Mencoba Orde Baru Sekali Lagi
Ilustrasi oleh Yayak Yatmaka SEJAK tumbangnya Orde Baru, upaya mereproduksi kepatuhan dan menciptakan kembali tertib politik di masyarakat Indonesia, belum pernah dilakukan secara serius
Ilustrasi oleh Yayak Yatmaka SEJAK tumbangnya Orde Baru, upaya mereproduksi kepatuhan dan menciptakan kembali tertib politik di masyarakat Indonesia, belum pernah dilakukan secara serius

Kredit foto: abc.net.au (1) DELAPAN tahun silam, ketika masih bergiat di satu organisasi mahasiswa Muslim di Indonesia, saya mendapat kesempatan memoderatori sebuah diskusi seru: bedah

Ilustrasi: Illustruth KAUM borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung
“Working men of all countries, unite!”[1] adalah kalimat penutup Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto) yang paling sering dilafalkan. Frasa ini bukan slogan tanpa landasan teoritik. Pertama,
Di percetakan, isi buku juga tak bermakna. Sang doktor luar negeri yang harus membaca puluhan buku teori politik dan menulisnya banting-tulang, tak akan mendapat ‘belas kasihan’ atau ‘salut hormat’ dari percetakan. Kedoktorannya tak membuat harga cetak bukunya lebih murah atau lebih mahal atau lebih diprioritaskan waktu cetaknya dari buku resep masakan tulisan sarjana Google. Jika perkara teknisnya sama, maka sebuah majalah berisi ide-ide progresif nan heroik pun pasti setara posisinya dengan selebaran harga barang-barang Alfamart.

MENGIKUTI perkembangan wacana pembangunan partai politik alternatif, ‘anak muda’ mulai diperbincangkan sebagai elemen yang perlu terlibat di dalamnya. Tulisan Kawan Danang Pamungkas dan Rio Apinino

Kredit ilustrasi: thisishell.com ARTIKEL berjudul “Communism and Religion Can’t Coexist” yang ditulis oleh Marion Smith, direktur eksekutif yayasan Victims of Communism Memorial,dalam harian Wall Street

Untuk benar-benar memahami Dey, analisis ekonomi politik harus dikembalikan dari posisi pinggiran ke jantung pembacaan peristiwa.
WHAT Went Wrong? Demikianlah kata Bernard Lewis[i], sang orientalis ahli Islam kenamaan dari Inggris tersebut. Mulai dari tragedi 9/11 hingga tragedi Sampang, konflik Israel-Palestina hingga
Resensi Buku Judul buku: Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis: Max Lane Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, 2012 Tebal: xiv +

“BLAIK, KOK CUMA target segini bulan September, Wan?” ucap Pak Kartomo. Matanya terbelalak. “Ehh, kok blaik, astaghfirullah maksudku, Wan. Maaf ya, aku lupa kalau kita bekerja di Bank Syariah.”

Pesta Oligarki masih percaya bahwa demokrasi dapat ditubuhkan menjadi negara melalui prinsip representasi. Padahal, prinsip representasi negara telah nyaris sepenuhnya terintegrasi ke dalam mekanisme oligarki yang mereproduksinya.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.