1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 121

Paling Sering Dibaca

Marxisme dan Supervenience

DEWASA ini, kaum inteligensia yang beradab akan lari terbirit-birit ketika mendengar kata ‘reduksi,’ ‘determinasi,’ ‘totalitas,’ ‘absolut’ dan sejenisnya. Agaknya, kata-kata itu menyinggung rasa kemanusiaan mereka yang demikian sublim dan subtil. Hal ini sepertinya sesuai dengan iklim intelektual kontemporer yang hipersensitif pada diksi, pada pilihan kata, sembari abai pada kenyataan dan konsep yang dinyatakan oleh kata-kata. Kita dengan mudah lupa pada ungkapan Cato, seorang pemikir dan politisi Romawi: rem tene, verba sequentur; ‘rengkuhlah bendanya, maka kata-kata akan mengikuti.’

Pancasila dan Ruang Publik

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   Tanggapan untuk Muhammad Unies Ananda Rais dan Adrianus Venda Pratama Putra   MENARIK ketika Muhammad Unies Ananda Rais menawarkan

Santa Claus dan Jack Skellington

Kredit ilustrasi oleh Red Bubble. MARI kita bermain teka-teki di penghujung tahun ini. Untuk Anda yang sedari kecil merayakan Natal pastinya sudah tak lagi asing

Missing Link Peristiwa Madiun 1948

Beberapa Catatan Untuk Diskusi Peristiwa Madiun 1948 BUKU Soemarsono, Revolusi Agustus, ini penting bukan hanya untuk meninjau ulang narasi utama dari negara (pemerintah orde baru

Tanah Sebagai Syarat Hidup Masyarakat

… manakala kapitalisme diusir keluar dari pintu, ia akan masuk kembali lewat jendela. Fernand Braudel (1979) SALAH satu gerakan agraria yang tampil secara khusus di

Martin dan Marxisme: Sekadar Perkenalan

‘SAMPAI sekarang para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan beragam cara; pokok sebetulnya ada pada mengubahnya’. Saya kira pembaca tahu pernyataan heroik dari Marx ini. Ditilik

Kita Dan Pendidikan Nasional

Negara ini menjadikan Ujian Nasional sebagai ujung tombak utama lulus atau tidaknya seorang peserta didik. Walau katanya juga ditentukan oleh Ujian Akhir Sekolah (UAS), tetapi dalam pelaksanaan di lapangan, UAS hanya dijadikan ujian formalitas belaka. Melalui UN, nilai dijadikan ‘Tuhan’ yang bisa menentukan hasil akhir. Bagaimana bisa kelayakan seseorang untuk lulus hanya di tentukan oleh sebuah ‘nilai?’ Bertambah miris bila kita tarik lagi ke belakang dalam skala yang lebih luas, dimana memang seluruh sistem pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi mengikuti pola seperti ini.

Nilai, yang sering diwujudkan dalam angka atau huruf menjadi ukuran ‘kepintaran’ seorang anak. Tentunya anda masih merasakan bagaimana bangganya anda jika mendapatkan nilai bagus, atau bagaimana anda kesal ketika seorang teman anda mendapat nilai sama bagusnya dengan anda tetapi hasil dari menyontek. Semua berlomba-lomba mendapatkan nilai yang bagus, tidak peduli bagaimana caranya. Anak-anak yang tidak bisa mendapatkan nilai yang tinggi, dicap ‘bodoh’ dan ‘malas.’ Belum lagi tuntutan orang tua yang begitu tinggi, yang tak jarang mengiming-imingi hadiah jika nilai sang anak bisa mengalahkan nilai teman-temannya.

Oligarki Kapitalis Lama Di Panggung Elektoral

TUMBUH suburnya kekuatan kapitalis domestik di Indonesia, pada penghujung dekade 80-an, hanya dapat dinarasikan dengan menghubungkannya pada peran negara yang sangat dominan dan sentralistik. Tidak

Post-Neoliberalisme

PADA 1942, terbit buku berpengaruh dari ekonom Joseph A. Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy. Dalam buku ini, Schumpeter menulis, kapitalisme, pertama-tama, adalah sebuah sistem yang bentuk dan metode ekonominya secara alamiah selalu berubah dan karena itu merupakan satu-satunya sistem yang tidak akan pernah bersifat tetap. Dan bagi Schumpeter, mesin penggerak perubahan itu terletak di dalam dirinya sendiri, yang disebut proses Creative Destruction (penghancuran kreatif).

Untuk menjelaskan proses penghancuran kreatif ini, Schumpeter memberi contoh tentang kompetisi di pasar sebagai esensi dari kapitalisme. Dalam kompetisi ini, hanya perusahaan yang efisien baik dari segi keuangan, manajemen, maupun penguasaan teknologi yang bisa bertahan dan unggul, sementara yang tidak efisien pasti tersingkir (destruksi). Di atas reruntuhan itu, muncul (kreasi) kompetitor lain untuk menantang perusahaan yang sebelumnya menang. Begitu seterusnya proses ini berlangsung, sehingga menurut Schumpeter, proses penghancuran kreatif ini merupakan fakta esensial kapitalisme. Dengan kata lain, jatuh-bangun, untung-rugi, baik di masa damai maupun di masa krisis adalah hal yang alamiah, sebuah proses seleksi alam.

Pilkada Menuju Akumulasi Kapital

ARTIKEL singkat ini berangkat dari kegelisahan saya atas euforia berbagai kalangan dalam menyambut hajatan demokrasi (pilkada), yang secara terang-terangan maupun abu-abu menaruh harapan besar pada

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.