Ilustrasi: Picryl (CC)
Di tangan tentaranya, Jepang pernah terbelakang selama ratusan tahun. Di tangan tentaranya, Negeri Matahari Terbit ini pernah hancur dalam Perang Dunia II.
“Negara yang mengandalkan tentara tak akan pernah maju,” kata Agus Widjojo (1947–2026). Ia bukan akademisi sipil. Anak Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo (1922–1965), yang menjadi korban G30S ini, telah menghabiskan lebih dari 30 tahun hidupnya sebagai tentara untuk Indonesia. Agus Widjojo adalah seorang jenderal pemikir.
Tentu saja, tak semua orang setuju dengan omongan Agus Widjojo, baik dari kalangan militer maupun sipil. Maklum, militer kita hari ini, tanpa disadari, telah ditata wataknya seperti tentara Jepang. Namun, bukan tentara Jepang masa kini, melainkan tentara Jepang era Perang Dunia II.
Saat ini, Jepang adalah salah satu negara maju di muka bumi. Setidaknya, barang buatan Jepang terlihat di jalanan Indonesia. Jepang membutuhkan proses kerja keras yang panjang untuk mencapai kondisi seperti sekarang. Jepang pernah miskin. Jika butuh gambaran tentang kemiskinan Jepang di masa lalu, tengoklah bagian dari serial drama Oshin ketika Oshin masih kecil.
Restorasi Meiji (1868) menjadi awal usaha Jepang untuk maju. Ketika itu, Keshogunan Tokugawa, yang berkuasa di Jepang antara 1603 hingga 1868, berakhir dan kekuasaan kaisar pulih. Keshogunan Tokugawa merupakan pemerintahan militer feodal yang didirikan oleh Tokugawa Ieyasu (1543–1616). Setelah Keshogunan Tokugawa berakhir, Kaisar Mutsuhito Meiji (1852–1912) pun berkuasa penuh. Sejak 1880-an, Jepang memiliki perdana menteri. Meiji menghapuskan feodalisme dan melakukan modernisasi. Dampaknya terasa hingga hari ini.
Di Tangan Jenderal Samurai, Teknologi Jepang Mandek
Sudah banyak yang tahu bahwa Jepang dahulu memiliki tradisi orang-orang militan yang siap mati, yang biasa dikenal sebagai samurai. Golongan ini digambarkan sebagai kelompok masyarakat yang kuat dan berpengaruh di Jepang. Mereka dikenal sebagai ksatria, prajurit, atau orang-orang jago pedang. Di Indonesia, pedang ala Jepang itu kerap disebut samurai.
Perang adalah bagian dari masa lalu Jepang. Sekitar abad ke-12, terjadi perselisihan dalam keluarga bangsawan Fujiwara. Perang tidak membuat keluarga itu semakin kuat, malah membuatnya tersisih dari panggung politik di daerahnya. Para pejabat militer yang sebelumnya tunduk pada keluarga itu pun meninggalkannya. Para pejabat militer tersebut kemudian menjadi orang-orang kuat dan berpengaruh.
“Mulailah masa dominasi militer selama 800 tahun dalam pemerintahan Jepang,” catat Jerry Korn dkk. dalam Jepang Tersulut Perang (1986:32). Kaum samurai muncul pada masa-masa ini. Ketika itu, Yoritomo dari keluarga samurai Minamoto muncul sebagai shogun pada 1192.
IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.
Sebagai penguasa, shogun lebih menguasai kehidupan duniawi Jepang daripada kaisar yang mereka sembah layaknya dewa. Ancaman Khubilai Khan, yang berkuasa di daratan Tiongkok, terhadap Jepang membuat kaum samurai semakin berperan dan akhirnya memperoleh kekuasaan.
Sebagai golongan paling dominan dalam masyarakat Jepang, kaum samurai merupakan orang-orang yang paling mampu berhubungan dengan orang asing dari luar.
“Senjata api mencapai Jepang pada 1543 Masehi, ketika dua petualang Portugis yang bersenjatakan harquebus (senapan primitif) tiba dengan kapal Cina,” catat Jared Diamond dalam Guns, Germs & Steel (2016:319).
Senjata yang dibawa para petualang Portugis itu membuat orang Jepang yang melihatnya terkagum-kagum. Beberapa orang Jepang pun tekun mempelajari teknologi tersebut, lalu membuatnya sendiri. Mereka tidak hanya memproduksi senjata dalam jumlah lebih banyak, tetapi juga membuatnya lebih baik.
“Dan pada 1600 Masehi Jepang memiliki lebih banyak senjata api yang lebih bagus daripada di dunia mana pun,” catat Jared Diamond.
Sekitar abad ke-17, Kerajaan Aceh juga maju dalam hal senjata api. Mereka tidak mengimpor amunisi, melainkan memproduksinya dari sumber daya alam sendiri. Tak heran jika mereka mampu bertahan lama melawan Belanda. Sayangnya, Sultan Iskandar Muda yang paranoid justru membatasi penggunaannya. “Raja membatasi pemakaian bedil di lingkungan istana saja,” catat Beaulieu, seperti dikutip Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Perancis (2005:68).
Bukan hanya Sultan Aceh yang membatasi penggunaan senjata api, kaum samurai Jepang pun melakukan hal serupa. Bagi orang kebanyakan, senjata api akhirnya dianggap lebih mematikan daripada pedang. Namun, bagi kaum yang sedang berkuasa, pedang lebih mampu menjadi simbol ksatria yang berseni daripada senjata api. Menurut Jared Diamond, kaum samurai sangat mendewakan pedang sehingga senjata api kurang diterima di Jepang.
“Mereka mundur dari mesiu, dan menutup dirinya, selama 250 tahun,” catat John Man dalam Samurai: Jalan Kehormatan Sang Pejuang Terakhir (2013:130). Akibatnya, ketika orang Amerika dan Eropa mengembangkan senjata api dengan mekanisme isi ulang yang lebih cepat, seperti pistol revolver, Jepang sempat tertinggal. Namun, setelah Restorasi Meiji, Jepang juga mampu memproduksinya. Setidaknya, sejak abad ke-19, Jepang kembali memproduksi mesiu dan senjata api yang lebih modern, seperti bedil (senapan) Arisaka dan beceng (pistol) Nambu.
Jenderal Tojo Menyeret Jepang dalam Kehancuran
Sebelum Perang Dunia II, Jepang sudah menjadi negara maju di Asia. Jepang tidak hanya mampu membuat senjata api, tetapi juga mobil, kapal, bahkan pesawat terbang. Ketika itu, Restorasi Meiji dan usaha modernisasi Jepang belum genap satu abad berjalan. Setidaknya, barang buatan Jepang yang lebih murah daripada buatan Eropa sudah beredar di Asia. Bahkan, pemerintah kolonial Hindia Belanda mewaspadai kemajuan Jepang itu.
Modernisasi juga membuat militer Jepang semakin maju. Angkatan lautnya belajar dari Inggris, sedangkan angkatan daratnya belajar dari Jerman. Militer Jepang pun tidak lagi jago kandang. Tentara Jepang akhirnya berhasil memenangkan Perang Rusia-Jepang di sekitar Port Arthur (1904), invasi ke Semenanjung Korea (1894–1895), dan invasi ke Manchuria (1931). Bahkan, dalam Perang Dunia II, Jepang berhasil menguasai Asia Tenggara (1942). Ketika itu, tentara Sekutu sangat sulit mengalahkan Jepang.
Setelah militer menjadi modern, muncul kelompok ultranasionalis Sakurakai yang hendak merebut kekuasaan dan mendirikan kediktatoran militer. Pada Maret dan 21 Oktober 1931, kelompok ini melakukan kudeta demi mencapai tujuan tersebut. Keduanya gagal. Pada 26 Februari 1936, militer kembali melakukan kudeta, yang menewaskan dua mantan perdana menteri.
Ketika Perang Dunia II meletus di Eropa, beberapa jenderal sudah berkuasa dan mendominasi Jepang. Antara 1939 hingga 1945, Jepang memiliki sejumlah perdana menteri, yakni Jenderal Nobuyuki Abe (1875–1953), Laksamana Mitsumasa Yonai (1880–1948), Pangeran Fumimaro Konoe (1891–1945), lalu Hideki Tojo (1884–1948).
Tojo memimpin Jepang ketika ambisi ekspansi militer mencapai puncaknya. Penyerangan Pearl Harbor pada Desember 1941 dan pendudukan Indonesia oleh tentara Jepang pada 1942 terjadi pada masa pemerintahannya. Serangan ke Pearl Harbor membawa Jepang berhadapan langsung dengan Amerika Serikat, sementara ekspansi ke Asia Tenggara memperluas wilayah perang dan menambah beban militer Jepang. Tojo tidak hanya menyeret Jepang ke dalam perang, tetapi juga memimpin negara ketika perang itu semakin sulit dimenangkan.
Perang yang semula dijalankan atas nama kemajuan dan kejayaan negara justru menyengsarakan rakyat Jepang. Semakin luas wilayah yang dikuasai, semakin besar pula beban perang yang harus ditanggung Jepang. Sumber daya, tenaga, dan kehidupan rakyat terseret ke dalam perang yang terus meluas. Ketika Jepang mulai kehilangan wilayah dan menghadapi serangan Sekutu, kehancuran militer dan ekonomi semakin sulit dihindari.
Mereka lantas mengalami kehancuran yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan para pemimpin militernya. Amerika menjatuhkan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Setelah itu, Kaisar Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Perang Dunia II pun berakhir. Jepang yang sebelumnya berusaha membangun kejayaan melalui kekuatan militer justru harus menerima kehancuran kota-kotanya dan kekalahan negaranya.
Tojo kemudian menjadi salah satu tokoh yang dimintai pertanggungjawaban atas perang tersebut. Setelah gagal bunuh diri, dia ditangkap, diadili sebagai penjahat perang, dan dihukum mati. Kehancuran Jepang bukan semata-mata akibat satu orang, tetapi Tojo menjadi gambaran pemimpin militer yang membawa negara ke dalam perang besar dan tidak mampu menghindarkannya dari kekalahan.
Saat menduduki Indonesia, tentara Jepang melatih banyak pemuda Indonesia di Jawa. Di antara mereka, setelah 1965, muncul orang-orang yang berkuasa dalam Republik Indonesia. Salah satunya adalah Soeharto.
Petrik Matanasi adalah periset sejarah.




