1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 110

Paling Sering Dibaca

Mencoba Orde Baru Sekali Lagi

Ilustrasi oleh Yayak Yatmaka   SEJAK tumbangnya Orde Baru, upaya mereproduksi kepatuhan dan menciptakan kembali tertib politik di masyarakat Indonesia, belum pernah dilakukan secara serius

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian I)

Ilustrasi: Illustruth KAUM borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung

Membaca Manifesto Komunis Secara Dialektis

“Working men of all countries, unite!”[1] adalah kalimat penutup Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto) yang paling sering dilafalkan. Frasa ini bukan slogan tanpa landasan teoritik. Pertama,

Percetakan

Di percetakan, isi buku juga tak bermakna. Sang doktor luar negeri yang harus membaca puluhan buku teori politik dan menulisnya banting-tulang, tak akan mendapat ‘belas kasihan’ atau ‘salut hormat’ dari percetakan. Kedoktorannya tak membuat harga cetak bukunya lebih murah atau lebih mahal atau lebih diprioritaskan waktu cetaknya dari buku resep masakan tulisan sarjana Google. Jika perkara teknisnya sama, maka sebuah majalah berisi ide-ide progresif nan heroik pun pasti setara posisinya dengan selebaran harga barang-barang Alfamart.

Anak Muda, Kerentanan dan Partai Politik Alternatif

MENGIKUTI perkembangan wacana pembangunan partai politik alternatif, ‘anak muda’ mulai diperbincangkan sebagai elemen yang perlu terlibat di dalamnya. Tulisan Kawan Danang Pamungkas dan Rio Apinino

Alkitab dan Transformasi Dunia

Kredit ilustrasi: thisishell.com ARTIKEL berjudul “Communism and Religion Can’t Coexist” yang ditulis oleh Marion Smith, direktur eksekutif yayasan Victims of Communism Memorial,dalam harian Wall Street

Membaca ‘Islam’ Secara Ilmiah: Sebuah Kritik

WHAT Went Wrong? Demikianlah kata Bernard Lewis[i], sang orientalis ahli Islam kenamaan dari Inggris tersebut. Mulai dari tragedi 9/11 hingga tragedi Sampang, konflik Israel-Palestina hingga

Malapetaka ‘65 yang Belum Usai

Resensi Buku Judul buku: Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis: Max Lane Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, 2012 Tebal: xiv +

Tuyul: Sang Pembebas dari Kekangan Modal

“BLAIK, KOK CUMA target segini bulan September, Wan?” ucap Pak Kartomo. Matanya terbelalak. “Ehh, kok blaik, astaghfirullah maksudku, Wan. Maaf ya, aku lupa kalau kita bekerja di Bank Syariah.”

Film Pesta Oligarki: Apakah Oligarki Membunuh Demokrasi?

Pesta Oligarki masih percaya bahwa demokrasi dapat ditubuhkan menjadi negara melalui prinsip representasi. Padahal, prinsip representasi negara telah nyaris sepenuhnya terintegrasi ke dalam mekanisme oligarki yang mereproduksinya.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.