Muasal Mitos Kedaulatan Selera: Distingsi Kelas dan Kapitalisasi Tanda di Ruang Urban

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: All


DI RUANG urban, selera sering diagungkan sebagai manifestasi terdalam dari otentisitas individu. Namun, di balik klaim personal itu tersimpan paradoks: ekspresi yang dianggap unik justru kerap mengikuti pola yang seragam. Kafe berarsitektur industrial, toko buku yang dikurasi secara “estetik”, atau pakaian minimalis dikonsumsi sebagai penanda keaslian diri, meski sering diperoleh melalui praktik saling meniru.

Fenomena ini menunjukkan bahwa selera tidak pernah lahir dari ruang privat yang steril. Lingkungan sosial, posisi kelas, media, dan arus budaya membentuk preferensi kita secara laten. Kita merasa memilih secara bebas, padahal ruang pilihan itu telah dikondisikan jauh sebelum keputusan konsumsi dibuat.

Di bawah bayang-bayang algoritma media sosial, pertanyaan tentang selera menjadi semakin mendesak. Preferensi tidak lagi tumbuh secara organik, melainkan terus dibentuk oleh sistem rekomendasi digital yang mengomodifikasi perhatian manusia. Dalam lanskap konsumerisme yang agresif, pertanyaan lama kembali muncul: apakah preferensi benar-benar milik individu, atau sekrup dari mekanisme struktural yang lebih besar? Jika tulisan saya sebelum ini membahas hubungan estetika dan kapitalisme, saya akan berfokus pada dimensi sosiokulturalnya. Perspektif Pierre Bourdieu dan Jean Baudrillard dapat menjadi titik berangkat untuk mengurai ilusi kebebasan tersebut.


Perihal Selera dan Politik Distingsi

Masyarakat modern mewarisi berbagai ungkapan yang menempatkan selera sebagai wilayah yang tak tersentuh. Orang Spanyol mengenal para gustos, los colores (setiap orang memiliki warnanya sendiri), masyarakat Prancis menggunakan frasa à chacun son goût, sementara tradisi Anglo-Saxon mengenal diktum there is no accounting for tastes. Bahkan sejak era Latin klasik, adagium de gustibus non est disputandum—selera tidak untuk diperdebatkan—telah menjadi semacam dogma. Dalam pandangan awam, selera merupakan wilayah subjektif yang kebal terhadap penghakiman objektif.

Di sinilah sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menginterupsi kemapanan pandangan tersebut. Berada di antara subjektivisme Jean-Paul Sartre dan strukturalisme Claude Lévi-Strauss, Bourdieu mengajukan tesis radikal dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984): selera mengklasifikasikan, dan selera itu sendiri diklasifikasikan. Menurutnya, selera mengubah benda menjadi tanda pembeda dan mengubah variasi sosial yang berkelanjutan menjadi oposisi yang tegas (Bourdieu, 1984, hlm. 56). Karena itu, selera bukan sekadar sarana membedakan diri dari orang lain, melainkan penanda objektif posisi seseorang dalam hierarki sosial.

Untuk menjelaskan mekanisme tersebut, Bourdieu memperkenalkan konsep habitus—sistem disposisi yang terinternalisasi, yakni cara berpikir, merasa, dan bertindak yang dibentuk oleh pengalaman hidup, terutama posisi kelas. Habitus bekerja secara senyap. Ia tidak mengarahkan individu melalui paksaan terbuka, melainkan melalui pengondisian yang membuat pilihan tertentu terasa “alamiah”, padahal sesungguhnya merupakan hasil internalisasi struktur sosial yang berlangsung lama. Karena itu, operasi selera bersifat sirkular: ia mengklasifikasikan dunia objek sekaligus mengklasifikasikan para agen yang memilihnya.

Operasionalisasi selera berkaitan erat dengan kepemilikan modal (le capital), yang oleh Bourdieu tidak dibatasi pada kekayaan finansial. Modal budaya—meliputi pengetahuan, kualifikasi pendidikan, kemampuan berbahasa, hingga keakraban dengan produk kebudayaan tinggi—terdistribusi secara timpang dalam masyarakat. Kemampuan mengapresiasi musik jazz, memahami sastra eksistensialis, atau menikmati kopi spesialti bukanlah preferensi yang muncul begitu saja. Semua itu mensyaratkan akses pada pendidikan, lingkungan sosial, dan sumber daya ekonomi tertentu. Karena itu, selera berfungsi sebagai instrumen distingsi: bahasa simbolik yang mereproduksi dominasi kelas tanpa perlu menyatakannya secara terbuka. Fenomena “polisi skena” di ruang digital menunjukkan bagaimana batas-batas distingsi tersebut terus dijaga agar identitas dan prestise kelompok tetap eksklusif.

Gejala konsumsi sebagai penanda status telah lebih dahulu diamati oleh Thorstein Veblen (1899) melalui konsep conspicuous consumption—konsumsi yang dipertontonkan untuk meraih prestise sosial. Menurut Veblen, kekayaan atau kekuasaan saja tidak cukup untuk memperoleh penghargaan; keduanya harus ditampilkan karena pengakuan sosial bergantung pada bukti yang terlihat (Veblen, 1899, hlm. 75). Namun, jika Veblen berfokus pada pamer kemewahan material oleh leisure class, Bourdieu melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bagaimana modal budaya mengubah praktik konsumsi menjadi penanda kelas yang lebih halus, tetapi tetap eksklusif.


Komoditas sebagai Sistem Tanda dan Simulasi

Meski analisis Bourdieu tajam dalam memetakan hubungan antara selera dan kelas sosial, kapitalisme kontemporer menghadirkan dinamika yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui kategori kelas konvensional. Di bawah dominasi citra, media massa, dan pemasaran digital, selera tidak lagi sekadar mencerminkan posisi sosial, tetapi juga beredar dalam jaringan makna yang semakin cair. Di titik inilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan.

Bagi Baudrillard, konsumsi dalam masyarakat modern telah mengalami pergeseran mendasar. Yang dikonsumsi bukan lagi objek semata, melainkan objek sebagai tanda (signe). Fondasi kritik ini sebenarnya telah diletakkan oleh Karl Marx dalam Capital jilid pertama melalui konsep fetisisme komoditas. Menurut Marx, sifat mistis komoditas tidak berasal dari nilai guna maupun faktor-faktor pembentuk nilainya (Marx, 1887, hlm. 67–68). Yang terjadi adalah relasi sosial antarmanusia yang melahirkan suatu barang menjadi tersamarkan, sehingga barang tersebut tampak memiliki nilai yang melekat secara alamiah.

Dalam kapitalisme lanjut, komoditas tidak hanya menyembunyikan relasi produksi, tetapi juga menjelma menjadi jaringan simbol. Dalam Pour une critique de l’économie politique du signe (1972), Baudrillard berargumen bahwa nilai suatu objek tidak lagi terutama ditentukan oleh nilai guna (valeur d’usage) atau nilai tukar (valeur d’échange), melainkan oleh nilai tanda (valeur-signe).

Karena itu, orang membeli komoditas bukan semata karena kegunaan materialnya, melainkan karena makna dan prestise yang dilekatkan pasar padanya. Konsumsi berubah menjadi bahasa simbolik: melalui benda-benda yang dikonsumsi, individu mengomunikasikan identitas, status, dan aspirasi dirinya.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Di era digital, gejala ini mengalami amplifikasi yang luar biasa. Pengalaman seolah belum sah sebelum diubah menjadi citra yang dapat dikonsumsi publik. Pilihan destinasi wisata, estetika tempat makan, hingga ritual work from cafe sering dijalankan untuk membangun narasi diri yang berpusat pada visual. Ketika McDonald’s merilis BTS Meal pada 2021, antusiasme publik tidak lahir dari perubahan rasa produknya, melainkan dari kedekatan simbolik dengan idola. Fenomena itu mencapai puncaknya ketika kemasan kosong BTS Meal diperjualbelikan dengan harga berlipat di pasar sekunder. Dalam istilah Baudrillard, yang dipertukarkan bukan lagi objek material, melainkan nilai simbolik yang dilekatkan padanya.

Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai simulasi, yakni fase ketika representasi tidak lagi merefleksikan realitas, tetapi justru mendahului dan menggantikannya (hyperreality). Platform seperti Instagram dan TikTok mendorong individu untuk terus mengurasi kesehariannya agar sesuai dengan standar estetika pasar. Batas antara yang nyata dan yang dikonstruksi pun menjadi kabur. Apa yang dipahami sebagai “gaya hidup urban yang otentik” sering kali hanyalah reproduksi berulang dari konstruksi simbolik yang diciptakan kapitalisme.

Ketika seseorang memotret secangkir kopi di Kurasu atau Tuku dengan latar laptop yang menyala, Bourdieu mungkin membacanya sebagai ekspresi habitus kelas menengah urban terdidik. Namun, bagi Baudrillard, kopi tersebut telah mengalami dematerialisasi. Ia berubah menjadi simbol produktivitas, kreativitas, dan kosmopolitanisme. Yang dikonsumsi dan dipertontonkan bukan lagi kafein dalam gelas, melainkan fantasi tentang diri yang ideal.

Kondisi ini berkelindan dengan tesis Zygmunt Bauman dalam Consuming Life (2007). Menurutnya, ciri utama masyarakat konsumen adalah transformasi konsumen menjadi komoditas, atau lenyapnya batas antara keduanya (Bauman, 2007, hlm. 12). Dalam masyarakat semacam ini, individu tidak dapat mempertahankan subjektivitasnya tanpa terlebih dahulu menjadikan dirinya layak dipasarkan. Identitas personal semakin bergantung pada kemampuan mengemas diri sebagai tanda yang bernilai dalam pasar simbolik.

Gagasan Bauman menemukan resonansi baru dalam analisis Byung-Chul Han dalam Psychopolitics (2017). Han berargumen bahwa kekuasaan kontemporer bekerja bukan melalui larangan dan represi, melainkan melalui rayuan dan pemberian kebebasan (Han, 2017, hlm. 14). Individu terdorong untuk secara sukarela mengeksploitasi dirinya melalui pameran selera di media sosial demi mengumpulkan likes dan followers. Dalam rezim digital semacam ini, kebebasan berselera perlahan berubah menjadi bentuk kepatuhan yang terasa menyenangkan.


Ruang Kebebasan yang Reflektif

Di tengah kepungan struktur tersebut, apakah kebebasan individu telah lenyap sepenuhnya? Menjawabnya secara afirmatif akan menjebak kita pada fatalisme. Individu tetap memiliki agensi, yakni kemampuan untuk menegosiasikan, menafsirkan, bahkan menolak simbol-simbol yang ditawarkan pasar. Namun, agensi itu tidak pernah bekerja dalam ruang yang sepenuhnya bebas.

Pilihan kita dibentuk oleh batas-batas kemungkinan yang ditentukan habitus, sekaligus diarahkan oleh jaringan tanda yang diproduksi korporasi dan media. Karena itu, rasa otonomi yang kita miliki sering kali menutupi berbagai determinan eksternal yang bekerja di balik kesadaran.

Di sinilah kritik budaya menemukan relevansinya. Tujuannya bukan menyerukan penolakan total terhadap konsumsi—sebuah posisi yang sulit diwujudkan dalam masyarakat modern—melainkan menciptakan jarak reflektif terhadap preferensi kita sendiri. Kritik mengajak kita mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mendasar: mengapa kita mengonsumsi objek tertentu? Apakah ketertarikan pada suatu gaya hidup lahir dari kebutuhan yang nyata, atau dari hasrat untuk memperoleh pengakuan sosial?

Pertanyaan semacam itu menggeser perhatian dari komoditas yang dikonsumsi menuju kondisi sosial yang memungkinkan konsumsi tersebut. Dari sana menjadi jelas bahwa selera bukan sekadar perkara estetika pribadi, melainkan medan perebutan kekuasaan. Kekuasaan ini jarang bekerja secara represif; ia beroperasi secara hegemonik melalui hasrat, preferensi, dan pilihan yang kita anggap paling personal.

Pada akhirnya, selera adalah entitas yang paradoksal. Ia terasa sangat personal, tetapi dibentuk secara sosial; tampak otentik, tetapi diproduksi melalui sirkulasi makna yang terus-menerus direproduksi. Ia menjanjikan identitas, tetapi sekaligus mengikat individu pada struktur kelas dan logika pasar. Menyadari paradoks tersebut bukan berarti menolak selera, melainkan mengembangkan kemampuan untuk membacanya secara kritis.

Esok hari kita mungkin tetap mengantre kopi di Kurasu, berfoto di depan cermin gerai Uniqlo, lalu mengunggahnya ke media sosial. Namun, dengan kesadaran yang lebih reflektif, praktik-praktik itu tidak lagi dijalani secara naif. Kita memahami bahwa tindakan sehari-hari tersebut berada dalam jalinan relasi antara struktur kelas, logika pasar, dan sirkulasi tanda. Justru melalui kesadaran atas keterbatasan itulah ruang kebebasan manusia dapat ditemukan kembali.


Referensi

Baudrillard, Jean. 1972. Pour une critique de l’économie politique du signe. Paris: Gallimard.

Bauman, Zygmunt. 2007. Consuming Life. Cambridge: Polity Press.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Diterjemahkan oleh Richard Nice. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Han, Byung-Chul. 2017. Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power. Diterjemahkan oleh Erik Butler. London: Verso.

Marx, Karl. 1887. Capital: A Critique of Political Economy, Volume I. Diedit oleh Frederick Engels. Diterjemahkan oleh Samuel Moore dan Edward Aveling. Moscow: Progress Publishers.

LSF Discourse. n.d. “Pierre Bourdieu: Mekanisme Kekuasaan dalam Strukturalisme Genetik.” Diakses 12 Juni 2026.

Veblen, Thorstein. 1899. The Theory of the Leisure Class. New York: Macmillan.


Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah adalah penulis dan alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.