Edisi LKIP05

Print Friendly, PDF & Email

Daftar Isi Edisi Ini:

  1. Rangkaian kritik terhadap tiga pendekatan ‘kritis’ kajian budaya (Bag. 3, habis)
  2. Jembatan Bacem, Riwayatmu Kini, Sedari Sekarang, Perhatian Insani
  3. Sebuah Percakapan dengan Titarubi
  4. Debt Collector
  5. Kontemplasi Tato

Sidang pembaca yang budiman.

Bulan April yang telah berlalu meninggalkan peristiwa yang membuat kami di LKIP tersadarkan; bahwasannya masa kini bertalian erat dengan masa lalu. Ini bukan sekadar jargon, tetapi nyata terjadi. Mungkin pembaca sedikit samar-samar mengingat peristiwa penembakan empat tahanan di Rumah Tahanan Negara Cebongan, Yogyakarta.

Dalam sebuah diskusi pada peluncuran film Jembatan Bacem, sejarawan Hilmar Farid mengingatkan keterpautan peristiwa tersebut dengan peristiwa pasca G30S. Dalam film tersebut memang digambarkan bagaimana para tahanan peristiwa tersebut di atas dijemput dari rumah tahanan dan lenyap tak berbekas. Dari sana sebuah pesan muncul pada kita, bahwa negara dan hukumnya tak kuasa menegakan hukum yang menjadi penopang negara itu. Hal ini terulang kembali dalam skala kecil pada peristiwa Cebongan dan juga tentu pada peristiwa lainnya yang begitu banyak terjadi dalam skala besar mau pun kecil di seluruh negeri kita. Tak heran, perlawanan rakyat akhir-akhir ini, juga dalam pelbagai bentuk, begitu banyak terjadi. Seorang kawan dalam kesibukan kerjanya sempat meluangkan waktu mengamati berita-berita perlawanan tersebut dan dia berani bertaruh bahwa dalam sebulan saja perlawan rakyat mencapai hampir 1000 perlawanan.

LKIP pada edisi kali ini mengangkat ulasan Kawan Chris Poerba atas film Jembatan Bacem tersebut dalam ‘rubrik kritik’. Jembatan Bacem, setidaknya menurut tulisan ini, bukan saja memuat sebuah kronik dari peristiwa besar kelam dalam sejarah bangsa kita, juga berisi pesan dan harapan dari generasi terdahulu pada kita untuk mengganti ketidakadilan dengan keadilan. Di ‘rubrik apresiasi’ kami menghadirkan cerpen karya Amanatia Junda bertajuk Kontemplasi Tato yang sedikit banyak akan mengingatkan kita pada Penembakan Misterius di era 1970-1980-an. Selain itu kami juga menghadirkan cerpen Debt Collector yang hendak memotret bidang pekerjaan tersebut. Pada ‘rubrik liputan’ kami menghadirkan wawancara Sita Magfira dengan pelukis Titarubi. Rianne Subijanto pada ‘rubrik teori’ menampilkan tulisan terakhir dari “Rangkaian Kritik terhadap Tiga Pendekatan ‘Kritis’ Kajian Budaya”. Rianne membahas sejarah intelektual tradisi critical theory dan perkembangannya hingga kini. Tulisan ditutup dengan ajakan untuk mengembalikan sekaligus mengembangkan metode materialisme historis dalam proyek intelektual dan aktivisme “budaya” saat ini.

Akhirul kalam, segala peristiwa bolehlah terjadi dan menghilang, namun ingatan kita harus tetap terjaga. Menutup pengantar ini, marilah kita merenungkan sejenak penggalan puisi Rivai Apin bertajuk Peking II:

Dari batu malam yang terbelah lahir pagi gemerincing

Dan kembang api pancaran pukulan si pandai besi

Bintang-bintang di langit bintang-bintangnya pekerja.

Selamat Hari Buruh Sedunia dan Selamat membaca!!!

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus