Hidup Kolonel Latief Sebelum G30S

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Istimewa


Sejak muda, Kolonel Latief adalah andalan Jenderal Soeharto. Ia dikorbankan setelah G30S.

TANGGAL 27 Juli 2026 tahun ini adalah 30 tahun Peristiwa Kudatuli (penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) oleh aparat Orde Baru), sekaligus 100 tahun kelahiran Kolonel Abdul Latief. Salah satu pelaku Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang sebenarnya menguntungkan bekas atasannya di Jawa Tengah, Soeharto. Sejak muda Abdul Latief adalah tentara.

Kala itu Perang Dunia II sudah meletus di Eropa dan beberapa negara penguasa koloni di Asia, termasuk Belanda sedang bersiap di Hindia Belanda. Setelah 1940, tentara Belanda merekrut lebih banyak tentara dari tahun-tahun sebelumnya. Terutama untuk KNIL.

“Tahun 1941-1942 pada saat Perang Dunia II pemerintah Belanda mengadakan wajib milisi, para pegawai negeri atau pelajar dimasukan wajib militer untuk menghadapi serangan tentara Jepang. Pada waktu itu saya sebagai pelajar juga terkena wajib militer itu,” ingat Abdul Latief. [1]

Kekuatan KNIL dan Angkatan Laut Belanda Koninklijk Marine (KM) rupanya tidak begitu berdaya menghadapi serbuan tentara Jepang yang menerobos Asia Tenggara dengan cepat. Pada Januari 1942 saja, armada Jepang sudah mencapai Kalimantan dan daerah Indonesia Timur lainnya.

Militer Belanda tampak tidak siap dalam perang apapun, kecuali tentunya perang kolonial saja. Bahkan dengan bantuan tentara sekutu pun, pihak Belanda tak mampu bertahan di tanah koloninya. Onghokham menulis begini:

Belanda terutama militernya tidak mempunyai konsepsi tentang dimensi-dimansi perang modern, melawan musuh dengan industri dan angkatan perang modern. Pimpinan tidak untuk berperang dalam rangka persekutuan mereka hanya siap untuk satu peperangan kolonial.[2]

Armada laut sekutu, dimana militer Belanda juga berada di dalamnya, tidak mampu menghadapi armada Jepang yang sudah mereka keroyok. Jepang sendiri, setelah 1930-an menampakan diri sebagai kekuatan asia yang mampu menyaingi bangsa-bangsa Eropa yang sudah lebih dulu industrinya maju.


Dikirim Berperang Ke Jawa Barat

Usia Latief ketika pertama kali ikut perang di tahun 1942 itu belumlah genap 16 tahun. “Saya orang Madura kelahiran Surabaya tanggal 27 Juli 1926,” aku Abdul Latief.[3] Jadi usianya masih 15 tahun ketika tentara Jepang mulai mendekati Hindia Belanda. Pada usia itu Latief pertama kalinya mendapat latihan militer. Mereka lalu menjadi bagian dari KNIL.[4]

Abdul Latief muda agak mirip dengan Kaboen (1832-1906), yang pada 1848 masih berusia sekitar 16 tahun mendaftar masuk KNIL lalu bergabung dengan batalyon infanteri KNIL ke-13 di Surabaya. Dia berkali-kali dikirim ke Bali. Kaboen dengan cepat menjadi kopral lalu sersan di KNIL. Setelah jadi sersan, Kaboen masuk Korps Barisan Bangkalan lalu dikenal sebagai Raden Ario Majang dan pernah dikirim dalam Perang Aceh yang terakhir di Korps Barisan berpangkat Letnan Kolonel.[5]

Jika Kaboen dengan sukarela masuk KNIL, maka Latief lebih karena wajib militer. Latief tidak berakhir seperti Kaboen alias Ario Majang Koro di dalam KNIL. Latief wajib militer pada bulan-bulan terakhir kejatuhan Hindia Belanda. Dia baru mendapat pelajaran militer dasar saja. Meski berpeluang menjadi kader, namun peluang itu hilang setelah 1942 karena Jepang makin dekat dan menang.

“Kemudian dilatih di Magetan, Madiun dan kalau tidak salah komandan pendidikan adalah Kapten Soemarno, sedangkan omandan peleton saya Sersan Mayor Moorman. Sebagian pelajar dan pegawai berpendidikan dicalonkan menjadi kader,” ingat Latief.[6]

Komandan pendidikan Latief di Magetan-Madiun itu adalah orang yang cukup langka di KNIL. Hanya sedikit orang pribumi yang jadi kapten. Raden Soemarno, yang kelahiran 15 Mei 1893 itu, adalah kakak kelas dari Raden Oerip Soemohardjo di kursus calon perwira pribumi di Sekolah Militer KNIL di Jatinegara. Raden Soemarno punya seorang keponakan bernama Soewardjo Tirtosoepono yang hanya belajar di tahun terakhir akademi militer Breda dan dipecat karena dikaitkan dengan pergerakan nasional Perhimpoenan Indonesia (PI). Soemarno dipanggil berdinas lagi setelah pensiun sebagai kapten. [7]

Di bawah komando Kapten Soemarno, Latief dilatih selama 6 bulan. Latief mengaku bertugas sejak Oktober 1941. Selain Sersan Mayor Moorman sebagai komandan peleton, ada juga Sersan kelas satu Glundung sebagai komandan regunya serta wakil komandan regunya Kopral Sara’an. Selain itu dalam pasukan yang diikuti Latief ada Spandrig (Prajurit kelas satu) Emot.[8]

Ia teruskan kenangannya:

Setelah selesai latihan dan karena keadaan perang lebih gawat, maka asrama pendidikan (yang) berada 2 KM di luar kora itu dipindahkan di batas pinggi kota Magetan; di sebuah pasar sekaligus membuat lubang-lubang pertahanan. Tidak lama kemudian semua pasukan dipindahkan ke Soreang, Ciwidey Bandung, Jawa Barat, untuk membuat pertahanan di sana, yang ditempatkan di sebuah sekolah.[9]

Selama di Ciwidey, komandan kompi pasukan yang diikuti Latief bukan lagi Kapten Soemarno, tapi sudah Kapten Bosch.[10]

Anehnya kita tidak pernah diberitahu tentang keadaan perang itu sampai di mana. Kita pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pesawat terbang Belanda dikejar-kejar oleh pesawat pemburu Jepang dan pasukan kita tidak melihat dengan asyiknya tanpa mengerti apa yang telah terjadi.[11]

Dalam hitungan minggu, tentara Jepang sudah menyentuh Jawa. Awal maret 1942, tentara Jepang sudah mencapai pantai Banten. Dalam hitungan hari, tentara Jepang mendekati Jakarta dari arah Tangerang.[12] Gerak maju pasukan infanteri Jepang bahkan mampu mengelabui pasukan sekutu yang membantu Belanda mempertahankan Jawa.


Ditawan Tentara Jepang

Kekutan tentara Jepang tak terbendung memasuki Jakarta. Jenderal Mayor Schilling lalu memutuskan untuk melepaskan kota kota Jakarta (Batavia) dan memerintahkan pasukan-pasukannya untuk bergerak mundur ke daerah Bandung.[13] Di Jawa Timur, tentara Jepang masuk dari arah Tuban memasuki kota Surabaya tanpa letusan senapan pun. Melainkan hanya dengan petasan.[14]

Masuknya tentara Jepang ke Surabaya dan Jakarta, tentu kabar buruk bagi pertahanan Hindia Belanda. Hingga pejabat tertinggi Hindia Belanda pun merasa terjepit dan menyerah menjadi pilihan yang tak bisa dihindari. Ketika Hindia Belanda menyerah, sangat wajar bagi Latief yang masih remaja untuk tidak lagi perlu berperang.

Beberapa hari kemudian tahu-tahu kita mendengar bahwa tentara Belanda telah menyerah. Bersamaan dengan itu terjadi pemberontakan dan Belanda menyatakan itu adalah perampokan ke toko-toko Cina di Soreang. Entah bagaimana senjata kita yang sudah dilucuti itu tiba-tiba diambil kembali dan kita disuruh mengadakan patroli pengamanan. Itu terjadi atas perintah siapa saya tidak tahu. [15]

Jadi, setelah tentara Jepang berkuasa, pasukan yang diikuti Latief untuk sementara diperbantukan menjaga ketertiban. Mengindari kerugian di kalangan sipil. Latief lalu tidak menemukan pertempuran berarti.

Perwira Tentara Belanda tampaknya tidak begitu bersemangat menghadapi tentara Jepang dengan pertempuran hebat. Meski ada pula tentara-tentara Belanda yang ingin bergerilya melawan Jepang. Salah satu gerilyawan terkenal di Jawa Bawat adalah pimpinan Letnan Kolonel Laurent van der Post.

Keterangan pendudukan kepada kita terutama para pelajar yang masih muda belia itu, bahwa tentara Belanda telah menyerah kepada Jepang. Dimana-mana sudah dikuasai oleh tentara Jepang. Mereka minta kepada kita agar tidak menembak penduduk bahkan ada yang mempengaruhi kita untuk lari saja. Kira-kira satu minggu berpatroli ternyata tidak terjadi apa-apa dan kita disuruh kembali. [16]

Seperti kebanyakan tentara Belanda, Abdul Latief kemudian menjadi tawanan perang juga. Setidaknya untuk beberapa bulan pertama di masa pendudukan Jepang di Jawa. Penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada tentara Jepang lalu terjadi pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Panglima KNIL Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenbourgh Stachhouwer mewakili Hindia Belanda. Keduanya lalu dikeluarkan dari Jawa oleh tentara Jepang. Mereka pernah ditawan di Taiwan pada 1943 lalu pada 1944 dipindah ke Manchuria.[17]

Kala itu masih ada sebagian tentara Belanda yang bersemangat melawan Jepang dengan mengajak serdadu-serdadu pribumi. Abdul Latief tidak termasuk golongan serdadu-serdadu yang ingin gerilya. Ia menulis:

Masih saya ingat, kita pernah dikumpulkan oleh perwira Belanda, Kapten Bosh mengajak kita untuk mengadakan perlawanan dengan jalan gerilya lari ke hutan. Ajakan ini tidak mendapat sambutan. Kapten Bosh kulitnya hampir sama dengan kita, tidak seperti Belanda totok lainnya. Dia juga pendek. [18]

Kapten Bosh komandan kompi yang diikuti Latief itu, dari ciri yang diingat Latief itu jelas orang Indo. Sebuah keturunan campuran antara orang Belanda dengan pribumi. Golongan Indo kelasnya berada diantara di atas orang pribumi dan dibawah orang-orang Belanda. Banyak dari orang-orang Indo terserap di pemerintahan sipil dan militer.

Biasanya mereka ikut gelijkgesteld meminta diri mereka dipersamakan status hukum dan kewarganegaraannya seperti orang-orang Belanda. Tak hanya orang Indo, pribumi yang jadi pegawai atau perwira juga melakukannya.

Tidak beberapa lama datanglah tentara Jepang yang berpakaian sederhana dril kuning yang sudah kumal dan baunya apek menjaga kita di sebuah sekolah di Soreang. Pasukan kita lalu pindah ke Batujajar, dengan berjalan kaki.  Aneh sewaktu dalam perjalanan teman-teman saya yang lebih tua menyanyikan lagu-lagu Indonesia dan bahkan lagu Indonesia Raya versi lama. Tentara Jepang yang mengawal diam saja dan tidak berbuat apa-apa, tetapi tentara belanda nyengir dan marah, namun tidak berani mencegahnya. [19]

Nyanyian Indonesia Raya oleh tentara Belanda yang pribumi itu seolah jadi pertanda runtuhnya wibawa Belanda sebagai penguasa nusantara. Lagu ciptaan wartawan criminal Surabaya bernama Wage Rudolf Supratman itu tentu sesuatu yang subversive bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Abdul Latief sebelum 1942 tentu saja seperti kebanyakan pemuda Indonesia pada umumnya. Kaum pergerakan nasional tentu berusaha memengaruhi sebanyak mungkin orang, termasuk Latief. Latief adalah remaja terpelajar untuk ukuran sebelum tahun 1942, Latief pernah lulus sekolah dasar sebelum akhirnya belajar di sekolah menengah.[20]

Sampai di asrama Batujajar kita dimasukan dalam kamp campur aduk dengan tentara KNIL Belanda bule. Pada suatu pagi kami dikumpulkan sendiri-sendiri. Orang-orang Indonesia sendiri dan orang-orang Belanda sendiri. Anehnya tentara Belanda tidak dipindahkan keluar asrama, sedang semua barang-barang sudah dipindahkan ikeluar asrama. Sedang semua barang-barang sudah dikeluarkan di lapangan. Kami berpikir tentu akan dipindahkan.[21]

Tempat penahanan Latief itu kemudian menjadi instalasi bagi pasukan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus).[22] Daerah Batujajar sebelumnya pernah pula dipakai pasukan elit Belanda Korps Special Troepen (KST)—yang pernah dipimpin Kapten Raymond Paul Pierre Westerling (1919-1987).

Aneh bin ajaib sewaktu tentara Belanda keluar dari pagar asrama, serdadu-serdadu KNIL pribumi termasuk para milisi menyerbu barang-barang yang ditinggalkan di lapangan milik serdadu Belanda totok itu, sedang tentara Jepang yang menjaga diam saja.[23]

Orang-orang Indonesia asal Maluku atau Ambon dan Manado dianggap dekat dengan Kerajaan Belanda. Kedua etnis tersebut kerap dicurigai Jepang sebagai mata-mata Belanda.[24] Jadi orang Indo, Manado atau Ambon termasuk golongan yang dipandang Jepang sama berbahayanya dengan orang-orang Belanda. Abdul Latief yang tidak termasuk golongan tadi agak beruntung. Abdul latief punya peluang lebih besar untuk dibebaskan.

Akhirnya kami semua dipindahkan ke asrama Cimahi bekas batalyon IV. Di situlah kami berkumpul. Kalau tidak salah seorang Groot Majoor (mayor) Indonesia Bapak Oerip Soemohardjo diangkat sebagai wakil komandan tawanan perang khusus orang-orang pribumi. Warga Belanda dipisahkan di Kamp sebelahnya. Kami tidak terlalu lama di tawan dan segera dipulangkan kembali, terutama para milisi.[25]

Usaha pelarian tidaklah sedikit di kamp tawanan perang Jepang. Diantaranya dilakukan oleh Alex Evert Kawilarang, Rachmat Suryo dan Tjhwa Siong Pik. Mereka kabur dari sebuah kamp tawanan di Bandung. Mereka kemudian menyebar. Alex lari sampai ke Palembang dan Tjhwa ke Malang.[26] Ketiganya cukup berhasil. Meski Tjhwa kemudian terbunuh di zaman Jepang setelah agak lama bebas.

Tak selamanya pelarian para tawanan itu berhasil. Tidak sedikit yang tertangkap. Tentara Jepang berlaku keras kepada mereka-mereka yang kabur dari kamp. Begitulah cara tentara Jepang mengajari para tawanan perangnya agar tidak kabur dari kamp.

Kurang dua hari dari kepulangan kami, terjadilah pelarian serdadu KNIL Belanda sebanyak 12 orang dan akhirnya ditangkap. Setelah mereka dihajar habis-habisan pada pagi harinya diarak keliling kamp tawanan kita dengan tambang (tali) kapal dan terus dibawa ke lapangan dan dijajarkan. Di Belakangnya ada rumah gas susun untuk latihan. Kami semua dikumpulkan di lapangan, disuruh melihat. Tidak beberapa lama kemudian muncul tentara Jepang bersenjata juga bersatu demi berhadapan dengan jarak kira-kira jarak 10 meter. Barulah kami mengetahui bahwa mereka itu akan ditembak mati dengan jalan ditembak. Untuk pertama kalinya saya melihat orang dihukum mati dengan jalan tembak, bahkan ada yang didatangi setelah ditembak mati dan ditembak lagi, rupanya mereka belum mati.[27]

Begitu kengerian yang dipertontonkan tentara Jepang kepada remaja Abdul Latief yang masih 15 tahun itu. Aksi tentara Jepang di kamp itu tentu membuat Abdul Latief jadi terbiasa dengan kematian orang lain. Banyak orang sudah sadar bahwa kematian itu pasti dan hanya perkara waktu saja. Tapi Abdul Latief menyaksikannya dari dekat di awal kedatangan tentara Jepang itu.

Peristiawa pembunuhan 12 tawanan yang disaksikan Latief itu terjadi sekitar Mei 1942. Latief menyaksikannya bersama anggota milisi pelajar lainnya, yang usianya seumuran dengan Latief.[28] Setelah “pelajaran” dari tentara Jepang itu mereka saksikan, maka hari pembebasan pun tiba. “Baru pada paginya harinya kami digunduli dan terus dipulangkan ke rumah masing-masing dengan naik kereta ke Jawa Timur,” ingat Abdul Latief.[29]


Dari 10 November ke 30 September

SETELAH turun dari kereta api, Abdul Latief tentu berpisah dengan kawan-kawannya yang bekas tawanan perang Jepang. Ia pulang ke rumah keluarganya. Dalam usia yang masih belia itu, ia memilih hidup tenang di Jawa Timur. Menjauhkan diri dari perang dan tentara Jepang.

Pada zaman Jepang saya kembali ke Jawa Timur, ikut kakek saya, yang jadi kepala sekolah.  Kemudian ada pengumuman agar semua bekas tentara melaporkan diri. Semua keluarga saya tidak setuju dan disuruh meninggalkan Mojokerto. Saya pergi ke Kecamatan Muluk daerah Ngimbang. Berkenalan dengan Opziechter Boswesen (pengawas kehutanan) dan diberi pekerjaan di tempat itu beberapa lamanya. Di tengah hutan jemu dan bertemu teman yang bekerja di Perikanan Darat di Kantor Keresidenan Bojonegoro, dan saya ikut bekerja di sana. [30]

Bersembunyi dianggap pilihan terbaik bagi Abdul Latief dan keluarganya. Abdul Latief sepanjang Perang Dunia II belum selesai, lebih banyak beredar di sekitar Jawa Timur saja. “Pada 1943, saya ikut latihan di Chu O Seinen Kun Ren Sho di Jakarta di bawah pimpinan Latief Hendraningrat,” akunya. Setelahnya dia menjadi pelatih untuk latihan militer para Seinendan di keresidenan Bojonegoro.[31]

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II dirinya ikut melucuti tentara di Bojonegoro dan Cepu. Dirinya sempat mengunjungi Surabaya sebelum 10 November 1945 dan kembali lagi ke Surabaya jelang 10 November 1945 hingga dia dan pemuda-pemuda asal Bojonegoro terlibat dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Setelah 1946 dia berada di Jawa Tengah. Latief sempat menjadi mayor, namun setelah penurunan pangkat besar-besaran pada 1948, pangkatnya menjadi kapten.

Kapten Abdul Latief memimpin sebuah kompi bersenjata lengkap bernama Kompi 100 di Yogyakarta. Mulanya di bawah Letnan Kolonel Abdul Latief Hendraningrat dan setelah Agresi MIliter II 19 Desember 1948 ketika Yogyakarta diserbu, Kapten Latief berada di bawah Letnan Kolonel Soeharto. Kapten Latief dan pasukannya ikut dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan bertempur di sekitar Malioboro.

Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesi Kapten Latief meneruskan karir militernya di beberapa batalyon di Jawa Tengah. Dia pernah memimpin batalyon yang moralnya hancur karena korupsi komandannya lalu ke batalyon yang personilnya banyak orang Madura. Pernah pula dia dikirim ke Sumatra Barat dalam rangka operasi penumpasan PRRI. Pada 1965 pangkat Latief adalah Kolonel, ketika itu Soeharto sudah mayor jenderal.

Kolonel Latief pernah ditugasi di Rindam Jakarta dan menjadi pendiri Brigade Infanteri (Brigif) 1 Jaya Sakti yang berada dibawah KODAM Jaya. Setelah Agustus 1965 Kolonel Latief ikut beberapa rapat bersama beberapa perwira yang kemudian mengamankan beberapa perwira tinggi Angkatan Darat dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Gerakan itu gagal dan pelaku digulung. Kaki Latief ditembak ketika ditangkap hingga cacat seumur hidup.

“Karena ditembak itu kakinya pincang. Dia memakai sepatu kayu yang tinggi sebelah agar kakinya bisa berjalan,” ingat Wilson. Latief memiliki semangat hidup yang tinggi ketika ditahan di Penjara Cipinang, Jakarta. Meski tak bisa berlari dia aktif dalam olahraga sepakbola.[32]

Bekas atasannya, Soeharto dari 1967 hingga 1998 menjadi Presiden RI.Dari 1965 hingga 1999 Latief menjadi tahanan politik (tapol). Untung dihukum mati sementara Latief seolah dibiarkan hidup oleh Soeharto. Dia termasuk tahanan yang dihormati, namun beberapa mantan anggota Tjakrabirawa yang menculik para jenderal Angkatan Darat

“Orang-orang Tjakra ini nuduh Latief berkhianat. Nah Latief sempat “dibalok” di Cipinang oleh Pak Leman,” kata Fauzi Isman. Dibalok maksudnya dipukul dengan kayu panjang berbentuk balok. Semasa di penjara Cipinang, Latief terlihat sering shalat dan bahkan pernah menjadi imam shalat berjamaah. [33]

Latief baru bebas setelah 1999 dan kemudian hidup bersama keluarganya. Kesehatannya makin menurun setelah bebas. Abdul Latief meninggal dunia pada 6 April 2005 di Rumah Sakit Qodar, Karawaci, Tangerang. Dia telah meninggalkan lima anak, 17 cucu dan 6 cicit. Kolonel Latief dimakamkan di sekitar pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Sebagai orang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, makamnya layak diberi tanda merah-putih.


[1] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat dalam usaha merebut kemerdekaan dari tangan penjajah serta pengabdian terhadap negara, bangsa dan tanah air Indonesia (Manuskrip), 1993, hlm. 18. (Koleksi Anton Lucas).

[2] Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda, Jakarta, Gramedia, 1987, hlm. 218.

[3] Julius Pour, G30S: Fakta dan Rekayasa, Jakarta, Kata, 2013, hlm. 254.

[4] Julius Pour, G30S: Fakta dan Rekayasa, Jakarta, Kata, 2013, hlm. 254.

[5] Hoever een eenvoudige Madoerees ‘t kan brengen, De locomotief30-09-1903

[6] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 18.

[7] Benjamin Bouman, Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950, Belanda, Sectie Militaire Geschiedenis, 1995, hlm. 369.

[8] Abdul Latief, Pleidoi Kol. A. Latief, Jakarta, Institut Studi Arus Informasi, 2000, hlm. xviii.

[9] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 18.

[10] Abdul Latief, Pleidoi Kol. A. Latief, op. cit., hlm. xviii.

[11] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 18.

[12] Rosihan Anwar, Musim berganti, sekilas sejarah Indonesia, 1925-1950, Jakarta, Grafitipers, 1985, hlm. 98.

[13] Djajusman, Hancurnya Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL), Bandung, Angkasa, 1978, hlm. 197.

[14] Mohamad Jasin, Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2013, hlm. 77.

[15] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 18.

[16] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 18-19.

[17] R. H. A. Saleh, Mari Bung, rebut kembali!, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2000, hlm. 53.

[18] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 19.

[19] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 19.

[20] Abdul Latief, Pleidoi Kol. A. Latief, op. cit., hlm. xviii.

[21] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 19.

[22] Julius Pour, G30S: Fakta dan Rekayasa, Jakarta, Kata, 2013, hlm. 254.

[23] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 19.

[24] R. H. A. Saleh, Mari Bung, rebut kembali!, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2000, hlm. 52.

[25] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 19-20.

[26] Ramadhan K.H., AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 5.

[27] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 20.

[28] Abdul Latief, Pleidoi Kol. A. Latief, op. cit., hlm. xviii.

[29] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 20.

[30] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat dalam usaha merebut kemerdekaan dari tangan penjajah serta pengabdian terhadap negara, bangsa dan tanah air Indonesia (Manuskrip), 1993, hlm. 18. (Koleksi Anton Lucas).

[31] Abdul Latief, Riwayat Hidup Singkat, op. cit., hlm. 20.

[32] Wawancara Wilson (Beji Depok, 5 Juni 2023).

[33] Wawancara Fauzi Isman (Citayam, Bogor, 7 Juni 2023).


Petrik Matanasi adalah periset sejarah dengan fokus pada sejarah militer Indonesia.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.