Sosialisme sebagai Masa Depan adalah Mungkin dan Niscaya

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Antonio Seguí (Argentina). Untitled, 1965. Oil on canvas, 200 x 249 cm. Courtesy of Casa de las Américas (Kuba).


Tulisan ini berasal dari nawala edisi 20The Tricontinental; diterjemahkan dan diterbitkan di sini berkat kerja sama IndoPROGRESS dan The Tricontinental.

Sahabat-sahabat yang kami hormati,

Salam dari meja kerja Tricontinental: Institute for Social Research.

Pada tahun 2022, sekitar 10.500 warga negara kepulauan Tuvalu di Samudra Pasifik mulai bermigrasi—bukan dari satu negara ke negara lain, melainkan dari pulau fisik mereka ke dunia digital. Menghadapi kemungkinan bahwa perubahan iklim akan membuat wilayah dataran rendah mereka tidak lagi layak huni dalam beberapa dekade mendatang, Tuvalu berupaya menjadi “negara digital pertama” di dunia. Mereka membangun rekaman tiga dimensi wilayahnya, mengarsipkan kebudayaannya, serta menyiapkan sistem identitas dan tata kelola digital agar negara tersebut tetap dapat berfungsi meskipun rakyatnya tersebar di berbagai belahan dunia.

Krisis iklim memaksa hukum internasional menghadapi pertanyaan yang mengerikan: apa yang terjadi pada sebuah negara ketika wilayahnya ditelan oleh kenaikan permukaan laut? Pada tahun 2025, Mahkamah Internasional (International Court of Justice), dalam perkara Obligations of States in Respect of Climate Change, memutuskan bahwa “setelah suatu negara terbentuk, hilangnya salah satu unsur pembentuknya tidak serta-merta menyebabkan negara tersebut kehilangan status kenegaraannya.”

Jika Tuvalu kehilangan wilayahnya yang hanya seluas 26 kilometer persegi akibat naiknya permukaan laut, negara itu tidak akan lenyap dari ingatan rakyatnya, dan juga tidak akan berhenti menjadi sebuah negara. Namun, suatu bangsa tidak dapat hidup hanya di dalam arsip digital. Pada tahun 2024, Tuvalu dan Australia menyepakati Falepili Mobility Pathway, yang antara lain memungkinkan 280 warga Tuvalu setiap tahun mengajukan izin tinggal tetap di Australia. Perserikatan Bangsa-Bangsa memang tidak mengakui istilah “pengungsi iklim” dalam Konvensi Pengungsi 1951, tetapi situasi genting yang dihadapi warga Tuvalu telah melahirkan kenyataan baru. Mungkin pulau mereka tidak lagi memiliki masa depan di planet ini, tetapi rakyatnya akan terus mencari daratan yang aman di wilayah lain sambil mempertahankan keberadaan bangsanya di lanskap digital.

Siapa yang berhak memiliki masa depan? Para miliarder, tentu saja.

Saat ini terdapat lebih dari tiga ribu miliarder di dunia. Dua belas orang terkaya di antara mereka menguasai kekayaan yang lebih besar daripada gabungan kekayaan separuh umat manusia yang paling miskin—lebih dari empat miliar orang.

Ambil contoh Elon Musk. Kekayaannya yang mencapai sekitar 840 miliar dolar AS membuatnya memiliki aset yang lebih besar daripada Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 83 persen negara-negara di dunia jika dihitung satu per satu, termasuk Argentina. Pendapatan bulanan median di Argentina sekitar 420 dolar AS, sedangkan pendapatan bulanan Musk diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS—sekitar tujuh juta kali lebih besar daripada pendapatan rata-rata warga Argentina.

Alfonso Soteno Fernández (Metepec, State of Mexico, Mexico), Árbol de la vida (Tree of Life), 1975. Open-fired clay painted with varnished vinyl paint, 6 m. Courtesy of Casa de las Américas (Cuba).

Jika uang dijadikan ukuran kemungkinan, maka masa depan Musk tampak nyaris tanpa batas. Sebaliknya, bagi warga Argentina biasa, masa depan mungkin terasa semakin menjauh.

Pada tahun 1969, Roberto Goyeneche menyanyikan tango karya Astor Piazzolla dan Horacio Ferrer berjudul Chiquilín de Bachín (Anak Kecil dari Bachín), yang menggambarkan kenyataan banyak anak Argentina saat itu—dan hingga kini:

Pada malam hari, malaikat kecil berwajah kotor dan berjeans biru
menjual mawar dari meja ke meja di warung Bachín.
Ketika cahaya bulan menyinari panggangan,
ia menyantap bulan dan roti berjelaga.

Antonio Berni (Argentina). Juanito Laguna (triptych), n.d. Painted wood and metal collage. 220 × 300 cm. Courtesy of Casa de las Américas (Cuba).

Anak kecil dalam lagu itu harus bekerja demi bertahan hidup. Tango tersebut memang membawa kita ke masa lalu, tetapi kenyataannya masih sangat hidup pada masa kini.

Hari ini, lebih dari separuh anak-anak Argentina hidup dalam kemiskinan. Mereka diusir dari masa depan oleh kebijakan pemerintah Presiden Javier Milei. Mereka terperangkap dalam masa kini, berjuang sekadar untuk bertahan hidup, seolah dihukum menjalani seribu tahun penderitaan tanpa jalan keluar:

Setiap pagi, di antara tumpukan sampah,
dengan sisa roti dan pasta,
ia merakit layang-layang untuk melarikan diri—namun tetap berada di sini!
Ia adalah anak yang sekaligus lelaki tua berusia seribu tahun,
dengan benang layang-layang yang kusut jauh di dalam dirinya.

Justru terhadap “masa kini yang dipaksakan” inilah dossier kami yang ke-100, The Future (Mei 2026), mengajukan sanggahan. Teks ini cukup berbeda dari publikasi kami sebelumnya, terutama karena sifatnya yang sangat filosofis. Dossier ini menawarkan pemahaman historis-materialis tentang masa depan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar halaman berikutnya dalam kalender.

Menurut dossier tersebut, masa depan bukanlah kelanjutan netral dari masa kini, melainkan sebuah pemutusan (rupture) dari masa kini menuju cakrawala sosialisme.

Waktu kalender—yang memperlakukan hari esok seolah hanya pengulangan hari ini dan membuat bencana tampak tak terhindarkan—tidaklah memadai. Kita memerlukan pemahaman tentang waktu yang membuka kemungkinan transformasi dan perkembangan manusia.

Anak kecil itu harus makan, harus bersekolah, dan harus berkembang. Rakyat Tuvalu harus memiliki tanah kering di bawah kaki mereka agar dapat melanjutkan perjalanan hidupnya. Semua itu bukan sekadar hak, melainkan kebutuhan manusia yang paling mendasar.

Membiarkan miliaran orang kelaparan dan tetap buta huruf—menerima kenyataan bahwa mereka telah dirampas masa depannya—adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Julio Le Parc (Argentina), Modulación 455 (Modulation 455), 1981. Acrylic on canvas, 200 x 200 cm. Courtesy of Casa de las Américas (Cuba).

Di dunia yang dipenuhi perang, utang, bencana iklim, dan keputusasaan sosial, bahkan kemampuan untuk membayangkan masa depan di luar kapitalisme telah secara sistematis dilemahkan. Realisme kapitalis telah melatih kita untuk percaya bahwa tatanan yang ada sekarang bersifat abadi; bahwa eksploitasi dan hierarki merupakan fakta permanen kehidupan manusia, bukan struktur historis yang dibentuk oleh kekuasaan kelas.

Namun sejarah mengajarkan hal yang berbeda.

Setiap tatanan sosial tampak permanen sampai datang saat terjadinya pemutusan. Feodalisme pernah menganggap dirinya abadi. Imperium kolonial percaya bahwa kekuasaannya akan berlangsung selamanya. Kapitalisme pun akan berlalu.

Karena itu, masa depan bukanlah hadiah yang diberikan oleh kalender. Ia adalah medan perjuangan.

Dossier kami mengajukan pertanyaan: Apakah masih ada masa depan?

Jawabannya: Tentu saja ada.

Kita sedang berjuang untuk membangunnya, dan kita sedang membangunnya sekarang.

The Future menegaskan bahwa pemutusan dengan kapitalisme adalah sebuah keharusan, karena sistem ini telah mencapai tahap di mana kapasitas produktifnya sangat besar, tetapi hasil sosial yang dihasilkannya justru bersifat katastrofik.

Dunia saat ini memiliki sumber daya, teknologi, tenaga kerja, dan pengetahuan ilmiah yang cukup untuk menghapus kelaparan, buta huruf, serta penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Namun miliaran orang tetap terjebak dalam kemiskinan, sementara modal finansial menumpuk kekayaan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kontradiksi ini bukanlah persoalan teknis, melainkan persoalan politik.

Kapitalisme mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif, tetapi pada saat yang sama merusak potensi emansipatoris yang dikandungnya.

José Venturelli (Chile), Serigrafía (Serigraph), 1970, edition 15/90. 260 x 430 mm. Courtesy of Casa de las Américas (Cuba).

Dossier kami mengidentifikasi sejumlah “musuh masa depan” yang melakukan sabotase tersebut: modal finansial, yang mendisiplinkan masyarakat melalui utang dan program penyesuaian struktural; modal platform, yang memecah kehidupan sosial menjadi individu-individu terisolasi dan mengubah kerja menjadi kondisi yang serba tidak pasti; ekstraktivisme, yang menghancurkan fondasi ekologis kehidupan demi keuntungan; militerisme, yang menjadikan setiap krisis sebagai alasan untuk perang, pengawasan, dan represi.

Kekuatan-kekuatan ini berusaha menjajah masa depan sebelum masa depan itu tiba, memastikan bahwa hari esok tetap tunduk pada kebutuhan akumulasi modal, bukan pada martabat manusia.

Namun masa depan tetap ada karena manusia terus melakukan perlawanan.

Di seluruh Dunia Selatan (Global South), para petani, buruh, perempuan dan kelompok pembangkang norma gender, migran, serta penganggur setiap hari berjuang melawan sistem yang menyangkal martabat mereka. Perjuangan-perjuangan ini sering kali terpecah-pecah, tidak merata, dan rentan dikooptasi. Namun semuanya menunjukkan satu kebenaran yang bertahan lama: kaum tertindas tidak menerima penderitaan sebagai takdir.

Alfredo Plank, Ignacio Colombres, Carlos Sessano, Juan Manuel Sánchez, and Nani Capurro (Argentina), Che (collective series), 1968. Oil on canvas, 195 x 150 cm each. Courtesy of Casa de las Américas (Cuba).

Dalam tradisi kami, harapan tidak lahir dari optimisme abstrak, melainkan dari perjuangan yang terorganisasi.

Namun agar menjadi kekuatan sejarah, harapan memerlukan organisasi, disiplin, dan internasionalisme. Pemberontakan spontan mungkin dapat menjatuhkan pemerintahan, tetapi hanya kekuatan yang terorganisasi yang mampu membangun alternatif yang bertahan lama.

Revolusi-revolusi besar abad ke-20 bukanlah kecelakaan sejarah. Semua itu merupakan hasil kerja politik yang sabar dan dilakukan selama puluhan tahun.

Karena itu, berbicara tentang masa depan saat ini bukanlah latihan fantasi utopis. Ini adalah penegasan bahwa tatanan yang ada sekarang tidak dapat ditoleransi dan tidak akan berlangsung selamanya.

Masa depan tidak akan datang dengan sendirinya. Masa depan harus dibangun secara kolektif, sadar, dan internasional. Di dalam perjuangan itulah terletak makna sejati dari harapan.

Salam hangat,

Vijay


Catatan: Karya-karya seni yang digunakan dalam The Future, sebagian di antaranya ditampilkan dalam newsletter ini, berasal dari koleksi besar Arte de Nuestra América Haydée Santamaría milik Casa de las Américas di Havana, Kuba. Koleksi tersebut merupakan arsip luar biasa yang berisi terutama karya seni Amerika Latin dan Karibia, dibangun melalui puluhan tahun praktik internasionalisme budaya anti-imperialis yang dijalankan oleh Casa de las Américas.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.