang/di mana tak ada lumpur membenam/di mana tak ada teratak bocor/tapi hanya inilah jalannya’. Aidit dan puisi memang kami suguhkan untuk pembaca, melalui tulisan dalam ‘rubrik Kritik’ bertajuk “D. N. Aidit, Sastra dan Geliat Zamannya”. ‘Rubrik Kritik’ pun menghadirkan perbincangan santai antara salah satu redaktur kami dengan beberapa pengamat dan praktisi film seputar Nasionalisme dan Islam dalam film Indonesia. Diskusi santai mereka kami hadirkan pada pembaca di bawah tajuk “Nasionalisme Layar Lebar Kita”.

Pada ‘Rubrik Liputan’, kami menghadirkan wawancara antara Hersri Setiawan dengan Agam Wispi. Wawancara ini mengantar kita ke dalam sejarah kehidupan seorang penyair terkemuka yang tak bisa pulang ke negerinya setelah tragedi 1965. Emosi, frustasi dan harapan membuka pintu pada pencarian identitas baru sebagai ‘eksil’, yang berimbas pada kreativitas eksperimen akan bentuk dan isi ‘puisi eksil’, serta membawa pandangan baru akan ‘Indonesia’, ‘masa lalu’ dan ‘kekinian’. Agam Wispi, seorang penyair Lekra yang oleh Pramoedya dianggap sangat tinggi capaian estetisnya ini, patutnya tak hilang dari ingatan kita. ‘Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan’ adalah sebuah cerpen sejarah karya Joss Wibisono yang hadir pada ‘Rubrik Apresiasi’ kali ini. Cerpen yang berangkat dari sebuah riset mumpuni ini mengajak kita untuk melihat sisi lain dari para pejuang Indonesia pada era Perang Dunia II dahulu. Selain memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, ternyata mereka juga berjuang dan menentang dengan sungguh-sunguh fasisme Nazi.

Akhir kata, selamat membaca. Bagaimana pun itu keadaan kita saat ini, menyitir Benedict Anderson, Indonesia adalah sebuah proyek yang harus terus dan terus diperjuangkan. Barangkali ini saatnya kita kembali menekuni suatu hal dengan saksama, mengejar sebuah masalah hingga ke akar terdalamnya, dan tak perlu terlalu cepat kepincut dan beralih ke hal yang lain tanpa selesai dengan hal sebelumnya. Atau dengan bahasa di twitterland, janganlah kita cepat berganti hastag; dua hari untuk #SaveSumatranTiger lantas beralih ke #FPINo, tiga hari dengan #PrayForIndonesia lantas berganti #SaveKPK!!!

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus